• Tidak ada hasil yang ditemukan

Muhammad Rasyid Ridha dan Pemikiran Politiknya

Dalam dokumen FIKIH SIYASAH A. Pengertian Fikih Siyasah (Halaman 181-186)

MUHAMMAD ABDUH DAN RASYID RIDHA A. Muhammad Abduh dan Pemkiran Politiknya

B. Muhammad Rasyid Ridha dan Pemikiran Politiknya

Muhammad Rasyid Ridha lahir di al-Qalamun di pesisir Laut Tengah, Syiria pada tanggal 23 September 1865 M. Dan dia wafat pada tahun 1935 M. Ia masih keturunan Nabi Muhammad saw. dari garis Husain bin Ali bin Abi Thalib. Pendidikannya dimulai di Madrasah al-Kitâb di al-Qalamun kemudian dilanjutkan di Madrasah al-Rasyidiyyah di Tripoli. Pada usia 18 tahun ia melanjutkan pendidikan di Madrasah al-Wathaniyyah al-Islâmiyyah, kemudian melanjutkan di al-Azhar pada tahun 1898 M.

Muhammad Rasyid Ridha sangat mengagumi pemikiran dan gerakan Jamaluddin al-Afghani serta seorang muridnya, Muhammad Abduh. Melalui majalah al-’Urwatul Wuśqa, Ridha mengenal pemikiran-pemikiran Jamaluddin Al-Afghani serta muridnya tersebut. Sejak itu ia ingin sekali bertemu dengan kedua idolanya tersebut agar ia bisa menimba pengalaman dari keduanya. Ia sempat ingin bergabung dengan al-Afghani saat tokoh ini menetap di Istambul, tetapi niat itu tidak pernah tercapai. Sewaktu Abduh diasingkan ke Beirut, kesempatan itu dipergunakan oleh Rasyid Ridha untuk menemuinya. Semenjak itu ia lebih mengenal Abduh bahkan menjadi salah satu murid setianya.

Bersama-sama Abduh, Rasyid Ridha menerbitkan majalah al-Manâr. Majalah ini memiliki tujuan yang sama dengan ’Urwatul Wuśqa, di antaranya adalah pembaruan dalam bidang agama, sosial, ekonomi, memberantas khurafat dan bid’ah, menghilangkan faham fatalisme, serta faham-faham yang dibawa tarekat.

Rasyid Ridha juga berjasa besar dalam melanjutkan usaha gurunya dalam penafsiran al-Qur’an secara modern. Tafsir itu kemudian dikenal dengan nama Tafsir al-Manâr. Tafsir al-Manâr ini disusun Rasyid Ridha berdasarkan ceramah-ceramah Muhammad Abduh. Sebelum menyelesaikan tafsir seluruh ayat Al-Qur’an, Muhammad Abduh meninggal dunia. Oleh karenanya Rasyid Ridha kemudian menyelesaikannya.

Di antara pemikiran-pemikiran Muhammad Rasyid Ridha adalah:

1. Sikap aktif dan dinamis di kalangan umat.

2. Umat Islam harus meninggalkan sikap fatalisme (Jabariyyah).

3. Akal dapat dipergunakan untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an ataupun hadis tanpa meninggalkan prinsip umum.

4. Jika ingin maju, umat Islam harus menguasai sains dan teknologi.

5. Kemunduran umat Islam disebabkan oleh banyaknya unsur bid’ah dan khurafat yang masuk ke dalam ajaran Islam.

6. Kebahagiaan di dunia dan di akhirat diperoleh melalui hukum alam yang diciptakan Allah.

7. Perlunya menghidupkan kembali sistem

pemerintahan Khulafaur Rasyidin.

8. Khalifah adalah penguasa di seluruh dunia Islam yang menguasai bidang agama dan politik.

9. Khalifah harus seorang mujtahid besar yang dibantu para ulama dalam menerapkan prinsip-prinsip hukum Islam sesuai dengan tuntutan zaman.

Rasyid Ridha justru tampil dengan vokal untuk menghidupkan kembali khilafah yang memelihara kekuasaan absolut, yang dihapuskan oleh Mustafa Kemal Attaturk. Untuk itu Ridha sengaja menulis buku yang berjudul al-Khilafatawa al-Imamat al-Uzhmat. Karena jabatan khalifah baginya adalah wajib syar’i, dan eksistensi khilafah sangat penting dalam rangka penerapan hukum syari’at Islam. Ini sejalan dengan pandangannya, bahwa Islam adalah agama untuk kedaulatan, politik dan pemerintahan. Bila demikian, berarti bentuk pemerintahan lain bagi Ridha tidak bisa menerapkan syariat Islam.

Untuk mendukung pendapatnya itu, Ridha memberikan pengertian yang satu kepada khilafat, imamat al-uzhmat dan imarat al-mu’minin, yakni kepala pemerintahan untuk menegakkan urusan agama dan urusan dunia.

Karena itu Ridha menggarisbawahi pendapat Al-Taftazani yang mengatakan, imamah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia yang diwarisi dari Nabi. Ia juga sependapat dengan Al-Mawardi yang mengatakan, imamah itu ditegakkan sebagai pengganti Nabi dalam memelihara urusan keagamaan dan keduniaan.

Rasyid Ridha juga mengedepankan pendapat dan argumentasi Al-As’ad tentang khilafah sebagai kewajiban syar’i, yaitu adanya ijma’ sahabat dalam hal pengukuhan Abu Bakar sebagai khalifah atau (pengganti) Nabi sampai mereka mendahulukannya dari pada penguburan Nabi. Dengan adanya imam, pelaksanaan hukum syari’at terjamin dan terhindar dari berbagai mudarat. Adanya kewajiban taat pada Islam berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah memang menghendaki diangkatnya seorang imam.

Pemikiran politik Rasyid Ridha tentang khilafah dapat disimpulkan pada beberapa hal, yaitu :

1. Khalifah yang ideal adalah seseorang yang memiliki sifat adil, memiliki kemampuan dan mementingkan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi. Fungsi khalifah antara lain menyebarkan kebenaran, menegakkan keadilan, memelihara agama, dan bermusyawarah tentang masalah yang tidak dijelaskan nash. Khalifah bertanggungjawab kepada dewan pengawas.

2. Khalifah merupakan pemimpin umat Islam, oleh karena itu harus ditaati semasa pemerintahannya sesuai dengan ajaran Islam.

3. Menentang pemerintahan absolut kerajaan Usmani dan menentang politik Inggris dan Perancis yang ingin membagi Arab di bawah kekuasaan Inggris dan Perancis.

4. Mempersatukan umat Islam. Tetapi ia tidak setuju dengan gerakan nasionalisme, karena menurutnya

nasionalisme bertentangan dengan ajaran

persaudaraan umat Islam seluruh dunia. Karena dalam Islam, persaudaraan umat Islam tidak mengenal perbedaan bahasa, bangsa, ataupun tanah air.

5. Hukum dan Undang-Undang tidak bisa

dilaksanakan tanpa kekuasaan pemerintah. Oleh karena itu perlu adanya suatu bentuk negara. Bentuk negara yang dianjurkan Rasyid Ridha adalah bentuk khilafah. Kepala negaranya adalah khalifah yang mempunyai kekuasaan legislatif. Khalifah tidak boleh absolut dan harus mempunyai sifat mujtahid. Kedaulatan umat berada di tangan umat dan berdasarkan prinsip musyawarah. Idenya mengenai kekhalifahan tersebut, ia tuangkan dalam karyanya yang berjudul al-Khilafah.

Pandangan dan argumentasi Rasyid Ridha menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemikir konservatif. Ia masih terikat pada pendapat-pendapat ulama pada abad pertengahan. Padahal ia telah berhadapan dengan zaman modern dan menyaksikan kebobrokan system khilafah yang dihapuskan oleh Mustafa Kemal Attaturk. Dengan demikian ia tidak memunculkan pemikiran politik yang orisinal. Sebab ia masih ingin mempertahankan eksistensi khilafah yang dalam prakteknya cenderung absolut dan otokrasi, pasca khilafah Khulafa’ al-Rasyidin.

Hingga pada akhirnya, dua pioner Islam kontemporer ini telah membuka jalan bagi terjadinya Islamic Renaissance dengan mengupayakan penyatuan modernitas Barat dengan tradisi Islam klasik. Hal ini terjadi pada fase kedua kebangkitan Islam Arab antara tahun 1870 hingga 1900. Abduh dan Ridho saat itu berupaya menafsirkan ulang Islam agar senantiasa sesuai dengan kehidupan modern .

PEMIKIRAN POLITIK ISLAM

Dalam dokumen FIKIH SIYASAH A. Pengertian Fikih Siyasah (Halaman 181-186)