• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pembelajaran Tutor Sebaya

Dalam dokumen BAB II MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Halaman 31-38)

Sekolah memiliki banyak potensi yang dapat ditingkatkan efektivitasnya untuk menunjang keberhasilan suatu program pengajaran. Potensi yang ada di sekolah, yaitu semua sumber-sumber daya yang dapat mempengaruhi hasil dari proses belajar mengajar. Keberhasilan suatu program pembelajaran tidak disebabkan oleh satu macam sumber daya, tetapi disebabkan oleh perpaduan antara berbagai sumber-sumber daya yang saling mendukung menjadi satu sistem yang integral.

Dalam arti luas sumber belajar tidak harus selalu guru. Sumber belajar dapat orang lain yang bukan guru, melainkan teman dari kelas yang lebih tinggi, teman

sekelas, atau keluarganya dirumah. Sumber belajar bukan guru dan berasal dari orang yang lebih pandai disebut tutor. “Ada dua macam tutor, yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai, dan tutor kakak adalah tutor dari kelas yang lebih tinggi”. (Harsunarko dalam Suherman, dkk, 2003: 276).

Sehubungan dengan itu ada beberapa pendapat mengenai tutor sebaya, diantaranya adalah Supriyadi (dalam Suherman, dkk, 2003: 276) mengemukakan, bahwa: “Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya lebih tinggi”. Suherman, dkk, (2003: 276) mengemukakan bahwa: “Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya”. Sedangkan Semiawan, dkk. (dalam Suherman, dkk, 2003: 276) mengemukakan tentang tutor sebaya itu adalah: “siswa yang pandai dapat memberikan bantuan belajar kepada siswa yang kurang pandai. Bantuan tersebut dapat dilakukan kepada teman-teman sekelasnya di luar sekolah”.

Mengingat bahwa peserta didik adalah unsur pokok dalam pembelajaran maka peserta didik harus menerima dan mencapai berbagai informasi pembelajaran yang pada akhirnya dapat mengubah tingkah lakunya sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, maka peserta didik harus dijadikan sebagai sumber pertimbangan di dalam pemilihan sumber pembelajaran.

Tutor sebaya adalah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah. Bantuan belajar oleh teman sebaya lebih mudah dipahami. Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu dan sebagainya untuk bertanya ataupun minta bantuan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Longstreth (dalam Muntasir, dkk. 1985: 82-83) tentang hubungan anak dengan anak, sebagai berikut: Interaksi kawan membukakan mata anak terhadap pola tingkah laku yang berlaku dalam kebudayaan itu, yang sering dilakukan; dan dengan demikian ia condong untuk mempelajari bentuk-bentuk tingkah laku yang dipakai untuk pergaulan yang berlaku ….

Tugas sebagai tutor merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang justru sebenarnya merupakan kebutuhan anak itu sendiri. Dalam persiapan ini antara lain mereka berusaha mendapatkan hubungan dan pergaulan baru yang mantap dengan teman sebaya, mencari perannya sendiri, mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep-konsep yang penting, mendapatkan tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial. (Dinkmeyer dalam Suherman, dkk, 2003: 277).

Dengan demikian beban yang diberikan kepada mereka akan memberi kesempatan untuk mendapatkan perannya, bergaul dengan orang-orang lain, dan bahkan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman.

Menurut Branley (dalam Suherman, dkk, 2003: 277) ada tiga model dasar dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan tutor, yaitu: (1) student to student, (2) group to tutor, (3) student to student.

Siswa

Siswa

Adapun penyebaran dari tiga model ini adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Gambar 2.2

Gambar 2.3

Model-Model Operasional Kelompok

Situasi di dalam kelas yang menciptakan suasana tenang, nyaman, dan aman untuk belajar memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan sebaik-baiknya. Untuk itu perlu pengaturan ruang belajar. Pada diskusi kelompok kecil, pengaturan ruang belajar hendaknya menyebabkan peserta diskusi duduk berkelompok dan guru dapat bergerak dengan leluasa. Menurut Nasution (dalam Suherman, dkk, 2003: 278) pengaturan tempat duduk sebagai berikut:

Siswa Siswa Tutor Siswa Siswa Siswa Group Tutor Siswa Siswa Siswa

5 7 Gambar 2.4

Pengaturan Tempat Duduk Kelompok Keterangan :

1 : Meja dan kursi Guru 2 – 7 : Meja Siswa

O : Kursi Siswa

Dalam pembelajaran dengan pendekatan tutor sebaya, Si tutor hendaknya adalah peserta didik yang mempunyai kemampuan lebih dibandingkan dengan teman-teman pada umumnya, sehingga pada saat ia memberikan pengayaan atau membimbing teman-temannya ia sudah menguasai bahan yang akan disampaikan kepada teman-teman lainnya.

Tutor sebaya merupakan salah satu bagian dari strategi organisasi. Strategi organisasi bertujuan membantu peserta didik meningkatkan kebermaknaan, terutama dilakukan dengan mengenalkan struktur-struktur pengorganisasian baru

Papan Tulis Lemari

Buku

1

3

2 4

pada bahan-bahan tersebut. Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi subset yang lebih kecil. Strategi-strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.

Tutor sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu belajar matematika, bahasa atau pelajaran lainnya, baik satu-satu atau dalam kelompok kecil.

Tutor sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja sama.

Tutor sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperoleh atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “tutor sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna.

Penjelasan tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.

Peer tutoring atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah tutor sebaya, ada beberapa ahli yang meneliti masalah ini diantaranya adalah Edward L. Dejnozken dan David E. Kopel dalam American Education Encyclopedia menyebutkan pengertian tutor sebaya adalah sebagai berikut:

Tutor sebaya adalah sebuah prosedur siswa mengajar siswa lainnya. Tipe pertama adalah pengajar dan pembelajar dari usia yang sama. Tipe kedua adalah pengajar yang lebih tua usianya dari pembelajar. Tipe yang lain kadang dimunculkan pertukaran usia pengajar.

Muntasir (1985: 90) dalam bukunya pengajaran terprogram mengemukakan bahwa: “tutor berfungsi sebagai tukang atau pelaksana mengajar, cara mengajarnya telah disiapkan secara khusus dan terperinci”. Fungsi lainnya adalah dengan adanya tutor sebaya peserta didik yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas, sebagaimana diungkapkan oleh Muntasir bahwa dengan pergaulan antara para tutor dengan murid-muridnya mereka dapat mewujudkan apa yang terpendam dalam hatinya, dan khayalannya.

Jadi, sistem pengajaran dengan tutor sebaya akan membantu peserta didik yang kurang mampu atau kurang cepat menerima pelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor sebaya bagi peserta didik merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang sebenarnya merupakan kebutuhan peserta didik itu sendiri. Tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan, bagi tutor akan mendapat pengalaman, sedang yang ditutori akan lebih kreatif dalam menerima pelajaran.

Beberapa pendapat di atas, dan pengalaman penulis dilapangan, meyakinkan penulis untuk menerapkan tutor sebaya dalam pembelajaran matematika. Tampaknya memudahkan peserta didik untuk mengeluarkan pendapat atau pikiran dan kesulitan kepada temannya sendiri ketimbang kepada guru, peserta didik lebih sungkan dan malu.

Hal tersebut dimungkinkan karena diantara peserta didik telah terbentuk bahasa mereka sendiri, tingkah laku, dan juga pertanyaan perasaan yang dapat diterima oleh semua peserta didik. Sedangkan peer assessment adalah penilaian kegiatan peserta didik oleh tutornya, tentu saja dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan sebelumnya.

Agar proses pembelajaran yang dilakukan tutor sebaya dapat terlaksana dengan lancar perlu adanya tutor yang benar-benar mampu untuk mengajar temannya. Oleh karena itu, guru haru menseleksi peserta didik peserta didik yang akan dijadikan tutor. Pertama, adalah peserta didik yang memiliki nilai terbaik dikumpulkan dan diseleksi oleh guru untuk dipilih beberapa orang sebagai tutor. Kedua, guru melatih beberapa orang yang memiliki kemampuan lebih atau guru mengambil keputusan dan langsung memilih peserta didik yang telah memiliki kemampuan.

Dalam dokumen BAB II MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Halaman 31-38)

Dokumen terkait