• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

2.4. Morfologi Kota dan Pertumbuhan Permukiman

Koneksi antar Negara sudah terbentuk dengan mudah dari segi ekonomi, sosial, dan budaya.

2.4 Morfologi Kota dan Pertumbuhan Permukiman

Secara harfiah, morfologi berarti ilmu tentang bentuk. Dalam kontek perkotaan, morfologi adalah studi mengenai form dan shape dari lingkungan permukiman. Form berarti bentuk yang dapat diamati dan merupakan konfigurasi dari beberapa objek, sementara shape adalah fitur geometrik atau bentuk eksternal dan outline dari sebuah benda. Lingkungan permukiman menjadi kata kunci yang penting, karena dalam ilmu perencanaan dan perancangan kota disebutkan bahwa peradaban dimulai dari kegiatan bermukim. Kompleksitas dalam pertumbuhan permukiman kemudian membentuk unit-unit lingkungan yang lebih besar yaitu kota. Jadi lingkungan kota tidak akan dapat dipisahkan dari lingkungan permukiman (Pontoh, 2009). Jadi dapat disimpulkan bahwa pembangunan sebuah kota yang baik harus dimulai dengan perencanaan kawasan permukiman yang baik pula. Jika kontrol pertumbuhan permukiman dapat dilakukan dengan perlakuan – perlakuan tertentu maka pembentukan sebuah wilayah perkotaan akan berjalan secara baik dan memenuhi kaidah pembangunan berkelanjutan.

Pengetahuan mengenai morfologi dapat membantu menangani masalah mengenai ketepatan (constancy) dan perubahan (change) dalam perancangan kota serta membantu menentukan pedoman-pedoman dasar untuk menentukan sebuah perancangan lingkungan kota yang konkret sesuai tekstur konteksnya. Pendekatan morfologi kota merupakan salah satu pendekatan yang berkaitan langsung dengan aspek penggunaan lahan kekotaan maupun kedesaan yang menyoroti eksistensi keruangan pada bentuk-bentuk wujud dari ciri-ciri atau karakteristiknya, (Yunus, H. Sabari 1999:107, dalam Nia K Pontoh 2009). Beberapa ahli mencoba untuk menunjukkan berbagai variasi ekspresi keruangan dari morfologi kota antara lain, bentuk bujur sangkar (Nelson 1908, dalam Nia K Pontoh 2009), bentuk empat persegi panjang, bentuk kipas, bentuk bulat (Nelson 1908, dalam Nia K Pontoh 2009), bentuk pita, bentuk gurita, bentuk tidak berpola (Northam 1975, dalam Nia K Pontoh 2009). Beberapa bentuk ekspresi keruangan dapat dilihat pada rangkuman tabel Tabel 2.1.

25 Tabel 2.1 Bentuk Morfologi Kota

GAMBAR BENTUK URAIAN

BENTUK KOTA KOMPAK

Bujur sangkar Kota berbentuk bujur sangkar menunjukkan adanya kesempatan perluasan kota ke segala arah yang relatif seimbang dan kendala fisikal relatif tidak begitu berarti. Hanya saja adanya jalur transportasi pada sisi-sisi memungkinkan terjadinya percepatan pertumbuhan areal kota pada arah jalur tersebut Empat Persegi Panjang Dengan melihat bentuk ini mengesankan bahwa

dimensi memanjang sedikit lebih besar daripada dimensi melebar. Hal ini dimungkinkan karena adanya hambatanhambatan pada salah satu sisinya. Hambatanhambatan tersebut berupa lereng yang terjal, perairan, gurun pasir, hutan.

Bentuk Kipas Bentuk semacam ini sebenarnya merupakan bentuk sebagian lingkaran. Dalam hal ini kea rah luar lingkaran kota mempunyai kesempatan berkembang yang relative seimbang namun dibeberapa bagian atau sisinya akan mengalami hambatan berupa hambatan alami sepeti perairan, pegunungan dan hambatan artificial berupa saluran buatan, zoning, ring roads.

Bentuk bulat Bentuk kota seperti ini merupakan bentuk yang paling ideal daripada suatu kota,karena kesempatan perkembangan areal kearah luar dapat dikatakan seimbang. Jarak dari pusat kota kea rah bagian luarnya sama dan tidak ada kendala-kendala fisik yang berarti pada pada sisi-sisi luar kotanya.

Bentuk Pita Bentuk ini sebenarnya mirip dengan bentuk empat persegi panjang namun karena dimensi memanjangnya jauh lebih besar dari pada dimensi melebar, maka dimensi ini menempati klasifikasi tersendiri dan menggambarkan bentuk pita. Jelas terlihat nahwa peranan jalur memanjang sangat dominan dalam mempengaruhi perkembangan areal kekotaannya, serta terhambatnya perluasan areal ke samping. Biasanya bentuk semacam ini berada pada sepanjang lembah pegunungan atau sepanjang jalur transportasi darat utama.

Bentuk Gurita Peran jalur transportasi pada bentuk ini sangat dominan sebagaimana bentuk pita, namun pada bentuk gurita jalur transportasi tidak hanya satu jalur saja tetapi terdapat beberapa jalur ke luar kota. Hal ini bias terjadi menerus apabila tdk ada hambatan yang berarti pada jalur tersebut.

BENTUK KOTA TIDAK KOMPAK

Fragment Cities (terpecah) bentuk awalnya adalah bentuk kompak namun dalam skala yang kecil,dan akhirnya saling menyatu dan

26

membentuk kota yang besar. Bentuk ini berkembang, namun perluasan areal kota tidak langsung menyatu dengan kota induk (membentuk enclaves) pada daerah-daerah pertanian di disekitarnya. Pada negara berkembang, enclaves merupakan permukiman-permukiman yang berubah dari sifat pedesaan menjadi perkotaan.

Chained Cities (berantai) bentuk ini terpecah namun hanya terjadi di sepanjang rute tertentu. Jarak antara kota induk dan kenampakan-kenampakan kota baru tidak terlalu jauh, maka beberapa bagian membentuk kesatuan fungsional yang sama (khususnya dibidang ekonomi). Bentuk ini juga bisa disebut Ribbon City dengan skala yang besar.

Split Cities (terbelah) bentuk ini menggambarkan bentuk kota yang kompak namun sektor terbelah oleh perairan yang lebar. Pada perpotongan ini biasanya dihubingkan oleh kapal/jembatan. Contoh kota yang menerapkan bentuk ini adalah kota Buda (barat) dan Pest (timur) di sungai Danube, sehingga dikenal sebagai kota Budapest.

Stellar Cities (satelit) bentuk kota ini biasanya didukung oleh teknologi transportasi yang maju dan juga komunikasi yang maju. Karena modernisasi maka terciptalah megapolitan kota besar, yang dikelilingi oleh kota satelit.

Sumber : Yunus 2000 dalam Pontoh (2009)

Sedangkan unsur pembentuk morfologi kota yang paling mempengaruhi adalah pola jalan (Yunus, dalam Pontoh, 2009). Dimana terdapat 3 (tiga) tipe sistem pola jalan yang dikenal yakni: (1) sistem pola jalan tidak teratur (irrengular sistem); (2) sistem pola jalan radial konsentris (radial concentric sistem); (3) sistem pola jalan bersudut siku atau grid (rectangular or grid sistem).

Tabel 2.2 Pola Jalan Yang Mempengaruhi Bentuk Morfologi Kota

POLA JALAN KETERANGAN

Adanya ketidakteraturan sistem jalan, baik ditinjau dari segi lebar maupun arah jalannya. Ketidakteraturan ini terlihat dari pola jalannya yang melingkar lingkar, lebarnya bervariasi dengan cabang-cabang 'culdesac' yang banyak. Kondisi topografi kota yang tidak datar juga mempengaruhi terbentuknya sistem pola jalan seperti ini.

27 Sistem pola jalan tidak teratur

(irregular sistem)

Sistem pola jalan radial konsentris (radial concentric sistem)

Terdapat ciri-ciri yaitu pola jalan konsentris, artinya terdapat pemusatan area pada jaringan jalan. Selain itu terdapat sistem yang berpola radial dengan jalan yang melingkar lingkar, dari pusat hingga ke pinggiran. Pada bagian pusat sistem pola jalan merupakan daerah kegiatan utama dan sekaligus tempat penahanan terakhir dari suatu kekuasaan. Daerah pusat dapat berupa pasar, kompleks perbentengan, ataupun kompleks bangunan peribadatan.

Sistem pola jalan bersudut siku atau grid (the rectangular or grid sistem)

Kota terbagi sedemikian rupa menjadi blok-blok empat persegi panjang dengan jalan-jalan yang paralel longitudinal dan transversal membentuk sudut siku-siku. Sistem ini memudahkan dalam pengembangan kota sehingga kota akan nampak teratur dengan mengikuti pola yang telah terbentuk.

Sumber : Yunus dalam Pontoh (2009)

Pertumbuhan dan perkembangan kota dapat dipahami dengan melakukan pengamatan pada komponen - komponen morfologi. Secara fungsional dan ekonomi, pertumbuhan kawasan dipengaruhi oleh guna lahan, bangunan, plot dan jaringan jalan. Kawasan perkotaan terbetuk dari sistem aktivitas yang secara kompleks dihubungkan oleh jaringan pergerakan. Interaksi antara kedua sistem ini, sistem aktivitas dan sistem pergerakan, membuat kawasan perkotaan memiliki nilai ekonomi atau nilai properti yang distribusinya sangat dipengaruhi oleh karakteristik fisik alamiah dan keterdukungan kedua sistem tersebut. Pertumbuhan kota dapat diamati secara geografis dibantu oleh ilmu peta (kartografi). Dengan mempergunakan peta, sebaran potensi fisik alamiah dan buatan dapat dengan mudah diobservasi dan dianalisis. Guna lahan, kepadatan bangunan, ukuran dan penguasaan lahan serta jaringan jalan dapat dipetakan dan dijelaskan secara logis hubungannya satu sama lain.

Pengetahuan dan pengamatan morfologi kota dianggap penting dalam menunjang penelitian karena dengan menganalisa wilayah studi berdasarkan tipe