BAB IV PENGELOLAAN PARIWISATA EDUKASI
4.1. Model Pengelolaan Pariwisata
4.1.4. Model Pengelolaan dengan Pendekatan
Ketiga contoh model pengelolaan pariwisata di atas menitikberatkan pada daya saing dan peran pemangku kepentingan. Sementara itu, faktor permintaan pasar sebagai faktor yang penting dalam pariwisata edukasi belum menjadi pertimbangan. Keberhasilan pengelolaan pariwisata edukasi tergantung pada pemenuhan permintaan pasar pariwisata edukasi, yakni pengalaman pembelajaran dalam aktivitas wisata. Permintaan pasar pariwisata edukasi memengaruhi daya saing dan tingkat keterlibatan para investor, yaitu para pemangku
kepentingan. Permintaan pasar sebagai faktor kunci dalam keberhasilan pengelolaan pariwisata menjadi acuan bagi penulis dalam mendesain model pengelolaan pariwisata edukasi di Kota Yogyakarta dengan pendekatan “pasar dan produk”. Asumsi dasar dari pendekatan ini adalah jika permintaan pasar pariwisata edukasi tinggi, pengelolaan terhadap produk pariwisata edukasi akan meningkat. Konsep “pasar dan produk” diartikan bahwa pasar dan
produk pariwisata edukasi saling tergantung dan membentuk kerangka interaksi pembeli dan penjual dalam usaha pariwisata edukasi. Penulis telah melakukan penelitian terhadap beberapa destinasi pariwisata edukasi di Kota Yogyakarta, serta menghasilkan sebuah model pengelolaan pariwisata edukasi. Model pengelolaan yang dibangun menggunakan pendekatan pasar dan produk yang
existing dan potensial. Pasar dan produk potensial memberikan ide
dan gagasan baru bagi pengelola dalam pengembangan pariwisata edukasi, sekaligus mengurangi tingkat kejenuhan karena mampu memunculkan berbagai atraksi wisata baru bagi wisatawan. Model pengelolaan produk pariwisata edukasi dengan pendekatan pasar dan produk dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3 Model Pengelolaan Pariwisata Edukasi
Sumber : Penulis, 2018
Model yang dibangun merupakan model yang responsif
tahap, meliputi input, proses, dan output yang diuraikan sebagai berikut.
INPUT
Input atau tahap pertama pada Gambar 7.3 merupakan permintaan
pariwisata edukasi, meliputi lingkungan fisik dan sosial, atraksi wisata, dan sumber daya yang mendukung aktivitas pendidikan dan pembelajaran. Permintaan pariwisata edukasi terbagi menjadi dua, yakni pasar existing dan pasar potensial. Pasar existing dalam pariwisata edukasi merupakan sekumpulan wisatawan yang mempunyai minat dan kemampuan untuk membeli produk pariwisata edukasi. Pasar existing di Kota Yogyakarta meliputi semua pelajar baik yang tinggal di Kota Yogyakarta maupun di luar Kota Yogyakarta. Sedangkan pasar potensial dalam pariwisata edukasi, merupakan sekumpulan wisatawan yang mempunyai tingkat minat tertentu terhadap produk pariwisata edukasi (Hussain et.al., 2013). Pasar potensial di Kota Yogyakarta meliputi wisatawan bukan pelajar yang memiliki minat terhadap atraksi wisata yang melibatkan aktivitas pendidikan dan pembelajaran yang ditawarkan di Kota Yogyakarta.
Permintaan wisatawan menjadi acuan bagi pengelola pariwisata edukasi dalam mendesain produk pariwisata yang melibatkan unsur pendidikan dan pembelajaran. Wisatawan mempunyai permintaan akan lingkungan pariwisata yang kondusif, yang meliputi lingkungan fisik, sosial, atraksi wisata, dan sumber daya yang mendukung aktivitas pariwisata edukasi. 1) Lingkungan fisik dalam pariwisata edukasi, di antaranya, berbagai wahana permainan, zonasi atraksi wisata, bangunan bersejarah, dan benda-benda koleksi. 2) Lingkungan sosial pada pariwisata edukasi meliputi cerita rakyat setempat, bahasa, budaya lokal, dan tradisi masyarakat setempat. 3) Atraksi wisata pariwisata edukasi merupakan permintaan dan daya tarik utama bagi wisatawan edukasi. Atraksi pariwisata edukasi merupakan sebuah perhelatan yang sangat dipengaruhi oleh produk inti pariwisata edukasi (Weidenfeld & Leask, 2013). Atraksi pariwisata edukasi diwujudkan dalam berbagai event pendidikan, serta mampu
menjadi alat strategis untuk mempromosikan sebuah destinasi pariwisata edukasi (Swarbrooke, 2002). 4). Sumber daya pariwisata terdiri dari tiga hal, yakni sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya kebudayaan (Soekadijo, 2000). Menurut Damanik & Weber (2006) sumber daya pariwisata menyangkut produk dan jasa pariwisata. Dalam pariwisata edukasi, sumber daya produk terangkum dalam beberapa aspek, berupa atraksi pariwisata edukasi, akomodasi, transportasi, dan hiburan, sedangkan jasa berupa pelayanan yang diberikan pengelola kepada wisatawan selama melakukan aktivitas pariwisata. Perpaduan antara produk dan layanan pariwisata tersebut membentuk sebuah destinasi pariwisata (Buhalis, 2000).
PROSES
Proses dalam model ini merupakan aktivitas pengelolaan produk, sebagai aspek penawaran pariwisata edukasi meliputi produk existing dan produk potensial. Produk existing merupakan produk yang ada dan ditawarkan kepada wisatawan berupa berbagai produk yang mendukung atraksi wisata pendidikan dan pembelajaran. Produk
existing berupa semua produk pariwisata edukasi yang dikelola dan
ditawarkan bagi wisatawan edukasi di Kota Yogyakarta, meliputi atraksi wisata seni dan budaya, sejarah, ilmu pengetahuan, konferensi, dan mempelajari teknologi baru. Produk potensial dalam hal ini merupakan produk pariwisata di Kota Yogyakarta yang mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai produk pariwisata edukasi dengan meningkatkan daya saing melalui diferensiasi produk pariwisata edukasi (Sunyoto, 2014). Salah satu produk potensial, yakni atraksi wisata yang melibatkan pembelajaran bahasa. Produk tersebut sejauh ini belum dikembangkan secara maksimal pada keempat objek wisata yang diteliti.
Pada tahap ini terjadi proses desain produk guna menciptakan pengalaman wisatawan berupa atraksi wisata yang bermuatan pendidikan dan pembelajaran. Proses pengelolaan produk pariwisata
edukasi sangat dipengaruhi oleh kerja sama berbagai pemangku kepentingan dan regulasi atau kebijakan yang berlaku.
Penawaran produk mengacu pada permintaan wisatawan guna mewujudkan pengalaman pendidikan dan pembelajaran dalam aktivitas wisata. Proses penawaran produk pariwisata melibatkan dua aspek penting, yakni pelayanan pariwisata dan konsentrasi atau diversifikasi produk. Pelayanan merupakan perilaku produsen dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen demi tercapainya kepuasan (Kotler, 2002). Pelayanan merupakan aktivitas yang tidak kasat mata sebagai akibat dari interaksi konsumen dan produsen (Gronroos, 2001). Pelayanan pariwisata melibatkan semua pemangku kepentingan yang terlibat dan menjadi tolak ukur keberhasilan pengelolaan destinasi pariwisata. Untuk menciptakan pengalaman yang maksimal bagi wisatawan, pelayanan saja tidak cukup, tetapi harus disertai dengan desain produk yang baik. Dalam mendesain sebuah produk pariwisata edukasi, terdapat dua hal yang harus dipertimbangkan oleh pengelola, yakni konsentrasi atau diversifikasi produk.
Berkonsentrasi pada satu produk dapat menjadi produk yang kompetitif dan berkelanjutan apabila mampu memberikan manfaat yang jelas dan didukung oleh semua pemangku kepentingan (Getz
et.al., 2012). Kondisi ini terlihat jelas pada Museum Biologi yang
menawarkan benda-benda koleksi berupa awetan tumbuhan dan hewan. Pada satu sisi, Museum Biologi merupakan satu-satunya museum dengan koleksi yang sangat spesifik dan tidak dimiliki oleh objek wisata lain. Pada sisi lain, pengelola menghadapi tantangan untuk menciptakan atraksi pariwisata yang menarik guna menghindari kejenuhan pengunjung yang hanya melihat benda koleksi berupa awetan tumbuhan dan hewan.
Benur dan Bramwell (2015) menyampaikan diversifikasi produk mampu meningkatkan pengalaman wisatawan. Diversifikasi produk pariwisata edukasi tidak bertujuan untuk mengubah produk
existing, tetapi mengurangi kejenuhan dan memperpanjang lama
diversifikasi harus memperhatikan tujuan utama dari wisatawan edukasi yakni mendapatkan pengalaman pendidikan dan pembelajaran. Diversifikasi produk terlihat jelas pada pengelolaan Taman Pintar. Taman Pintar melakukan diversifikasi produk dengan cara mengombinasikan produk wisata yang sudah ada dengan produk baru yang didesain mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menarik pasar baru dan mempertahankan pasar yang sudah ada (Benur dan Bramwell, 2015). Diversifikasi produk dilakukan untuk mencapai keunggulan kompetitif melalui penawaran pengalaman yang lebih dibandingkan dengan destinasi pariwisata lainnya (Dwyer dan Kim, 2003).
Pada tahap input dan proses, variabel pasar existing, pasar potensial, produk existing, dan produk potensial saling memengaruhi dalam proses pengelolaan pariwisata edukasi untuk mewujudkan pengalaman pariwisata edukasi.
OUTPUT
Bagian ketiga, yaitu output, menggambarkan pengalaman yang diperoleh wisatawan setelah mengonsumsi produk pariwisata edukasi yang ditawarkan. Pariwisata merupakan rangkaian pengalaman wisatawan yang lengkap sejak keberangkatan dari rumah sampai saat kembali (TPRG, 2003 dan TPDS, 2007--2003). Pengalaman produk pariwisata tersebut kemudian menjadi faktor utama yang memengaruhi permintaan wisatawan selanjutnya (Brunner-Sperdin dan Peters, 2009). Pengalaman wisatawan terbentuk dari lingkungan pengalaman yang diwujudkan oleh pengelola pariwisata. Lingkungan pengalaman pariwisata merupakan ruang interaksi pengelola dengan wisatawan, yang produk pariwisata itu dikonsumsi dengan memuaskan (Prahalad dan Ramaswamy, 2004). Pengalaman sebagai produk utama dalam industri pariwisata menjadi target untuk mencapai destinasi pariwisata yang berdaya saing. Pengalaman dapat dievaluasi melalui penilaian tingkat kepuasan wisatawan, yang merupakan tujuan penting dalam sebuah bisnis pariwisata (Chi dan Hailin, 2008).
Upaya mewujudkan pengalaman wisatawan sangat dipengaruhi oleh keterlibatan pemangku kepentingan dan kebijakan yang berlaku. Jika keterlibatan pemangku kepentingan tinggi, pengalaman wisatawan akan meningkat. Sebaliknya, jika kebijakan yang diterapkan terlalu mengikat, pengalaman wisatawan akan rendah karena keterbatasan pengelola dalam mendesain variasi aktivitas wisata. Pengelolaan pariwisata tidak bisa terlepas dari kerja sama berbagai pemangku kepentingan. Cohen (2008) dan Mitchell (2001) menjelaskan bahwa model pengelolaan pariwisata edukasi merupakan hasil kerja sama dari beberapa institusi dan individu. Sejalan dengan model yang dibangun (Gambar 7.3) pemangku kepentingan pariwisata meliputi wisatawan sebagai permintaan, industri sebagai penyedia produk, dan host yang meliputi masyarakat setempat dan lingkungan (Pavlovich, 2003). Dalam proses pengelolaan, interaksi antar berbagai pemangku kepentingan tersebut terikat oleh regulasi atau kebijakan yang berlaku pada sebuah destinasi pariwisata. Salah satu aspek yang sangat berkaitan dengan regulasi ialah birokrasi. Birokrasi merupakan salah satu pemangku kepentingan pengelolaan pariwisata yang mempunyai peran strategis dalam menentukan arah dan sasaran pengelolaan pariwisata (Kusworo dan Damanik, 2002). Keberhasilan pengelolaan pariwisata sangat bergantung pada sistem regulasi, di antaranya, ialah birokrasi dalam mengelola sumber daya pariwisata yang ada.
Pariwisata edukasi menjadi sarana meningkatkan standar akademik dalam dunia pendidikan (Smith, 2013). Dengan demikian, pariwisata edukasi menjadi motivasi kuat dalam rangka mengembangkan pendidikan. Motivasi yang kuat menimbulkan permintaan wisatawan dan menjadi peluang bagi para pengelola destinasi pariwisata untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Permintaan tersebut memberikan gambaran jelas bagi para pengelola pariwisata edukasi dalam mendesain produk yang akan dihasilkan untuk memenuhi permintaan pasar dan memunculkan permintaan wisatawan untuk berkunjung pada sebuah destinasi pariwisata (Vengesayi, 2003). Permintaan pasar dan upaya mendesain produk
sangat memengaruhi kinerja pengelolaan dalam mewujudkan berbagai atraksi wisata sesuai dengan kebutuhan wisatawan. Uraian tersebut membentuk empat proposisi. Proposisi pertama dibentuk oleh keterkaitan antara permintaan wisatawan edukasi dengan ketersediaan produk pariwisata edukasi itu sendiri. Proposisi kedua dibentuk oleh keterkaitan antara permintaan wisatawan edukasi dengan kinerja pengelolaan produk pariwisata edukasi. Proposisi ketiga dibentuk oleh keterkaitan antara ketersediaan produk pariwisata edukasi dengan kinerja pengelolaan produk pariwisata edukasi. Sedangkan, proposisi keempat dibentuk oleh keterkaitan antara permintaan wisatawan edukasi dengan variasi aktivitas pariwisata edukasi.
Kinerja pengelolaan dapat dilihat dari ketersediaan dan kelayakan produk, meliputi fasilitas utama, fasilitas tambahan, pelayanan, dan jasa pendukung. Ketersediaan produk yang memadai baik dalam kualitas maupun kuantitas memengaruhi variasi aktivitas wisata yang didesain oleh pengelola. Kinerja pengelolaan merupakan upaya pengelola pariwisata edukasi dalam pemanfaatan potensi yang ada untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, meliputi pengelolaan atraksi wisata, berbagai jenis layanan pariwisata, dan fasilitas pendukung (Priono, 2012). Semakin lengkap fasilitas dan produk yang dimiliki, aktivitas wisata yang ditawarkan semakin bervariasi. Selain itu, kinerja pengelolaan yang baik mampu memberikan kontribusi dalam pembentukan pengalaman wisatawan. Uraian di atas membentuk proposisi kelima dan keenam. Proposisi kelima dibentuk oleh keterkaitan antara kinerja pengelolaan produk pariwisata edukasi dengan variasi aktivitas pariwisata edukasi. Proposisi keenam dibentuk oleh keterkaitan antara kinerja pengelolaan produk pariwisata edukasi dengan tingkat pengalaman wisatawan edukasi.
Berbagai aktivitas pariwisata edukasi dirancang untuk menciptakan pengalaman pendidikan dan pembelajaran. Berbagai aktivitas pariwisata edukasi di Israel didesain untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang sejarah Israel, geografi, bahasa, agama, dan budaya, melalui kunjungan situs penting, keterlibatan dalam
penggalian arkeologi, belajar lagu dan tarian Israel, dan mengikuti konferensi (Cohen, 2008). Aktivitas pariwisata edukasi sangat bervariasi dimulai dari mengenal sekolah, budaya, belajar bahasa, menghadiri simposium atau seminar, sampai dengan mengikuti proyek penelitian (Wang, 2008). Pengalaman pembelajaran melalui pariwisata edukasi menjadi fokus utama dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan. Pernyataan di atas membentuk proposisi ketujuh. Proposisi ketujuh dibentuk oleh keterkaitan antara variasi aktivitas pariwisata edukasi dengan tingkat pengalaman wisatawan edukasi.