• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Modified Jones Model

Akrual, secara teknis, merupakan perbedaan antara kas dan laba. Akrual juga merupakan komponen utama pembentuk laba dan disusun berdasarkan taksiran tertentu (Rahayu, 2009). Dasar akrual merupakan dasar yang dipilih untuk penyusunan laporan akuntansi keuangan dan dipandang lebih rasional dibandingkan dengan dasar kas. Selain itu, dasar akrual juga lebih mampu menunjukkan dan menggambarkan keadaan perusahaan yang sebenarnya di saat hak dan kewajiban perusahaan dapat diketahui melalui laporan keuangan perusahaan tersebut. Namun, dasar akrual juga memberi kelonggaran pada manajemen untuk memilih metode akuntansi yang dapat memengaruhi angka akuntansi tersebut. Peluang ini sering digunakan oleh

manajer ketika mereka menghendaki insentif tertentu bagi dirinya (Andayani, 2010 dalam Nuraini, 2012). Misalnya, biaya depresiasi. Untuk mengetahui besarnya biaya ini, kita harus mengetahui cost, umur manfaat (estimasi), dan metode depresiasi yang digunakan. Nilai cost memang sudah tetap (fixed) dan tidak dapat diubah. Namun, umur manfaat dan metode depresiasi dapat diubah sesuai dengan kebijakan, pertimbangan, atau discretion manajemen. Kata discretion tersebut melandasi terbentuknya istilah akrual diskresioner. Ini terjadi karena jumlah akrual diskresioner berasal dari diskresi (discretion), pilihan, atau pertimbangan manajer untuk sekedar mengikuti atau diturunkan dari kondisi ekonomi perusahaan (Rahayu, 2009).

Secara umum, akrual yang merupakan produk akuntansi dapat dianggap memiliki jumlah yang relatif tetap dari tahun ke tahun. Hal ini dikarenakan aturan akuntansi tersebut juga tidak mengalami perubahan. Perubahan akrual yang terjadi dapat dianggap sebagai hal yang tidak normal

(abnormal) dan merupakan hasil penggunaan kebijakan (discretion)

manajemen yang berlebihan. Bila pada saat yang bersamaan manajemen juga memiliki insentif atau motif untuk memanipulasi laba, perubahaan akrual yang terjadi dianggap sebagai bentuk manipulasi laba yang dilakukan oleh manajemen. Namun demikian, tidak semua perubahan akrual berasal dari diskresi manajemen. Ada juga perubahan akrual yang berasal dari perubahan kondisi ekonomi perusahaan itu sendiri. Misalnya, perubahan penjualan akan berpengaruh pada jumlah akrual terkait. Ini berarti, usaha untuk menguji manipulasi laba melalui akrual perlu memertimbangkan perubahan kondisi ekonomi perusahaan yang dapat memengaruhi akrual ketika mengestimasi akrual diskresioner (Rahayu, 2009).

Sedangkan akrual total digunakan untuk satu atau dua akun tertentu saja. Ini dilakukan dengan harapan bahwa akrual total akan mampu menangkap porsi yang lebih besar terhadap manipulasi yang dilakukan oleh manajer daripada porsi yang ditangkap bila hanya menggunakan satu akun saja (Rahayu, 2009). Tujuan utama dari akuntansi akrual adalah melindungi

investor dalam menaksir kinerja ekonomi perusahaan selama satu periode

dan penandingan. Dengan dasar akrual ini, transaksi dan peristiwa akuntansi diakui bukan pada saat kas diterima namun pada saat terjadinya transaksi yang kemudian diakui pada periode bersangkutan (Nuraini, 2012).

Manajemen laba diproksikan melalui discretionary accrual (Dechow,

et al., 1995 dalam Nuraini, 2012) dan discretionary revenue (Stubben, 2010

dalam Nuraini, 2012). Model accrual (akrual) merupakan model yang paling umum digunakan untuk mendeteksi manajemen laba dan telah dilakukan banyak penelitian mengenai manajemen laba yang diproksikan dengan

discretionary accrual. Terdapat dua konsep akrual, yaitu discretionary

accrual dan non discretionary accrual. Discretionary accrual merupakan

akrual yang ditentukan oleh manajemen, karena manajemen dapat memilih kebijakan metode dan estimasi akuntansi. Inilah kelemahan dasar akrual yang menimbulkan peluang bagi manajer untuk mengimplementasikan strategi manajemen laba. Discretionary accrual adalah strategi yang lebih sulit untuk dideteksi, sehingga memerlukan investigasi data dan analisis yang lebih rinci (Achmad, et al., 2007 dalam Nuraini, 2012). Model Jones kemudian juga mendefinisikan discretionary accrual sebagai bagian dari akrual yang terjadi atau dilaporkan pada periode tertentu di luar bagian akrual yang umum terjadi (konstan), karena perubahan pendapatan atau penjualan (koefisien perubahan pendapatan) dan PPE (koefisien PPE) (Rahayu, 2009). Discretionary accrual (tingkat akrual yang abnormal) ini merupakan tingkat akrual hasil rekayasa laba yang dilakukan oleh manajer (Saputro dan Setiawati, 2004). Sedangkan

non discretionary accrual merupakan akrual yang ditentukan atas kondisi

ekonomi serta berupa pengakuan laba yang wajar dan tunduk pada suatu standar atau prinsip akuntansi yang berlaku umum. Bila melanggar non

discretionary accrual (tingkat akrual yang wajar) akan memengaruhi kualitas

laporan keuangan menjadi tidak wajar. Perilaku non discretionary accrual ini lebih mudah untuk dideteksi, sedangkan discretionary accrual lebih sulit untuk dideteksi (Djakman, 2003). Bentuk akrual yang di analisis dalam penelitian ini adalah discretionary accrual yang merupakan akrual tidak normal dan merupakan pilihan kebijakan manajemen dalam pemilihan metode akuntansi (Nuraini, 2012).

Ada beberapa metode untuk mendeteksi manajemen laba. Salah satunya, yaitu Model Jones. Jones (1991) merupakan model awal untuk membantu mengidentifikasi perusahaan yang melakukan manajemen (manipulasi) laba. Kemudian, model ini populer sebagai Model Jones. Model ini berfokus pada akrual total sebagai sumber manipulasi (Rahayu, 2009). Tujuan Model Jones adalah memisahkan discretionary accrual dan non

discretionary accrual. Model Jones (1991) mengajukan model yang menolak

asumsi bahwa non discretionary accrual adalah konstan. Model ini mencoba mengontrol pengaruh perubahan keadaan ekonomi perusahaan pada non

dicretionary accrual. Model ini memiliki kelemahan yaitu asumsi implisitnya

adalah pendapatan yang bersifat non diskresioner. Hal ini berarti, pendapatan dalam Model Jones tidak boleh dalam keadaan dimanipulasi oleh manajemen. Bila ternyata manajemen juga memanipulasi pendapatan, misalnya melalui pengakuan pendapatan yang dipercepat atau diperlambat, maka akrual diskresioner (eror atau residual dari persamaan) akan cenderung bias ke nilai 0 (nol) (Jones, 1991 dalam Rahayu, 2012).

Kemudian, Dechow, et al., (1995) mencoba memodifikasi kelemahan Model Jones yang tidak mampu menangkap dampak dari manipulasi berbasis pendapatan tersebut, karena perubahan dalam pendapatan diasumsikan dapat menimbulkan non discretionary accrual (Peasnell dan Young, 1999 dalam Nuraini, 2012). Modifikasi model tersebut dinamakan Model Modifikasi Jones atau Modified Jones Model. Model tersebut mengestimasi tingkat akrual yang diharapkan (non discretionary accrual) sebagai fungsi perbedaan antara perubahan pendapatan, piutang dagang, serta aktiva tetap. Selain itu, model ini digunakan untuk memisahkan antara discretionary accrual dengan

non discretionary accrual (Djakman, 2003). Model ini, secara implisit,

mengasumsikan bahwa semua perubahan dalam penjualan kredit pada periode kejadian merupakan hasil manipulasi laba. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa lebih mudah memanipulasi laba dengan mengubah pengakuan pendapatan dari penjualan kredit daripada penjualan kas (Rahayu, 2009). Dalam penelitian ini, Modified Jones Model (1995) dipilih karena penelitian Dechow, et al. membuktikan bahwa model ini lebih mampu mendeteksi

tingkat manajemen laba dibandingkan dengan model estimasi yang lain, seperti Model Healy (1985), Model DeAnglo (1986), Model Jones (1991), dan Model Industri (Saputro dan Setiawati, 2004). Dari hasil pengujian perbandingan kekuatan antara Model Jones (1991) dengan Modified Jones

Model (1995), diperoleh bukti bahwa Modified Jones Model, secara

signifikan, lebih baik dalam mendeteksi manajemen laba berbasis pendapatan (Peasnell dan Young, 1999 dalam Nuraini, 2012).

Dokumen terkait