KERANGKA TEORITIS
3. Ranah psikomotor
2.3 Model Pembelajaran
2.3.1 Pengertian Model Pembelajaran
“Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau
pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat
pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan
lain-lain” (Joyce dalam Trianto 2011 :5). “Model pembelajaran berarti acuan pembelajaran yang dilaksanakan berdasarkan pola- pola pembelajaran tertentu secara sistematis” (Iru, 2012: 6).
Menurut Soekamto dalam Trianto (2011 :5) “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
14
berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam melaksanakan aktivitas belajar mengajar”.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran adalah variasi yang digunakan guru dalam mengajar untuk mencapai
hasil belajar yang lebih baik yang disesuaikan dengan materi dan sarana penunjang
yang tersedia.
2.3.2 Ciri-ciri Model Pembelajaran
“Kardi dan Nur dalam Trianto (2011:6) menyebutkan ada empat ciri khusus dalam model pembelajaran yang tidak dimiliki oleh strategi, metode, atau prosedur.
Ciri-ciri tersebut adalah :
1. Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai).
3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil.
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai”.
Pada umumnya model-model pembelajaran memiliki ciri-ciri yang dapat
dikenali (Iru, 2012:8), yaitu :
1) “Memiliki prosedur yang sistematis. Sebuah model mengajar bukan sekedar merupakan gabungan berbagai fakta yang disusun secara sembarangan, tetapi merupakan prosedur yang sistematis untuk memodifikasi perilaku siswa yang didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu.
2) Hasil belajar diterapkan secara khusus. Setiap model mengajar menentukan tujuan-tujuan khusus hasil belajar yang diharapkan dicapai siswa secara rinci dalam bentuk unjuk kerja yang diamati.
3) Penetapan lingkungan secara khusus. Menetapkan keadaan lingkungan secara spesifik dalam model mengajar.
4) Ukuran keberhasilan. Model harus menentukan kriteria keberhasilan suatu unjuk kerja yang diharapkan dari siswa.
15
5) Interaksi dengan lingkungan. Suatu model mengajar menetapkan cara yang memungkinkan siswa melakukan interaksi dan bereaksi dengan lingkungan”.
4.3.3 Komponen Model Pembelajaran
Berdasarkan asumsi-asumsi yang telah dikembangkan, model pembelajaran
memilki beberapa komponen, yaitu :
1. Fokus
Fokus merupakan aspek sentral sebuah model. Fokus dari sebuah sistem merujuk pada kerangka acuan yang mendasari pengembangan sebuah model.
2. Sintaks
Sintaks atau tahapan dari model mengandung uraian tentang model dalam tindakan.
3. Sistem Sosial
Sistem sosial merupakan bagian penting dari setiap model, sebab model memiliki tiga elemen yaitu peranan guru dan siswa, khususnya hubungan hierarkis atau hubungan kewenangan, serta norma-norma atau perilaku siswa yang dianggap baik.
4. Sistem Pendukung
Aspek yang penting dan utama dari suatu model adalah elemen pendukung yang tujuannya adalah menyiapkan kemudahan kepada guru dan siswa bagi berhasilnya penerapan strategi mengajar.(Iru, 2012:7-8)
4.3.4 Fungsi Model Pembelajaran
Menurut SS Chauhan dalam Iru (2012:8-9) menyebutkan fungsi model
pembelajaran sebagai berikut:
1. Pedoman. Model mengajar dapat berfungsi sebagai pedoman yang dapat menjelaskan apa yang harus dilakukan guru.
2. Pengembangan kurikulum. Model pengajaran dapat membantu dalam pengembangan kurikulum untuk satuan dan kelas yang berbeda dalam pendidikan.
3. Menetapkan bahan-bahan mengajar. Model mengajar menetapkan secara rinci bentuk-bentuk bahan pengajaran yang berbeda yang akan digunakan guru dalam membantu perubahan yang baik dari kepribadian siswa.
4. Membantu perbaikan dalam mengajar. Model mengajar bisa membantu proses belajar mengajar yang meningkatkan keefektifan mengajar.
16 4.3.5 Model Pembelajaran Explicit Instruction
Menurut Arends dalam Trianto (2011:29) model explicit instruction adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah.
Explicit Instruction menurut Roy Killen (dalam Iru, 2012:155) “adalah teknik pembelajaran expositori (pemindahan pengetahuan dari guru kepada murid
secara langsung, misalnya melalui ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab) yang
melibatkan seluruh kelas”.
Berdasarkan berbagai kutipan diatas mengenai explicit instruction dapat
disimpulkan bahwa model pengajaran langsung dirancang khusus untuk menunjang
proses belajar siswa yang berkaitan dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola
kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Menurut Arends (dalam
Trianto, 2011:29), “istilah lain dari model explicit instruction antara lain training model, active teaching model, mastery teaching, direct instruction atau model
pengajaran langsung”.
Ciri-ciri model pembelajaran explicit instruction (Trianto, 2011:29) adalah
sebagai berikut :
1) Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar.
2) Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
3) Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil
17
2.3.6 Langkah- langkah Model Explicit Instruction
Slavin dalam Iru (2012:157) mengemukakan tujuh langkah dalam sintaks
explicit instruction, yaitu sebagai berikut :
1. “Menginformasikan tujuan dan orientasi belajar. Dalam fase ini guru menginformasikan hal-hal yang harus dipelajari dan kinerja siswa yang diharapkan.
2. Me-review pengetahuan dan keterampilan prasyarat. Dalam fase ini guru mengajukan pertanyaan untuk mengungkap pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai oleh siswa.
3. Menyampaikan materi pelajaran. Dalam fase ini, guru menyampaikan materi, menyajikan informasi, memberikan contoh-contoh, mendemonstrasikan konsep dan sebagainya.
4. Melaksanakan bimbingan. Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman siswa dan mengoreksi kesalahan konsep.
5. Memberikan latihan. Dalam fase ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa melatih keterampilannya atau menggunakan informasi baru secara individu atau kelompok.
6. Menilai kinerja siswa dan memberikan umpan balik. Guru memberikan review terhadap hal-hal yang telah dilakukan siswa, memberikan umpan balik terhadap respon siswa yang benar dan mengulang keterampilan jika diperlukan.
7. Memberikan latihan mandiri. Dalam fase ini, guru dapat memberikan tugas-tugas mandiri kepada siswa untuk meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang telah mereka pelajari”.
4.3.7 Kelebihan dan Kekurangan Model Explicit Instruction
Menurut Iru (2012:157-158) model explicit instruction memiliki kelebihan
dan kelemahan.
Kelebihan model explicit instruction :
1. “Dengan model pembelajaran langsung, guru mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa. 2. Dapat digunakan untuk memecahkan poin-poin penting atau
kesulitan- kesulitan yang mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal tersebut dapat diungkapkan.
3. Dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan pengetahuan faktual yang sangat terstruktur.
18
4. Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang berprestasi rendah.
5. Dapat menjadi cara untuk menyampaikan informasi yang banyak dalam waktu yang relatif singkat yang dapat diakses secara setara oleh seluruh siswa.
6. Pembelajaran langsung merupakan cara yang bermanfaat untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang tidak suka membaca atau yang tidak memiliki keterampilan dalam menyusun dan menafsirkan informasi.
7. Model pembelajaran langsung dapat digunakan untuk membangun model pembelajaran tertentu.
8. Model pembelajaran langsung menekankan kegiatan mendengar dan mengamati sehingga dapat membantu siswa yang cocok belajar dengan cara-cara ini.
9. Model pembelajaran langsung bergantung pada kemampuan refleksi guru dapat terus menerus mengevaluasi dan meperbaikinya".
Kelemahan model explicit instruction :
1. “Model pembelajaran langsung bersandar pada kemampuan siswa untuk mengasimilasikan informasi melalui kegiatan mendengarkan, mengamati, dan mencatat. Karena tidak semua siswa memiliki keterampilan dalam hal-hal tersebut, guru masih harus mengajarkannya kepada siswa.
2. Dalam model pembelajaran langsung, sulit untuk mengatasi perbedaan dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan siswa.
3. Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat secara aktif, sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan interpersonal mereka.
4. Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru.
5. Model pembelajaran langsung memberi siswa cara pandang guru mengenai bagaimana materi disusun dan disintesis tidak selalu dapat dipahami oleh siswa.
6. Model pembelajaran langsung melibatkan banyak komunikasi satu arah, guru sulit mendapatkan umpan balik dari pemahaman siswa.
4.4 Tinjauan Tentang Arsip