• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Penilaian Kinerja

Dalam dokumen Model Penilaian Cepat Kinerja Industri Gula (Halaman 61-75)

B. RANCANG BANGUN SISTEM

2. Model Penilaian Kinerja

Jenis model yang digunakan dalam sistem ini adalah berupa model simbolik (matematik). Format model yang dipakai adalah berupa persamaan (equation). Model sistem penilaian cepat kinerja industri gula tersusun atas dua kategori input penilaian, yaitu: input penilaian kinerja internal dan input penilaian kinerja eksternal PG. Penilaian kinerja internal PG meliputi penilaian kinerja penyediaan bahan baku, kinerja proses produksi, kinerja pembangkit dan pemanfaatan energi, kinerja produk, kinerja SDM, dan kinerja keuangan. Penilaian kinerja eksternal meliputi penilaian kinerja ekonomi, kinerja sosial, dan kinerja lingkungan (limbah).

Masing-masing kategori penilaian kinerja di atas selanjutnya diterapkan menjadi sub model - sub model penilaian kerja. Prinsip kerja utama setiap sub- model penilaian kinerja adalah menghitung penyimpangan (deviasi) data empirik setiap parameter terhadap nilai standar ideal. Nilai standar yang dijadikan sebagai parameter ideal merupakan nilai standar ideal bagi pengelolaan PG. Nilai ini diperoleh berdasarkan studi pustaka dan berdasarkan referensi para pakar.

Model penilaian cepat industri gula terdiri dari empat belas sub-model penilaian kinerja (SMPK). Setiap SMPK tersusun atas beberapa parameter penilaian kinerja. Masing-masing SMPK dijelaskan sebagai berikut:

1. SMPK Stasiun Bahan Baku

Sub-model ini digunakan untuk menilai kinerja penyediaan bahan baku produksi di stasiun penerimaan dan persiapan (bahan baku). Target utama stasiun bahan baku adalah menyediakan suplai tebu sehingga proses giling dapat berjalan dengan lancar. Bahan baku yang diharapkan adalah tebu yang masak, segar, dan bersih. Sebelum tebu masuk dalam stasiun gilingan biasanya akan dilakukan analisis bahan pengotor (trash) terlebih dahulu, jika bahan pengotor berlebihan maka tebu harus segera dibersihkan. Selain analisis trash, untuk mengetahui kualitas tebu yang akan digiling juga dilakukan analisis terhadap % pol (kandungan sukrosa) tebu, nira perahan pertama (NPP), dan persentase brix tebu terhadap NPP. Parameter pengukuran kinerja stasiun penerimaan dan persiapan bahan baku adalah seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Parameter Penilaian Kinerja Stasiun Penerimaan dan Persiapan Bahan Baku.

STANDAR PAREMETER

Syarat Nilai Satuan

Tingkat kemasakan tebu (%) - 24 - 40

Jumlah bahan pengotor (trash) <= 5 %

Kesegaran tebu <= 24 jam

Pol tebu <= 12 %

Kadar nira tebu >= 80 %

Kemurnian nira perahan pertama (npp) >= 85 % (Keterangan mengenai simbol “syarat” nilai yang digunakan dalam setiap tabel parameter penilaian kinerja dapat dilihat dalam daftar pada Lampiran 1). 2. SMPK Stasiun Penggilingan

Sub-model ini digunakan untuk menilai kinerja stasiun penggilingan. Stasiun penggilingan merupakan unit proses yang berfungsi untuk

mendapatkan ekstraksi nira tebu semaksimal mungkin dengan ampas seminimal mungkin yang mengandung gula. Prinsip kerja dari stasiun ini adalah: pertama penghancuran; yaitu memperkecil ukuran bahan yang akan diekstrak sehingga semakin banyak sel yang terbuka, semakin luas permukaan sel tebu yang terbuka maka akan semakin cepat dan banyak nira yang dapat dikeluarkan, kedua ekstraksi; yaitu memeras nira sebanyak-banyaknya dari tebu dengan meminimalkan kehilangan nira yang terikat dalam ampas (baggase), ketiga penyaringan; yaitu memisahkan nira dari kotoran, dan yang keempat adalah imbibisi; yaitu menambahkan air ke dalam ampas setelah proses penggilingan pertama sehingga semaksimal mungkin nira lepas dari ampasnya. Parameter yang digunakan untuk menilai kinerja stasiun penggilingan adalah seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Parameter Penilaian Kinerja Stasiun Penggilingan STANDAR Nilai PAREMETER Syarat PG. Kecil PG. Sedang PG. Besar Satuan Kadar sabut - 14-16 % Tingkat pencacahan (Prepration index) > 90 % Fibre loading = 200 g/dm2

Imbibisi persen sabut >= 200 %

Persentase nira mentah tebu >= 100 %

Persentase ekstraksi nira > 96 %

Kapasitas giling >= 1500 3000 4500 TCD

Keterangan: (TCD = Ton tebu per hari)

3. SMPK Stasiun Pemurnian Nira

Tujuan utama stasiun pemurnian nira adalah menghilangkan bahan organik dan anorganik bukan gula yang terdapat dalam nira mentah, sehingga diperoleh nira dengan kadar sukrosa maksimum. Berdasarkan sifat fisiknya bahan yang terdapat dalam nira hasil gilingan dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:pertama adalah bahan kasar terdispersi, seperti sabut, tanah, lilin, lemak, protein, gum, tanin, pigmen, dan pektin. Bahan-bahan ini akan dipisahkan sebagai blotong.Kedua adalah molekul terlarut dalam nira seperti

sukrosa dan unsu-unsur yang terdapat dalam kadar abu. Ketiga adalah kotoran yang terlarut dalam nira berupa bahan organik seperti bahan-bahan koloid dan anorganik seperti silikat dan magnesium. Bahan-bahan pengotor ini jika tidak dibersihkan akan mengganggu proses perjalanan nira menjadi kristal gula. Oleh karena itu kotoran pengganggu tersebut harus dipisahkan dari nira. Kapur tohor (CaO) digunakan untuk mengendapkan kotoran, menjernihkan dan memurnikan nira mentah. Namun kandungan kapur tohor yang tinggi dalam nira dapat menyebabkan inkrutasi (pembentukan kerak) dalam pan masak. Kerak yang terbentuk dalam pan masak yang dapat menghambat perpindahan panas sehingga konsumsi uap akan meningkat. Selain itu, kandungan kapur tohor yang tinggi akan mempersulit proses kristalisasi, mempersulit proses pemasakan, serta meningkatkan pembentukan molase. Dengan demikian kandungan kapur tohor dalam nira hasil pemurnian harus diusahakan seminimal mungkin. Parameter yang digunakan untuk mengukur kinerja stasiun pemurnian adalah seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Paramer Penilaian Kinerja Stasiun Pemurnian Nira.

STANDAR PAREMETER

Syarat Nilai Satuan

Turbidity nira <= 50 ppm

Kadar CaO dalam nira <= 80 ppm

Jumlah bahan pengasingan bukan gula <= 14 %

Persentase pol blotong <= 2 %

Persentase blotong terhadap tebu <= 3 %

4. SMPK Stasiun Penguapan

Tujuan utama stasiun penguapan (evaporasi) adalah memekatkan nira dengan cara mengurangi kandungan air nira hingga mendekati jenuh. Untuk menguapakan air dalam nira, nira jernih dari stasiun pemurnian dipanaskan pada suhu 105-110 oC, sehingga diharapkan suhu minimal mencapai 100 oC. Hasil dari stasiun penguapan berupa nira kental. Nira kental yang dihasilkan harus memiliki kekentalan tinggi (60-65 o brix) agar tahap kristal-isasi dapat

Parameter yang digunakan untuk mengukur kinerja stasiun penguapan adalah seperti pada Tabel 4.

Tabel 4. Parameter Penilaian Kinerja Stasiun Penguapan

STANDAR

PAREMETER Syarat Nilai Satuan

Tingkat kekentalan nira >= 65 % brix

Warna nira kental <= Kuning

kecoklatan

Suhu nira jernih >= 100 oc

5. SMPK Stasiun Kristalisasi

Tujuan stasiun kristalisasi adalah mengubah gula yang terdapat dalam larutan nira kental (jenuh) menjadi bentuk kristal gula. Gula yang dihasilkan dalam proses kristalisasi harus diupayakan semaksimal mungkin, dan molase yang dihasilkan diupayakan seminimal mungkin. Prinsip kerja stasiun kristalisasi adalah perlakuan suhu dan tekanan untuk menguapkan air dalam nira kental. Perlakuan ini bertujuan untuk mengendalikan suhu agar kerusakan pada gula dapat dicegah. Larutan nira kental diuapkan perlahan-lahan dalam bejana vakum sampai mencapai tingkat kejenuhan tertentu, kemudian ditambahkan bibit gula hingga kekentalan mencapai lebih dari 93 obrix. Hal lain yang harus diperhatikan dalam proses kristalisasi adalah ukuran dan kerataan kristal gula yang terbentuk. Parameter kinerja stasiun kristalisasi disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Parameter Penilaian Kinerja Stasiun Kristalisasi

STANDAR PAREMETER

Syarat Nilai Satuan

Kekentalan masakan - 93-94 % Brix

Tingkat kemurnian masakan >= 85 %

Purity drop - 10-15 %

Kerataan kristal rata

6. SMPK Stasiun Putaran

Stasiun putaran (sentrifugasi) berfungsi untuk memisahkan kristal gula dari cairan induknya (mother liquor). Prinsip kerja dari stasiun ini adalah pemutaran dan penyaringan. Pemutaran bertujuan untuk memisahkan kristal gula dari cairan induknya melalui gaya sentrifugal, dan penyaringan berfungsi untuk memisahkan kristal gula sesuai dengan butir ukuran kristal. Parameter penting kristal gula yang dihasilkan dalam stasiun putaran adalah kadar air harus serendah mungkin, ukuran kristal harus seragam, dan warna kristal harus putih jernih. Parameter yang digunakan untuk menilai kinerja stasiun putaran (sentrifugasi) adalah seperti pada Tabel 6.

Tabel 6. Parameter Penilaian Kinerja Stasiun Putaran

STANDAR PAREMETER

Syarat Nilai Satuan

Kadar air <= 1 %

Warna Putih

Ukuran kristal - 0.8-1.1 mm

7. SMPK Stasiun Pengeringan dan Pengemasan

Produk yang telah diturunkan dari stasiun putaran masih basah dengan kadar air mencapai 1% sehingga perlu dikeringkan lebih lanjut. Pengeringan ini bertujuan untuk menguapkan air yang terkandung dalam kristal gula dan mencegah gula lengket dan menggumpal. Setelah gula selesai dikeringkan, sebelum dimasukkan dalam karung kemasan, suhu gula dikondisikan terlebih dahulu dalam silo. Pada tahap akhir gula dikemas dalam karung dengan ukuran berat 50 kg. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan adalah suhu gula sebelum masuk dalam karung tidak boleh terlalu tinggi untuk mencegah terjadinya pengembunan dalam kemasan, kemasan harus kuat dan aman dari pengaruh kelembaban luar, serta berat gula perkarung harus benar. Parameter yang digunakan untuk menilai stasiun pengeringan dan pengemasan adalah seperti pada Tabel 7.

Tabel 7. Parameter Penilaian Kinerja Stasiun Pengeringan dan Pengemasan STANDAR

PAREMETER

Syarat Nilai Satuan

Kadar air gula sentrifugal <= 1 %

Suhu gula sebelum masuk karung <= 40 oc

Berat gula per karung = 50 Kg

Kemasan Karung plastik,

inner bag

8. SMPK Stasiun Energi

Energi yang diperlukan untuk menggerakkan peralatan dan proses dalam PG dapat dipenuhi dari pembakaran sebagian ampas gilingan akhir. Pemanfaatan energi dalam PG dapat berlangsung secara efisien melalui sistem

cogeneration, yaitu energi potensial uap dari ketel pembakaran ampas digunakan sebagai penggerak generator listrik, gilingan, blower, dan pompa ketel dalam siklus tertutup. Terdapat dua tipe ketel yang digunakan PG di Indonesia saat ini, yaitu (1) ketel tipe lama; jenis pipa api dan pipa air dengan dapur tipe step grate, horse shoe, dutch oven, danward, (2) ketel tipe baru; jenis pipa air dengan dapur tipe spreader stocker. Parameter yang digunakan untuk menilai kinerja stasiun energi adalah seperti pada Tabel 8.

Tabel 8. Parameter Penilaian Kinerja Stasiun Energi

STANDAR Nilai PAREMETER Syarat Ketel Tipe Lama Ketel Tipe Baru Satuan Efisiensi ketel >= 68 78 %

Produksi uap per kg ampas >= 1.95 2.10 kg/kg Persentase konsumsi energi dengan

mesin uap (terhadap tebu)

<= 65 65 Uap %

tebu Persentase konsumsi energi dengan

turbin uap (terhadap tebu).

9. SMPK Produk

Agar dapat dikonsumsi secara langsung, gula harus memenuhi syarat SNI gula yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tampilan gula adalah ukuran butir, kadar air, warna, serta kandungan bahan-bahan anorganik di dalamnya. Ukuran butir gula harus seragam, kadar air harus rendah karena gula yang basah akan lengket dalam kantung dan tidak tahan lama disimpan. Warna kristal yang disukai adalah warna kristal yang putih dan mengkilat. Beberapa parameter penilaian kinerja produk ditampilkan dalam Tabel 9.

Tabel 9. Parameter Penilaian Kinerja Produk

STANDAR Nilai PAREMETER Syarat GKP 1 GKP 2 GKP 3 Satuan Warna kristal, % >= 70 65 60 %

Warna larutan (ICUMSA), IU <= 250 350 450 IU

Besar jenis butir, % b/b - 0.8-1.2 0.8-1.2 0.8-1.2 % b/b

Susut pengeringan, mm b/b <= 0.1 0.15 0.2 mm b/b

Polarisasi (oZ, 20,oC),oZ >= 99.6 99.5 99.4 oZ

Gula reduksi, % b/b <= 0.1 0.15 0.2 % b/b

Abu konduktiviti, % b/b <= 0.1 0.15 0.2 % b/b

Zat tidak larut, derajat <= 5 5 5 derajat

Belerang dioksida (SO2), mg/kg <= 30 30 30 mg/kg

Timbal (Pb), mg/kg <= 2 2 2 mg/kg

Tembaga (Cu), mg/kg <= 2 2 2 mg/kg

Arsen (As), mg/kg <= 1 1 1 mg/kg

10. SMPK Formasi Tenaga Kerja

Standar formasi tenaga kerja (SDM) digunakan untuk menilai kecukupan jumlah tenaga kerja pada setiap tingkatan fungsi dalam PG. Formasi karyawan tergantung pada besarnya kapasitas giling PG, dan berkorelasi dengan luas tanaman tebu yang dikelola. Standar formasi tenaga kerja ditentukan berdasarkan skala kapasitas giling, yaitu standar formasi untuk PG kecil, PG sedang, dan standar formasi untuk PG Besar.

Secara umum karyawan PG dapat digolongkan menjadi lima strata, yaitu karyawan strata I, II, III, IV, dan karyawan pelaksana. Karyawan pelaksana digolongkan menjadi tenaga tetap dan musiman. Parameter untuk menilai kinerja pada standar formasi tenaga kerja PG ditampilkan dalam Tabel 10. Tabel 10. Parameter Kinerja Formasi Tenaga Kerja Pada Tiga Skala PG

Jumlah Standar

Lingkup Strata (Golongan

Jabatan) Kecil Sedang Besar

PG I 1 1 1 II 4 4 4 III 10 11 15 IV 27 32 48 Jumlah I – IV 42 48 68 Pelaksana : - Tetap 411 467 607 - Musiman 372 366 284 Jumlah Pelaksana 783 833 891 Total 825 881 959

Pimpinan & AKU I 1 1 1

II 1 1 1 III 1 3 3 IV 9 8 10 Jumlah I – IV 12 13 15 Pelaksana : - Tetap 99 104 153 Jumlah Pelaksana 99 104 153 Total 111 117 168 II 1 1 1 III 4 5 8 IV 12 12 24 Jumlah I – IV 17 18 33 Pelaksana : - Tetap 85 108 179 Jumlah Pelaksana 85 108 179 Total 102 126 212 II 2 2 3 III 7 8 13 IV 5 6 7 Jumlah I – IV 14 16 23 Pelaksana : - Tetap 227 255 315 - Musiman 372 366 284 Jumlah Pelaksana 559 621 599 Total 613 637 622

11. SMPK Keuangan

Terdapat tiga jenis ukuran keuangan perusahaan, yaitu: solvabilitas, rentabilitas, dan likuiditas. Ketiga ukuran tersebut berlaku bagi perusahaan pada umumnya, namun ketiga ukuran tersebut tidak berlaku bagi PG. PG bukan merupakan sebuah strategic business unit (BSU), PG hanya bertugas memproduksi gula dan urusan keuangan ditangani oleh perusahaan yang melingkupinya. Ukuran kinerja yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan PG adalah tingkat efisiensi pemanfaatan biaya. Parameter kinerja keuangan yang digunakan adalah biaya total SDM dan biaya total non-SDM. Biaya total SDM menunjukkan efisiensi pemanfaatan input SDM, dan biaya total non-SDM menunjukkan efisiensi penggunaan input non-SDM. Parameter yang digunakan untuk menilai kinerja keuaangan PG ditunjukkan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 11. Parameter Penilaian Kinerja Keuangan pada Tiga Jenis Skala PG

STANDAR

Nilai

PAREMETER Syarat

PG. Kecil PG. Sedang PG. Besar

Satuan

Biaya produksi per kg gula <= 2,546.00 1,851.00 1,598.00 Rp. Biaya SDM per ton kapasitas <= 7,454,416.00 4,042,826.00 2,806,932.00 Rp.

Biaya non-SDM per kg <= 1,172.00 1,106.00 1,081.00 Rp.

12. SMPK Ekonomi

Kebijakan demonopoli Bulog pada tahun 1998 telah membuat pasar gula domestik menjadi terbuka bagi pasar gula dunia. Akibatnya daya saing industri gula Indonesia ditentukan oleh perbandingan antara biaya produksi gula domestik dengan harga gula dunia. Apabila biaya produksi gula domestik lebih tinggi dari pada harga paritas impor (HPI), maka industri gula nasional tidak akan mampu menahan banjir masuknya gula dari luar negeri. Hal ini berarti bahwa industri gula Indonesia memiliki daya tahan yang lemah. Sebaliknya apabila biaya produksi gula domestik lebih rendah dari harga paritas impor, berarti industri gula nasional dapat menahan masuknya gula

Pada saat industri gula dapat bertahan, belum berarti industri gula domestik dapat bersaing di pasar global. Untuk dapat bersaing di pasar global, industri gula domestik harus mampu mengekspor gula. Hal ini akan terjadi apabila biaya produksi gula domestik berada di bawah harga paritas ekspor (HPE).

Menurut Tim Studi P3GI (2005) pasar gula dunia masih mungkin terdistorsi seperti sekarang atau bahkan lebih kompetitif. Saat ini harga gula internasional berkisar 240 USD per ton. Namun apabila pasar menjadi agak kompetitif maka harga gula akan cenderung mengarah pada biaya produksi negara-negara yang efisien seperti Brazil, Thailand, Australia, dan lain-lain yaitu sebesar 275 USD per ton. Jika pasar gula menjadi sangat kompetitif maka harga akan mendekati pada biaya produksi rata-rata dunia yaitu sebesar 360 USD per ton. Parameter kinerja ekonomi PG ditampilkan dalam tabel di bawah ini. Harga pada Tabel 12 tersebut menggunakan asumsi kurs dollar sebesar Rp. 9000,-.

Tabel 12. Parameter Penilaian Kinerja Ekonomi

STANDAR PAREMETER

Syarat Nilai Satuan

HPE harga berlaku <= 1.607,17 Rp.

HPE biaya produksi produsen efisien <= 1.908,06 Rp. HPE biaya rata-rata dunia <= 2.549,21 Rp.

HPI harga berlaku <= 2.716,83 Rp.

HPI biaya produksi produsen efisien <= 3.058,44 Rp. HPI biaya rata-rata dunia <= 3,935,79 Rp.

13. SMPK Sosial

PG berada pada lingkungan sosial kemasyarakatan sehingga berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Eksistensi PG ditentukan oleh transaksi ekonomi dan transaksi sosial. Transaksi ekonomi adalah transaksi yang berlangsung melalui pasar dan secara langsung berpengaruh terhadap kinerja perusahaan seperti jual beli input dan output. Disisi lain, PG juga melakukan transaksi yang bersifat tidak langsung, yaitu adanya efek eksternalitas PG seperti pencemaran lingkungan dan perubahan sosial

masyarakat sekitar. Pada umumnya eksternalitas perusahaan terhadap lingkungan sekitar bersifat negatif, dan dampak negatif ini tidak diinternalisasi dalam biaya produksi. Kemajuan pemikiran masyarakat akan menimbulkan konflik antara masyarakat sekitar dengan PG. Konflik yang muncul akan dapat mengganggu ketrentraman kerja karyawan dan pada akhirnya akan menurunkan efisiensi perusahaan. Untuk mencegah terjadinya efek sosial yang negatif sebagai dampak dari eksternalitas PG, maka PG perlu mengeluarkan biaya eksternalitas untuk kepentingan sosial masyarakat sekitar. Biaya eksternalitas biasanya sulit dikalkulasi, mengingat keinginan untuk menerima dan keinginan untuk memberi antara masyarakat dan perusahaan sangat bervariasi. Namun secara umum biaya eksternalitas dikatakan baik apabila PG telah mengeluarkan biaya sebesar 1.5% dari biaya produksi. Angka tersebut merupakan angka yang masih akan diverifikasi dan divalidasi berdasarkan data empirik PG.

14. SMPK Lingkungan

PG merupakan salah satu perusahaan yang melakukan kegiatan dalam pengolahan produk pertanian. Sebagai perusahaan, orientasi ideal PG adalah keuntungan (profit). Namun untuk menjaga keberlanjutannya, PG juga harus memperhatikan kondisi sosial dan menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya. Tujuan mencapai keuntungan secara ekonomis harus diupayakan seiring dengan menjaga lingkungan (ekosistem) dan memberi manfaat kepada mayarakat sekitar.

Sebagian besar limbah yang dihasilkan oleh PG adalah limbah cair. Untuk menjaga agar limbah yang dihasilkan PG tetap di bawah ambang batas, PG harus mentaati baku mutu limbah cair yang ditetapkan oleh pemerintah. Baku mutu limbah cair diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 03/MENLH/1998. Pengukuran kinerja PG terhadap pelestarian ling- kungan dilakukan berdasarkan pada baku mutu limbah cair tersebut. Parameter pengukuran kinerja lingkungan PG disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 13. Parameter Penilaian Kinerja Linkungan

STANDAR PAREMETER

Syarat Nilai Satuan

BOD5 = 50 mg/l

COD = 100 mg/l

TSS <= 200 mg/l

pH - 6.0-9.0

Debit limbah cair maksimum <= 1 l/s/ha

Penghitungan kinerja pada masing-masing parameter diatas dilakukan menggunakan model persamaan matematik yang sama. Persamaan umum untuk menghitung kinerja pada level parameter, level stasiun, dan kinerja pada level PG adalah sebagai berikut:

Model persamaan untuk menghitung kinerja (variasi) parameter:

S S X V act act   % Di mana:

%Vact= Persentase variasi aktivitas

act

X = Rata-rata hasil pengukuran variasi aktivitas S = Standar pabrikasi

Model persamaan untuk menghitung kinerja (variasi) pada level stasiun (unit kerja): n V V n i act st i

  1 % % Di mana:

%Vst = Persentase variasi stasiun produksi

i

act V

% = Persentase variasi aktivitas ke-i n = Jumlah aktivitas

Model persamaan untuk menghitung kinerja (variasi) pada level PG:

Di mana:

%Vpg = Persentase variasi pada PG

i

st V

% = Persentase variasi stasiun kerja ke-i n = Jumlah stasiun m V V m j st pg j

  1 % %

Dalam dokumen Model Penilaian Cepat Kinerja Industri Gula (Halaman 61-75)

Dokumen terkait