BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian pustaka
2. Modul Pembelajaran
menggunakan modul, (6) kegiatan belajar (kegiatan belajar 1 membahas tentang bentuk dan fungsi tubuh hewan dan kegiatan belajar 2 membahas tentang bentuk dan fungsi tumbuhan), (7) rangkuman, (8) latihan soal di setiap akhir kegiatan belajar, (9) lembar refleksi, dan (10) daftar referensi.
3. Modul pembelajaran dikembangkan dalam bentuk buku portrait berukuran A4 (21 × 29,7 cm). Modul pembelajaran dicetak menggunakan kertas HVS 80 gram untuk bagian isi dan pada sampul menggunakan kertas Ivory 230 dengan laminasi doff. Isi keseluruhan modul memiliki jumlah 56 halaman.
Modul yang dikembangkan memiliki versi digital dalam bentuk flipbook yang dapat diakses memlalui QR code yang disediakan di halaman pertama modul.
4. Modul pembelajaran yang dikembangkan dibuat dengan menggunakan aplikasi Adobe Indesign CS6 untuk menata layout dan Adobe Illustrator CC
2014 untuk membuat sampul dan ilustrasi yang dibutuhkan dalam modul pembelajaran. Modul digital dibuat menggunakan website anyflip.com.
5. Isi modul pembelajaran yang dikembangkan menggunakan jenis huruf Andika Basic dengan ukuran 12 pt. Pada sampul, judul modul menggunakan jenis huruf ARCO Reguler dengan ukuran 28 pt dan nama penyusun menggunakan jenis huruf Andika New Basic dengan ukuran 12 pt.
Gambar 1.1 Modul Pembelajaran Bentuk dan Fungsi Tubuh Hewan dan Tumbuhan
8 BAB II
LANDASAN TEORI
Bab ini membahas mengenai kajian pustaka, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian.
A. Kajian Pustaka 1. Bahan Ajar
a. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas (Akbar dkk., 2016: 29). Bahan ajar merupakan hal penting dalam pembelajaran sebagai representasi dari penjelasan guru. Uraian-uraian dan informasi yang harus disajikan guru dikumpulkan di dalam bahan ajar. Sudjana (dalam Murfiah, 2017: 71) juga mendefinisikan bahwa bahan ajar adalah isi yang diberikan kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar.
Menurut Prastowo (2014: 138), bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Bahan ajar disusun secara sistematis sesuai kompetensi yang akan dikuasai, yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran (Pannen dalam Prastowo, 2014: 138). Melalui bahan ajar, siswa diharapkan akan mencapai tujuan belajar. Bahan ajar dapat berupa informasi, alat, maupun teks yang disusun secara sistematis.
Contoh bahan ajar adalah buku pelajaran, modul, handout, LKS, model atau maket, bahan ajar audio dan bahan ajar interaktif.
Berdasarkan pengertian bahan ajar dari para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahan ajar adalah segala bentuk isi materi yang disusun secara sistematis sesuai kompetensi yang hendak dicapai siswa dan digunakan dalam proses pembelajaran.
b. Jenis-jenis Bahan Ajar
Madjid (dalam Murfiah, 2017: 71) mengemukakan bahwa terdapat lima jenis bahan ajar. Berikut kelima jenis bahan ajar beserta contohnya.
1) Bahan ajar cetak, contoh: buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leafeat, wallchart, handout, foto/gambar, maket.
2) Bahan ajar audio, contoh: kaset, radio, piringan hitam.
3) Bahan ajar audio visual, contoh: film, video
4) Bahan ajar multimedia interaktif, contoh: Computer Assisted Instruction (CAI), multimedia pembelajaran interaktif.
5) Bahan ajar berbasis web.
Akbar, dkk. (2016: 32-38) mengelompokan bahan ajar ke dalam tiga kelompok besar sebagai berikut:
1) Bahan ajar cetak adalah sejumlah bahan yang digunakan dalam kertas yang dapat berfungsi untuk keperluan pembelajaran atau penyampaian informasi. Contoh bahan ajar cetak yaitu modul, buku teks, lembar kerja siswa, dan handout.
2) Bahan ajar non cetak membutuhkan alat khusus untuk mengoperasikannya yang berkaitan dengan media teknologi.
Contoh bahan ajar non cetak yaitu audio, video, dan computer based material.
3) Bahan ajar display adalah bahan ajar yang umumnya digunakan oleh guru pada saat menyampaikan informasi kepada siswa di depan kelas. Contoh bahan ajar display yaitu chart, poster, peta, foto dan realita.
Berdasarkan pengelompokan jenis-jenis bahan ajar menurut para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa jenis bahan ajar dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu bahan ajar cetak dan bahan ajar non cetak. Dalam penelitian ini, produk yang dikembangkan oleh peneliti adalah bahan ajar yang termasuk jenis bahan ajar cetak, yaitu modul.
2. Modul Pembelajaran
a. Pengertian Modul Pembelajaran
Menurut Sukiman (2012: 131), modul adalah jenis kesatuan kegiatan belajar yang terencana, dirancang untuk membantu para siswa secara individual dalam mencapai tujuan belajar. Sependapat dengan Sukiman, Daryanto (2013: 9) menjelaskan bahwa modul merupakan salah satu konsep bahan ajar yang dikemas secara utuh serta sistematis, didalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu siswa menguasai tujuan belajar yang spesifik.
Seperangkat pengalaman belajar tersebut terdiri dari komponen-komponen yang berisi tujuan belajar, bahan belajar, metode belajar, alat dan sumber belajar, dan sistem evaluasi (Sudjana dan Rifai dalam Sukiman, 2012: 131).
Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar siswa dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru (Majid dalam Prastowo, 2014: 208). Modul disusun dengan penjelasan yang menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan tingkat pengetahuan dan usianya. Hal tersebut bertujuan agar siswa dapat belajar secara mandiri dan akhirnya peran guru untuk menjelaskan sesuatu dapat tergantikan dengan modul. Jika guru memiliki fungsi menjelaskan sesuatu maka modul harus mampu menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang mudah diterima oleh siswa (Kurniasih dan Sani, 2014: 61). Modul juga harus menggambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh siswa dan dilengkapi dengan ilustrasi (Prastowo, 2014: 209).
Sementara itu, pengertian pembelajaran menurut Susanto (2013:
18) merupakan perpaduan dari aktivitas belajar dan mengajar.
Pembelajaran adalah proses untuk membantu siswa agar dapat belajar dengan baik. Sedangkan menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 (dalam Susanto, 2013: 19) pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Rusman (2017: 85) juga mendefinisikan
pembelajaran merupakan suatu proses interaksi komunikasi antara sumber belajar, guru dan siswa.
Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa modul pembelajaran adalah bahan ajar berupa buku yang disusun secara sistematis dan didesain dengan bahasa yang mudah dipahami serta ilustrasi untuk membantu siswa mencapai tujuan belajar secara mandiri dengan bimbingan yang minimal dari guru.
b. Karakteristik Modul Pembelajaran
Karakteristik modul pembelajaran menurut Widodo dan Jasmadi (2008: 50) dan Daryanto (2013: 9-11) yang harus diperhatikan dalam pengembangan modul antara lain sebagai berikut:
1) Self instructional. Melalui modul siswa dimungkinkan untuk mampu belajar mandiri dan tidak tergantung pihak lain. Oleh sebab itu, modul hendaknya memiliki tujuan pembelajaran yang jelas, materi pembelajaran yang dikemas dalam unit-unit kegiatan yang spesifik, tersedia contoh dan ilustrasi yang mendukung pemahaman, terdapat soal-soal latihan dan sejenisnya untuk mengukur penguasaan dan penggunaan bahasa yang sederhana dan komunikatif yang memudahkan siswa untuk belajar mandiri.
2) Self contained. Seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi dasar yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan siswa mempelajari materi pembelajaran secara tuntas karena materi dikemas dalam satu kesatuan yang utuh.
3) Stand alone. Modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain.
4) Adaptive. Modul hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika modul dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, fleksibel digunakan di berbagai tempat, serta isi materi
pembelajaran dan perangkat lunaknya dapat digunakan sampai dengan kurun waktu tertentu.
5) User friendly. Modul hendaknya bersahabat dengan pemakainya.
Setiap instruksi dan informasi yang diberikan bersifat mempermudah pemakainya. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah yang umum digunakan merupakan bentuk user friendly.
c. Unsur-unsur Modul Pembelajaran
Prastowo (2014: 214) mengungkapkan bahwa setidaknya ada tujuh unsur atau komponen yang mesti ada dalam sebuah modul. Ketujuh unsur tersebut adalah (1) judul, (2) petunjuk belajar, (3) kompetensi yang akan dicapai, (4) informasi pendukung, (5) latihan, (6) lembar kerja, (7) evaluasi. Sementara itu, jika dikelompokkan secara teknis, modul tersusun dalam empat unsur, yaitu sebagai berikut:
1) Judul modul, yang berupa identitas modul.
2) Petunjuk umum, yang memuat penjelasan tentang langkah yang akan ditempuh dalam pembelajaran seperti kompetensi dasar, pokok bahasan, indikator pencapaian, serta petunjuk bagi siswa untuk memahami langkah-langkah dan materi pembelajaran.
3) Materi modul, yang berisi penjelasan secara rinci tentang materi yang dipelajari.
4) Evaluasi, yang bertujuan untuk mengukur kompetensi siswa sesuai materi yang diberikan.
Menurut Kurniasih dan Sani (2014), unsur modul dapat bervariasi tergantung pada karakter materi yang disajikan dan kegiatan belajar yang akan dilakukan. Namun, secara umum modul biasanya memuat judul, petunjuk belajar (petunjuk siswa atau guru), kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung (materi), latihan-latihan, petunjuk kerja yang dapat berupa lembar kerja (LK), dan soal evaluasi.
Berdasarkan unsur-unsur modul yang dikemukakan oleh para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa unsur-unsur dalam modul yaitu; (1)
judul, (2) petunjuk umum yang berisi penjelasan mengenai kompetensi dasar yang akan dicapai, (3) petunjuk belajar menggunakan modul, (4) materi modul yang berisi penjelasan materi, (5) latihan-latihan, (6) lembar kerja, (7) evaluasi.
d. Fungsi Modul Pembelajaran
Fungsi modul sebagai bahan ajar cetak menurut Prastowo (2014:
210) yaitu pertama, modul sebagai bahan ajar mandiri yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk belajar sendiri tanpa tergantung kepada kehadiran pendidik. Kedua, pengganti fungsi pendidik yang berarti modul sebagai bahan ajar harus mampu menjelaskan materi pembelajaran dengan baik dan mudah dipahami oleh siswa. Ketiga, sebagai alat evaluasi yang berarti siswa dapat mengukur dan menilai tingkat penguasaannya terhadap materi yang telah dipelajari. Keempat, sebagai bahan rujukan bagi siswa karena modul mengandung berbagai materi yang dipelajari siswa.
e. Kelebihan dan Kekurangan Modul Pembelajaran
Evitasari (2018: 72-73) menyebutkan beberapa kelebihan dan kekurangan modul pembelajaran. Kelebihan modul pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) siswa dapat mencapai tujuan belajar secara baik dalam waktu yang sesuai dengan kecepatan dan kemampuannya; 2) siswa termotivasi untuk lebih aktif berpartisipasi dalam belajar, karena ia harus belajar dan menemukan sendiri konsep yang dipelajari; 3) modul dapat disusun menurut pola-pola yang sesuai dengan kemampuan siswa; 4) butir soal (evaluasi) dalam modul digunakan sebagai alat ukur keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan; 5) modul dapat dikerjakan dan digunakan dalam berbagai situasi dan tempat. Sedangkan, kekurangan dari modul adalah 1) waktu pembelajaran yang telah ditentukan dalam kurikulum membatasi waktu belajar siswa untuk menyelesaikan suatu paket belajar dimana siswa seharusnya bebas mengatur waktu belajarnya; 2) biaya relatif besar untuk penyusunan dan penggandaan modul.