• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Modus Operandi Praktik Mafia Peradilan Ditinjau dari Pelanggaran Kode Etik Polisi, Jaksa dan Hakim

B. Modus Operandi Praktik Mafia Peradilan Ditinjau dari Pelanggaran Kode Etik Polisi, Jaksa dan Hakim

Praktek mafia peradilan merupakan suatu kenyataan bahwa keberadaan mereka sangat menghambat proses perkembangan hukum di Indonesia, karena terus menerus memengaruhi oknum aparat hukum dalam menegakkan hukum. Oleh karena itu semua oknum aparat hukum di beri rambu-rambu hukum yang dituangkan dalam kode etik profesi yang harus ditaati dan menjadi pedoman setiap oknum aparat hukum dalam menjalankan tugas.

1. Modus Operandi Praktik Mafia Peradilan Ditinjau dari Pelanggaran Kode

Etik Kepolisian

Bagi penyidik (Polisi) yang terlibat dalam perekayasaan kasus bersama para mafia peradilan pada hakikatnya telah melanggar kode etik kepolisian. Dalam Peraturan Kapolri No. Pol: 7 Tahun 2006 tentang kode etik profesi kepolisian Negara Republik Indonesia telah dinyatakan bahwa anggota kepolisian negara RI dalam melaksanakan tugas wajib mempelihara perilaku terpercaya dengan:

a. Menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.

commit to user

c. Tidak melakukan pertemuan di luar ruang pemeriksaan dengan

pihak-pihak yang terkait dengan perkara.

d. Tidak mempublikasikan nama terang tersangka dan saksi.

e. Tidak mempublikasikan tata cara, taktik dan teknik penyidikan.

f. Tidak menimbulkan penderitaan akibat penyalahgunaan wewenang

dan sengaja menimbulkan rasa kecemasan, kebimbangan dan ketergantungan pada pihak-pihak yang terkait dengan perkara.

g. Menunjukkan penghargaan terhadap semua benda-benda yang berada

dalam penguasaan nya karena terkait dengan penyelesaian perkara.

h. Menunjukkan penghargaan dan kerjasama dengan sesama pejabat

negara dalam sistem peradilan pidana.

i. Dengan sikap ikhlas dan ramah menjawab pertanyaan tentang

perkembangan penanganan perkara yang ditanganinya kepada semua pihak yang terkait dengan perkara pidana yang dimaksud, sehingga

diperoleh kejelasan tentang penyelesaiaannya

(http://kuncupmuda.blogspot.com).

Kode etik kepolisian poin a bahwa polisi wajib menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Kenyataannya kalau mafia peradilan sudah masuk dan ikut campur pada proses penyidikan maka yang salah adalah menjadi benar yaitu dengan cara merusak mental dan moral penyidik melalui lobi tercela agar penyidik mau melanggar ketentuan undang-undang. Upaya mafia peradilan ini sungguh sangat tercela. Padahal penyidik atau polisi dalam menjalankan tugas telah dibatasi oleh undang-undang dan kode etik kepolisian.

Kode etik kepolisian poin b bahwa polisi tidak memihak, jika ada penyidik memihak pada tersangka karena ulah mafia peradilan, maka penyidik tersebut telah melanggar kode etik kepolisian yang tersebut diatas.

Kode etik kepolisan poin c dinyatakan bahwa polisi tidak melakukan pertemuan di luar persidangan dengan pihak-pihak yang terkait dengan perkara.

commit to user

Dalam perekayasaan kasus biasanya mafia peradilan menawarkan kepada oknum penyidik untuk melakukan pertemuan rahasia ditempat aman dan tidak diketahui oleh umum. Ditempat tersembunyi inilah mafia peradilan melakukan aksi tercelanya yaitu membayar oknum penyidik untuk melakukan penyimpangan. Tindakan ini jelas melanggar kode etik kepolisian penyidik dilarang mengadakan pertemuan di luar ruang pemerikasaan. Penyidik yang melanggar kode etik akan dikenakan sanksi moral berupa:

a. Perilaku pelanggar dinyatakan sebagai perbuatan tercela.

b. Kewajiban pelanggar untuk menyatakan penyesalan atau meminta

maaf secara terbatas atau terbuka.

c. Kewajiban pelanggar untuk mengikuti pembinaan ulang profesi.

d. Pelanggar dinyatakan tidak layak lagi untuk menjalankan profesi

kepolisian.

Pemeriksaan atas pelanggaran pada kode etik profesi kepolisian Negara Republik Indonesia dilakukan oleh komisi kode etik Kepolisian Negara Republik Indonesia. Berangkat dari pelanggaran kode etik ini penyidik dapat juga diproses secara hukum, tergantung dari kadar kesalahannya.

Pada kode etik kepolisian dinyatakan bahwa polisi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat senantiasa:

a. memberikan pelayanan terbaik;

b. menyelamatkan jiwa seseorang pada kesempatan pertama;

c. mengutamakan kemudahan dan tidak mempersulit;

d. bersikap hormat pada siapapun dan tidak menunjukkan sikap congkak

atau arogan karena kekuasaan;

e. tidak membeda-bedakan cara pelayanan pada semua orang;

f. tidak mengenal waktu istirahat selama 24 jam atau tidak mengenal hari

libur;

g. tidak membebani biaya kecuali diatur dalam peraturan

commit to user

h. tidak boleh menolak permintaan pertolongan bantuan dari masyarakat

dengan alasan bukan wilayah hukumnya atau karena kekurangan alat dan orang;

i. tidak mengeluarkan kata-kata atau melakukan gerakan-gerakan

anggota tubuhnya yang mengisyaratkan meminta imbalan atas bantuan polisi yang telah diberikan kepada masyarakat.

Jika dicermati pada poin e dinyatakan bahwa polisi dalam memberikan pelayanan pada masyarakat tidak membeda-bedakan cara pelayanan kepada semua orang. Isi kode etik tersebut sangat mulia yaitu polisi tidak akan membeda-bedakan pelayanan pada masyarakat, tetapi pada kenyataannya penyidik (polisi) dalam menangani kasus perkara pidana masih memberikan pelayanan berbeda pada tersangka. Jelas hal ini merupakan pelanggaran pada kode etik kepolisian.

2. Modus Operandi Praktik Mafia Peradilan Ditinjau dari Pelanggaran Kode

Etik Kejaksaan

Sebelum membahas permasalahan pokok, perlu penulis sampaikan tentang Surat Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Kep-052/JA/S/1979 yang didalamnya terdapat doktrin tri krama adhyaksa. Doktrin Tri Krama Adhyaksa merupakan suatu ajaran dan citra yang dianggap benar, dimana kebenaran itu bisa dibuktikan berdasarkan penalaran dan merupakan pedoman bagi arah perjuangan serta pencapaian asas serta cita-cita korps. Doktrin ini juga berarti sebagai kebulatan tekat segenap warga korp yang bersumber pada kesatuan pemikiran dan pendapat untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Doktrin Tri Krama Adhyaksa berfungsi sebagai pembimbing, pendorong, sumber motivasi dan inspirasi bagi jaksa dalam pengertian korps secara bulat dan utuh untuh menciptakan adanya kesatuan bahasa, sikap dan tindak dari jaksa untuk mencapai cita-cita korps.

commit to user

Doktrin tri krama adhyaksa dibagi dalam: a. Catur Asana

Catur Asana adalah empat landasan yang melandasi eksistensi peranan, wewenang dan tindakan kejaksaan dalam mengemban tugas baik dibidang yustisial, yudikatif atau pun eksekutif.

Keempat landasan tersebut adalah:

1) Landasan idiil: Pancasila.

2) Landasan konstitusional Undang-Undang Dasar 1945.

3) Landasan struktural: Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1991

tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

4) Landasan operasional: KUHAP, KUHP, Peraturan

perundang-undangan lainnya yang berhubungan dengan peranan jaksa. b. Tri Atmaka

Tri Atmaka adalah ciri yang merupakan sifat hakiki dari kejaksaan yang membedakannya dengan alat negara lain.

Tri Atmaka mempunyai makna yaitu:

1) Tunggal Artinya kejaksaan adalah satu-satunya lembaga negara

yang berdasarkan peraturan para jaksa mewakii pemerintah dalam urusan peradilan dengan sistem hierarki dimana tindakan setiap jaksa dalam kedinasan dianggap sebagai tindakan seluruh korps. Tunggal dapat berarti pula suatu ikatan batin yang erat antar sesama anggota keluarga besar adhyaksa, dimana suka duka baik didalam maupun diluar kedinasan yang dialami dan dirasakan oleh seorang anggota akan dirasakan pula oleh anggota yang lainnya.

2) Mandiri Artinya instansi kejaksaan merupakan instansi yang

berdiri sendiri, bukan bagian dari suatu instansi. Kejaksaan dulu berada dibawah menteri Kehakiman (1960) kemudian dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 204 Tahun 1960 tanggal 15 Agustus 1960 Kejaksaan lepas dari departemen kehakiman. Jadi mandiri disini menunjukkan adanya kekuasaan istimewa yang dimiliki kejaksaan selaku alat negara penegak hukum yang

commit to user

mewakili kejaksaan dalam perbuatannya baik didalam maupun diluar dinas selalu dilandasi dengan alasan-alasan yang benar sehingga perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan. Aparat kejaksaan harus mempenyai sifat wicaksana, artinya bijaksana dalam tutur kata dan tingkah laku khususnya dalam penerapan kekuasaan dan kewenangannya, hal ini berarti setiap warga kejaksaan dalam menunaikan tugas disamping harus cakap, mampu dan terampil, harus pula membuktikan dirinya sebagai petugas yang matang dan dewasa dengan tanpa mengorbankan prinsip dan ketegasan serta dapat bertindak bijaksana.

3) Mumpuni Kejaksaan merupakan instansi yang memiliki tugas luas

meliputi bidang-bidang yustisial dan non yustisial dengan dilengkapi kewenangan yang cukup memberikan keleluasaan serta kebebasan dirinya untuk melaksanakan tugas tanpa tergantung

pada kekuasaan lembaga negara yang lainnya

(http://supanto.staff.hukum.uns.ac.id) c. Tri krama adhyaksa

Tri krama adhyaksa merupakan sikap mental yang baik dan terpuji yang harus dimiliki oleh karyawan kejaksaan yang bersifat: Satya, adhy dan wicaksana. Satya berarti ketiaan yang bersumber pada rasa jujur, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap diri pribadi dan keluarga maupun sesama manusia. Jujur dalam melaksanakan tugas harus ditujukan dengan pelaksanaan tugas yang baik.

Adhy mengandung pengertian kesempurnaan dalam tugas yang mempunyai unsur utama memiliki rasa tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa, keluarga dan sesama manusia. Hal ini terdapat dalam Doktrin: 1) Indrya Adhyaksa. 2) Kritya Adhyaksa. 3) Upakrya Adhyaksa. 4) Anukara Adhyaksa.

Indra Adhyaksa berarti kejaksaan dalam melaksanakan tugas bertrilogi: hening (peka), nastiti (cermat) dan kerti (tuntas). Doktrin ini berkaitan dengan tugas intelejen yang meliputi mengamankan

commit to user

kebijakan pemerintah, menghilangkan segala bentuk gangguan, hambatan maupun ancaman terhadap Negara Republik Indonesia.

Kritya Adhyaksa berarti pekerjaan utama kejaksaan dalam penegakan hukum dan pelaksanaannya mempunyai trilogi: akas (cepat), titis (tepat) dan paskita (cermat) doktrin ini berhubungan dengan tugas jaksa dalam bidang operasi yaitu penegakan hukum, pemeliharaan ketentraman, keamanan dan ketertiban umum.

Upakrya Adhyaksa mempunyai arti dalam tugas pembinaan di lingkungan kejaksaan harus berpedoman asuh(pendidikan), asih (cinta kasih) dan asah (ketrampilan). Doktrin ini berkaitan dengan tugas bidang pembinaan yaitu menyelenggarakan pembinaan administrasi organisasi dan ketatalaksanaan serta memberikan pelayanan teknis administrasi.

Anukara Adhyaksa artinya mengikuti dan mengawasi dalam lingkungan kejaksaan dengan landasan kerja taat (teratur), titi (teliti) dan tatas (cepat). Doktrin ini berkaitan dengan tugas bidang pengawasan umum yaitu menyangkut pelaksanaan dan pengawasan umum di lingkungan kejaksaan (E. Sumaryono, 1995: 213).

Dari ajaran Doktrin Tri Krama Adhyaksa tersebut diatas terdapat ajaran Satya yang berarti jujur. Suatu ajaran yang sangat mulia bagi seorang jaksa dalam menjalakan tugas, namun pada kenyataannya banyak jaksa yang mengabaikan ajaran ini dimana dalam penyidikan seorang jaksa mengancam terdakwa dengan cara menunjukkan pasal-pasal berat dengan ancaman hukuman maksimal. Dalam kondisi ini terdakwa tergoncang jiwanya dan dia berusaha minta tolong melalui mafia peradilan agar jaksa mau membantu untuk tidak menjerat dengan pasal-pasal berat. Biasanya dalam membahas transaksi ini pihak jaksa tidak mau berhubungan secara langsung dengan terdakwa, melainkan melalui mafia peradilan agar pihak jaksa dapat secara leluasa melakukan transaksi pasal yang nantinya di pergunakan dalam penuntutan. Semakin ringan pasal yang digunakan

commit to user

dalam penuntutan, maka semakin besar pula dana yang harus dikeluarkan oleh terdakwa. Perilaku jaksa ini merupakan bentuk pengingkaran dari ajaran Doktrin Tri Krama Adhyaksa pada ajaran Satya yang artinya jujur. Kejujuran seorang jaksa sangat diharapkan oleh pencari keadilan, dengan harapan masyarakat mendapatkan pengayoman dari jaksa. Seorang oknum jaksa sebagai penuntut umum akan sangat mudah menuntut kasus tindak pidana dengan pasal yang sebenarnya (tepat) atau menyimpangkan kasus pidana dan menuntut dengan pasal yang dapat menguntungkan terdakwa (tentunya melalui perekayasaan kasus).

Contohnya:

1) Pada kasus pembunuhan yang disengaja yang diatur didalam Pasal

338 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun, kemudian oleh jaksa direkayasa menjadi Pasal 351 ayat (3) KUHP tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia dengan ancaman hukuman yang jauh lebih ringan yaitu 7 tahun.

2) Perbuatan tindak pidana pemerkosaan Pasal 285 KUHP yang

ancaman hukumannya 12 tahun, kemudian oleh jaksa direkayasa menjadi perbuatan hubungan badan yang dilakukan suka sama suka, sehingga kasusnya bukanlah kasus pemerkosaan tetapi menjadi kasus persetubuhan yang aturan hukumnya tidak ada dalam KUHP sehingga terdakwa tersebut dapat lolos dari jeratan hukum. Asas hukum pidana berbunyi: tindak pidana tidak dapat dihukum kecuali ada aturan yang terlebih dulu ada. Jadi sepanjang persetubuhan yang dilakukan oleh orang dewasa (telah berusia 21 tahun) maka perbuatan itu tidak dapat dipidana, karena perbuatan persetubuhan tidak diatur dalam KUHP.

3) Perbuatan penyuapan kemudian oleh jaksa direkayasa menjadi

pemerasan sebagaimana diatur dalam Pasal 368 KUHP. Perekayasaan kasus oleh jaksa ini diharapkan diharapkan agar si

commit to user

penyuap (terdakwa) lolos dari jeratan hukum, sebab seseorang yang mengeluarkan uang karena diperas tidak dapat dihukum. Ingat kasus Anggodo (sebagai markus), dia menyuap KPK agar saudaranya (Anggoro) dibebaskan dari jeratan hukum, tapi pengakuan Anggodo dia tidak menyuap anggota KPK tetapi diperas oleh anggota KPK dan sekarang kasusnya sudah di putus oleh pengadilan negeri kepada Anggodo dijatuhi hukuman 4 tahun dikurangi masa tahanan dan denda sebesar 150 juta rupiah (Ismantoro Dwi Yuwono, 2010: 62).

Perekayasaan kasus demikian masih akan terus berlangsung sepanjang markus masih berkeliaran dilingkungan kejaksaan. Keberadaan markus menjadi penyebab terjadinya pelanggaran-pelanggaran kode etik kejaksaan yang dilakukan oleh para jaksa dalam menangani kasus pidana. Pemerintah dalam rangka memberantas markus dibentuklah satuan tugas (Satgas) Mafia Hukum yang salah satu tugasnya adalah memberantas praktek-praktek mafia peradilan di Indonesia (http://iwaninlawschool.wordpress.com).

3. Modus Operandi Praktik Mafia Peradilan Ditinjau dari Pelanggaran Kode

Etik Kehakiman Sebelum lebih lanjut membahas peran mafia peradilan yang dapat merusak mental para hakim maka perlu penulis sampaikan tentang kode etik hakim. Kode etik hakim telah diatur dalam Keputusan bersama Ketua

Mahkamah Agung dan Ketua Komisi Yudisial Nomor

047/KMA/SKB/IV/2009-02/SKB/B.KY/IV/2009 tanggal 8 Apri 2009 tentang kode etik dan pedoman perilaku hakim. Salah satu kode etik yang ada adalah etika kepribadian hakim. Sebagai pejabat penegak hukum hakim:

a. Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

b. Menjunjung tinggi citra, wibawa dan martabat hakim.

c. Berkelakuan baik dan tidak tercela.

commit to user

e. Menjauhkan diri dari perbuatan dan kelakuan yang dicela masyarakat.

f. Tidak melakukan perbuatan yang merendahkan martabat hakim.

g. Bersikap jujur, adil, penuh rasa tanggung jawab.

h. Berkepribadian, sabar, bijaksana, berilmu.

i. Bersemangat ingin maju (meningkatkan nilai keadilan).

j. Dapat dipercaya.

k. Berpandangan luas.

Sebagai pejabat penegak hukum hakim:

a. Bersikap tegas, disiplin.

b. Penuh pengabdian pada pekerjaan.

c. Bebas pengaruh dari siapapun juga.

d. Tidak menyalahgunakan kepercayaan, kedudukan dan wewenang

untuk kepentingan pribadi atau golongan.

e. Tidak berjiwa mumpung.

f. Tidak menonjolkan kedudukan.

g. Menjaga wibawa dan martabat hakim dalam hubungan kedinasan.

h. Berpegang teguh pada kode kehormatan hakim.

Selain itu hakim sebagai pejabat penegak hukum harus:

a. bersikap dan bertindak menurut garis-garis yang ditentukan dalam

hukum acara yang berlaku

b. tidak memihak, tidak bersimpati, tidak anti pati pada pihak yang

berperkara

c. berdiri diatas semua pihak yang kepentingannya bertentangan, tidak

membeda-bedakan orang

d. sopan, tegas dan bijaksana dalam memimpin sidang baik dalam ucapan

maupun perbuatan

e. menjaga kewibawaan dan kenikmatan persidangan

f. bersungguh-sungguh mencari kebenaran dan keadilan

g. memutus berdasarkan hati nurani

commit to user

Etika hubungan sesama hakim, harus:

a. Memelihara dan mempelihara hubungan kerja sama yang baik sesama

rekan.

b. Memiliki rasa setia kawan, tenggang rasa dan saling menghargai antara

sesama rekan.

c. Memiliki kesadaran, kesetiaan, penghargaan kepada korp hakim.

d. Menjaga nama baik dan martabat rekan baik didalam maupun diluar

kedinasan.

e. Bersikap tegas adil dan tidak memihak.

f. Memelihara hubungan baik dengan hakim bawahannya dan hakim

atasanya.

g. Memberi contoh yang baik didalam dan diluar kedinasan.

Kode kehormatan hakim dikenal dengan Tri Prasetya Hakim Indonesia, yaitu: ”Saya berjanji:

1) bahwa saya senantiasa menjunjung tinggi citra, wibawa dan

martabat hakim Indonesia;

2) bahwa saya dalam menjalankan jabatan berpegang teguh pada kode

kehormatan hakim Indonesia;

3) bahwa saya menjunjung tinggi dan mempertahankan jiwa korp

hakim Indonesia.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu membimbing saya kepada jalan yang benar.”

Dari bunyi kode etik hakim tersebut diatas, jika dicermati dari kenyataan yang masih ada penyuapan hukum yang melanggar tatanan yang ada pada kode etik kehakiman.

Kita lihat saja pada kode etik kepribadian hakim tersebut diatas pada angka c di sebutkan bahwa hakim harus berkelakuan baik dan tidak tercela. Tetapi pada kenyataannya masih ada oknum hakim dalam memutus perkara sering dipengaruhi oleh mafia peradilan (ingat kasus hakim Asnun pada kasus Gayus), pada kasus Gayus terdapat indikasi bahwa hakim Asnun telah terjerat pada lingkaran mafia peradilan. Praktek

commit to user

transaksi kasus ini juga nampak pada tertangkap basah hakim Ibrahim pada pengadilan tinggi tata usaha negara saat menerima uang suap dari seorang pengacara. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Maret 2010 (Jawa Pos, 31 Maret 2010).

Transaksi kasus ini, dulu dilakukan dengan sangat rapi yaitu melalui hand phone (hp), tetapi cara tersebut sudah tidak aman lagi karena ada penyadapan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maka pola ini berubah transaksi tidak melalui hp, melainkan bertemu langsung ditempat steril.

Etika kepribadian hakim angka f dinyatakan bahwa: hakim tidak boleh merendahkan martabat hakim. Jika ada hakim dalam menjalankan tugas telah dipengaruhi oleh mafia peradilan agar mau mengikuti kehendak mafia peradilan demi kepentingan terdakwa jelas hal itu merupakan pengingkaran terhadap hukum. Kita masih ingat betapa tercelanya hakim Asnun dari pengadilan Tangerang yang telah menerima suap dari mafia peradilannya Gayus Tambunan agar hakim tersebut mau memberikan putusan yang sangat ringan, sehingga Gayus Tambunan dapat dengan mudah melenggang bebas diluar penjara. Gayus melalui mafia peradilan mampu mempengaruhi aparat hukum dengan lihai mulai dari polisi, jaksa dan hakim. Hal ini terbukti Kompol AE (penyidik Gayus) di hadapkan ke pengadilan sebagai terdakwa, dan telah diputus 5 tahun pidana penjara.

Pada kode etik hakim angka g berbunyi: bahwa hakim harus bersikap jujur, adil, penuh rasa tanggung jawab. Hakim dalam mewujudkan kode etik tersebut harus terbebas dari pengaruh mafia peradilan agar putusan hakim sesuai ketentuan undang-undang.

Pada kode etik angka h dinyatakan bahwa hakim harus berkepribadian, sabar, bijaksana dan berilmu. Setiap hakim dalam menjalankan tugas dibatasi dengan kode etik agar supaya hakim tidak lepas kendali dalam menggunakan kewenangannya. Jika ada oknum hakim

commit to user

yang melakukan tindakan tercela, maka oknum hakim tersebut telah melakukan penyimpangan hukum.

Pada kode etik angka i dinyatakan bahwa hakim harus dapat di percaya., Pada etika tugas jabatan hakim sebagaimana tertulis bahwa hakim sebagai penegak hukum harus mengabdi pada pekerjaan. Sikap terpuji dari aparat penegak hukum adalah mengabdi pada pekerjaan secara otomatis hakim tersebut juga mengabdi pada negara. Jika ada kesediaan oknum hakim melakukan transaksi putusan melalui mafia peradilan demi kepentingan pribadi yang berorientasi pada profit adalah salah. Tidak selayaknya lembaga peradilan dirubah menjadi perusahaan peradilan dimana, setiap menjalankan pekerjaan selalu mencari keuntungan sebanyak-banyaknya (www.pamajene.co.cc).

Pada etika tugas jabatan hakim sebagaiman tertulis bahwa hakim dilarang berjiwa mumpung. Putusan hakim yang telah terkontaminasi virus mafia peradilan dapat menabrak rambu-rambu kode etik hakim. Larangan bahwa hakim tidak boleh berjiwa mumpung merupakan rambu-rambu hukum yang harus ditaati.

commit to user

52

BAB IV. PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut :

1. Modus operandi mafia peradilan dapat di uraikan sebagai berikut :

a. Pada tahap penyidikan

Mafia peradilan menggunakan modus menjanjikan kepada tersangka bahwa ia dapat merekayasa kasus dengan menawarkan pasal-pasal ringan dalam menjerat kasus pidana yang telah dilakukan oleh terperiksa.

b. Pada tahap penuntutan

Didalam proses ini modus operandi mafia peradilan adalah berkonspirasi dengan oknum jaksa untuk tidak menuntut pasal-pasal yang memberatkan, tidak menuntut hukuman maksimal.

c. Pada tahap Peradilan

Mafia peradilan melobi hakim dengan cara mengajak oknum hakim tersebut ke tempat yang telah disepakati guna membahas nasib terdakwa yang sedang diproses dipengadilan, karena putusan hakim merupakan tahap terakhir dalam proses peradilan. Disini mafia peradilan merekayasa peradilan yang seharusnya berjalan menurut ketentuan undang-undang menjadi peradilan yang berjalan menurut keinginan mafia peradilan.

2. Penerapan kode etik profesi aparat penegak hukum di Indonesia akan

terhambat jika para mafia peradilan masih berkeliaran dan tidak segera di berantas. Karena tidak bisa dipungkiri lagi mafia peradilan mempunyai peran penting akan terjadinya pelanggaran kode etik. Secara lebih detail antara lain:

a. Pada kode etik polisi: Kode etik Kepolisian dibuat untuk mengatur

norma-norma dan moral polisi untuk mewujudkan kinerja yang lebih baik. Tapi dengan adanya para mafia peradilan, maka harapan untuk mewujudkan kinerja yang lebih baik menjadi sulit. Mafia peradilan

commit to user

menawari oknum polisi untuk melanggar kode etik guna kepentingan terdakwa dan mafia peradilan itu sendiri.

b. Pada kode etik jaksa: Jaksa dalam proses peradilan mempunyai

kewenangan sebagai penuntut umum. Kode etik Kejaksaan mengatur semua tingkah laku oknum jaksa dalam melaksanakan proses peradilan, tetapi masih banyak oknum jaksa yang melanggar kode etik kejaksaan karena peran serta mafia peradilan.

c. Pada kode etik hakim: Hakim dalam menjalankan tugas harus

menjunjung tinggi kode etik hakim, karena hakim menjadi panutan masyarakat baik di dalam maupun di luar sidang pengadilan. Tetapi