BAB II TINJAUAN TEORETIS .................................................................. 14-50
B. Motivasi
1. Pengertian Motivasi
Memahami kata motif manusia perlu kiranya ada penilaian terhadap keinginan dasar yang ada pada semua manusia yang normal. Arti kata motif sebagai pendorong, penyaring dan sebagai penuntun kegiatan sangat berhubungan erat dengan minat dan sikap.33 Pendapat diatas tersebut memberikan maksud bahwa motivasi sangat erat kaitannya dengan minat dan sikap seseorang agar dapat memotivasi diri sendiri.
Motivasi berasal dari bahasa latin, movere yang berarti dorongan atau daya penggerak. Motivasi dapat diartikan sebagai driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah laku dan berbuat dengan tujuan tertentu.34 Setiap individu memiliki kondisi internal, di mana kondisi internal tersebut turut berperan dalam aktivitas dirinya sehari-hari
Motivasi berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya.35 Istilah motivasi menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulasi tindakan kearah tujuan tertentu di mana sebelumnya tidak ada
33 Lestari D. Cro,.Ph.D dan Alice Crow, Ph.D, Psychologi Pendidikan. (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1989), h. 308
34Malayu S. P. Hasibuan, Menejeman Dasar (Dasar, Pengertian, dan Masalah), (Jakarta:
Bumi Aksara, 2009), h. 216
35Abu Ahmad dan Widodo Suptiyoso, Psikologi Belajar (Jakarta Rineka Cipta, 2004), h.
83.
gerakan menuju kearah tujuan tersebut. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal dan insentif di luar diri individu atau hadiah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.36 Motivasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya efektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan.
Motivasi dalam buku syaiful bahri dhamarah adalah perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik.
Karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dia lakukan untuk mencapainya.37 Jadi motivasi bisa juga berasal dari aktivitas nyata yang kita lakukan.
Motivasi adalah kekuatan diri dalam individu yang menggerakkan individu untuk berbuat. Dorongan adalah keadaan ketidakseimbangan dalam diri individu karena pengaruh dari dalam dan luar individu yang mengarahkan perbuatan individu dalam rangka mencapai keseimbangan kembali atau adaptasi.38 Motivasi dalam diri Mahasiswa akan timbul dengan sendirinya apabila mahasiswa menyadari bahwa apa yang dicontohkan oleh dosennya bermanfaat.
Motivasi merupakan salah satu determinan penting dalam belajar, para ahli sukar mendefinisikannya, akan tetapi motivasi berhubungan dengan (1) arah perilaku; (2) kekuatan respon; (3) ketahanan perilaku, atau beberapa lama
36 Peter Salim dan Yenni Salim, Kamus Besar Bahasa Indonesia kontemporer, (Jakarta:
Modem English, 1991), h. 997
37 Syaiful Bahri Dhamarah, Psikologi Belajar. (Jakarta Rineka Cipta, 2002), h. 114
38Moh.Padhil. dkk, Sosiologi Pendidikan, (Malang, UIN Maliki Press, 2010), h. 83
seseorang itu terus menerus berperilaku menurut cara tertentu.39 Jadi motivasi sangat erat kaitannya dengan perilaku.
Sudah banyak sekali para ahli psikologi pendidikan dan psikologi pembelajaran yang membahas tentang motivasi dalam pembelajaran.
Sedemikian banyaknya pembahasan tentang motivasi dalam pembelajaran itu telah menghasilkan definisi motivasi yang banyak pula. Namun demikian, pada intinya, motivasi dapat diartikan sebagai : (1) dorongan yang timbul pada diri seseorang, secara disadari atau tidak disadari, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; (2) usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang ingin dicapai.40
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kagiatan belajar yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar. Sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.41 Jadi kesimpulannya motivasi adalah hal yang timbul dari dalam diri seseorang sebagai pendorong untuk melakukan sesuatu yang disukai dari seseorang yang dia lihat.
a. Teori Motivasi
Menurut Vroom dalam buku andi tenriningsih mengemukakan bahwa seseorang akan bekerja kalau ia yakin akan mendapatkan penghargaan yang
39 Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP. (Jakarta : Gunung Persada Press, 2008), h. 157.
40Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima, 2007), h.183
41 Agustin Wardiyati Islam, Hubungan Antara Motivasi Dengan Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta, Skripsi fak.PAI., UIN Jakarta, 2006), h.12
maksimal, teori beranggapan bahwa seseorang bekerja karena adanya harapan bahwa yang dikerjakan tersebut akan membawa hasil.42
Beberapa teori motivasi yang akan dibicarakan pada kesempatan ini, pada bab ini akan dijelaskan lima teori yaitu teori naluri, teori reaksi yang di pelajari, teori daya pendorong dan teori kebutuhan.
Adapun perinciannya sebagai berikut:
1) Teori naluri
Pada dasarnya manusia memiliki tiga dorongan nafsu pokok yaitu, dorongan nafsu mempertahankan diri, dorongan nafsu mengembangkan diri, dorongan nafsu mengembangkan atau mempertahankan jenis. Dengan demikian ketika naluri pokok itu, maka kebiasaan-kebiasaan ataupun tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya sehari-hari mendapatkan dorongan atau digerakkan oleh ketiga naluri tersebut oleh karena itu, menurut teori ini untuk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana yang dituju dan perlu dikembangkan.
Sering kali kita temukan seseorang bertindak melakukan seseutau karena didorong oleh lebih dari naluri pokok sekaligus sehingga sukar bagi kita untuk menentukan naluri pokok mana yang lebih dominan mendorong orang tersebut melakukan tindakan yang demikian itu.43 Jadi, naluri yang ada dalam diri seseorang sangat berpengaruh dalam menetukan tindakan seseorang 2) Teori reaksi yang dipelajari
Teori ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan naluri-naluri tetapi berdasarkan pola tingkah tingkah laku yang
42Andi Tenriningsih, Supervisi Pengajaran, Motivasi Kerja, Kinerja Guru, dan Prestasi Belajar Didik, (Jurnal Pendidikan: 2009)
43M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2007, Cet.
23), h. 75.
dipelajari dari kebudayaan di tempat orang itu hidup. Orang belajar paling banyak dari lingkungan kebudayaan di tempat ia hidup dan dibesarkan. Oleh karena itu, teori ini disebut juga teori lingkungan kebudayaan. Menurut teori ini, apabila seorang pemimpin atau seorang pendidik akan memotivasi anak buah atau anak didiknya, memimpin atau pendidik itu hendak mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang-orang yang dipimpinnya.44 Dengan mengetahui latar belakang kebudayaan seseorang kita dapat mengetahui pola tingkah lakunya dan dapat memahami pula mengapa ia bereaksi dan bersikap yang mungkin berbeda dengan orang lain dalm menghadapi suatu masalah
3) Teori daya pendorong
Teori ini merupakan perpaduan antara “teori naluri” dan “teori reaksi yang dipelajari”. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum.
Misalnya suatu daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Semua orang dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada jenis kelamin yang lain, namun, cara-cara yang digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya pendorong tersebut berlain-lainan bagi tiap individu menurut latar belakang masing-masing. Oleh karena itu, menurut teori ini bila seorang pemimpin atau seorang pendidik ingin memotivasi anak buahnya, ia harus mendasarkannya atas daya pendoroang yaitu atas naluri dan juga reaksi yang dipelajari dari kebudayaan lingkungan yang dimilikinya.
4) Teori kebutuhan
44M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2007, Cet.
23), h.76.
Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis.45 Oleh karena itu, menurut teori ini apabila seorang pemimpin ataupun seorang pendidik bermaksud memberikan motivasi kepada seseorang kepada seseorang, ia berusaha mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan-kebutuhan orang yang akan dimotivasinya. Salah satu teori kebutuhan yaitu Teori Abraham Maslow. Sebagai pakar psikologi, maslow mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Adapun kelima tingkatan kebutuhan pokok yang dimaksud adalah sebagai berikut:
(a) Kebutuhan fisiologis, kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, yang berssifat primer dan vital yang menyangkut fungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia seperti kebutuhan akan pangan, sandang, papan, kesehatan fisik, kebutuhan seks dan sebagainya.
(b) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security), seperti terjamin keamanannya, terlindungi dari bahaya dan ancaman penyakit, perang kemiskinan, kelapan perlakuan tidak adil dan sebagainya.
(c) Kebutuhan sosial (social needs), yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan dan kerja sama.
(d) Kebutuhan akan penghargaan (esteen needs), termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi atau status, pangkat, dan sebagainya.
45M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2007, Cet.
23), h.78
(e) Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization), seperti kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreativitas, dan ekpentasi diri.
Tingkatan atau hirarki kebutuhan dari Maslow ini tidak dimaksud sebagai suatu kerangka yang dapat dipakai setiap saat, tetapi lebih merupakan kerangka acuan yang dapat digunakan sewaktu-waktu bilamana diperlukan untuk memperkirakan tingkat kebutuhan mana yang mendorong seseorang yang akan dimotivasi bertindak melakukan sesuatu.46 Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamati bahwa kebutuhan manusia itu berbeda-beda.
Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan tingkat kebutuhan itu antara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya kedudukan, pengalaman masa lampau pandangan atau falsafah hidup, cita-cita dan harapan masa depan, dari tiap individu.
b. Macam-macam motivasi 1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi itu intrinsik bila tujuannya inheren dengan situasi belajar dan bertemu dengan kebutuhan dan tujuan anak didik untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung didalam pelajaran itu. Anak didik termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai nilai-nilai yang terkandung dalam bahan pelajaran, bukan karena keinginan lain seperti ingin mendapat pujian, nilai yang tinggi atau hadiah dan sebagainya.
46 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2007, Cet.
23)h. 77-78.
Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar motivasi intrinsik sangat diperlukan terutama belajar sendiri. Seseorang yang tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar terus menerus. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin maju dalam belajar. Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran yang positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna kini dan dimasa mendatang.
Dorongan untuk belajar bersumber pada kebutuhan, yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang tedidik dan berpengetahuan. Jadi, motivasi intrinsik muncul berdasarkan kesadaran dengan tujuan esensial, bukan sekadar atribut dan seremonial.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ektrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.
Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar anak didik mau belajar, berbagai macam cara bisa dilakukan agar anak didik termotivasi untuk belajar. Guru yang berhasil mengajar adalah guru yang pandai membangkitkan minat anak didik dalam belajar dengan memanfaatkan motivasi ekstrinsik dalam berbagai bentuknya.47 Dari penjelasan diatas kesalahan penggunaan bentuk-bentuk motivasi ekstrinsik akan merugikan anak didik. Akibatnya, motivasi ekstrinsik bukan berfungsi sebagai
47 Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP. (Jakarta : Gunung Persada Press, 2008), h. 158
pendorong, tetapi menjadikan anak didik malas belajar. Karena itu, guru harus bisa dan pandai mempergunakan motivasi ekstrinsik ini dengan akurat dan benar dalam rangka menunjang proses interaksi edukatif di kelas.
C. Aktivitas Belajar