• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Uraian Tanaman

2.4 Morfologi dan Sitematika Bakteri .1 Pengertian

Nama bakteri berasal dari kata “bakterion” dari bahasa Yunani yang berarti tongkat atau batang. Bakteri merupakan organisme uniseluler yang relatif sederhana. Secara umum sel bakteri terdiri atas beberapa bentuk antara lain bentuk basil/batang, bulat, atau spiral. Bakteri umumnya bereproduksi dengan cara membelah diri menjadi dua sel yang berukuran sama yang disebut dengan pembelahan biner (Radji, 2009).

Menurut Pratiwi (2008) berdasarkan pengecatan gram, maka bakteri dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:

1. Bakteri Gram Positif, yaitu bakteri yang memberikan warna ungu saat diwarnai dengan zat warna pertama (kristal violet) dan setelah dicuci dengan alkohol, warna ungu tersebut akan tetap kelihatan. Kemudian ditambahkan zat warna kedua (safranin), warna ungu pada bakteri tidak berubah.

2. Bakteri Gram Negatif, yaitu bakteri yang yang memberikan warna ungu saat diwarnai dengan zat warna pertama (kristal violet) namun setelah dicuci dengan alkohol, warna ungu tersebut akan hilang. Kemudian ditambahkan zat warna kedua (safranin) akan menghasilkan warna merah.

15

Kelompok bakteri secara umum terdiri atas semua organisme prokariotik patogen dan nonpatogen, serta organisme prokariotik yang bersifat fotoautrotof.

Spesies bakteri secara umum dapat dibedakan berdasarkan morfologi, komposisi kimia, kebutuhan nutrisi, aktivitas biokimia dan sumber energi (Pratiwi, 2008).

Pertumbuhan dan perkembangan bakteri dipengaruhi oleh : 1. Zat Makanan (nutrisi)

Sumber zat makanan bagi bakteri untuk pertumbuhannya diperoleh dari senyawa-senyawa seperti karbon, nitrogen, sulfur, fosfor, unsur logam (natrium, kalsium, magnesium, mangan, besi, tembaga dan kobalt), vitamin dan air untuk membantu fungsi metabolik dan pertumbuhannya. Berdasarkan kebutuhannya, nutrisi dapat dibedakan menjadi dua yaitu makroelemen, yaitu elemen-elemen nutrisi yang diperlukan bakteri dalam jumlah banyak (gram) dan mikroelemen (trace element), yaitu elemen-elemen nutrisi yang diperlukan bakteri dalam jumlah sedikit (dalam takaran mg hingga ppm) (Pratiwi, 2008; Pelczar dan Chan, 1986).

2. Keasaman (pH)

pH merupakan indikasi konsentrasi ion hidrogen. Peningkatan dan penurunan konsentrasi ion hidrogen dapat menyebabkan ionisasi gugus dalam protein, amino dan karboksilat. Ionisasi gugus yang terjadi dapat menyebabkan denaturasi protein yang mengganggu pertumbuhan sel (Pratiwi, 2008).

Mikroorganisme asidofil tumbuh pada kisaran pH optimal 1,0−5,5, mikroorganisme neutrofil tumbuh pada kisaran pH optimal 5,5−8,0, dan mikroorganisme alkalinofil tumbuh pada pH optimal 8,5−11,5, sedangkan mikrooganisme alkalinofil ekstrem tumbuh pada kisaran pH optimal ≥10 (Pratiwi, 2008).

16 3. Temperatur

Temperatur menentukan aktivitas enzim yang terlibat dalam aktivitas kimia. Peningkatan temperatur sebesar 100C dapat menigkatkan aktivitas enzim sebesar dua kali lipat. Pada temperatur yang sangat tinggi akan terjadi denaturasi protein yang tidak dapat balik (reversible), sedangkan pada temperatur yang sangat rendah aktivitas enzim akan berhenti (Pratiwi, 2008).

Pada temperatur pertumbuhan optimal akan terjadi kecepatan pertumbuhan optimal dan dihasilkan jumlah sel yang maksimal. Proses pertumbuhan bakteri tergantung pada reaksi kimiawi dan laju reaksi kimia yang dipengaruhi oleh temperatur.

Menurut Pelczar dan Chan (1986); Pratiwi (2008) maka bakteri dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Bakteri psikofil, yaitu bakteri yang dapat hidup pada temperatur 0−30oC, dengan temperatur optimum adalah 10−20 oC.

b. Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang dapat hidup pada temperatur 5−60 oC, temperatur optimum adalah 20− 40 oC.

c. Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup pada temperatur optimum adalah 55−65 oC.

4. Oksigen

Oksigen dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Menurut Pratiwi (2008) kebutuhan oksigen, bakteri dapat dibedakan menjadi 4 kelompok antara lain:

a. Aerob yaitu bakteri yang membutuhkan oksigen didalam pertumbuhannya b. Anaerob yaitu bakteri yang tidak membutuhkan oksigen didalam

pertumbuhannya, bahkan oksigen ini dapat menjadi racun bagi bakteri tersebut

17

c. Anaerob fakultatif yaitu bakteri yang dapat hidup tumbuh dengan atau tanpa adanya oksigen

d. Mikroaerofilik yaitu bakteri yang dapat tumbuh baik dengan adanya sedikit oksigen.

5. Tekanan osmosa

Osmosis merupakan perpindahan air melewati membran semipermeabel karena ketidakseimbangan material larut dalam media. Larutan hipotonik air akan masuk kedalam sel mikroorganisme sehingga sel membesar dan pecah.

Mikroorganisme halofil mampu tumbuh pada lingkungan hipertonik dengan kadar garam tinggu, umumnya NaCl 3%, contohnya adalah bakteri laut.

Mikroorganisme yang mampu tumbuh pada konsentrasi garam sangat tinggi sebesar 33% NaCl. (Pratiwi, 2008).

6. Kelembaban

Secara umum bakteri tumbuh dan berkembang biak dengan baik pada lingkungan yang lembap. Kebutuhan akan air tergantung dari jenis bakterinya (Pelczar dan Chan, 1986).

2.4.2 Bakteri Propionibacterium acnes

Sistematika Propionibacterium acnes BacDive (2019) yaitu:

Divisi : Bacteria Sub Divisi : Actinobacteria Kelas : Actinobacteridae Bangsa : Actinomycetales Suku : Propionibacteriaceae Marga : Propionibacterium Jenis : Propionibacterium acnes

18

Propionibacterium acnes adalah flora normal kulit terutama di wajah yang tergolong dalam kelompok bakteri Corynebacteria. Bakteri ini berperan pada patogenesis jerawat yang dapat menyebabkan inflamasi. Propionibacterium acnes menggunakan gliserol dalam sebum sebagai sumber nutrisi, membentuk asam lemak bebas dari sebum yang menyebabkan sel-sel neutrofil mengeluarkan enzim yang dapat merusak dinding folikel rambut dan terjadi inflamasi sehingga timbul pustule dan papula pada kulit (Radji, 2009).

Propionibacterium acnes berbentuk batang tak teratur yang terlihat pada pewarnaan Gram positif. Bakteri ini dapat tumbuh di udara dan tidak menghasilkan endospora. (Pelczar dan Chan, 1986).

2.4.3 Bakteri Staphylococcus epidermidis

Sistematika Staphylococcus epidermidis BacDive (2019) yaitu:

Divisi : Firmicutes Kelas : Bacili Bangsa : Bacillales

Suku : Staphylococcaceae Marga : Staphylococcus

Jenis : Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus epidermidis merupakan kelompok bakteri Gram positif, yang bersifat anaerob fakultatif berbentuk bola atau kokus, tidak membentuk spora dan tidak bergerak, koloni bakteri berwarna putih atau kuning, bakteri ini dapat tumbuh dengan cepat pada suhu 37°C. Bakteri ini mempunyai lapisan protein A pada dinding sel, dapat meragi laktosa, tidak meragi manitol dan bersifat koagulase negative. Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang sering ditemukan sebagai flora normal pada kulit dan selaput lendir manusia.

19

Bakteri ini merupakan penyebab infeksi kulit ringan yang disertai abses (Radji, 2009).

2.4.4 Bakteri Pseudomonas aeruginosa

Sistematika Pseudomonas aeruginosa BacDive (2019) yaitu:

Divisi : Bacteria

Sub Divisi : Schizomycetes

Kelas : Gamma Proteobacteria Bangsa : Pseudomonadales Suku : Pseudomonadaceae Marga : Pseudomonas

Jenis : Pseudomonas aruginosa

Pseudomonas aeruginosa termasuk bakteri dalam famili Pseudomonadaceae. Bakteri ini merupakan kelompok gram negative, mempunyai flagel tunggal polar. Bakteri Pseudomonas aeruginosa sangat mudah beradaptasi dan dapat tumbuh dalam lingkungan yang sangat kekurangan energi, bahkan dapat tumbuh dalam air suling. Bakteri ini memanfaatkan asetat sebagai sumber karbon dan ammonia sebagai sumber nitrogen. Suhu pertumbuhan optimum adalah 370C, tetapi juga dapat tumbuh pada suhu 420C. Bakteri ini sering diisolasi dari penderita luka dan luka bakar yang berat dan juga dapat menyebabkan infeksi pada kulit, mata, telinga, saluran nafas, saluran kemih dan organ lain (Radji, 2009).

Dokumen terkait