• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 2. Pendidikan Ibu menyusui Dari hasil penelitian distribusi frekuensi pekerjaan ibu sebanyak 34 responden (41%) tidak bekerja dan 49 responden (59%) bekerja. Hasil tersebut menunjukkan sebagian besar ibu menyusui berstatus bekerja. Sebagaimana gambar di bawah ini :

Gambar 3. Pekerjaan ibu menyusi

Dari hasil cheklist didapatkan hasil distribusi frekuensi berdasarkan paritas, sebanyak 41 responden (49%) merupakan ibu primigravida, 39 responden (47%) merupakan ibu multigravida dan 3 responden (3,6%) grande. Hasil tersebut menunjukkan sebagian besar ibu sebagai multigravida.

Sebagaimana gambar di bawah ini :

Gambar 4. Paritas ibu menyusui Dari hasil penelitian didapatkan hasil distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif responden sebanyak 59 responden (71,1%) tidak memberikan ASI eksklusif dan 24 responden (28,9%) memberikan ASI eksklusif. Dapat disimpulkan sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Sebagaimana gambar di bawah ini:

Gambar 5. Pemberian ASI eksklusif Pada umur ibu <19 tahun tidak ada yang memberikan ASI eksklusif, umur 20-35 tahun sebanyak 68 (81,9%), yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 47 responden (69,1%) dan yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 21 responden (30,9%). Umur > 35 tahun sebanyak 15 responden (18,1%) tidak meberikan ASI eksklusif dan 12 responden (80%) memberikan ASI eksklusif kepada bayinya 3 responden (20 %).

Ibu bependidikan dasar yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 33 responden (84,6%) dan yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 6 responden (15,4%). Ibu dengan pendidikan menengah yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 24 responden (61,5%) dan yang

Pendid

ikan Dasar 46,99

% Pendid

ikan Menen

gah 46,9…

Pendid ikan Tinggi 6,02%

Tidak bekerj a 40,96%

Bekerj a 59,04%

Primigr avida 49,40%

Multigr avida 46,99%

Grande

3,61%

memberikan ASI eksklusif 15 responden (38,5%), ibu dengan pendidikan tinggi sebanyak 2 responden (40%) tidak memberikan ASI eksklusif dan 3 responden (60%) memberikan ASI eksklusif terhadap bayinya.

Ibu tidak bekerja yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 17 responden (50%) sedangkan yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 17 responden (50%). Ibu bekerja yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 42 responden (85,7%) dan yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 7 responden (14,3%).

Ibu primigravida yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 31 responden (75,6%) dan yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 10 responden (24,4%). Ibu dengan paritas multigravida yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 25 responden (64,1%) sedangkan yang memberikan ASI eksklusif 14 responden (35,9%), sedangkan paritas grande sebanyak 3 responden tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya

Uji hipotesis hubungan umur dengan pemberian ASI eksklusif diketahui bahwa nilai probability (p) sebesar 0,400 > 0,05 dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI. Uji hipotesis hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif diketahui bahwa nilai probability (p) sebesar 0,023<0,05 dapat disimpulkan ada hubungan antara pendidikan ibu dengan pemberian ASI ekslusif kepada bayinya. Uji hipotesis hubungan pekerjaan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif diketahui nilai probability (p) sebesar 0,000<0,05 dapat disimpulkan ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya. Uji hipotesis hubungan paritas ibu terhadap pemberian ASI ekslusif diketahui nilai probability (p) sebesar 0,279>0,05 dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara paritas dengan pemberian ASI ekslusif kepada bayinya

PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan umur Ibu menyusui 20 sampai 35 tahun sebanyak 68 (81,9%). Umur yaitu usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur maka tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja.

Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan persalinan dan menyusui adalah 20-35 tahun oleh sebab itu yang sesuai dengan masa reproduksi sangat baik dan sangat mendukung dalam pemberian ASI ekslusif,

sedangkan umur yang kurang dari 20 tahun dianggap masih belum matang secara fisik mental dan psikologi dalam menghadapi kehamilan, persalinan, sedangkan umur lebih dari 35 tahun dianggap juga berbahaya sebab baik alat reproduksi maupun fisik ibu sudah jauh berkurang dan menurun selain itu bisa terjadi resiko bawaan pada bayinya dan juga dapat meningkatkan penyakit pada kehamilan, persalinan dan nifas (Nursalam, 2003).

Pemberian ASI eksklusif bisa dipengaruhi oleh penyuluhan-penyuluhan, informasi dari media elektronik, media cetak. Dukungan dari suami dan keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap Ibu menyusui.

Dengan meningkatkan konseling terhadap ibu hamil diharapkan mereka bisa memberikan ASI eksklusif.

Hasil penelitian menunjukkan pendidikan ibu menyusui sebanyak 39 (47%) bependidikan dasar sama dengan pendidikan menengah. Adanya tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang kurang mempunyai ketrampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupannya. Pendidikan seorang ibu yang rendah memungkinkan ia lambat dalam mengadopsi pengetahuan baru, khususnya tentang hal-hal yang berhubungan dengan pola pemberian ASI (Ahmadi, 2002).

Sebanyak 47% ibu menyusui di desa Dungmiri berpendidikan rendah sehingga kurang bisa menerima lebih cepat penjelasan-penjelasan dari petugas kesehatan. Tingkat pendidikan merupakan unsur yang penting bagi sumber pengetahuan seseorang, maka berpengaruh dalam melakukan program kesehatan. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang cenderung untuk mendapatkan informasi baik dari orang lain maupun dari media masa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan.

Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarganya (Nursalam, 2003). Ibu menyusui yang bekerja sebanyak 49 (59%). Hasil tersebut menunjukkan sebagian besar ibu menyusui bekerja.

Di wilayah Kecamatan Karangjati terdapat beberapa perusahaan rokok maupun home industri yang membutuhkan tenaga kerja wanita. Sehingga banyak ibu yang bekerja pada perusahaan tersebut. Dengan kegiatan bekerja itu ada efek positif terhadap perekonomian keluarga. Namun demikian juga ada efek negatif yaitu agak terbengkalainya pekerjaan rumah tangga dan waktu ibu untuk mengasuh anak karena mereka bekerja seharian (minimal 8 jam /hari). Karena tidak adanya waktu ibu untuk menyusui maka untuk

memenuhi kebutuhan asi eksklusif yang mestinya diberikan oleh ibu diganti dengan memberinya makanan pendamping ASI, bisa berupa susu formula atau makanan lainnya.

Hasil penelitian penunjukkan paritas Ibu menyusui 41 (49 %) merupakan ibu primigravida. Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang ibu (Nursalam, 2003). Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin hidup, bukan janin yang dilahirkan (Bobak, 2005).

Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui yang sebetulnya hanya karena tidak tahu carayang sebenarnya dan apabila ibu mendengar ada pengalaman menyusui yang kurang baik yang dialami orang lain hal ini memungkinkan ibu ragu memberikan ASI pada bayinya (Perinasia, 2004).

Pengalaman pemberian ASI eksklusif pada kelahiran anak sebelumnya, kebiasaan menyusui dalam keluarga serta pengetahuan tentang ASI berpengaruh terhadap keputusan ibu untuk menyusui atau tidak.

dukungan dokter atau petugas kesehatan lainnya atau kerabat dekat sangat dibutuhkan terutama untuk ibu yang pertama kali hamil.

Demikian juga pada kebanyakan ibu di desa Dungmiri di Kecamatan Karangjati, pengalaman memberi ASI eksklusif dan mengasuh bayi pada kelahiran anak yang pertama memberikan pengalaman pada masing-masing ibu dan menambah pengetahuan pada pemberian ASI eksklusif pada anak berikutnya. Mereka lebih percaya diri atas pengetahuan yang sebelumnya dimiliki dari penyuluhan petugas kesehatan dan dukungan keluarga yang ada.

Hasil penelitian menunjukkan Ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 24 Ibu menyusui (28,9%).

Sedangkan Ibu menyusui yang tidak memberikan ASI eksklusif 59 (71,1%).

Pengertian ASI eksklusif adalah pemberian air susu ibu saja segera setelah melahirkan secara tepat dan benar sampai berumur 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman tambahan apapun (BKKBN, 2003). Sedangkan Widjaja (2003) ASI eksklusif adalah memberikan ASI saja (exclusive breast- feeding) selama 6 bulan.

Efek psikologis yang menguntungkan dari menyusui adalah waktu menyusui kulit bayi akan menempel pada kulit ibu. Kontak kulit yang dini akan sangat besar pengaruhnya pada perkembangan bayi kelak. Walaupun seorang ibu dapat memberikan kasih sayang yang besar dengan memberikan susu formula, tetapi menyusui sendiri akan memberikan efek psikologis lebih besar. Interaksi yang timbul

pada waktu menyusui antara ibu dan bayi akan menimbulkan rasa aman bagi bayi.

Perasaan aman ini penting bagi bayi untuk menimbulkan dasar kepercayaan pada bayi (basic sense of trust), yaitu dengan mulai dapat mempercayai orang lain (ibu) maka akan timbul rasa percaya pada diri sendiri.

Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik, dan mengurangi kemungkinan obesitas. Frekuensi menyusui yang sering (tidak dibatasi) juga bermanfaat karena volume ASI eksklusif yang dihasilkan lebih banyak, sehingga penurunan berat badan bayi hanya sedikit.

Menurut Depkes RI, (2004) umur ibu sangat menentukan kesehatan maternal dan berkaitan dengan kondisi kehamilan, persalinan dan nifas serta cara mengasuh dan menyusui bayinya. Ibu yang berumur kurang dari 20 tahun masih belum matang dan belum siap dalam hal jasmani dan sosial dalam menghadapi kehamilan, persalinan serta dalam membina bayi yang dilahirkan. Sedangkan ibu yang berumur 20-35 tahun disebut sebagai

"masa dewasa" dan disebut juga masa reproduksi, di mana pada masa ini diharapkan orang telah mampu untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan tenang secara emosional, terutama dalam menghadapi kehamilan, persalinan, nifas dan merawat bayinya nanti.

Dalam penelitian ini tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif karena pemberian ASI eksklusif bisa dipengaruhi penyuluhan-penyuluhan, informasi dari media elektroni, media cetak, pengalaman dari orang lain. Selain itu juga dukungan dari petugas kesehatan, suami dan keluarga.

Dictionary of education menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana orang diharapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol, sehingga ia dapat memperoleh perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individual yang optimal. Jenjang pendidikan formal adalah SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi (Machfoedz, 2005).

Pendidikan merupakan proses menumbuh-kembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran sehingga dalam pengajaran itu perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan seseorang) dan hubungannya dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang untuk

lebih menerima ide-ide dan teknologi baru (Notoatmodjo, 2005).

Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.

Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang diperkenalkan (Mubarak, 2006).

Dalam penelitian ini diketahui bahwa ada hubungan antara pendidikan ibu dengan pemberian ASI ekslusif kepada bayinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Mubarak (2006) yang menyatakan semakin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang diperkenalkan.

Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi.

Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya. Hal ini sesuai dengan teori bahwa pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah, berulang dan banyak tantangan (Mubarak, 2006). Menurut Hakim (2002), pekerjaan adalah melakukan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapat hasil. Untuk memenuhi kebutuhan hidup maka pemberian ASI terpaksa ditinggalkan oleh ibu-ibu yang bekerja. hal ini dikarenakan usia 20 sampai dengan 35 merupakan usia produktif, sehingga keengganan menyusui diakibatkan karena kesibukan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pada primipara dengan usia 35 tahun ke atas dimana produksi hormone relatif berkurang, mengakibatkan proses laktasi menurun, sedangkan pada usia remaja 12-19 tahun harus dikaji pula secara teliti karena perkembangan fisik, psikologis maupun sosialnya belum siap yang dapat mengganggu keseimbangan psikologis dan dapat mempengaruhi dalam produksi ASI .

Dalam penelitian ini dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara paritas dengan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya. Hal ini sesuai dengan teori Hurlock (2002) yang mengatakan bahwa umur 40 tahun lebih, ibu melahirkan termasuk resiko karena pada usia ini erat kaitannya dengan Anemia gizi yang dapat mempengaruhi produksi ASI yang dihasilkan, bahwa semakin rneningkatnya

umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang dalam berfikir dan bekerja akan lebih matang. Karena kebanyakan ibu menyusui di desa Dungmiri Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi, pengalaman memberi ASI eksklusif dan mengasuh bayi pada kelahiran anak yang pertama memberikan pengalaman pada masing-masing ibu dan menambah pengetahuan pada pemberian ASI eksklusif pada anak berikutnya. Pada awal persalinan dengan usia bayi 0-4 bulan hanya diberi ASI saja sejalan dengan waktu pada usia bayi 4 bulan lebih sudah di beri MP ASI.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Ibu Menyusui berusia 20 sampai 35 tahun sebanyak 68 (81,9%) , ibu menyusui berpendidikan dasar sebanyak 47% dan menengah sebanyak 47%, ibu menyusui bekerja sebanyak 59%, ibu menyusui primigravida sebanyak 49%. Ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya sebanyak 71,1%. Tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif. Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya. Ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya. Tidak ada hubungan antara paritas dengan pemberian ASI ekslusif kepada bayinya.

Saran

Disarankan bagi institusi pendidikan diharapkan penelitian ini dapat menjadi langkah awal dan referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya, khususnya bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian tentang pemberian ASI ekslusif. Bagi pelayanan kesehatan diharapkan adanya peningkatan upaya promotif kesehatan berupa penyuluhan-penyuluhan yang dapat terjangkau oleh masyarakat khususnya ASI ekslusif. Bagi ibu diharapkan ibu dapat memberikan ASI ekslusif karena banyaknya manfaat ASI eklusif terhadap kesehatan bayinya. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan menggunakan variabel dan alat uji yang lebih komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. 2002. Psikologi Sosial. Jakarta:

Penerbit Rineka Cipta

Amalia, L. 2010. Penanganan Gizi Buruk di Indonesia. Seminar Nasional dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-82

tahun 2010 di Jakarta, 10 Desember 2010.

Andreas. 2008. Pemberian ASI Eksklusif masih Rendah. Available online:

www.asiku.wordpress.com. 17 September 2011

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, S. 2005.Sikap Manusia Teori Dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2003. Menyiapkan Anak Balita Yang Sehat dan Berkualitas, Jakarta:

BKKBN

Bobak. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4. Jakarta: EGC.

Depkes RI Dirjen Binkesmas Direktorat Gizi Masyarakat. 2004.Asi Eksklusif Untuk Ibu Bekerja. Jakarta

DEPKES RI. 2004. Ibu Berikan ASI Eksklusif Baru 2%. Available online:

www.depkes.go.id. 17 September 2011.

Febrianti, M, E, 2008. Manajemen Laktasi.

Available from :

http://wiyati.wordpress.com as retrieved on 2 May 2011 : 21.26

Hakim, Arman dan Arifin, Bustanul, 2007. Entrepreneurship, Membangun SpiritTeknopreneurship. Edisi 1, Andi.

Yogyakarta.

Hasbullah, 2001. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Hurlock, 2002. Psikologi Perkembangan.

Edisi 5. Jakarta. EGC

Kiki Anggrita2009. Hubungan Karakteristik Ibu Menyusui Dengan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Medan Amplas Sumatra Utara, KTI

Machfoedz, 2005. Pendidikan Kesehatan Bagian Dari Program Kesehatan.

Jakarta: Fitram

Mubarak., 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Jakarta : CV. Sagung Seto.

Notoatmodjo, S. 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. 2005. Promosi Kesehatan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta.

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Keperawatan. Jakarta:

Salemba Medika Press.

Nursalam. 2003.Pendidikan dan Perilaku Kesehatan,Cetakan Kedua. Rineka Cipta Nurul. 2008. Teori Psikologi, Pengertian

Persepsi. Available from : http://blogspot.com as retrieved on 22 Maret 2011 : 14:07

Perinasia. 2004. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi, Cetakan ke 2. Jakarta: Rineka Cipta

Roesli, Utami. 2005. Mengenal ASI Eksklusif.

Jakarta: Trubus Agriwidya.

Rohani,2009, Pengaruh Hubungan Karakteristik Ibu Menyusui Dengan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Teluk,Langkat ,Sumatra Utara, KTI Sarbini dan Listyani. 2003. Faktor-faktor

yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif di Kecamatan Jebres Kotamadya Surakarta. Surakarta.

Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu Soetjiningsih, 1997. ASI Petunjuk Untuk

Tenaga Kesehatan. Jakarta : EGC Sugiyono. 2009. Statistika untuk Penelitian.

Bandung : Alfabeta.

Suriadi dan Yuliani, R., 2006, Asuhan Keperawatan pada Anak, Jakarta : CV.

Sabungseto.

Widjaja. 2003. Gizi Tepat untuk Perkembangan Otak dan Kesehatan Balita, Jakarta: Kawan Pustaka

Dokumen terkait