BAB III DERAJAT KESEHATAN
A. MORTALITAS (Angka Kematian)
Mortalitas adalah angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKN, AKB, AKABA dan AKI.
1. Angka Kematian Neonatus (AKN)
Angka Kematian Neonatal (AKN) adalah jumlah bayi (usia 0-28 hari) yang meninggal disuatu wilayah pada kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
BAB
Profil Kesehatan Aceh Tahun 2015
14
Gambar 5 :
ANGKA KEMATIAN NEONATAL ACEH TAHUN 2013 - 2015
Gambar diatas memperlihatkan kondisi fluktuasi angka kematian neonatal di tiga tahun terakhir. Dimana tahun 2014 terjadi kenaikan sebesar 11 per 1.000 kelahiran hidup dibandingkan tahun sebelumnya (10/1000 LH), kemudian kembali menurun di tahun 2015 sebesar 8 per 1.000 kelahiran hidup. Perhatian terhadap upaya penurunan angka kematian neonatal menjadi penting karena kematian neonatal memberi kontribusi lebih separuh yaitu 65 % (761 jiwa) terhadap jumlah kematian bayi atau sebesar 61 % dari seluruh kematian balita. Untuk mencapai target penurunan kematian bayi, maka peningkatan akses dan kualitas pelayanan bagi bayi baru lahir menjadi prioritas utama.
Permasalahan pada neonatus biasanya timbul akibat yang spesifik terjadi pada masa neonatal. Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi penyebab kecacatan. Masalah ini timbul sebagai akibat buruknya kesehatan ibu, perawatan kehamilan yang kurang memadai, manajemen persalinan yang tidak tepat dan bersih, serta kurangnya perawatan bayi baru lahir.
Klasifikasi kematian neonatus dibagi menjadi dua yaitu kematian neonatus dini (early neonatal deaths) yaitu kematian bayi yang terjadi pada masa 7 hari kehidupan pertama (0-6 hari), dan kematian neonatus lanjut (late neonatal deaths) yaitu kematian bayi yang terjadi pada masa setelah 7 hari tetapi belum mencapai 28 hari kehidupan.
Dari laporan TV monitor Dinas Kesehatan Aceh sebagian besar kematian neonatus terjadi pada minggu pertama kehidupan (0-6 hari). Mengingat besarnya resiko kematian
Angka Kematian Neonatal (AKN) adalah jumlah bayi (usia 0-28 hari) yang meninggal disuatu wilayah pada kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Gambar 5 :
ANGKA KEMATIAN NEONATAL ACEH TAHUN 2013 - 2015
Gambar diatas memperlihatkan kondisi fluktuasi angka kematian neonatal di tiga tahun terakhir. Dimana tahun 2014 terjadi kenaikan sebesar 11 per 1.000 kelahiran hidup dibandingkan tahun sebelumnya (10/1000 LH), kemudian kembali menurun di tahun 2015 sebesar 8 per 1.000 kelahiran hidup. Perhatian terhadap upaya penurunan angka kematian neonatal menjadi penting karena kematian neonatal memberi kontribusi lebih separuh yaitu 65 % (761 jiwa) terhadap jumlah kematian bayi atau sebesar 61 % dari seluruh kematian balita. Untuk mencapai target penurunan kematian bayi, maka peningkatan akses dan kualitas pelayanan bagi bayi baru lahir menjadi prioritas utama.
10 11 8 5 8 11 14 2013 2014 2015 AKN DERAJAT KESEHATAN 16
Profil Kesehatan Aceh Tahun 2015 15 pada minggu pertama ini, setiap bayi baru lahir harus mendapatkan pemeriksaan sesuai standar lebih sering yaitu minimal 2 kali dalam seminggu pertama untuk mendeteksi adanya penyakit atau tanda bahaya sehingga dapat dilakukan intervensi sedini mungkin untuk mencegah kematian.
2. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. AKB merupakan indikator yang biasanya digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu banyak upaya kesehatan yang dilakukan dalam rangka menurunkan angka kematian bayi.
Gambar 6 :
ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP ACEH TAHUN 2010 - 2015
Secara umum cakupan Angka Kematian Bayi (AKB) di enam tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Dari distribusi yang bersumber pada dinas kesehatan kabupaten/ kota, diketahui jumlah kematian bayi di Aceh tahun 2015 sebanyak 1.179 jiwa dan jumlah lahir hidup sebanyak 100.265 jiwa. Dengan menggunakan definisi operasional yang telah ditetapkan untuk kedua indikator tersebut maka AKB di Aceh tahun 2015 sebesar 12 per
Gambar 6 :
ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP ACEH TAHUN 2010 - 2015
Secara umum cakupan Angka Kematian Bayi (AKB) di enam tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Dari distribusi yang bersumber pada dinas kesehatan kabupaten/kota, diketahui jumlah kematian bayi di Aceh tahun 2015 sebanyak 1.179 jiwa dan jumlah lahir hidup sebanyak 100.265 jiwa. Dengan menggunakan definisi operasional yang telah ditetapkan untuk kedua indikator tersebut maka AKB di Aceh tahun 2015 sebesar 12 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya (15 /1.000 LH). Hal ini menunjukkan semakin baiknya pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan.
Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan angka kematian bayi, diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. Hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Selain itu perbaikan kondisi ekonomi yang
9 9 10 13 15 12 2010 2011 2012 2013 2014 2015 DERAJAT KESEHATAN 18
Profil Kesehatan Aceh Tahun 2015
16
1.000 kelahiran hidup. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya (15 /1.000 LH). Hal ini menunjukkan semakin baiknya pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan.
Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan angka kematian bayi, diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. Hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Selain itu perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit. Gambar dibawah memperlihatkan proporsi penyebab kematian bayi di Aceh.
Gambar 7 :
PENYEBAB KEMATIAN BAYI DI ACEH TAHUN 2015
Sumber : KIA dan Gizi, Dinkes Aceh, 2015
Gambar diatas menunjukkan beberapa penyebab kematian bayi di Aceh, diantaranya adalah penyakit asfiksia (25 %), BBLR (21 %), gangguan kelainan saluran pernafasan (11 %), kelainan cacat kongenital (10 %), gangguan kelainan partus (6 %), demam (4 %), gangguan kelainan jantung (4 %), gangguan kelainan saluran cerna (3 %), aspirasi (3 %), diare (2 %), pneumonia (2 %), sepsis (2 %), infeksi (1 %) serta penyakit lainnya (6 %).
Penyebab kematian bayi ini dapat dicegah dengan memastikan setiap ibu melahirkan, didampingi oleh tenaga kesehatan yang terlatih. Dalam hal ini pemerintah dapat memastikan jaminan persalinan bagi setiap ibu hamil dan jaminan kesehatan untuk ibu dan bayi baru lahir terlaksana dengan tepat sasaran.
tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit. Gambar dibawah memperlihatkan proporsi penyebab kematian bayi di Aceh.
Gambar 7 :
PENYEBAB KEMATIAN BAYI DI ACEH TAHUN 2015
Sumber : KIA dan Gizi, Dinkes Aceh, 2015
Gambar diatas menunjukkan beberapa penyebab kematian bayi di Aceh, diantaranya adalah penyakit asfiksia (25 %), BBLR (21 %), gangguan kelainan saluran pernafasan (11 %), kelainan cacat kongenital (10 %), gangguan kelainan partus (6 %), demam (4 %), gangguan kelainan jantung (4 %), gangguan kelainan saluran cerna (3 %), aspirasi (3 %), diare (2 %), pneumonia (2 %), sepsis (2 %), infeksi (1 %) serta penyakit lainnya (6 %). 25% 21% 11% 10% 6% 4% 4% 3% 3% 2% 2% 2% 1% 6% ASFIKSIA BBLR GG/SALURAN PERNAFASAN CACAT KONGENITAL GG/KELAINAN PARTUS DEMAM GG/KELAINAN JANTUNG GG/KELAINAN SALURAN CERNA ASPIRASI DIARE PNEMONIA SEPSIS INFEKSI PENYEBAB LAIN DERAJAT KESEHATAN 19
Profil Kesehatan Aceh Tahun 2015 17 Gambar 8 :
PENYEBAB KEMATIAN BAYI DI ACEH TAHUN 2015
Bila dilihat menurut kabupaten/kota di Aceh, angka kematian bayi terendah terdapat di Kota Banda Aceh sebesar 3 per 1.000 kelahiran hidup, posisi urutan AKB terendah ini tidak jauh berbeda dengan tahun 2014. Kemudian di ikuti Kabupaten Aceh Tenggara sebesar 4 per 1.000 kelahiran hidup dan Kota Lhokseumawe sebesar 6 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB tertinggi terdapat di Kabupaten Aceh Barat sebesar 27 per 1.000 kelahiran hidup di ikuti Kabupaten Simeulue sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup. Posisi urutan AKB tertinggi ini berbeda dengan tahun sebelumnya, terjadi pertukaran posisi, dimana tahun lalu AKB tertinggi berada di Kabupaten Simeulue dengan angka kematian bayi mencapai 32 per 1.000 kelahiran hidup.
3. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. AKABA mempresentasikan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun.
Penyebab kematian bayi ini dapat dicegah dengan memastikan setiap ibu melahirkan, didampingi oleh tenaga kesehatan yang terlatih. Dalam hal ini pemerintah dapat memastikan jaminan persalinan bagi setiap ibu hamil dan jaminan kesehatan untuk ibu dan bayi baru lahir terlaksana dengan tepat sasaran.
Gambar 8 :
ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT KABUPATEN/KOTA DI ACEH TAHUN 2015
Bila dilihat menurut kabupaten/kota di Aceh, angka kematian bayi terendah terdapat di Kota Banda Aceh sebesar 3 per 1.000 kelahiran hidup, posisi urutan AKB terendah ini tidak jauh berbeda dengan tahun 2014. Kemudian di ikuti Kabupaten Aceh Tenggara sebesar 4 per 1.000 kelahiran hidup dan Kota Lhokseumawe sebesar 6 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB tertinggi terdapat di Kabupaten Aceh Barat sebesar 27 per 1.000 kelahiran hidup di ikuti Kabupaten Simeulue sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup. Posisi urutan AKB tertinggi ini berbeda dengan tahun sebelumnya, terjadi pertukaran posisi, dimana tahun lalu
34 67 7 9 1011 1212 1212 1314 1414 1515 15 19 20 23 27 BANDA ACEH ACEH TENGGARA LHOKSEUMAWE ACEH UTARA SUBULUSSALAM ACEH SELATAN ACEH TIMUR LANGSA ACEH TENGAH ACEH TAMIANG BIREUEN ACEH BESAR PIDIE JAYA BENER MERIAH GAYO LUES ACEH SINGKIL NAGAN RAYA SABANG ACEH BARAT DAYA ACEH JAYA PIDIE SIMEULUE ACEH BARAT DERAJAT KESEHATAN 20
Profil Kesehatan Aceh Tahun 2015
18
Gambar 9 :
ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT KABUPATEN/ KOTA DI ACEH TAHUN 2015
Berdasarkan hasil estimasi, dapat diketahui bahwa kabupaten/kota dengan angka kematian balita terendah terdapat di Kota Banda Aceh yaitu sebesar 3 per 1.000 kelahiran hidup, di ikuti oleh Kabupaten Aceh Tenggara sebesar 5 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan kabupaten/kota dengan angka kematian balita tertinggi adalah Kabupaten Aceh Barat sebesar 30 per 1.000 kelahiran hidup di ikuti Kabupaten Simeulue sebesar 24 per 1.000 kelahiran hidup.
Gambar 10 :
ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI ACEH TAHUN 2010 - 2015
AKB tertinggi berada di Kabupaten Simeulue dengan angka kematian bayi mencapai 32 per 1.000 kelahiran hidup.
3. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. AKABA mempresentasikan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun.
Gambar 9 :
ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT KABUPATEN/KOTA DI ACEH TAHUN 2015
Berdasarkan hasil estimasi, dapat diketahui bahwa kabupaten/kota dengan angka kematian balita terendah terdapat di Kota Banda Aceh yaitu sebesar 3 per 1.000 kelahiran hidup, di ikuti oleh Kabupaten Aceh Tenggara sebesar 5 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan
3 5 67 7 9 1112 1313 1314 1414 1415 1616 2020 21 24 30 BANDA ACEH ACEH TENGGARALHOKSEUMAWE SUBULUSSALAM ACEH UTARA ACEH SELATAN ACEH TIMUR ACEH TAMIANGBIREUEN LANGSA ACEH TENGAHPIDIE JAYA ACEH BESAR BENER MERIAH GAYO LUES NAGAN RAYA ACEH BARAT DAYA ACEH SINGKILSABANG ACEH JAYA PIDIE SIMEULUE ACEH BARAT
DERAJAT KESEHATAN 21
kabupaten/kota dengan angka kematian balita tertinggi adalah Kabupaten Aceh Barat sebesar 30 per 1.000 kelahiran hidup di ikuti Kabupaten Simeulue sebesar 24 per 1.000 kelahiran hidup.
Gambar 10 :
ANGKA KEMATIAN BALITAPER 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI ACEH TAHUN 2010 - 2015
Angka kematian balita yang dilaporkan di Aceh tahun 2015 adalah sebesar 13 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Hal ini berarti bahwa dari 1.000 balita lahir hidup terdapat 13 balita yang meninggal dalam setahun. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai 16 kematian per 1.000 kelahiran hidup.
Dari seluruh kematian balita tahun 2015 sebanyak 1.259 Jiwa, proporsi kematian bayi mencapai 94 % yaitu sebanyak 1.179 jiwa yang terdiri dari neonatus 61 % dan bayi 33 %, sementara anak balita sebanyak 80 jiwa atau sebesar 6 %. Jumlah ini lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 1563 jiwa, penurunan yang dicapai sebesar 19 % atau
10 9 12 14 16 13 2010 2011 2012 2013 2014 2015 DERAJAT KESEHATAN 22
Profil Kesehatan Aceh Tahun 2015 19 Angka kematian balita yang dilaporkan di Aceh tahun 2015 adalah sebesar 13 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Hal ini berarti bahwa dari 1.000 balita lahir hidup terdapat 13 balita yang meninggal dalam setahun. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai 16 kematian per 1.000 kelahiran hidup.
Dari seluruh kematian balita tahun 2015 sebanyak 1.259 Jiwa, proporsi kematian bayi mencapai 94 % yaitu sebanyak 1.179 jiwa yang terdiri dari neonatus 61 % dan bayi 33 %, sementara anak balita sebanyak 80 jiwa atau sebesar 6 %. Jumlah ini lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 1563 jiwa, penurunan yang dicapai sebesar 19 % atau sebanyak 304 jiwa. Rincian kematian anak menurut proporsi dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 11 :
PROPORSI KEMATIAN ANAK DI ACEH TAHUN 2015
4. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah ibu yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.
AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi oleh status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan
sebanyak 304 jiwa. Rincian kematian anak menurut proporsi dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 11 :
PROPORSI KEMATIAN ANAK DI ACEH TAHUN 2015
4. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah ibu yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.
AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi oleh status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan.
761, 61% 418, 33% 80, 6% NEONATAL BAYI ANAK BALITA DERAJAT KESEHATAN 23
Profil Kesehatan Aceh Tahun 2015
20
selama kehamilan dan melahirkan. Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.
Gambar 12 :
PROPORSI KEMATIAN IBU MENURUT KEADAAN
Gambar di atas menunjukkan, proporsi kematian ibu saat ini masih di dominasi oleh kematian ibu nifas yaitu sebanyak 70 ibu atau sebesar 52 %, di ikuti kematian ibu bersalin sebanyak 34 ibu atau sebesar 25 % dan kematian ibu dalam keadaan hamil sebanyak 30 ibu atau sebesar 23 %.
Perhitungan AKI disetiap kabupaten/kota sulit dilakukan, karena jumlah kelahiran hidup tidak mencapai 100.000 kelahiran dan masih ada kemungkinan under reported. Upaya efektif untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan profesional di fasilitas kesehatan, serta meningkatkan penggunaan kontrasepsi paska persalinan dan penanganan komplikasi maternal.
Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.
Gambar 12 :
PROPORSI KEMATIAN IBU MENURUT KEADAAN
Gambar di atas menunjukkan, proporsi kematian ibu saat ini masih di dominasi oleh kematian ibu nifas yaitu sebanyak 70 ibu atau sebesar 52 %, di ikuti kematian ibu bersalin sebanyak 34 ibu atau sebesar 25 % dan kematian ibu dalam keadaan hamil sebanyak 30 ibu atau sebesar 23 %.
Perhitungan AKI disetiap kabupaten/kota sulit dilakukan, karena jumlah kelahiran hidup tidak mencapai 100.000 kelahiran dan masih ada
kemungkinan under reported. Upaya efektif untuk menurunkan angka
kematian ibu adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan profesional di fasilitas kesehatan, serta meningkatkan
30 23% 34 25% 70 52% Kematian Ibu, 134
bumil
bulin
bufas
DERAJAT KESEHATAN 24Profil Kesehatan Aceh Tahun 2015 21 Gambar 13 :
ANGKA KEMATIAN IBU PER 100.000 LAHIR HIDUP ACEH TAHUN 2010 - 2015
Secara umum cakupan angka kematian ibu di enam tahun terakhir cenderung mengalami penurunan. Kecuali di tahun 2012 dimana angkanya mengalami kenaikan dari 158 pada tahun 2011 menjadi 184 kematian per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2012. Cakupan angka kematian ibu yang secara umum mengalami penurunan tersebut menunjukkan semakin baiknya pelayanan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
Bila dilihat dari distribusi yang bersumber pada dinas kesehatan kabupaten/ kota, diketahui jumlah kematian ibu tahun 2015 yang dilaporkan adalah 134 ibu dari perhitungan AKI di Aceh sebesar 134 per 100.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan pada tahun 2014, terjadi penurunan angka dari 149 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 134 kematian per 100.000 kelahiran hidup.
Daerah terbanyak memberi kontribusi pada kematian ibu di Aceh adalah Kabupaten Aceh Utara dengan jumlah kematian ibu mencapai 15 kematian, di ikuti Kabupaten Aceh Timur sebanyak 14 kematian ibu dan Kabupaten Pidie 12 kematian ibu serta kabupaten/ kota lainnya di Aceh yang capaiannya antara 1 sampai 11 kematian ibu. Rincian jumlah kematian ibu menurut kabupaten/kota dapat di lihat pada gambar 14.
Dari semua kabupaten/kota di Aceh, terdapat dua kabupaten yang berhasil menekan angka kematian ibu yaitu Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Jaya, dimana kedua kabupaten tersebut pada tahun 2015 tidak ada kematian ibu. Ini menunjukkan tingginya
penggunaan kontrasepsi paska persalinan dan penanganan komplikasi maternal.
Gambar 13 :
ANGKA KEMATIAN IBU PER 100.000 LAHIR HIDUP ACEH TAHUN 2010 - 2015
Secara umum cakupan angka kematian ibu di enam tahun terakhir cenderung mengalami penurunan. Kecuali di tahun 2012 dimana angkanya mengalami kenaikan dari 158 pada tahun 2011 menjadi 184 kematian per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2012. Cakupan angka kematian ibu yang secara umum mengalami penurunan tersebut menunjukkan semakin baiknya pelayanan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
Bila dilihat dari distribusi yang bersumber pada dinas kesehatan kabupaten/kota, diketahui jumlah kematian ibu tahun 2015 yang dilaporkan adalah 134 ibu dari perhitungan AKI di Aceh sebesar 134 per 100.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan pada tahun 2014, terjadi
193 158 184 158 149 134 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Profil Kesehatan Aceh Tahun 2015
22
komitmen pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas.
Gambar 14 :
JUMLAH KEMATIAN IBU MENURUT KABUPATEN/KOTA ACEH TAHUN 2015
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
Data dan Informasi, Dinkes Aceh, 2015, Hasil Pengolahan