• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII: CATATAN PENDAMPINGAN DAN REFLEKSI

DESTINY (MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM) DAN ANALISIS PERUBAHAN SETELAH PENDAMPINGAN

A. MONITORING DAN EVALUASI

BAB VII

DESTINY (MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM) DAN ANALISIS PERUBAHAN SETELAH PENDAMPINGAN

A. MONITORING DAN EVALUASI

Dalam melakukan sebuah kegiatan, hal yang tak kalah penting dilakukan adalah monitoring dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana efektivitas dan efisiensi sebuah kegiatan dilaksanakan. Tanpa monitoring dan evaluasi tak akan tahu sejauh mana kegiatan berhasil mencapai tujuan.

Monitoring adalah pemantauan secara terus menerus proses perencanaan

dan pelaksanaan kegiatan69. Monitoring dilakukan saat kegiatan berlangsung.

Sedangkan evaluasi adalah pengidentifikasian keberhasilan dan/atau kegagalan suatu rencana kegiatan atau program. Evaluasi secara umum terdapat dua tipe, yaitu on-going evaluation atau evaluasi terus menerus dan ex-post evaluation atau evaluasi akhir70.

Monitoring program dilaksanakan sejak setelah menyepakati kegiatan apa saja yang akan dilakukan secara bersama-sama pada tahap design. Monitoring dilakukan dengan cara menuliskan kegiatan-kegiatan tersebut beserta tanggal terlaksana. Monitoring tersebut dilaksanakan secara berkala setiap satu minggu

69 Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, (Bandung; PT. Refika Aditama, 2005) 118.

sekali atau setelah kegiatan berjalan. Hasil monitoring sejauh ini adalah program sudah terlaksana secara keseluruhan.

Kegiatan tersebut tidak cukup hanya dipantau terlaksana atau tidaknya. Butuh diskusi evaluasi untuk melihat sejauh mana program atau kegiatan tersebut mencapai tujuan dan perlu perbaikan, dilakukan sebuah evaluasi setiap selesai melakukan kegiatan. Evaluasi ini menggunakan beberapa teknik:

1. MSC (Most Significant Change)

Teknik MSC adalah bentuk monitoring dan evaluasi partisipatif. Pada dasarnya, teknik ini melibatkan proses pengumpulan cerita/kisah mengenai

perubahn signifikan yang berasal dari lapangan71. Monitoring dan evaluasi ini

terbagi menjadi dua, yaitu monitoring dan evaluasi proses dan monitoring dan evaluasi kegiatan.

Tabel 7.1

Monitoring dan Evaluasi Kegiatan

Proses Pelaksanaan Hasil

Define (Penentuan tema dan mengatur skenario) Teknik: FGD Waktu: 7 April 2019 Tempat: Pendopo balai dusun

Peserta: ibu-ibu Jamiyah Istighotsah Putri

Ibu-ibu mampu menentukan skala prioritas aset mana yang dapat mereka kembangkan secara bersama

71 Rick davies dan Jess Dart, Teknik ‘Most Sigificant Change (Msc): Pendekatan Kualitatif Dalam

Monitoring Dan Evaluasi Program/Lembaga. Penerj: candra kusuma 2015. Diterj dari the msc

Discovery dan Dream Teknik: FGD Waktu: 14 April 2019, setelah jamiyah

Tempat: rumah Ibu

Tamiasih

Peserta: ibu-ibu Jamiyah Istighotsah Putri

Ibu-ibu mampu

mengidentifikasi dan

memetakan aset yang mereka. Selain itu, ibu-ibu memiliki optimis yang lebih tinggi daripada pesimis yang mereka miliki sebelumnya. Selain itu, membayangkan masa depan juga memberikan keberanian

mereka untuk melawan

traumatik.

Design Teknik: FGD

Waktu: 22 April 2019

Tempat: rumah Ibu

Samiasih

Peserta: ibu-ibu Jamiyah Istighotsah Putri

Ibu-ibu dapat merancang jalan

menuju tujuan mencapai

mimpi, dengan merancang kegiatan yang menyesuaikan kebutuhan dan kesibukannya sendiri

Destiny Demonstrasi pengolahan

Teknik: Aksi bersama Waktu: 13-17 Mei 2019 Peseta: 11 orang (Mbak Ria, Bu Poniti, Bu Titin, Bu Juju, Bu Damiasih, Mbak Nia, Bu Tamiasih, Bu Sumiati, Bu Sulin, Mak Sikah, Bu Kasun)

Ibu-ibu menemukan wawasan baru dalam pengolahan kopi

Pembentukan kelompok

Teknik: FGD

Waktu: 25 Mei 2019 Tempat: Pendopo balai dusun

Peserta: 13 orang (Mbak Ria, Bu Poniti, Bu Titin, Bu Juju, Bu Damiasih, Mbak Nia, Bu Tamiasih, Bu

Ibu-ibu berani mengambil

langkah untuk mencoba

kembali membentuk sebuah kelompok

Sumiati, Bu Sulin, Mak Sikah, Bu Kasun, Pak Har dan Bu Suwarni)

Monitoring dan evaluasi

Teknik: FGD

Waktu: 23 Mei 2019 Tempat: Pendopo balai dusun

Peserta: 7 orang (Mbak Ria, Bu Daryati, Bu Sulin, Bu Tamiasih, Mak Sikah, Bu Titin, Bu Juju.

Ibu-ibu mampu melakukan pengawasan dan memberikan kritik saran terhadap kegiatan

yang dirancang dan

dijalankannya sendiri

(melakukan monev)

Sumber: Hasil FGD peneliti bersama ibu-ibu

Memang kegiatan yang telah dilaksanakan peneliti bersama ibu-ibu merupakan pengalaman pertama mereka. Dimana mereka memilih sendiri kegiatan apa yang ingin mereka lakukan, kemudian merancang, melakukan, mengawasi dan mengevaluasi setiap kegiatannya sendiri. Secara kapasitas, maka kemampuan mereka telah bertambah dan berkembang. Selain evaluasi proses, ibu-ibu juga melaksanakan evaluasi aksi dengan hasil sebagai berikut:

a. Dalam proses penyangraian, Bu Sulin mempunyai masukan sebuah tips agar kopi beraroma wangi yaitu mengunakan kayu mahoni untuk kayu bakar. Karena jika memakai kayu pinus, aroma yang dihasilkan berbeda. Beliau berkata

“Mbak aku usul yo, nek iso nyangraine iku nggawe kayu mahoni ae cek wangi. Nek kayu pinus dadine sangit. Iku nek pengalamanku loh yo. Aku iki gak pinter, gak ngerti teori tapi yo pengalaman. (Mbak saya mau usul ya, kalau bisa proses sangrai menggunakan kayu Mahoni sja supaya wangi. Kalau kayu Pinus akan menjadi sangit/gosong. Itu menurut pengalamanku lo ya. Saya ini nggak pinter, tidak tahu teori tetapi saya punya

pengalaman)”. Tutur Bu Sulin menjelaskan pengalamannya tersebut pada ibu-ibu.

b. Dalam label kemasan, alamat yang ditulis kurang lengkap. Perlu ditambahkan kalimat “Jl. Indrokilo”.

Gambar 7.1

Desain Label Setelah Dievaluasi

Sumber: Hasil Evaluasi

c. Kemasan plastik standing pouch bening ternyata memiliki zipp lock yang kurang rapat untuk produk bubuk seperti kopi, sehingga menyebabkan plastik terkesan menjadi bocor atau bubuk kopi keluar dari wadahnya. Solusinya, kemasan diganti dengan paper zipp lock yang lebih rapat sehingga produk bubuk tidak tumpah. Kemasan paper zipp lock tersebut mirip dengan yang digunakan oleh kopi produk Desa Jatiarjo.

d. Pada label perlu ditambahkan informasi komposisi bahan yang digunakan dalam pembuatan Kopi Talunongko. Adapun produk kopi saat ini memiliki komposisi bahan sebagai berikut: Kopi Murni 50% dan Beras Jagung 50%. Evaluasi ini merupakan evaluasi tambahan setelah label didesain ulang

kembali. Oleh karena itu perlu desain ulang label kembali untuk menambahkan komposisi bahan Kopi Talunongko.

2. Perangkat Fotografi

Dalam evaluasi melalui fotografi, perubahan signifikan yang nampak bagi ibu-ibu adalah bagaimana kopi menjadi menarik untuk dikemas dan dijual. Gambar yang diperoleh ibu-ibu adalah:

Gambar 7.2

Bahan Baku Kopi yang Akan Diolah

Sumber: Dokumentasi Peneliti

Gambar 7.3

Kopi Olahan yang Bernilai Jual