• Tidak ada hasil yang ditemukan

Monogami, Poligami, dan Perceraian dalam Hukum Indonesia

MONOGAMI, POLIGAMI, DAN PERCERAIAN

C. Monogami, Poligami, dan Perceraian dalam Hukum Indonesia

dari satu orang perempuan. Lawannya adalah poliandri, yaitu perkawinan antara seorang perempuan dengan beberapa orang laki-laki.41 Namun dari segi makna poligami terdiri atas pernikahan antara seorang laki-laki dengan dua atau lebih perempuan (poligini) dalam waktu yang bersamaan, atau prnikahan seorang wanita dengan dua atau lebih laki-laki (poliandri) dalam waktu yang bersamaan. Poligini diberi peluang dalam Islam dengan persyaratan-persyaratan. Sedangkan praktik poliandri dilarang dalam Islam.

Ketiga, perceraian atau talak adalah pemutusan ikatan tali pernikahan antara suami dan istri dengan mempergunakan kata-kata tertentu. Al-Jaziry mendefenisikan talak atau perceraian yaitu menghilang-kan ikatan perkawinan atau mengurangi pelepasan ikatan dengan menggunakan kata-kata tertentu. Sedangkan menurut Abu Zakaria al-Anshari, talak yaitu melepas tali akad nikah dengan kata-kata talak dan yang semacamnya. Jadi, pernyataan ‘talak’ tidak boleh bermain-main, sebab dengan kata-kata ‘talak’ dapat jatuh yang menyebabkan hubungan pasangan menjadi haram.

C. Monogami, Poligami, dan Perceraian dalam

Hukum Indonesia

Indonesia sebagai negara hukum telah mengatur tentang pernikahan yang tertuang dalam Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Undang-undang ini adalah Undang-undang-Undang-undang pertama di Indonesia yang mengatur soal perkawinan secara Nasional. Berdasarkan Undang-undang tersebut maka hukum perkawinan di Indonesia menganut asas monogami, baik

41Islam Menyoal Poligami, diakses di http://www.abatasa.com/

untuk laki-laki maupun perempuan.

Pada asasnya seorang pria hanya boleh memiliki seorang istri. Seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami. (Pasal 3 (1), UUP No. 1 tahun 1974) Seorang yang terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi, kecuali dalam hal yang tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) dan dalam Pasal 4 Undang-undang ini. (Pasal 9, UUP No. 1 tahun 1974)

Pasal tersebut sejalan Islam yang menganut perni-kahan dengan asas monogami, terutama bagi wanita. Hal ini juga sesuai “budaya ketimuran". Berdasarkan pasal itu juga, seseorang dapat menjalani konsep poligini dengan syarat mengajukan surat permohonan ke Pengadilan di daerah tempat tinggalnya setelah sebelumnya isteri yang bersangkutan memberikan persetujuan.42 Pengadilan dapat memberikan izin seorang suami bisa beristeri lebih dari seorang apabila:

1. istri tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri. 2. istri mendapat cacat badan atau penyakit yang

tidak dapat disembuhkan.

3. istri tidak dapat melahirkan keturunan. 4. adanya persetujuan dari istri/istri-istri.

5. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istri-istri dan anak-anak mereka.

6. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.

Tentang perceraian bagi warga negara, hanya

42Lihat Pasal 4 (1), UU Perkawinan 1974. Persetujuan dari isteri tidak diperlukan bagi seorang suami apabila tidak ada kabar dari isterinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun.

dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamai-kan kedua belah pihak. Perceraian dapat terjadi karena alasan:

1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lain tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemam-puannya.

3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau peng-aniayaan berat yang membahayakan pihak lain. 5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau

penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri.

6. Antara suami istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.43

Selama berlangsungnya gugatan perceraian, atas permohonan penggugat atau tergugat, Pengadilan dapat menentukan nafkah yang harus ditanggung oleh suami, hal-hal yang perlu untuk menjamin pemeliharaan dan pendi-dikan anak, serta menjamin terpeliharanya barang-barang yang menjadi hak bersama suami-istri atau barang-barang yang menjadi hak isteri.44

Khusus untuk Pegawai Negeri Sipil dan yang dipersamakan dengan Pegawai Negeri Sipi, Pemerintah

43Lihat Undang-Undang No. 9 tahun 1975 Bab V pasal 19.

telah mengeluarkan PP No. 10 tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil dengan maksud memberikan contoh yang baik kepada bawahannya dan menjadi teladan sebagai warga negara yang baik dalam masyarakat, termasuk dalam menyeleng-garakan kehidupan berkeluarga.

Peraturan-peraturan yang tertuang pada PP No. 10 tahun 1983 secara tidak langsung mempersulit Pegawai Negeri Sipil untuk mengurus izin poligini atau perceraian. Misalnya, para Pegawai Negeri Sipil harus membuat surat permohonan izin disertai alasan-alasan yang lengkap untuk melakukan poligini atau perceraian dan mendapatkan izin dari Pejabat45. Bagi Pegawai Negeri Sipil wanita tidak diizinkan untuk menjadi isteri kedua/ketiga/keempat dari Pegawai Negeri Sipil (Pasal 4 (2)).

Apabila Pegawai Negeri Sipil melakukan perceraian atau poligini tanpa izin lebih dahulu dari pejabat yang berwenang, maka ia dijatuhi hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat sebagai pegawai negeri tidak atas permintaan sendiri (Pasal 16).

Selanjutnya apabila Pegawai Negeri Sipil sampai bercerai dengan isterinya atas kehendak suami, maka ia wajib menyerahkan sepertiga gajinya kepada mantan isterinya dan sepertiga lagi untuk anak-anaknya. Akan tetapi, apabila dari perkawinannya itu tidak dikaruniai anak, maka setengah gajinya wajib diserahkan kepada mantan isterinya. Hak atas gaji mantan suami terhapus hingga mantan istri yang bersangkutan menikah dengan

45Menteri; Jaksa Agung; Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen; Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara; Gubernur Kepala Daerah Tingkat I; Pimpinan Bank milik Negara; Pimpinan Badan Usaha milik Negara; Pimpinan Bank milik Daerah; dan Pimpinan Badan Usaha milik Daerah;

laki-laki lain.46 Apabila perceraian terjadi atas kehendak istri, maka istri tidak berhak mengambil bagian penghasilan dari mantan suaminya, kecuali apabila istri meminta cerai karena dimadu. Sebab, permintaan cerai tanpa alasan yang kuat dianggap sebuah keputusan untuk menanggung akibatnya.