• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN

B. Morbiditas

Disamping Angka Kematian, derajat kesehatan juga bisa dilihat dari Angka Kesakitan dalam suatu wilayah tertentu. Angka kesakitan yang dituangkan dalam Profil Kesehatan ini didapat dari data yang berasal dari pengumpulan data di Dinas Kesehatan yang bersumber dari Puskesmas maupun dari Rumah Sakit yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. 1. Penyakit Menular

Penyakit menular yang disajikan dalam Profil Kesehatan Kabupaten Ponorogo tahun 2012 antara lain adalah penyakit TB Paru, pneumonia, HIV/AIDS, kusta, malaria, dan filariasis.

14 a. TB Paru

Penyakit TB Paru masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Berbagai upaya pemerintah dilakukan untuk pengendalian penyakit ini yaitu dengan menemukan, mengobati dan menyembuhkan penderita TB Paru dengan menggunakan strategi DOTS (Directly

Observed Treatment Shortcourse).

Gambar 3.4. Perkembangan Penemuan Penderita TB BTA (+) Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

Tahun 2012 jumlah perkiraan kasus baru TB Paru sebanyak 915 dengan angka penemuan kasus mencapai 42.95% atau sejumlah 393 orang kasus baru TB (BTA+). Penemuan kasus TB paru BTA (+) ini lebih sedikit dari yang ditargetkan yaitu 642 orang. Tingkat kesembuhan penderita TB paru BTA (+) yang ditemukan dan diobati pada Tahun 2011 yang dievaluasi Tahun 2012 adalah 83,92% ( 308 orang penderita ) TB paru (BTA+) lebih rendah dari target 85%.

15 b. Pneumonia

Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang paling menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah pneumonia balita, karena secara nasional penyakit ini merupakan penyebab kematian balita paling banyak (80-90%). Di Kabupaten Ponorogo tahun 2012 jumlah penderita yang ditemukan dan diobati sebanyak 1.202 kasus, mengalami kenaikan dibanding tahun 2011 jumlah penderita yang ditemukan dan ditangani sebanyak 971 kasus. Tahun 2010 penderita pneumonia keseluruhan sebanyak 286 kasus, dengan jumlah penderita balita ditemukan sebanyak 220 kasus dan ditangani 100%. Tahun 2009 sebanyak 212 kasus, sedangkan tahun 2008 sebanyak 265 kasus.

Gambar 3.5. Penemuan Kasus Pneumonia Balita Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

16 c. HIV / AIDS

Kejadian dan kematian kasus HIV/AIDS terus terjadi peningkatan. Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Ponorogo mulai Tahun 2008 hingga 2012 meningkat tajam dari tahun ke tahun. Sebagaimana pada “fenomena gunung es” kasus yang muncul kemungkinan masih sedikit dibanding jumlah kasus yang sesungguhnya ada tetapi belum terdeteksi. Hal ini mengingat resiko penularan yang tinggi sebagaimana pada penyakit IMS (infeksi menular seksual) serta perilaku masyarakat yang tidak sehat terutama pada kelompok masyarakat resiko tinggi.

Gambar 3.6. Jumlah Kasus HIV/AIDS baru Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

Tahun 2010 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Ponorogo yang ditemukan sebanyak 19 penderita, tahun 2011 ditemukan 38 penderita HIV/AIDS sedangkan tahun 2012 ditemukan 30 penderita HIV dan 21 penderita AIDS.

17 Berbagai cara telah dilakukan untuk pengendalian penyakit mematikan yang belum ada obatnya ini diantaranya dengan sosialisasi yang luas kepada masyarakat, kerjasama dengan RSUD Dr.Harjono Ponorogo dalam penegakan diagnosa, kerjasama dengan rumah sakit swasta yang ada di Ponorogo dalam surveilans epidemiologi HIV/AIDS serta kerjasama dengan RSUD Dr. Soedono Madiun sebagai unit layanan VCT (Voluntary Counseling and Testing).

Salah satu cara untuk memantau situasi HIV/AIDS di masyarakat yang sekaligus sebagai upaya pencegahan penularan adalah penapisan darah donor di Unit Transfusi Darah serta sosialisasi pemakaian kondom pada kelompok sasaran resiko tinggi yang dalam hal ini adalah Pekerja Seks Komersial (PSK) di Lokalisasi Kedung Banteng. Sedangkan untuk mengatasi stigma di masyarakat selain melalui penyuluhan juga telah dilakukan pelatihan pemulasaraan jenasah ODHA bagi modin di seluruh wilayah kerja Puskesmas di Kabupaten Ponorogo.

Untuk pengobatan Anti Retrovirus (ARV) penderita HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo bekerja sama dengan RSUD Dr.Soedono Madiun sebagai penyedia Anti Retrovirus (ARV) karena dengan pemberian anti retrovirus kematian pasien HIV dapat ditekan dan diharapkan usia hidup serta kualitas hidup pasien akan meningkat.

d. Kusta

Jumlah penderita kusta tercatat di Kabupaten Ponorogo pada tahun 2012 sebanyak 65 orang dengan angka prevalensi 0.76 per 10.000 penduduk. Angka penemuan penderita baru (CDR) kusta tahun 2012

18 sebesar 6,65 per 100.000 penduduk (57 kasus) yang terdiri dari 4 penderita PB dan 53 penderita MB. Angka kesembuhan / RFT MB tahun 2012 sebanyak 36 orang (83,72%) dan RFT PB sebanyak 7 orang ( 100% ). Penderita dengan cacat 2 sebanyak 11 orang (19,30%) dan penderita anak sebanyak 3 orang (5,26%).

Pada tahun 2011 yang ditemukan dan diobati sebanyak 54 orang (prevalensi : 0,56 per 10.000 penduduk) dengan perincian tipe PB ada 7 orang dan tipe MB ada 47 orang. Tahun 2010 penderita kusta yang ditemukan dan diobati sebanyak 44 orang (prevalensi : 0,51 per 10.000 penduduk) dengan perincian type MB 43 orang dan PB 1 orang. Tahun 2009 yang ditemukan dan diobati sebanyak 52 orang (prevalensi : 0,61 per 10.000 penduduk) dengan perincian type MB 51 orang dan PB 1 orang.

Angka prevalensi menunjukkan besarnya masalah di suatu daerah, angka prevalensi kusta yang diharapkan < 1/10.000 penduduk jadi angka prevalensi kusta di Kabupaten Ponorogo tahun 2012 sudah memenuhi target namun untuk angka cacat 2 dan penderita anak masih menjadi masalah karena melebihi target yang diharapkan yaitu < 5%.

19 Gambar 3.7. Perkembangan Prevalensi Kusta

Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

e. Malaria

Kasus penyakit malaria di Kabupaten Ponorogo masih ditemukan hingga tahun 2012 ini. Pada tahun 2012 terdapat 87 penderita positif malaria sehingga terjadi peningkatan kasus malaria positif dari tahun 2011 dengan 37 penderita positif malaria. Tahun 2010 terdapat kasus 24 penderita positif malaria, tahun 2009 terdapat 48 penderita malaria positif sedangkan tahun 2008 terdapat 52 penderita positif malaria.

20 Gambar 3.8. Penemuan kasus malaria

Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

Kasus malaria yang ditemukan di Kabupaten Ponorogo merupakan kasus import, karena dari sekian kasus positif malaria berasal dari penduduk Ponorogo yang bekerja diluar Pulau Jawa dan mereka kembali ke Ponorogo sudah dalam kondisi sakit dan didiagnosa penyakit malaria. Sedangkan jika dilihat dari pemetaan kasus pada tahun 2012, kasus tertinggi berasal dari wilayah Puskesmas Sawoo yang berbatasan dengan daerah endemis malaria yaitu Kabupaten Trenggalek.

f. Filariasis

Filariasis atau yang lebih dikenal dengan penyakit kaki gajah adalah merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan lewat gigitan vektor nyamuk. Penderita filariasis baru yang ditemukan tahun 2012 di Kabupaten Ponorogo sebanyak 2 orang dan jumlah seluruh kasus yang ditangani sebanyak 29 orang, dengan angka kesakitan 3,38 per 100.000 penduduk.

21 Tahun 2011 Kabupaten Ponorogo menangani 27 penderita filariasis sesuai tatalaksana kasus, baik itu merupakan kasus baru ataupun kasus lama.

Angka Kesakitan Filariasis Kabupaten Ponorogo di tahun 2010 sebesar 1,64 per 100.000 penduduk. Adapun jumlah kasus tahun 2009 terdapat 11 penderita dan 18 penderita di tahun 2008. Karena Kabupaten Ponorogo bukan merupakan daerah endemis, maka tidak ada program kegiatan pengobatan massal.

Gambar 3.9. Jumlah penderita filariasis Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

2. Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)

PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ditekan dengan pelaksanaan program imunisasi, pada profil kesehatan ini akan dibahas penyakit tetanus neonatorum, campak, diferi, dan polio.

a. Tetanus Neonatorum

Tetatus Neonatorum merupakan penyakit tetanus yang menyerang pada bayi baru lahir dengan tingkat resiko kematian yang tinggi. Melalui

22 program Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN) diharapkan jumlah angka kesakitan dan kematian karena Tetanus Neonatorum dapat ditekan, dan kasus TN tidak terjadi lagi. Program-program untuk eliminasi tetanus neonatorum diantaranya adalah dengan Program Imunisasi TT WUS dan BIAS. Dari Tahun 2008, 2009, 2010, 2011 dan 2012 di Kabupaten Ponorogo tidak ditemukan adanya kasus Tetanus Neonatorum.

b. Campak

Tahun 2012 jumlah kasus penyakit campak sebanyak 224 kasus dengan kejadian KLB di 3 (tiga) desa dengan Attack Rate sebesar 0.72%. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2011 dengan jumlah kasus sebanyak 69 dengan kejadian KLB di 3 (tiga) desa dengan Attack Rate sebesar 0.47%.

Adapun desa yang terjadi KLB yaitu Desa Pintu Kecamatan Jenangan wilayah kerja Puskesmas Setono dengan 41 penderita , Desa Ngebel Kecamatan Ngebel dengan 10 penderira dan Desa Talun Kecamatan Ngebel dengan 9 penderita, keduanya masuk wilayah kerja Puskesmas Ngebel.

23 Gambar 3.10. Perkembangan Kasus Campak dan KLB Campak

Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

Pada tahun 2010 terjadi 55 kasus campak namun tidak terjadi KLB campak. Tahun 2009 terjadi 2 (dua) kali KLB Campak di 2 desa 2 kecamatan ada 21 penderita dengan Attack Rate sebesar 0,58%. Tahun 2008 terjadi 3 (tiga) kali KLB Campak ada 26 orang penderita dengan attack rate 0,41%,

c. Difteri

Pada Tahun 2011 Gubernur Jawa Timur menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Provinsi Jawa Timur. Setiap ditemukan suspek difteri maka harus dilakukan isolasi penderita, penyuluhan dan profilaksis ke kontak penderita dan dilanjutkan dengan ORI (Outbreak Respon Imunization).

Jumlah penderita difteri yang ditemukan di Kabupaten Ponorogo tahun 2012 sebanyak 8 penderita dengan CFR (Case Fatality Rate) 0 %.

24 Tahun 2011 sebanyak 3 penderita dan tahun 2010 ditemukan 1 penderita difteri. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya telah terjadi peningkatan penemuan penderita yang signifikan.

Gambar 3.11. Penemuan Kasus Difteri Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

d. Polio

Kejadian AFP saat ini diproyeksikan sebagai indikator untuk mengukur keberhasilan program Eradikasi Polio (ERAPO), yang dilaksanakan melalui Gerakan Imunisasi Nasional dan merupakan wujud kesepakatan global dalam pemberantasan Penyakit Polio di Indonesia. Penemuan kasus AFP merupakan upaya deteksi dini munculnya virus polio liar yang mungkin ada di masyarakat. Salah satu upaya untuk penemuan kasus AFP adalah dengan “Surveilans secara aktif” setiap ditemukan kasus lumpuh layuh mendadak pada anak usia <15 tahun.

25 Gambar 3.12. Penemuan kasus AFP

Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

Perkiraan kasus AFP yang ada di masyarakat sebesar 2 orang per 100.000 penduduk usia <15 tahun. Penemuan kasus AFP di Kabupaten Ponorogo Tahun 2012 sebanyak 4 kasus. Jumlah penderita ini naik dibandingkan dengan jumlah penderita AFP pada tahun 2011 sebanyak 1 kasus dan tahun 2010 sebanyak 4 kasus. Adapun tahun 2009 ditemukan 7 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 1 kasus sedangkan tahun 2008 ditemukan 7 kasus.

3. Penyakit Potensi KLB / Wabah a. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Pada Tahun 2012 ini penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih tetap menjadi masalah di Kabupaten Ponorogo. Selain sangat berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB), selama delapan tahun terakhir menjadikan Kabupaten Ponorogo sebagai Kabupaten Endemis.

26 Gambar 3.13. Perkembangan kasus DBD

Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

Gambar di atas menunjukkan bahwa selama tahun 2008 sampai dengan 2010 kejadian kasus DBD cenderung meningkat, terlebih pada tahun 2009 dan 2010 kenaikan jumlah penderita cukup signifikan. Tahun 2011 kasus DBD mulai mengalami penurunan dengan jumlah kasus sebanyak 241, sedangkan tahun 2012 sebanyak 228 kasus dengan angka kesakitan 26.59 Per 100.000 penduduk dan CFR 0 %.

Kematian karena DBD tidak terjadi di tahun 2012, sedangkan tahun 2008, 2009, 2010 dan 2011 terdapat kematian karena DBD berturut-turut 2 kasus, 11 kasus, 7 kasus dan 4 kasus.

Upaya penanggulangan dan pencegahan penyakit DBD diantaranya dilakukan dengan kegiatan program pemantauan jentik berkala (PJB), abatisasi, penyuluhan tentang penyakit DBD, penanganan penderita dan pencegahan penularannya. Adapun setiap ada kasus dilakukan penyelidikan epidemiologi, gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

27 dengan gerakan 3M Plus-nya dan juga dilakukan pengasapan (fogging) untuk memberantas nyamuk dewasa.

Dari 60.446 rumah yang diperiksa didapat 49.437 (81.79%) rumah dengan bebas jentik, masih dibawah target yang seharusnya 95%. Melihat kenyataan ini, untuk penanggulangan sekaligus pencegahan penyakit DBD adalah pengendalian vektor diantaranya dengan PSN menjadi mutlak adanya. Gerakan PSN dan 3M Plus merupakan cara yang sangat efektif, murah dan mudah dilaksanakan. Peran serta aktif masyarakat dalam penanggulangan dan pencegahan DBD adalah sangat penting, karena dengan gerakan PSN dan 3M Plus ini terbukti mampu mengendalikan perkembangan vector nyamuk DBD.

b. Diare

Dari data yang ada bahwa penyakit diare masih menjadi masalah di Kabupaten Ponorogo. Dengan jumlah kasus yang senantiasa tinggi, menyebabkan kematian dan relatif selalu terjadi peningkatan.

Pada tahun 2012 kasus diare yang ditangani sebanyak 21.722 kasus dan terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di 1 (satu) desa dengan 7 penderita, dengan 1 orang meninggal dunia (CFR 14.29 %). Pada tahun 2011 kasus diare sebanyak 19.019, tahun 2010 kasus penyakit diare yang terjadi sebanyak 18.793. Pada Tahun 2009 terdapat 4.870 kasus diare balita atau 29,75% dari keseluruhan penderita (16.368 penderita). Sedangkan tahun 2008 ada kejadian 1 kali KLB yang menyerang 1 (satu) desa dengan jumlah penderita sebanyak 25 orang dan 2 orang meninggal dunia (CFR 8%) dari keseluruhan penderita (15.474 penderita).

28 Gambar 3.14. Penemuan penderita diare

Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2008 - 2012

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa kasus diare dalam 5 tahun terakhir selalu mengalami peningkatan dan berpotensi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB). Kasus diare yang tercatat belum menggambarkan angka kejadian sebenarnya karena banyak penderita diare yang tidak datang ke sarana kesehatan.

c. Leptospirosis

Emerging disease adalah salah satu penyakit yang telah muncul dalam suatu populasi untuk pertama kalinya, atau yang mungkin telah ada sebelumnya tetapi meningkat dengan pesat dalam kejadian atau dalam jarak geografis.

Di Kabupaten Ponorogo pada Tahun 2010 muncul emerging

disease yaitu penyakit Leptospirosis sebanyak 1 kasus. Pada tahun 2011

kasus leptospirosis sebanyak 30 kasus dan tahun 2012 sebanyak 26 kasus. Penyakit ini dibawa dan ditularkan lewat binatang tikus melalui gigitan

29 dan air kencingnya, yang telah membawa 3 kematian pada tahun 2011 dan 1 kematian pada tahun 2012.

Gambar 3.15. Penemuan penderita leptospirosis Di Kabupaten Ponorogo Tahun 2010 - 2012

Dokumen terkait