• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pembelajaran

Dalam dokumen Pembelajaran Tatap Muka (Halaman 27-39)

Pendekatan, strategi, metode, dan teknik dalam pembelajaran dapat diwadahi atau tercermin dalam sebuah model pembelajaran. Merujuk pada Joyce, weil, dan Shower dalam Depdiknas (2004, dalam Sugiharto, 2010), istilah model pembelajaran digunakan untuk dua alasan penting, yaitu:

a. Istilah model mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode, atau prosedur. Istilah model pengajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh.

b. Model pengajaran dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting. Model pengajaran diklasifikasikan berdasaran tujuan pembelajarannya, sintaksnya (pola urutannya), dan sifat lingkungan belajarnya. Penggunaan model pembelajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan bukan tujuan pembelajaran lain.

Istilah model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi atau prosedur tertentu. Hal ini dinyatakan dalam Depdiknas (2004, dalam Sugiharto, 2010). Ciri-ciri tersebut adalah (1) rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya; (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai); (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Pada setiap model pembelajaran dikenal adanya sintaks atau pola urutan yang menggambarkan keseluruhan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Masih dalam Depdiknas (2004, dalam Sugiharto, 2010) dikemukakan bahwa, ”Sintaks pembelajarn menunjukkan dengan jelas kegiatan apa yang perlu dilakukan guru atau siswa, urutan kegiatan-kegiatan tersebut, dan tugas-tugas khusus yang perlu dilakukan oleh siswa”.

Setiap model memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Setiap pendekatan memberikan peran berbeda kepada siswa, pada

ruang fisik, dan sistem sosial kelas. Arends dan para pakar pembelajaran yang lain berpendapat bahwa tidak ada model pembelajaran yang lebih baik dari pada model pembelajaran yang lain. Guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sangat beranekaragam dan lingkungan belajar yang menjadi ciri sekolah pada dewasa ini. Menguasai berbagai model pembelajaran merupakan bekal utama bagi seorang guru untuk mencapai tujuan pembelaran tertentu sesuai dengan lingkungan belajar atau kelompok siswa tertentu. Berikut ini beberapa model pembelajaran yang relevan untuk pembelajaran biologi.

a. Contextual Teaching & Learning (Model Pembelajaran Kontekstual)

Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Nurhadi, 2003). Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. Johnson (2002, dalam Purnomo, 2008) mendefinisikan pembelajaran kontekstual sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya untuk mencapai tujuan penerapan pembelajaran kontekstual.

Pembelajaran berbasis pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen pembelajaran produktif, yaitu, constructivism (konstruktivisme), inquiry (menemukan), questioning (bertanya), learning community (masyarakat belajar),

modeling (permodelan), reflecting (refleksi), dan authentic assessment (penilaian

yang sebenarnya). Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring) dengan penjelasan sebagai berikut (Sekolah Juara, 2011).

Gambar 2.6 Tujuh Komponen Produktif Pembelajaran Kontekstual

Gambar 2.7 Lima Bentuk Belajar yang Muncul dalam Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) menekankan pada kegiatan proses belajar mengajar yang berbasis pada aktivitas siswa dan melibatkan sumber belajar yang nyata dan ada di sekitar siswa. Untuk pendidikan biologi, bertujuan untuk mengembangkan sikap ilmiah siswa (menjadi seorang anak yang melek sains, bukan ahli sains), penerapan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual sangat cocok dilakukan dalam proses belajar mengajar biologi. Menurut

National Academy of Sciences (dalam Nur, 2001) prinsip-prinsip dalam perangkat

pembelajaran kontekstual IPA (termasuk biologi) tersebut meliputi: (1) IPA adalah untuk semua siswa dan (2) pembelajaran IPA merupakan proses aktif.

b. Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif Pembelajaran dalam kooperatif dimulai dengan guru menginformasikan tujuan dari pembelajaran dan memotivasi siswa

untuk belajar. Fase ini diikuti dengan penyajian informasi, sering dalam bentuk teks bukan verbal. Kemudian dilanjutkan langkah-langkah di mana siswa di bawah bimbingan guru bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang saling bergantung. Fase terakhir dari pembelajaran kooperatif meliputi penyajian produk akhir kelompok atau mengetes apa yang telah dipelajari oleh siswa dan pengenalan kelompok dan usaha-usaha individu (Arends, 1997). Sintaks model pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Langkah-langkah Perilaku Guru Menurut Model Pembelajaran Kooperatif

FASE TINGKAH LAKU GURU

Fase I

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan belajar yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa.

Fase II

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasi atau melalui bahan bacaan.

Fase III

Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efektif.

Fase IV

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.

Fase V Evaluasi

Guru mengevaluasi hasi belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Fase VI

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya dan hasil belajar individu dan kelompok. Beberapa model pembelajaran kooperatif yang populer dan sering dikembangkan adalag Jigsaw, Think Pair Share (TPS), Numbered Head Together (NHT), Team Games Tournament (TGT), Students Teams Achievment Division (STAD), Group Investigation (GI) dan Cooperative Script. Masing-masing model pembelajaran kooperatif mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Upaya untuk mengurangi kekurangan penerapan model pembelajaran kooperatif adalah dengan mempertimbangkan materi, sarana, media, waktu, jumlah, dan kondisi peserta didik.

c. Model Pendekatan Langsung (Direct Instruction)

Landasan teoretik Direct Instruction adalah teori belajar sosial khususnya tentang pemodelan (modelling). Albert Bandura yang merupakan pengembang teori belajar sosial menyatakan bahwa belajar yang dialami oleh manusia sebagian besar diperoleh dari suatu pemodelan yiatu meniru perilaku dan pengalaman orang lain.

Model DI dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Menghafal rumus dalam bidang sains merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana (informasi faktual). Sedangkan bagaimana cara mengoperasikan alat-alat tertentu dalam sains merupakan contoh pengetahuan prosedural.

Model DI mempunyai lima fase yang sangat penting yaitu: 1) menyampaikan tujuan, 2) mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan, 3) membimbing pelatihan, 4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, dan 5) memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. Rincian perilaku guru pada setiap fase dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Sintaks Model Pembelajaran Langsung (Sumber: Sugiharto, 2010)

Fase-fase Perilaku Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.

Guru menyampaikan tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar. Fase 2

Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan

Guru mendemostrasikan keterampilan yang benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap.

Fase 3

Membimbing pelatihan Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal Fase 4

Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberikan umpan balik.

Fase 5

Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari

d. Problem Based Instruction (Model Pembelajaran Berbasis Instruksi)

Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan

pemecahan masalah otentik (Arends et al., 2001). Dalam pemrolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik-topik, siswa belajar bagaimana mengkonstruksi kerangka masalah, mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun fakta, mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah, bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah.

Model problem-based instruction memiliki lima langkah pembelajaran (Arend et al., 2001), yaitu: (1) guru mendefisikan atau mempresentasikan masalah atau isu yang berkaitan (masalah bisa untuk satu unit pelajaran atau lebih, bisa untuk pertemuan satu, dua, atau tiga minggu, bisa berasal dari hasil seleksi guru atau dari eksplorasi siswa), (2) guru membantu siswa mengklarifikasi masalah dan menentukan bagaimana masalah itu diinvestigasi (investigasi melibatkan sumber-sumber belajar, informasi, dan data yang variatif, melakukan survei dan pengukuran), (3) guru membantu siswa menciptakan makna terkait dengan hasil pemecahan masalah yang akan dilaporkan (bagaimana mereka memecahkan masalah dan apa rasionalnya), (4) pengorganisasian laporan (makalah, laporan lisan, model, program komputer, dan lain-lain), dan (5) presentasi (dalam kelas melibatkan semua siswa, guru, bila perlu melibatkan administator dan anggota masyarakat).

e. Problem Based Learning (Model Pembelajaran Berbasis Masalah)

Pembelajaran berbasis masalah (PBM) atau problem based learning adalah pengajaran yang dirancang berdasarkan masalah riil kehidupan yang bersifat tidak tentu (ill-structured), terbuka dan mendua. Masalah yang tidak tentu adalah masalah yang kabur, tidak jelas, dan belum terdefinisikan (Fogarty, 1997; Jones, 1996) dalam Arnyana (2004). Belajar berdasarkan masalah dapat membangkitkan minat siswa, nyata dan sesuai untuk mengembangkan intelektual serta memberikan kesempatan agar siswa belajar dalam situasi kehidupan nyata.

Menurut Pannen (2001) bahwa pandangan konstruktivis pada problem based

learning mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

Problem based learning semata-mata tidak menyajikan informasi untuk diingat

siswa, akan tetapi PBM menyajikan informasi, maka informasi tersebut harus digunakan dalam pemecahan masalah, sehingga terjadi proses kebermaknaan terhadap informasi.

2. Meningkatkan kemampuan siswa untuk berinisiatif

Problem based learning harus membiasakan siswa untuk berinisiatif dalam

prosesnya, sehingga pada akhirnya kemampuan tersebut akan meningkat. 3. Mengembangkan keterampilan sosial

Proses pengembangan keterampilan sosial merupakan keterampilan yang sangat diperlukan dalam proses pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari.

Menurut Arends (1997) penerapan problem based learning terdiri dari lima langkah. Kelima langkah tersebut dimulai dari orientasi guru dan siswa pada masalah serta diakhiri dengan analisis kerja siswa. Penjelasan kelima langkah tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 2.3 Langkah-langkah Penerapan Problem Based Learning

No. Langkah-langkah PBM Kegiatan yang dilakukan guru

1. Orientasi siswa pada masalah Guru menjelaskan tujuan, menjelaskan logistik yang dibutuhkan dan memotivasi siswa terlibat dalam pemecahan masalah

2. Mengorganisir siswa dalam belajar Guru membagi siswa dalam kelompok Guru membantu siswa dalam

mendefinisikan dan mengorganisir tugas-tugas belajar yang berhubungan dengan masalah

3. Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen dan penyelidikan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil

karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan seperti laporan,

video, dan mode dan membantu mereka membagi tugas dengan temannya. 5. Menganalisa dan mengevaluasi proses

pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang digunakan

(Sumber: Arends, 1997)

f. Project Based Learning ( Model Pembelajaran Berbasis Proyek)

Project Based Learning adalah model pembelajaran yang berfokus pada

konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama dari suatu disiplin, melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainya, memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa bernilai, dan realistik (BIE, 2001).

Proyek pebelajar dapat disiapkan dalam kolaborasi dengan instruktur tunggal atau instruktur ganda, sedangkan pebelajar belajar di dalam kelompok kolaboratif antara 4-5 orang. Ketika pebelajar bekerja di dalam tim, mereka menemukan keterampilan merencanakan, mengorganisasi, negosiasi, dan membuat konsensus tentang isu-isu tugas yang akan dikerjakan, siapa yang bertanggungjawab untuk setiap tugas, dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan. Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh pebelajar ini merupakan keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya, dan sebagai tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di tempat kerja. Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif, maka pengembangan keterampilan tersebut berlangsung di antara pebelajar. Di dalam kerja kelompok suatu proyek, kekuatan individu dan cara belajar yang diacu memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan.

Umumnya PBP memiliki sintaks: 1) siswa mengumpulkan informasi tentang suatu topik, 2) menyusun proposal (merumuskan masalah, menuliskan latar belakang masalah dan memprediksikan penyelesaian masalah), 3) melakukan praktikum atau kegiatan untuk mengetahui pemecahan permasalahan, 4) menyusun laporan atau produk dan 5) mempresentasikan hasil kerja dan seluruh langkah dikerjakan oleh siswa secara berkelompok. Langkah-langkah pokok PBP dapat dilihat di tabel 2.4.

Tabel 2.4 Langkah-langkah pokok dalam PBP dan kegiatan Proses Belajar Mengajar

(Sintaks PBP) Kegiatan PBM

Planning

1) Merancang seluruh proyek 1) Persiapan proyek

Guru menginformasikan tujuan pembelajaran

Guru menginformasikan fenomena nyata sebagai sumber masalah

Siswa menyusun jadwal proyek

Siswa membuat dan menyepakati aturan kolaborasi di dalam keseluruhan sktifitas proyek. 2) Mengorganisir pekerjaan (kerjasama/kolaboratif) Mengorganisir kerjasama/kolborasi Pemilihan topik

Memilih sumber daya/informasi yang terkait

Membuat design investigasi

2) Perencanaan proyek: siswa melakukan: Pembentrukan kelompok

Mengidentifikasi tema dan pemilihan proyek

Penelusuran sumber

Merumuskan masalah sesuai dengan tema Menyusun hipotesis

Menentukan variabel penyusunan instrumen dan prosedur penelitian

Creating

Bekerjasama/dengan yang lain Organisasi kegiatan KBM, siswa melakukan 1) Meneliti data

Bekerjasama dalam mengumpulkan data Menganalisis data

3) Investigasi (mengumpulkan data) Analisis data

Menarik kesimpulan

Mengkomunikasikan gagasan atau temuan dengan anggota kelompok

2) Mengembangkan pemikiran dan dokumentasi

Kerjasama dalam membuat visualisasi artefak-artefak (menyusun laporan proyek) dengan membangun gagasan-gagasan

Bekerjasama menyiapkan

presentasi/menyusun laporan ilmiah hasil investigasi atau membuat artefak lainnya

Processing

1) Presentasi laporan proyek atau artifak. Siswa mengkomunikasikan secara aktual kreasi atau temuan dari investigasi

4) Siswa bekerjasama dalam penyajian laporan proyek (artifa). Presentasi proyek mungkin dalam bentuk pameran yang diadakan di lingkungan

sekolah.

2) Refleksi dan tindak lanjut, evaluasi Refleksi dan evaluasi terhadap hasil proyek

Analisis dan evaluasi proses-proses belajar

5) Tahap evaluasi

Refleksi untuk mengevaluasi proses PBM dengan PBP sebagai acuan tindak lanjut Evaluasi proses menggunakan evaluasi diri sendiri, evaluasi teman sebaya, dan portofolio berlangsung selama pembelajaran mulai dari pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir

(Sumber: Mahanal 2008 dalam Mahanal 2009)

g. Learning Cycle (Model Pembelajaran Siklus Belajar)

Siklus belajar menempatkan kegiatan inkuiri (investigasi dan penemuan) sebagai hal utama. Pentingnya inkuiri dinyatakan oleh Pierce bahwa keyakinan terhadap pemahaman (beliefs) dibangun melalui inkuiri (Maxey, 2003, dalam Kirna, 2010). Pierce lebih jauh menyatakan bahwa investigator (inkuirer) dalam pemecahan permasalahan tidak hanya menggunakan metode deduktif dan induktif, tetapi juga abduksi (retroduction), yaitu menggunakan “logic of discovery”, seperti penggunaan analogi (Lawson, 1989 dalam Kirna, 2010). Metode abduksi ini memegang peranan penting dalam memahami sains terutama konsep teori.

Pada perkembangannya tahapan model siklus belajar dari yang paling sederhana dikenal dengan tiga fase, selanjutnya dikenal siklus belajar lima fase, dan yang terakhir dikenal siklus belajar enam fase. Berikut ini adalah bagan tentang siklus belajar tiga fase, lima fase, dan enam fase yang disajikan pada gambar .

Gambar 2.8 Bagan Model Siklus Belajar Tiga Fase

Gambar 2.9 Bagan Model Siklus Belajar Lima Fase

Gambar 2.10 Bagan Model Siklus Belajar Enam Fase

Seting pengajaran konstruktivistik yang mendorong konstruksi pengetahuan secara aktif memiliki beberapa ciri: (1) menyediakan peluang kepada siswa belajar dari tujuan yang ditetapkan dan mengembangkan ide-ide secara lebih luas; (2) mendukung kemandirian siswa belajar dan berdiskusi, membuat hubungan, merumuskan kembali ide-ide, dan menarik kesimpulan sendiri; (3) sharing dengan

mana terdapat pandangan yang multi dan kebenaran sering merupakan hasil interpretasi; (4) menempatkan pembelajaran berpusat pada siswa dan penilaian yang mampu mencerminkan berpikir divergen siswa (Santyasa, 2005). Demikian pula pada model siklus belajar, seting lingkungan tempat siswa belajar mempunyai nilai tersendiri terhadap kemampuan siswa untuk mengawali eksplorasi konsep dari pokok bahasan yang sedang dipelajari.

Pada pembelajaran biologi, siswa dibimbing untuk melakukan eksplorasi, menemukan konsep secara mandiri, dan menerapkan atau mengaplikasikan konsep pada kasus-kasus di lingkungan sekitar yang relevan dengan konsep yang dipelajari. Peran guru sebagai fasilitator, menuntut guru untuk menguasi konsep pokok bahasan secara mantap dan menyeluruh serta menguasai langkah-langkah model pembelajaran yang sedang diterapkan, sehingga eksplorasi, penemuan konsep, dan aplikasi konsep siswa masih dalam lingkungan kontrol guru sehingga meminimalkan miskonsepsi.

h. Model Pembelajaran Perubahan Konseptual

Pengetahuan yang telah dimiliki oleh seseorang sesungguhnya berasal dari pengetahuan yang secara spontan diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan. Sementara pengetahuan baru dapat bersumber dari intervensi di sekolah yang keduanya bisa konflik, kongruen, atau masing-masing berdiri sendiri. Dalam kondisi konflik kognitif, siswa dihadapkan pada tiga pilihan, yaitu: (1) mempertahankan intuisinya semula, (2) merevisi sebagian intuisinya melalui proses asimilasi, dan (3) merubah pandangannya yang bersifat intuisi tersebut dan mengakomodasikan pengetahuan baru. Perubahan konseptual terjadi ketika siswa memutuskan pada pilihan yang ketiga. Agar terjadi proses perubahan konseptual, belajar melibatkan pembangkitan dan restrukturisasi konsepsi-konsepsi yang dibawa oleh siswa sebelum pembelajaran (Brook & Brook, 1993 dalam Santyasa, 2005). Ini berarti bahwa mengajar bukan melakukan transmisi pengetahuan tetapi memfasilitasi dan memediasi agar terjadi proses negosiasi makna menuju pada proses perubahan konseptual (Hynd, et al,. 1994 dalam Santyasa). Proses negosiasi makna tidak hanya terjadi atas aktivitas individu secara perorangan, tetapi juga muncul dari interaksi individu dengan orang lain melalui peer mediated instruction.

Costa (1999 dalam Santyasa, 2005) menyatakan meaning making is not just an

individual operation, the individual interacts with others to construct shared knowledge.

Model pembelajaran perubahan konseptual memiliki enam langkah pembelajaran (Santyasa, 2004), yaitu: (1) Sajian masalah konseptual dan kontekstual, (2) konfrontasi miskonsepsi terkait dengan masalah-masalah tersebut, (3) konfrontasi sangkalan berikut strategi-strategi demonstrasi, analogi, atau contoh-contoh tandingan, (4) konfrontasi pembuktian konsep dan prinsip secara ilmiah, (5) konfrontasi materi dan contoh-contoh kontekstual, (6) konfrontasi pertanyaan-pertanyaan untuk memperluas pemahaman dan penerapan pengetahuan secara bermakna.

Sistem sosial yang mendukung model ini adalah: kedekatan guru sebagai teman belajar siswa, minimnya peran guru sebagai transmiter pengetahuan, interaksi sosial yang efektif, latihan menjalani learning to be.

Prinsip reaksi yang dapat dikembangkan adalah: peranan guru sebagai fasilitator, negosiator, konfrontator. Peran-peran tersebut dapat ditampilkan secara lisan atau tertulis melalui pertanyaan-pertanyaan resitasi dan konstruksi. Pertanyaan resitasi bertujuan memberi peluang kepada siswa memangil pengetahuan yang telah dimiliki dan pertanyaan konstruksi bertujuan menegosiasi dan mengkonfrontasi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan baru.

Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah: lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, peralatan eksperimen yang sesuai, model analogi, meja dan korsi yang mudah dimobilisasi. Dampak pembelajaran dari model ini adalah: sikap positif terhadap belajar, pemahaman secara mendalam, keterampilan penerapan pengetahuan yang variatif. Dampak pengiringnya adalah: pengenalan jati diri, kebiasaan belajar dengan bekerja, perubahan paradigma, kebebasan, penumbuhan kecerdasan inter dan intrapersonal.

Dalam dokumen Pembelajaran Tatap Muka (Halaman 27-39)

Dokumen terkait