• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ada tiga model yang dapat digunakan dalam pengembangan produk, yaitu model prosedural, konseptual, dan teoritik. Pengembangan ini menggunakan model yang pertama, model prosedural. Model ini bersifat preskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk.22 Dengan model prosedural tersebut, konstruksi teoritik pengembangan bahan ajar berupa indeks al-Qur’an ini, dapat digambarkan sebagai berikut:

22Ali Saukah (Ketua), Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian, Edisi Ketiga (Malang: Satgas Operasional Pendidikan dan Pengajaran, Bagian Proyek OPF, Proyek IKIP MALANG, 1996), 39.

Gambar 3.3: Konstruksi Teoritik Model Pengembangan Produk Indeks al-Qur’an Model Pengembangan Indeks al-Qur’an Model Fungsi Lafz}i>> Maknawi> Pencarian Pemahaman Bentuk Kata Akar Kata Bunyi Kata Makna Lafal} Makna Tematik Fi’l Tekstual Ism Huru>f Umum Mufrad Muthanna Jama’ Marfu>’ Majru>r Mans}u>b Ma>d}i> Amr Mud}a>ri’ Mu’rab Mabni Ma’lu>m Majhu>l ‘A<mil ‘At}il

Mans}u>b> Marfu>’> Majzu>m

Kehadiran Model Indeks al-Qur’an sebagai Alat Bantu Pembelajaran Tafsir Tematik bagi Mahasiswa Berkebutuhan Khusus

Spesifikasi

Indeks al-Qur’an berbasis Nahw – S{arf Berkode Inisial

Makna Istilah Tematik

Fi’l Huru>f Mufrad Muthanna Jama’ Marfu>’ Majru>r Mans}u>b Ma>d}i> Amr Mud}a>ri’ Mu’rab Mans}u>b> Marfu>’> ‘A<mil ‘At}il

Skema di atas menggambarkan bahwa indeks al-Qur’an mempunyai dua model; lafz}i> dan maknawi>. Baik model pertama maupun kedua, masing-masing mempunyai tiga spesifikasi yang berbeda. Model pertama, selain menurut bentuk kata dan akar kata, juga menurut bunyi kata (sistem fonem-homonim), sementara model yang kedua, selain menurut makna lafal (arti kata), juga menurut makna istilah dan makna tematik. Kedua model tersebut, baik lafz}i>> maupun maknawi>, dapat digunakan sebagai alat bantu pencarian dan pemahaman ayat.

Pengembangan yang dilakukan hendak menggabungkan kedua model tersebut, dengan tiga fokus, yaitu: 1) pengembangan model, 2) pengayaan spesifikasi, dan 3) penguatan fungsi. Pengembangan dilakukan dengan mengintegrasikan S{arf dan Nah}}w sebagai basis utama, sedangkan pengayaan spesifikasi dilakukan dengan memberi kode inisial setiap entri sesuai terminologi ilmu Nah}w. Pengembangan model dan pengayaan spesifikasi sekaligus dimaksudkan sebagai upaya peningkatan fungsi.

Pada kaki skema, terdapat satu kotak panjang yang menunjukkan muara pengembangan, yaitu kehadiran sebuah indeks al-Qur’an sebagai alat bantu pencarian dan pemahaman ayat al-Qur’an.

Berikut ini adalah penjelasan ringkas bagaimana prosedur pengembangan dilakukan.

a. Prosedur Pengembangan

Pengembangan produk mengikuti lima tahapan, yaitu: 1) analisis, 2) perancangan, 3) pengembangan, 4) evaluasi, dan 5) revisi. Masing-masing tahapan memperlihatkan prosedur pengembangan sebagai berikut:

1) Tahap Analisis

Analisis dalam konteks ini dilakukan untuk mengenal karakteristik sasaran pengguna produk, khususnya para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Tafsir al-Qur’an, pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (selanjutnya disingkat UIN Maliki Malang).

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun dan pengalaman sebagai pembina mata kuliah tafsir al-Qur’an selama bertahun-tahun, ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik mengenai karakteristik sasaran pengguna produk. Pertama, latar belakang pendidikan mereka, selain berbasis madrasah dan pondok pesantren, juga tidak sedikit yang berbasis sekolah. Sebagian besar mereka adalah tamatan Madrasah Aliyah (MA). Selebihnya adalah tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), baik negeri maupun swasta. Namun demikian, kemampuan mereka tentang bahasa al-Qur’an relatif sama, kecuali mereka yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Kedua, dalam konteks pencarian dan pemahaman ayat al-Qur’an, mereka memerlukan alat bantu berupa indeks al-Qur’an dengan model dan spesifikasi tertentu, karena mereka rata-rata awam dalam bahasa Arab. Indeks al-Qur’an yang telah ada, belum sepenuhnya membantu mereka dalam pencarian maupun pemahaman ayat. Ketiga, minimnya basis pengetahuan mereka tentang asal-usul (akar kata) bahasa Arab, merupakan faktor utama kegagalan mereka menemukan ayat al-Qur’an yang mereka cari, apalagi jika kata kunci yang mereka gunakan telah mengalami perubahan yang signifikan. Demikian pula jika suatu kata telah dimasuki kata atau huruf lain, seperti pada kata

layajma’annakum (

ﻢﻜﻨﻌﻤﺠﻴﻟ

)23 atau – falaqa>talu>kum (

ﻢﻛﻮﻠﺗﺎﻘﻠﻓ

).24 Keempat, mereka membutuhkan kehadiran sebuah indeks dengan model dan spesifikasi khusus, yang dapat membantu mereka untuk mencari dan memahami bahasa al-Qur’an. Model dan spesifikasi dimaksud, selain menurut bentuk kata dan akar kata, juga menurut arti kata dan tema ayat. Dengan model seperti itu, mereka diharapkan dapat mencari ayat melalui beberapa pilihan. Kelima, untuk membantu mereka mengenal unsur kalimat berbahasa Arab (kala>m), spesifikasi indeks perlu pula dilengkapi dengan beberapa informasi lain, misalnya, memberi inisial pada setiap entri sesuai dengan kategorinya; kata benda, kata kerja, atau huruf, termasuk hal-hal lain yang terkait (misalnya: jenis kata, bilangan kata, posisi kata dalam kalimat, tanda baca, jenis huruf dan sebagainya). Bahkan, dalam konteks yang lebih luas, juga kategori surat Makkiyah atau Madaniyah.

2) Tahap Perancangan

Berdasarkan hasil analisis terhadap pengguna indeks al-Qur’an di atas, langkah berikutnya adalah membuat rancangan produk yang dibutuhkan. Pada tahap ini, ada tujuh langkah yang ditempuh secara kronologis, yaitu 1) perumusan tujuan, 2) pemilihan model, 3) penentuan fokus, 4)) penentuan spesifikasi, 5) penyusunan produk, 6) evaluasi, dan 7) revisi produk pengembangan.

Pertama, tujuan pengembangan adalah hadirnya sebuah indeks al-Qur’an dengan model dan spesifikasi khusus, bukan saja dapat digunakan oleh mereka

23 al-Qur’an, 4 (al-Nisa>’):87; 6 (al-An’a>m):12. 24 al-Qur’an, 4 (al-Nisa>’):90

yang mahir dalam bahasa Arab, tetapi juga oleh mereka yang awam dalam bahasa tersebut; bukan hanya sebagai alat bantu pencarian ayat al-Qur’an, tetapi juga sebagai alat bantu pemahamannya.

Tujuan tersebut dirumuskan berdasarkan pada hasil analisis terhadap karakteristik sasaran pengguna produk, terutama kemampuan rata-rata mereka mengenai seluk-beluk bahasa Arab yang digunakan al-Qur’an. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, hasil analisis menunjukkan bahwa dalam konteks pencarian dan pemahaman ayat-ayat al-Qur’an, mereka membutuhkan kehadiran sebuah indeks al-Qur’an dengan model dan spesifikasi khusus, yaitu indeks yang memungkinkan mereka mencari dan memahami ayat-ayat al-Qur’an. Bahkan, yang jauh lebih penting, dapat pula meningkatkan kemampuan mereka untuk mengenal secara detail tentang seluk beluk bahasa al-Qur’an, setidak-tidaknya mengenai 1) bentuk, akar, arti, bilangan, dan jenis kata atau huruf, 2) posisi kata atau huruf dalam kalimat, 3) bentuk dan ciri-ciri kalimat nominal atau verbal, 4) konsep nakirah-ma’rifah, ‘a>m-kha>s}, mut}la>q-muqayyad, mujmal-mufas}s}al, qas}r-wasl, dan sebagainya.25

Kemampuan mengenal dasar-dasar kebahasaan seperti itu merupakan prasyarat bagi siapapun yang hendak memahami dan mengungkapkan makna ayat-ayat al-Qur’an. Teks al-Qur’an adalah teks berbahasa Arab. Tidak ada jalan lain untuk memahaminya kecuali melalui teks dan konteksnya sendiri, baik konteks kalimat (siya>q al-kala>m) maupun konteks turunnya.

25 Mengenai beberapa konsep ini, telah diuraikan secara ringkas pada bab kedua, khususnya mengenai ilmu bantu tafsir al-Qur’an.

Kedua, model produk yang dikembangkan adalah gabungan (integrasi) dari model lafz}i>> dan model maknawi> yang telah ada sebelumnya. Disebut model gabungan (integrasi), karena model yang dikembangkan bukan saja menyangkut lafal tetapi juga maknanya. Dengan model seperti itu, produk pengembangan akan menampilkan mufrada>t al-Qur’an dalam empat aspek: 1) menurut bentuk kata (ism, fi’l, dan h}arf), 2) menurut akar kata bahasa Arab, 3) menurut arti kata bahasa Indonesia, dan 4) dalam beberapa kasus, menurut tema ayat. Selain itu, berbeda dengan produk sebelumnya, setiap entri dilengkapi dengan kode inisial yang menunjukkan jenis dan fungsi kata atau huruf dalam struktur kalimat, termasuk periode turunnya ayat.

Ketiga, fokus pengembangan ditekankan pada tiga hal, yaitu: a) pengembangan model, b) pengayaan spesifikasi, dan c) penguatan fungsi produk. Ketiga fokus ini dikembangkan secara simultan sehingga melahirkan satu produk indeks al-Qur’an yang ‘berbeda’ dengan produk sejenis sebelumnya. Pengembangan model dilakukan dengan menggabungkan aplikasi ilmu S{arf dan

Nah}w sebagai basis produk. Pengayaan spesifikasi dan penguatan fungsi

dilakukan secara simultan, di satu sisi memperkaya informasi setiap entri dengan kode inisial, di sisi lain menggandakan entri yang telah diperkaya menjadi empat opsi pencarian, melalui 1) bentuk kata, 2) akar kata, 3) arti kata, dan 4) tema ayat. Dengan demikian, produk pengembangan ini, selain dapat diakses oleh kalangan lebih luas, juga dapat mempermudah pencarian dan pemahaman ayat al-Qur’an.

Keempat, spesifikasi produk pengembangan diharapkan‘berbeda’ dengan produk sejenis, terutama pada beberapa aspek:

1) Kelengkapan entri, selain disusun secara alfabetik menurut bentuk kata, akar kata, dan arti kata bahasa Indonesia, juga menurut huruf dan tema ayat. 2) Kemudahan, selain menyediakan empat pilihan untuk mencari ayat (melalui

bentuk kata, akar kata, arti kata, dan tema ayat), juga setiap entri ditampilkan perdua kata, kecuali jika entrinya adalah kata terakhir suatu ayat. Dengan cara seperti itu, pencarian kata atau huruf diharapkan lebih mudah, karena kata atau huruf kedua dapat digunakan sebagai indikator pembeda, meskipun indikator ini tidak mempengaruhi urutan entri. Misalnya kata yang dicari adalah kata kerja khalaqa

(ﻖﻠﺧ

), sementara kata berikutnya adalah lakum (

ﻢﻜﻟ

), maka kata kedua ini dapat dijadikan sebagai indikator pembeda, dibandingkan dengan kata yang sama namun diikuti kata kedua yang berbeda. Tanpa kata kedua itu, dalam kasus ini, pencarian ayat menjadi lebih lama karena kata kerja khalaqa terbilang sangat banyak (terulang 64 kali). Demikian pula kata kerja atau kata benda, yang jumlahnya relatif banyak. Misalnya, kata kerja

ja’ala

(ﻞﻌﺟ),

terulang 77 kali, atau ja’alna>

(ﺎﻨﻠﻌﺟ)

terulang 70 kali, atau kata benda jannah

(ﺔﻨﺟ),

terulang 66 kali, atau janna>tin

(ﺕﺎﻨﺟ),

terulang 69 kali.26

26 Kata yang jumlahnya ratusan, misalnya: ka>na (

ﻥﺎﻛ

), misalnya, terulang 422 kali, atau ka>nu> (

ﺍﻮﻧﺎﻛ

), terulang 267, atau qa>la (

ﻝﺎﻗ

), terulang 529 kali, qa>lu> (

ﺍﻮﻟﺎﻗ

), terulang 331 kali, qul (

ﻞﻗ

), terulang 332 kali. Sementara kata yang jumlahnya ribuan, misalnya, Allah (

ﷲﺍ

), terulang 2698; dengan rincian marfu>’, 980 kali, mans}u>b, 592 kali, dan majru>r, 1126 kali.

3) Kejelasan, selain memuat semua unsur kalimat (kala>m) dalam bahasa Arab, yaitu ism (kata benda), fi’l (kata kerja), dan h}arf (huruf), 27 juga semua unsur kalimat tersebut diidentifikasi dengan kode tertentu untuk memperjelas inisialnya masing-masing.

4) Keterpaduan, selain memadukan ilmu S}arf (morfologi) dan Nah}w (gramatika), juga memadukan akar kata dan arti kata dalam bahasa Indonesia. Keterpaduan ilmu S{arf dan Nah}w sangat diperlukan dalam konteks pemahaman ayat al-Qur’an, karena ilmu yang disebutkan pertama mengenai perubahan tanda baca, sedangkan yang kedua mengenai perubahan bentuk kata. Perubahan bentuk kata dan tanda baca sangat signifikan mempengaruhi perubahan makna kalimat.28 Sedangkan keterpaduan antara akar kata dan arti kata, selain dapat memperjelas asal usul kata, juga dapat memperlihatkan perbedaan atau persamaan makna suatu kata. Kata yang berakar sama belum tentu artinya juga sama, demikian pula sebaliknya. Kata yang berakarkan huruf (

ﻱ–ﺕ–ﺃ

), misalnya, sebagaimana dikemukakan pada bab sebelumnya, ternyata mempunyai arti yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya. Dalam bahasa

27 Huruf yang dimaksud adalah huruf-huruf bermakna (h}uru>f al-ma’a>ni>), bukan huruf hijaiyyah. 28 Mengenai pengaruh perubahan tanda baca (i'rab) dapat dilihat kembali contohnya ketika uraian

tentang keunikan bahasa Arab pada bagian latar belakang masalah di atas. Sedangkan pengaruh perubahan bentuk kata, dari fi’l Ma>d}i ke fi’l Amr, misalnya, akan diikuti perubahan makna kata menyangkut waktu terjadinya suatu perbuatan’. Kata qa’ada (fi’l Ma>d}i) berarti dia telah duduk, tetapi jika dirubah menjadu uq’ud, maka artinya berubah menjadi “duduklah kamu ( sekarang atau nanti)”. Bahkan jika perubahan itu terjadi dari bentuk ism fa>’il ke ism maf’u>l, misalnya pada qa>ri’un dirubah maqru>’un, maka yang kata yang disebutkan pertama berarti “pembaca”, sedankan kata yang kedua berarti “yang dibaca”.

Indonesia, semua bentuk kata yang terbentuk dari akar kata tersebut, biasa diartikan: datang, 29 beri, 30 bawa, 31 dan sebagainya. 32

5) Keragaman fungsi, selain dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran tafsir al-Qur’an (untuk mencari dan memahami ayat), juga dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran bahasa Arab, terutama penerapan kaidah-kaidah ilmu Nah}w dan S{arf, karena produk ini memperkenalkan beberapa aspek setiap kosakata dan huruf al-Qur’an, baik menyangkut bentuk kata (asal-usul dan perubahannya), posisi kata dan tanda bacanya, maupun jenis huruf dan pengaruhnya terhadap perubahan tanda baca dan arti kata yang dipengaruhinya.

Kelima, penyusunan produk dilakukan sesuai model dan spesifikasi yang ditentukan, sampai akhirnya tersusun sebuah produk seperti yang diharapkan. Contoh produk ini akan dikemukakan pada tahap pengembangan di bawah ini.

Keenam, evaluasi dilakukan setelah produk tersusun, melalui proses uji coba. Prores uji coba dimaksudkan untuk menakar daya tarik, efisiensi, dan efektifitasnya sebagai sebagai alat bantu pembelajaran tafsir al-Qur’an secara tematik. Bagaimana proses uji coba ini berlangsung, akan dikemukakan pada bagian akhir bab ini.

Ketujuh, revisi produk merupakan tahap akhir pengembangan. Tahapan ini diperlukan untuk mendekatkan kualitas produk dengan harapan dan kebutuhan

29 Lihat, misalnya, terjemahan al-Qur’an, 2 (al-Baqarah):87,106,109. 30 Lihat, misalnya, terjemahan al-Qur’an, 4 (al-Nisa>’):2,4,19,20,24.

31 Lihat, misalnya, terjemahan al-Qur’an, 3 (Ali Imra>n):161; 7 (al-A’ra>f):112,190. 32 Lihat, misalnya, terjemahan al-Qur’an, 7 (al-A’ra>f):190; 12 (Yu>suf):101.

pengguna. Selain itu, revisi juga diperlukan sebagai pijakan untuk pengembangan lebih lanjut.

3) Tahap Pengembangan

Pada tahap ini, pengembangan dilakukan sesuai rancangan yang telah disusun pada tahap sebelumnya. Tahapan pengembangan mengikuti urutan rancangan seperti dikemukakan di atas.

Pengembangan diawali dengan perumusan tujuan pengembangan. Berdasarkan tujuan pengembangan itu, ditentukan model, spesifikasi dan fungsi produk sebagai fokus pengembangan. Selanjutnya pengembangan dilakukan sedemikian rupa sampai akhirnya terwujud indeks al-Qur’an yang diharapkan. Indeks ini terdiri atas empat bagian utama dan satu bagian suplemen, yaitu:

Bagian pertama, memuat semua kosakata (mufrada>t) yang disusun secara alfabetik berdasarkan bentuk katanya, meliputi:

a) Semua kata benda (ism), yang dibagi dalam dua kategori, yaitu:

(1) Ism Z}a>hir, yaitu semua kata benda yang tampak, (bukan kataganti), meliputi: (a) kata benda tanpa alif la>m dan (b) kata benda beralif la>m.

(2) Ism D{ami>r, yaitu semua kata ganti orang pertama (mutakallim), orang kedua (mukha>t}ab), dan orang ketiga (gha>ib), meliputi: (a) ism D{ami>r Munfas}il, yang ditulis secara terpisah dari kata atau huruf; (b)ism D{ami>r Rafa’-Muttas}il, yang bersambung dengan kata kerja (d}ama>ir raf’i al-ba>rizah al-muttas}ilah bi al-af’a>l); dan (c) ism D{ami>r Muttas}il, yang bersambung dengan ism, fi’l, dan h}arf.

(1) Fi‘l Ma>d}i, yaitu kata kerja yang menunjukkan perbuatan yang telah terjadi. (2) Fi‘l Mud}a>ri’, yaitu kata kerja yang menunjukkan perbuatan yang sedang

dan akan terjadi, termasuk perbuatan biasa terjadi.

(3) Fi‘l Amr, yaitu kata kerja perintah yang menuntut suatu pekerjaan dilakukan sekarang atau akan datang.

c) Semua jenis huruf bermakna, baik yang beramal (‘a>mil) maupun tidak beramal (‘a>t{il):

(1) Huruf yang beramal (‘a>mil), adalah huruf yang mempengaruhi perubahan tanda baca pada kata yang dimasuki sesudahnya, baik kata benda atau kata kerja.

(2) Huruf yang tidak beramal (‘a>t{il), adalah huruf yang tidak mempengaruhi perubahan tanda baca kata sesudahnya.

(a) Huruf Istifha>m, khususnya hamzah (ﺃ), dikelompokkan menjadi empat

kategori, yaitu: (a) Hamzah bersama fi’l ; (b) Hamzah bersama ism ; (c) Hamzah bersama huruf dan ism; (d) Hamzah bersama huruf lain. (b) Huruf Ja>r, khususnya ba>’ (ﺏ), dikelompokkan menjadi lima kategori:

(a) disertai huruf lain; (b) disertai huruf lain dan ism d{ami>r

(kataganti); (c) hanya disertai ism d{ami>r (kataganti); (d) disertai ism

tanpa alif la>m; dan (e) disertai ism dengan alif la>m.

Bagian kedua, memuat semua kata kerja (fi’l) dan kata benda (ism) yang memiliki akar kata. Dalam hal ini, ism yang dianggap tidak berakar kata, antara lain: ism D}ami>r, ism Isya>rah, dan ism Maws}u>l. Bagian ini disusun secara

alfabetik berdasarkan asal-usul (akar kata), sebagaimana indeks al-Qur’an model

lafz}i>> pada umumnya.

Bagian ketiga, memuat semua kata kerja dan kata benda yang disusun menurut arti/terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Sistem alfabetiknya menggunakan kata dasar, bukan kata jadian, kecuali nama diri atau nama-nama pada umumnya. Bagian ini perlu disajikan, selain untuk memudahkan pencarian kata/ayat bagi yang awam dalam bahasa Arab, juga untuk memperkenalkan nuansa makna mufrada>t al-Qur’an dalam perspektif bahasa Indonesia.

Bagian keempat, memuat sejumlah tema pokok al-Qur’an, sebagai ilustrasi peta utama pesan-pesan moral yang disampaikan al-Qur’an.

Bagian kelima, memuat statistika ism, fi’l, dan h}arf al-ma’a>ni (huruf bermakna), yang disusun sesuai dengan kategori kosakata menurut bentuk dan akar katanya dalam bahasa Arab.

4) Evaluasi dan Revisi

Pada tahap ini, produk pengembangan dievaluasi dalam konteks perbaikan kualitas produk. Evaluasi dilakukan melalui proses uji coba. Masukan-masukan yang diperoleh pada tahap ini, selanjutnya akan digunakan untuk perbaikan produk. Tahap perbaikan (revisi) merupakan tahap terakhir pengembangan.

D. Uji Coba Produk

Dokumen terkait