• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pendekatan Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit

TEORI EKONOMI RUMAH TANGGA PETAN

3.3. Model Pendekatan Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, perilaku rumah tangga petani plasma kelapa sawit di Sumatera Selatan secara umum berperan ganda, karena usahatani yang dikelola bersifat keluarga (tradisional) dengan skala usaha relatif sempit (rata- rata hanya 2 ha). Pada usahatani keluarga, maka perilaku rumah tangga berperan sebagai produsen (dalam pasar tenaga kerja dan output) dan sekaligus sebagai konsumen (dalam pasar barang konsumsi) serta alokasi tenaga kerja. Curahan

92

kerja anggota keluarga juga dapat dibedakan berdasarkan curahan kerja suami, curahan kerja istri dan curahan kerja anak berdasarkan pembagian jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh masing-masing anggota keluarga tersebut, baik untuk digunakan di kebun plasma maupun di luar kebun plasma (Zahri, 2003 dan Mulyana, 2008).

Pembangunan perkebunan pola PIR merupakan wujud dari pengembangan agribisnis yang menyeluruh, artinya dalam pola PIR ini dikembangkan sub-sistem penyediaan sarana produksi, sub-sistem produksi, sub-sistem pengolahan dan pemasaran hasil, serta sub-sistem jasa pendukung. Dalam sistem agribisnis dikatakan bahwa sektor produksi usahatani merupakan sektor pusat. Dalam Teori Ekonomi Produksi Pertanian, perhatian terarah pada kondisi untuk pengambilan keputusan yang dilakukan oleh produsen dengan tujuan utama melakukan kegiatan produksi adalah mencapai keuntungan yang maksimal. Variasi keuntungan dari usaha produksi usahatani ditentukan oleh variasi produksi, ceteris paribus. Pada bidang pertanian, respon produksi atau produktivitas tanaman terhadap input produksi mengikuti hukum kenaikan produksi yang berkurang.

Mengingat pada pola PIR, petani plasma hanya sebagai penerima harga (price taker) baik dalam pasar input maupun pasar output, akibat dari konsekuensi perjanjian dalam kemitraan pola PIR, karena rumah tangga petani terikat pada sistem kontrak. Pasar tenaga kerja dalam bentuk penawaran

93

dan permintaan tenaga kerja adalah dalam bentuk kesediaan anggota rumah tangga untuk bekerja sebagai tenaga upahan, terutama buruh di perkebunan inti dan buruh atau kegiatan lainnya. Keluarga petani dapat menjadi sumber tenaga kerja bagi perusahaan inti, karena masih banyaknya waktu luang dan kebutuhan pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain upah, penawaran tenaga kerja juga akan merespon sejumlah variabel lain seperti perubahan harga dan jumlah output, aspek demografi rumah tangga dan tersedianya waktu luang (Zahri, 2003), pada perusahaan inti PIR kelapa sawit tersedia kesempatan kerja dalam bentuk kegiatan pemeliharaan tanaman dan panen. Kesempatan kerja ini merupakan peluang bekerja bagi rumah tangga petani sebagai buruh perkebunan inti.

Penawaran tenaga kerja yang bersumber dari rumah tangga adalah tenaga kerja laki-laki dan tenaga kerja perempuan. Secara klasik penawaran tenaga kerja mempunyai respons yang positif dan elastis dengan upah kerja dan dengan asumsi komoditas yang dihasilkan adalah tunggal dan merupakan komoditas pasar. Kegiatan produksi pertanian merupakan proses produksi yang khas untuk mendapatkan

manfaat yang sebesar-besarnya sebagai fungsi dari

pengelolaan dan lingkungan.

Faktor produksi yang digunakan dalam usaha

perkebunan kelapa sawit dapat dinilai sebagai biaya produksi. Biaya produksi dalam ekonomi produksi rumah tangga

94

usahatani, merupakan pembayaran dan beban terhadap faktor produksi, baik yang dibeli dari luar maupun sumber-sumber yang dimiliki oleh keluarga. Formulasi model ekonomi rumah tangga petani kelapa sawit mengikuti tahapan pemikiran dari Sing et al., (1986) dengan beberapa modifikasi sebagai berikut:

Aspek organisasi dan kelembagaan yang mempengaruhi alokasi tenaga kerja dan pendapatan rumah tangga petani plasma adalah variasi pola PIR yang dikembangkan berdasarkan pada saat tanaman mulai tidak produktif dengan pola PIR, yaitu: 1) Pola PIR-Bun dan 2) Pola PIR-Trans. Adanya variasi pola PIR demikian akan mempengaruhi variasi dari pembinaan yang dilakukan dan akan mempengaruhi kualitas kebun, produktivitas kebun, alokasi tenaga kerja dan tentunya pendapatan rumah tangga serta pola pengeluaran petani plasma PIR kelapa sawit untuk keberlanjutan petani plasma.

Selain itu pola PIR ini terwujud dalam satu kelembagaan kemitraan wadah KUD, sehingga kinerja KUD dan partisipasi anggotanya juga terhadap keberlanjutan kebun plasmanya, kemudian peserta PIR kelapa sawit terdiri dari petani lokal yang berasal dari daerah setempat dan petani pendatang yang berasal dari luar Sumatera Selatan.

Sebelumnya juga telah dijelaskan bahwa rumah tangga akan memaksimalkan utilitas, yang merupakan fungsi dari konsumsi terhadap barang-barang yang dibeli di pasar dengan

95

kendala fungsi produksi kelapa sawit, waktu yang tersedia dan pendapatan (Income).

Pertimbangan konsumen dalam mengkonsumsi

(Consumption) barang merupakan faktor dominan yang dipengaruhi pendapatan, di samping adanya faktor-faktor lain, seperti jumlah anggota keluarga, pendidikan, usia, latar belakang petani dan persepsi petani terhadap kerja. Teori dari seorang ekonom Prusia, yaitu Ernst Engel (1821-1896) masih tetap diyakini kebenarannya hingga saat ini.

Suatu kesimpulan yang penting dari Engel adalah “proporsi penghasilan rumah tangga yang dibelanjakan untuk makanan menurun ketika penghasilan meningkat”. Pola perilaku konsumen yang disebut sebagai “kaidah Engel” adalah jika pendapatan meningkat, maka persentase pengeluaran untuk konsumsi makanan menurun, persentase pengeluaran untuk konsumsi pakaian dan perumahan relatif tetap, persentase pengeluaran untuk kesehatan, pendidikan, rekreasi, barang mewah dan tabungan makin besar. Keluarga yang

berpendapatan tinggi mengkonsumsi makanan yang

berkualitas dan banyak ragamnya.

Kendala pendapatan tunai merupakan total pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang dibeli di pasar atau sebagai total anggaran yang tersedia. Besarnya total anggaran sama dengan seluruh pendapatan tunai rumah tangga dari berbagai sumber (pendapatan pokok dan berasal dari sumber luar). Pendapatan usahatani merupakan selisih penerimaan

96

dan biaya yang dikeluarkan di usahatani sendiri. Biaya yang dikeluarkan terdiri dari biaya variabel (untuk input tenaga kerja dan non-tenaga kerja misal pupuk dan pestisida) dan biaya tetap (untuk biaya input tetap).

Salah satu bagian dari pengeluaran rumah tangga adalah konsumsi pangan dan non-pangan. Bentuk pengeluaran lainnya yang bersifat produktif adalah untuk membiayai usaha- usaha rumah tangga, pengeluaran untuk investasi SDM dan pengeluaran untuk peremajaan serta pengeluaran untuk tabungan (Saving).

Besarnya pendapatan mempengaruhi pengeluaran tersebut, tetapi pendapatan bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhinya. Bila petani tidak melakukan usaha di luar usaha pokoknya dan tidak melakukan pengeluaran untuk investasi, maka tabungan sama dengan pendapatan dikurangi konsumsi (Y-C = S).

Jadi faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi juga mempengaruhi penabungan. Rumah tangga yang mempunyai pendapatan tinggi dapat melakukan kegiatan penabungan yang tinggi pula, jika tidak diikuti oleh pengeluaran konsumtif (hedonistis) lainnya. Kemungkinan yang didapatkan dari tabungan bernilai positif, negatif atau nol.

97

KARAKTERISTIK RUMAH