• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1 Kinerja Usaha Perikanan Mini Purse Seine

4.1.1 Kondisi umum perikanan mini purse seine

4.1.1.5 Modus operasi penangkapan mini purse seine

Modus operasi penangkapan mini purse seine (soma pajeko) baik untuk nelayan lokal (nelayan pulau Mayau) maupun nelayan andon (nelayan dari Bitung) adalah sama. Berdasarkan wawancara dengan nelayan mini purse seine di pulau Mayau, umumnya operasi penangkapan dilakukan pada malam hari dan dini hari. Tahapan pengoperasian mini purse seine dibagi dalam empat tahap yaitu; (1) persiapan, (2) perjalan perahu lampu ke rumpon (fishing ground), (3) perjalanan kapal penangkap ke rumpon (fishing ground), dan (4) kegiatan operasi penangkapan. Pengoperasian mini purse seine (soma pajeko) di pulau Mayau menggunakan sistem satu kapal (one boat system). Gambar 11 menunjukkan skema operasi penangkapan mini purse seine di pulau Mayau.

Operasi penangkapan mini purse seine untuk nelayan lokal (nelayan pulau Mayau) dilakukan sekali dalam satu trip (one day fishing) sedangkan nelayan andon (nelayan dari Bitung) dilakukan 17 hari dalam satu trip dan 15 hari operasi. (1) Persiapan

Sebelum berangkat ke daerah penangkapan, segala peralatan dan perbekalan dipersiapkan terlebih dahulu dengan teliti agar jangan sampai ada yang ketinggalan. Persiapan yang dilakukan untuk perahu lampu yaitu; pengisian

bahan bakar dilampu, pengaturan lampu di perahu, peralatan pengintai ikan (kaca mata air), dan pengaturan peralatan mesin atau motor. Sedangkan untuk kapal mini purse seine yaitu; pengaturan jaring, bahan bakar, dan peralatan mesin atau motor. Hal ini dilakukan untuk memperlancar kegiatan penangkapan ikan.

(2) Perahu lampu menuju rumpon (fishing ground)

Perahu lampu yang pertama kali menuju rumpon, lampu yang digunakan adalah petromaks sebanyak enam buah. Perahu lampu ini bertugas untuk memasang lampu di rumpon sehingga ikan mengumpul dan lebih terkosentrasi. Perahu lampu berangkat menuju rumpon biasanya sekitar pukul 18.30 WIT.

(3) Kapal mini purse seine menuju rumpon (fishing groud)

Kapal ini menuju rumpon setelah mendapat informasi dari juru lampu yang berada di perahu lampu melalui radio HT bahwa ikan sudah terkumpul dan terskonsentrasi. Lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke rumpon kurang lebih 1 jam dari pangkalan (fishing base) dengan menggunakan tenaga pendorong sebanyak 2 – 4 motor tempel 40 PK.

(4) Pengoperasian alat tangkap (setting)

Ada dua cara pengoperasian alat tangkap dirumpon yaitu:

.1) Pengoperasian alat tangkap dilakukan setelah perahu lampu menggiring ikan menjauhi rumpon sekitar kurang lebih 100 m. Hal ini dilakukan agar pada saat operasi penangkapan jaring tidak tersangkut pada tali jangkar rumpon. Pengoperasian alat tangkap dilakukan dengan memperhatikan arah arus terlebih dahulu oleh tonaas, apabila kondisis memungkinkan maka tonaas memerintahkan juru motor menghidupkan mesin dan berputar mengambil posisi yang cocok untuk pelepasan alat tangkap. Pelepasan alat tangkap diawali dengan pelepasan pelampung tanda yang diikatkan purse line dan penyatuan ujung-ujung tali ris atas dan bawah, kemudian dilemparkan ke posisi yang telah ditentukan. Selanjutnya kapal penangkapan melingkari gerombolan ikan yang berada di bawah perahu lampu sambil ABK menurunkan jaring. Diusahakan agar ujung jaring terakhir tepat

bertemu dengan pelampung tanda yang diturunkan terlebih dahulu. Pelampung tanda tersebut diangkat ke atas kapal dan selanjutnya penarikan purse line sampai bagian bawah jaring terkumpul menjadi satu.

.2) Jika ikan tidak mau keluar dari rumpon pada saat digiring oleh perahu lampu, maka juru lampu memindahkan tali rumpon yang mengikat di pelampung jangkar ke perahu lampu dan biarkan rumpon dan perahu lampu hanyut menjauhi pelampung tersebut. Hal ini dilakukan agar pada saat operasi penangkapan jaring tidak tersangkut pada tali jangkar rumpon. Pengoperasian alat tangkap dilakukan dengan memperhatikan arah arus terlebih dahulu oleh tonaas, apabila kondisis

memungkinkan maka tonaas memerintahkan juru motor

menghidupkan mesin dan berputar mengambil posisi yang cocok untuk pelepasan alat tangkap. Pelepasan alat tangkap diawali dengan pelepasan pelampung tanda yang diikatkan purse line dan penyatuan ujung-ujung tali ris atas dan bawah, kemudian dilemparkan ke posisi yang telah ditentukan. Selanjutnya kapal penangkapan melingkari gerombolan ikan yang berada di bawah perahu lampu sambil ABK menurunkan jaring. Diusahakan agar ujung jaring terakhir tepat bertemu dengan pelampung tanda yang diturunkan terlebih dahulu. Pelampung tanda tersebut diangkat ke atas kapal dan selanjutnya penarikan purse line sampai bagian bawah jaring terkumpul menjadi satu.

(5) Pengangkatan jaring (hauling) dan pengambilan hasil tangkapan

Setelah purse line ditarik semua dan semua cincin telah dinaikkan ke atas kapal, sedikit demi sedikit bagian-bagian jaring dinaikkan ke atas kapal yang dimulai dari ujung sayap, badan jaring sampai ke kantong. Ikan-ikan yang terkurung di dalam kantong diangkat menggunakan serok. Serok ini berfungsi untuk memudahkan pemindahan ikan dari kantong dan juga agar ikan tangkapan tidak rusak sewaktu pengangkatan hasil, disamping itu mencegah kerusakan kantong apabila ditarik langsung ke atas kapal. Setelah itu jaring dinaikkan ke atas kapal sambil disusun seperti saat semula dengan

tujuan untuk penangkapan berikutnya. Dalam satu trip nelayan mini purse seine melakukan setting rata-rata sebanyak 1 – 2 kali, hal ini sangat ditentukan oleh jumlah hasil tangkapan yang diperoleh.

Gambar 11 Skema operasi penangkapan mini purse seine (soma pajeko) dengan rumpon di pulau Mayau.

Tidak

Persiapan: 1. Perahu lampu

- Pengisian bahan bakar di lampu

- Peralatan pengintai ikan (kaca mata air) - Pengaturan peralatan mesin dan motor 2. Kapal minipurse seine (soma pajeko) - Pengaturan jaring

- Bahan bakar dan Peralatan mesin atau motor

Rumpon (Fishing ground) Perahu lampu:

- Memasang lampu di rumpon

Kapal mini purse seine Informasi, ikan terkumpul

dan terkosentrasi

Menggiring ikan keluar dari rumpon

Setting;

- Pelepasan pelampung tanda

- Kapal melingkari gerombolan ikan sambil ABK menurunkan jarring

- Penarikan purse line

Melepas tali rumpon dari pelampung jangkar

Hauling dan pengangkatan hasil tangkapan; - Cincin dan bagian-bagian dinaikkan ke atas kapal

- Ikan diangkat ke atas kapal menggunakan serok.

Hasil tangkapan memuaskan Pindah Rumpon

4.1.1.6 Sistem bagi hasil

Saat penelitian dilakukan nelayan lokal (nelayan pulau Mayau) mengoperasikan unit mini purse seine (soma pajeko) yang diadakan oleh program bantuan dana bergulir dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku Utara. Oleh karena itu dalam penelitan ini akan dijelaskan tiga sistem bagi hasil, yaitu: (1) sistem bagi hasil tangkapan usaha perikanan mini purse seine lokal (nelayan pulau Mayau) masih dalam pemberdayaan (kepemilikan usaha bersifat kolektif/kelompok); (2) sistem bagi hasil tangkapan usaha perikanan mini purse seine lokal (nelayan pulau Mayau) setelah pinjaman dana bergulir lunas (kepemilikan usaha bersifat kolektif/kelompok); dan (3) sistem bagi hasil tangkapan usaha perikanan mini purse seine andon/nelayan dari Bitung (kepemilikan usaha bersifat perorangan/pengusaha).

Sistem bagi hasil tangkapan yang diterapkan dalam usaha perikanan mini purse seine lokal (nelayan pulau Mayau) masih dalam pemberdayaan, kepemilikan usaha bersifat kolektif (kelompok) adalah: (1) hasil tangkapan dijual (pendapatan kotor), (2) pendapatan kotor dikurangi biaya operasional, pengembalian dana bergulir sebesar 25%, dan bagi hasil 15% (jika melakukan penangkapan di rumpon bukan milik sendiri) untuk mendapatkan laba bersih, dan (3) laba bersih dibagi untuk pemilik (Kelompok) 50% dan nelayan (crew) 50% (Gambar 12). Pembagian hasil dilakukan setiap satu bulan.

Sedangkan sistem bagi hasil tangkapan yang diterapkan dalam usaha perikanan mini purse seine lokal (nelayan pulau Mayau) setelah pinjaman dana bergulir lunas (kepemilikan usaha bersifat kolektif/kelompok) maupun usaha perikanan mini purse seine andon/nelayan dari Bitung (kepemilikan usaha bersifat perorangan/pengusaha) adalah sama, yaitu: (1) hasil tangkapan dijual (pendapatan kotor), (2) pendapatan kotor dikurangi biaya operasional dan bagi hasil 15% (jika melakukan penangkapan di rumpon bukan milik sendiri) untuk mendapatkan laba bersih, dan (3) laba bersih dibagi untuk pemilik 50% dan nelayan 50% (Gambar 13 dan 14). Pembagian hasil dilakukan setiap satu bulan.

Gambar 12 Sistem bagi hasil tangkapan usaha perikanan mini purse seine lokal (nelayan pulau Mayau) masih dalam pemberdayaan (kepemilikan usaha bersifat kolektif/kelompok).

Gambar 13 Sistem bagi hasil tangkapan usaha perikanan mini purse seine lokal (nelayan pulau Mayau) setelah pinjaman dana bergulir lunas (kepemilikan usaha bersifat kolektif/ kelompok).

Produksi

Pendapatan kotor

Biaya operasional

15% untuk rumpon bukan milik sendiri

Kelompok 50 %

Pendapatan bersih

Crew/Nelayan 50 %

Tonaas 2 bagian Juru mesin dan juru lampu 1,5 bagian

Nelayan/ABK 1 bagian Produksi

Pendapatan kotor

Biaya operasional

15% untuk rumpon bukan milik sendiri

Pendapatan bersih

Pemilik (Kelompok) 50% Crew/Nelayan 50%

Tonaas 2 bagian Juru mesin dan juru lampu 1,5 bagian

Nelayan/ABK 1 bagian Pengembalian

Gambar 14 Sistem bagi hasil usaha perikanan mini purse seine andon/nelayan dari Bitung (kepemilikan usaha bersifat perorangan/pengusaha).

Dokumen terkait