• Tidak ada hasil yang ditemukan

Motivasi Pelayanan

Dalam dokumen BAB II KERANGKA TEORITIS (Halaman 26-32)

2.5.1 Makna Pelayanan menurut Alkitab

Secara etimologi, kata ”pelayanan” memiliki makna yang amat kompleks. Istilah pelayanan yang dipakai gereja dapat diterima dalam kehidupan bergereja. Kata pelayanan digunakan oleh perjanjian

baru dalam bahasa yunani ada empat macam kata yang digunakan yakni ; diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo.

Diakone (diakonia) secara harafia istilah ini digunakan untuk menyediakan makanan di meja untuk majikan. Namun di Lukas 22: 26 & 27 memberi arti baru bahwa diakone, yaitu melayani orang yang justru lebih rendah kedudukannya. Lebih lanjut dijelaskan 1 Petrus 4: 10 memberikan pemaknaan bahwa, kata diakone berarti menggunakan karisma yang dimiliki untuk melayani kepentingan dan kebaikan orang lain (Andar Ismail, 2012). Diakone digunakan untuk pemaknaan pelayanan gereja, (Patison: 1998). Douleo (dulos = budak) dalam artian melayani sebagai hamba.

Berarti sama sekali tidak memiliki kepentingan sendiri.

Dijelaskan dalam suatu pernyataan yang tajam diperlihatkan di (Filipi 2:5-7). Diartikan bahwa Yesus yang walaupun mempunyai rupa Allah namun, telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang budak atau menjadi sama dengan manusia. Yesus mau merendahkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia.

Leitourgeo diartikan bekerja untuk kepentingan orang banyak atau kepentingan umum, sebgai lawan dari bekerja untuk kepentingan diri sendiri. Untuk itu

seluruh kehidupan ini patut menjadi pribadi yang lebih rendah diri (filipi 2), dengan demikian membawa orang percaya menjadi murid Tuhan. Latreuo dalam perjanjian baru (Matius 4:10; Kisah Para Rasul 7:7) kata digunakan dalam arti menyembah atau beribadah pada Tuhan. Penggunaan yang mencolok terdapat (Roma 12: 1) di mana Paulus berpesan supaya agar setiap orang dapat mempersembahkan tubuhnya kepada Tuhan sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya.

Berbagai kata yang digunakan oleh gereja dengan arti pelayanan, mengabdi atau menghamba kepada Tuhan dan bukan kepada orang lain. Pola hidup yang bukan lagi hidup untuk diri sendiri melainkan hidup untuk Tuhan dan untuk orang lain. Dorongan untuk melayani Tuhan dan orang lain darinya adalah karena Yesus sendiri sudah melayani kita. Tujuan hidup-Nya bukanlah untuk mendapatkan pelayanan, melainkan untuk memberi pelayanan. Isi hidup-Nya bukanlah dilayani, melainkan melayani.

Menurut Calvin sebagaimana dikutip dalam tulisan dalam Ismail (2012) melihat bahwa setiap pelayanan adalah penetapan dan panggilan dari Allah.

Dalam bukunya, institutio pengajaran agam kristen, menulis bahwa, Tuhan menetapkan tugas-tugas bagi

setiap orang yang menurut jalan hidupnya masing-masing. Dan masing-masing jalan hidup itu

dinamakan-Nya panggilan. Pengakuan bahwa pelayanan adalah panggilan dari Tuhan mengandung beberapa implikasi. Calvin menulis, setiap orang diberi jalan oleh Tuhan jalan hidup sendiri-sendiri artinya, Tuhan menempatkan setiap orang pada suatu tanggung jawab tertentu. Artinya setiap pribadi harus setia, berakar dan bertumbuh dalam setiap panggilannya.

Calvin juga menulis tidak sembrono, melampaui batas, melebih panggilannya, artinya setiap pribadi tahu betul apa deskripsi dan defenisi tugasnya.

Selanjutnya Calvin berpendapat bahwa setiap pribadi mengaku pelayanan sebagai panggilan dan penugasan dari Tuhan. Dengan demikian pimpinan dan kekuatan untuk pelayanan itu, bagi setiap orang kesusahan, kesulitan dan beban-beban berat lainnya akan lebih ringan bila Tuhan menjadi pembimbing bagi semua proses pelayanan. Yang terpenting panggilan itu dijalankan dengan taat dan sukacita. Kepelbagaian panggilan bukanlah soal tinggi dan rendah, melainkan soal saling membutuhkan dan saling melengkapi sebagai mitra Allah.

2.5.2 Definisi Motivasi Pelayanan

Secara umum motivasi diartikan sebagai faktor yang timbul dalam diri seseorang, sehingga hal itu mendorong dan menggerakkannya untuk melakukan sesuatu perbuatan atau tindakan, untuk mencapai satu tujuan tertentu. Kini dan Hobson (2002) berpendapat motivasi sebagai suatu kesatuan proses yang membangkitkan, mengarahkan, dan memelihara perilaku kearah pencapaian tujuan. Dalam penelitian Lucia (2009), motivasi berfungsi sebagai pendorong timbulnya suatu tindakan. Pengarah yakni mengarahkan perbuatan dalam pencapaian tujuan yang diinginkan. Dan sebagai penggerak yakni menentukan semangat seseorang untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Berdasarkan paparan pengertian pelayanan dan motivasi dapat disimpulkan bahwa, motivasi pelayanan merupakan dorongan yang timbul dari dalam diri induvidu secara internal, untuk melakukan panggilan pelayanan demi melayani pelayanan-Nya. Hal ini dilakukan atas dasar pengakuan Tuhan Yesus lebih dulu melayani kita dan merendahkan diri-Nya menjadi sama dengan manusia. Dengan demikian Tuhan Yesus menempatkan masing-masing pribadi untuk bertanggung jawab dalam pelayanannya. Dalam

dorongan pribadi itulah sesorang mampu setia, berakar dan bertumbuh sesuai dengan amanat-Nya. Agar mampu mengarahkan setiap pribadi hidup dalam kasih Yesus Kristus. Berarti lebih mengorbankan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan pelayanan.

Menurut penelitian Tulus (2011) motivasi pelayanan memiliki sikap yang tercermin oleh perkataan tidak hanya perkataan tetapi juga

perbuatan. Hendaklah engkau menjadi teladan (1 Timotius 4:12). Teladan yang mampu menunjukan

perbuatan kasih terhadap orang lain, karena pelayanan yang berkualitas serta hidup yang menghadirkan dan berpadanan dengan Injil Kristus. Selain itu menurut (Sitompul: 20011) menambahkan proses keteladanan dapat diwujudkan melalui, mengahargai waktu, dengan bijak memanfaatkan waktu yang ada demi melakukan pelayanan tanpa mengorbankan orang lain.

2.5.3 Karakteristik dalam mengembangkan Motivasi Karakteristik individu untuk mengembangkan motivasi seperti dikemukakan McClelland sebagaimana dikutip dalam Mangkunegara (2005) adalah sebagai berikut : (1) memiliki tingkat tanggung jawab individu yang tinggi, (2) berani mengambil resiko, (3) memiliki tujuan yang realistik, (4) memiliki rencana kerja yang

menyeluruh dan berjuang untuk merealisasikan tujuan, (5) memanfaatkan umpan balik yang dilakukan, dan (6) mempunyai peluang untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan. Bahwa karakteritik ini dibutuhkan agar setiap individu memiliki hubungan baik dan dapat membangun relasi denga semua orang.

Artinya relasi dengan yang menjadi patner individu bekerja tapi juga orang yang dilayaninya.

Dalam dokumen BAB II KERANGKA TEORITIS (Halaman 26-32)

Dokumen terkait