• Tidak ada hasil yang ditemukan

MOTIVASI BERAGAMA

Dalam dokumen BAB II KESADARAN BERAGAMA (Halaman 39-45)

1. Pengertian motivasi beragama

Menurut Hafi Anshari motivasi berasal dari kata motif yang berarti:

a. Suatu keadaan tekanan dalam individu yang mempengaruhi, memelihara dan mengarahkan perilaku menuju suatu sasaran.

b. Alasan kesadaran yang diberikan secara individual untuk perilakunya. c. Suatu pengarahan

d. Suatu sikap yang membimbing perilaku.75

Menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, motivasi (motivation) adalah keseluruhan dorongan, keinginan, kebutuhan dan daya yang sejenis yang mengarahkan perilaku.76

Menurut Kartini Kartono sebagaimana James P. Chaplin, motivasi diartikan sebagai satu variable penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan dan menyalurkan tingkah laku menuju suatu sasaran.77

Menurut Sarlinto Wiraman Sarwono, bahwa motif berarti rangsangan, dorongan atau pembangkit tenaga bagi terjadinya tingkah laku, sedangkan motivasi merupakan istilah yang lebih umum yang menunjuk pada keseluruhan proses gerakan, termasuk di dalamnya situasi yang mendorong timbulnya tindakan atau tingkah laku individu.78

Dari pendapat para ahli di atas dapat tegaskan bahwa Pengertian motivasi tidak sebatas pada pelaksanaan tingkah laku saja, tetapi juga berkenaan dengan keadaan seseorang yang menerangkan berbagai pendorong tingkah laku yang terarah kepada suatu tujuan tertentu. Dalam penulisan ini, arah tujuan yang dimaksud adalah untuk menciptakan kesadaran beragama pada diri seseorang (pada pubertas), untuk mencari pengalaman-pengalaman agama dan sekaligus mengamalkannya dalam bentuk pelaksanaan ajaran-ajaran agama.

75Hafi Anshari, Kamus Psichology (Surabaya: Usaha Nasional, 1996), hlm. 373.

76Abdul Mujib, Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 243.

77James P. Chaplin, terjemah Kartini Kartono, Kamus Lengkap Psikologi, (judul asli;

Dictionary Of Psychology), (Jakarta: Rajawali, 1999), hlm. 310.

78Sarlinto Wiraman Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 73.

2. Timbulnya motivasi beragama

Motif beragama akan timbul sebagai realisasi dari potensi manusia yang merupakan makhluk rohaniyah serta berusaha mencari dan memberikan makna pada hidupnya. Sehingga secara potensial, manusia akan selalu mengadakan kegiatan-kegiatan secara langsung berupa hubungan antara mereka dengan nilai transenden dan absolut yaitu Tuhan.

Motivasi kehidupan beragama pada mulanya berasal dari dorongan biologis, seperti rasa lapar, rasa haus dan kebutuhan jasmaniyah lainnya. Motivasi beragama juga dapat berasal dari kebutuhan psikologis seperti kebutuhan rasa kasih sayang, pengembangan diri, kekuasaan, rasa ingin tahu dan kebutuhan psikologis lainnya.79

3. Klasifikasi motivasi beragama

Menurut Ramayulis, motivasi beragama dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu motivasi beragama yang rendah dan motivasi beragama yang tinggi.

a. Motivasi beragama yang rendah

Motivasi beragama yang rendah dapat berupa:

1) Motivasi beragama karena didorong oleh perasaan riya, seperti motivasi orang dalam beragama karena ingin mendapatkan kemulyaan dan keriyaan dalam kehidupan masyarakat.

2) Motivasi beragana kerena ingin mematuhi orang tua dan menjauhi larangannya.

3) Motivasi beragama karena demi gengsi atau prestise, seperti ingin mendapat predikat alim atau taat dalam agama.

4) Motivasi beragama karena didororng oleh keinginan untuk mendapatkan sesuatu atau seseorang, seperti motivasi seseorang dalam mngerjakan shalat untuk menikah.

5) Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari kewajiban beragama. Dalam hal ini orang

menganggap agama itu sebagai suatu beban, sesuatu yang wajib tidak dianggapnya sebagai sesuatu kebutuhan yang penting dalam hidup.

b. Motivasi beragama yang tinggi

Motivasi beragama yang tinggi dapat berupa:

1) Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan surga dan menyelamatkan diri dari adzab neraka. Motivasi beragama seperti ini dapat mendorong manusia mencapai kebahagian jiwanya, serta membebaskan dari gangguan dan penyakit kejiwaan.

2) Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tingkatan motivasi ini lebih tinngi kualitasnya daripada yang pertama, karena yang memotivasi orang dalam beragama adalah keinginan untuk benar-benar menghamba atau mengabdikan diri kepada Allah, tujuannya adalah nilai-nilai ibadah dan pendekatan dirinya kepada Allah serta tidak banyak termotivasi oleh keingingan untuk masuk surga atau takut masuk neraka.

3) Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keridhaan dan kecintaan dari Allah dalam hidupnya. Motivasi beragama dalam hal ini adalah didorong oleh rasa ikhlas kepada Allah, sehingga yang memotivasinya dalam beribadah dan beragama semata-semata karena keinginan untuk mendapatkan keridhaan dan kecintaan dari Allah.

4) Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Seseorang yang mempunyai motivasi ini akan merasakan agama sebagai suatu kebutuhan dalam kehidupannya yang mutlak dan bukan merupakan suatu kewajiban atau beban.80

80Ramayulis, op.cit., hlm. 75-76.

4. Fungsi motivasi beragama

Keberhasilan suatu usaha untuk mencapai tujuan sangat ditentukan oleh kuat atau lemahnya motivasi itu sendiri. Dalam ajaran Islam secara jelas menerangkan bahwa motivasi sebagai sisi keadaan jiwa. Sebagaimana dalam surat Ar-ra’du ayat 11:

(1"5 ,-=k*G[d:? -=k*D+

F-#

$$

'

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Q.S. Ar-ra’du ayat 11).81

Bahwa pertukaran nasib dari baik kepada buruk ialah setelah yang bersangkutan menukar haluan hidupnya pula dari yang baik kepada yang buruk. Keadaan bisa saja berubah dari “nikmat” (karunia) kepada

“niqmat” (ditimpa celaka), baik yang jelas nyata ataupun yang

tersembunyi, semuanya tergantung kepada sikap hidup dan langkah yang ditempuh oleh manusia itu sendiri.82

Dalam diri seseorang, motivasi berfungsi sebagai pendorong kemampuan, usaha, keinginan, menentukan arah dan menyeleksi tingkah laku. Kemampuan adalah tenaga, kapasitas atau kesanggupan untuk melakukan suatu perbuatan yang dihasilkan dari bawaan sejak lahir atau merupakan hasil dari pengalaman. Usaha adalah penyelesaian suatu tugas untuk mencapai suatu keinginan. Sedang keinginan adalah suatu harapan, kemauan atau dorongan untuk mencapai sesuatu.83

Menurut Ramayulis bahwa fungsi motivasi beragama yaitu:

a. Sebagai pendorong manusia dalam berbuat sesuatu yaitu Perilaku beragama, sehingga sebagai unsure penting dari tingkah laku atau tindakan manusia.

81Soenarjo, dkk, op. cit., hlm. 370. 82Hamka, op. cit., juz. 13, hlm. 72-73. 83Abdul Mujib, op.cit., hlm. 244.

b. Sebagai penentu arah tujuan yang hendak dicapai, sehingga motivasi beragama dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dilakukan sesuai dengan rumusan tujuan yang hendak dicapai dalam agama. c. Sebagai penyeleksi perbuatan, sehingga perbuatan yang akan

dilakukan dapat terseleksi baik dan buruknya.

d. Sebagai penguji atau evaluator atas sikap manusia dalam beramal, melakukan tindakan benar atau salah.84 Sehingga sseorang dapat terlihat kebenaran atau kesalahan atas tindakan yang telah dilakukannya.

Jika kesadaran beragama merupakan sutu kebutuhan seseorang yang harus dipenuhi, maka mereka akan terdorong menentukan arah tujuannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut melalui pencarian pengalaman keagamaan dan pelaksanaan ajaran agama.

Derajat kekuatan motif beragama dipengaruhi oleh pemuasan yang diberikan oleh kehidupan beragama, semakin besar derajat kepuasan yang diberikan oleh agama maka motif beragamapun semakin kuat dan otonom, sehingga motivasi beragama tersebut merupakan motif yang berdiri sendiri dan secara konsisten serta dinamis mampu mendorong manusia untuk bertingkah laku keagamaan.85

Dengan demikian fungsi motivasi beragama akan mendorong manusia untuk berperilaku agama, memberikan arah yang baik dan benar atas segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan ajaran agama dan memberikan evaluasi atas perbuatan yang telah dilakukan dalam bentuk peningkatan pengamalan ajaran agama jika kurang maksimal dan melakukan pertobatan jika melanggar jaran agama.

84Ramayulis, op.cit., hlm. 74.

Dalam dokumen BAB II KESADARAN BERAGAMA (Halaman 39-45)

Dokumen terkait