BAB II LANDASAN TEORI
D. Multi akad ( al uqud al-murakkabah)
1. Pengertian dan Dasar Hukum Multi Akad
Pengertian Multi Akad yaitu akad yang dilakukan lebih dari satu jenis, baik secara timbal balik atau hanya sekedar pengabungan beberapa akad dalam satu transaksi. Pengertian lain dari multi akad dalam bahasa arab yaitu (al-uqud almurakkabah) artinya mengumpulkan. Dengan demikian arti dari multi akad yaitu pengumpulan akad yang terjadi dalam transaksi.
Transaksi multi akad dapat terjadi karena ketidak sengajaan atau dengan sengaja. Akad transaksi yang terjadi dengan ketidak sengajaan contohnya akad pokok dengan akad yang mengikutinya, seperti akad
22
yang terjadi pada qard yang mana diikuti dengan akad wakalah bil ujrah dan transaksi ini terjadi pada gofood38.
2. Macam-Macam Multi Akad
Menurut Hasanudin sebagaimana dikutip dari Al-Imrani membagi multi akad dalam lima macam adalah sebagai berikut:
a. Al-uqud al-Mutaqabilah (akad bergabung/ akad bersyarat)
Al-Mutaqabilah menurut bahasa berarti berhadapan. Sesuatu dikatakan berhadapan jika keduanya saling menghadapkan kepada yang lain. Sedangkan uang dimaksud dengan al-uqud al-mutaqabilah adalah multi akad dalam bentuk akad kedua merespon akad pertama, di mana kesempurnaan akad pertama bergantung pada sempurnanya akad kedua melalui proses timbal balik. Dengan kata lain, akad satu bergantung dengan akad lainnya39.
b. Al-uqud al-mujtami’ah (akad terkumpul)
Al-uqud al-mujtami’ah (akad terkumpul) merupakan multi akad yang terhimpun dalam satu akad atau dua akad atau lebih yang terhimpun menjadi satu akad. Contohnya, saya jual rumah ini dan saya sewakan rumah yang lain kepadamu selama satu bulan dengan harga lima ratus ribu. Multi akad mujtami’ah dapat terjadi dengan terhimpunya dua akad yang memiliki akibat hukum berbeda di dalam satu akad terhadap dua objek dengan satu harga, dua akad dalam satu
38 Rachmat Syafe’i, “Transaksi Multi Akad Dalam Perspektif Fikih,” t.t., 07.
39 Hasanuddin Maulana, “Multi Akad Dalam Transaksi Syariah Kontemporer Pada Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,” t.t.
akad yang berbeda hukumnya atas satu objek dengan satu imbalan, baik dalam waktu yang sama atau waktu yang berbeda40.
c. Al-uqud al-mutanaqidah wa al-mutadadah wa al-mutanafiyah (akad berlawanan)
Mutanaqidah mengandung arti berlawanan. Contohnya, seseorang berkata sesuatu lalu berkata sesuatu lagi yang berlawanan dengan yang pertama. Seseorang mengatakan bahwa sesuatu benar, lalu berkata lagi sesuatu itu salah. Perkataan orang tersebut disebut mutanaqidah, saling berlawanan. Dikatakan mutanaqidah karena antara satu dan yang lainnya tidak saling mendukung, melainkan mematahkan. Yang dimaksud dengan mutanaqidah adalah41:
1) Dua hal yang tidak dapat terhimpun secara bersama (pada saat yang sama) dan tidak pula dapat tiada pada saat yang sama, seperti hadirnya seseorang dan ketidakhadirannya. Jika seseorang hadir, maka tidak hadirnya tiada, tetapi jika tiada hadir yang ada, maka hadirnya tiada.
2) Dua hal yang saling bertolah belakang dan berlawanan, yang mana kehadiran yang satu menuntut ketiadaan yang lainnya, begitu pula sebaliknya. Contohnya, antara menyerahkan dan menarik.
d. Al-uqud al-mukhtalifah (akad berbeda)
Yang dimaksud dengan multi akad yang mukhtalifah adalah terhimpunya dua akad atau lebih yang memiliki perbedaan akibat
40 Maulana.
41 Yunus, “Hibrid contract (multi akad) dan implementasi di perbankan syariah,” 96.
24
hukum di antara kedua akad itu atau sebagainya. Seperti perbedaan akibat hukum dalam akad jual beli dan sewa, dalam akad sewa diharuskan ada ketentuan waktu, sedangkan dalam jual beli sebaliknya. Contoh lain, akad ijarah dan salam, dalam salam harga salam harus diserahkan pada saat akad ( fi-almajlis), sedangkan dalam ijarah harga sewa tidak harus diserahkan pada saat akad42.
e. Al-uqud al-mujanisah (akad sejenis)
Al-uqud al-murakkabah al-mutajanisah adalah akad-akad yang memungkinkan dihimpun dalam satu akad, dengan tidak mempengaruhi di dalam hukum dan akibat hukumnya. Multi akad sejenis ini dapat terdiri dari satu jenis seperti akad jual beli dan akad jual beli, atau dari beberapa jenis akad jual beli dan sewa menyewa.
Multi akad jenis ini dapat pula terbentuk dari dua akad yang memiliki hukum yang sama atau berbeda43.
Penilaian sah atau tidaknya sebuah transaksi multi akad tidak dapat dilihat dari jenisnya, apakah ia akad tergabung atau akad bersyarat, penilaiannya akan dilihat dari praktik transaksi itu satu persatu apakah sesuai dengan batasan-batasan syariat atau tidak, maka hukum satu transaksi dengan transaksi lain bisa berbeda meski keduanya adalah transaksi yang sejenis
42 M.Yunus, Hibrid contract (multi akad) dan implementasi di perbankan syariah..., hlm.
97.
43 Ibid, hlm. 97.
3. Hukum Multi Akad
Mengenai status hukum multi akad, ulama berbeda pendapat terutama berkaitan dengan hukum asalnya. Perbedaan ini menyangkut apakah multi akad sah dan diperbolehkan atau batal dan dilarang untuk dipraktikkan.
Mengenai hal ini ulama berada dalam dua pendapat tersebut; membolehkan dan melarang.
Mayoritas ulama Hanafiyah, sebagian pendapat ulama Malikiyah, ulama Syafi’iyah, dan Hanbali berpendapat bahwa hukum multi akad sah dan dibolehkan menurut syariat Islam. Bagi yang membolehkan beralasan bahwa hukum asal dari akad adalah boleh dan sah, tidak diharamkan dan dibatalkan selama tidak ada dalil hukum yang mengharamkan atau membatalkanny.
Menurut Ibnu Taimiyah, hukum asal dari segala muamalat didunia adalah boleh kecuali yang diharamkan Allah dan Rasulnya, tiada yang haram kecuali yang diharamkan Allah, dan tidak ada agama kecuali yang disyariatkan44.
Hukum asal dari syara adalah bolehnya melakukan transaksi multu akad, selama setiap akad yang membangunnya ketika dilakukan sendirisendiri hukumnya boleh dan tidak ada dalil yang melarangnya. Ketika ada dalil yang melarang, maka dalil itu tidak diberlakukan secara umum, tetapi mengecualikan pada kasus yang diharamkan menurut dalil itu. Karena itu, kasus itu dikatakan sebagai pengecualian atas kaidah umum yang berlaku yaitu mengenai kebebasan melakukan akad dan menjalankan perjanjian yang telah disepakati.
44 Hasanuddin, Multi Akad Dalam Transaksi Syariah Kontemporer Pada Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia..., hlm 6-7
26