Jauh
Oleh: Magfira Sannang
Tulisan ini dibuat setiap kali aku merasa lelah duduk di depan meja belajar. Aku memilih jalan ini, yakni menulis, untuk mengembalikan semangat juang. Agar aku dapat mengingat, betapa banyak hal yang telah kukorbankan untuk mimpi ini. Ya, menuntut ilmu di Mesir adalah satu dari mimpi-mimpi terbesarku.
Aku adalah seorang anak perempuan dari tiga bersaudara, yang dilahirkan di kota sederhana yang pagi dan sorenya kita bisa menikmati sejuknya angin persawahan. Aku tumbuh besar di bawah didikan orangtua yang tegas dan disiplin.
Waktu itu adalah tahun kedua saat aku menduduki bangku Sekolah Menengah Kejuruan, saat itu aku adalah salah satu siswa yang cukup aktif di lingkungan sekolah. Aku menjadi pengurus OSIS, pengurus FORMASI (Forum Remaja Masjid), anggota ICT (Information Communication Technology) yang merupakan organisasi yang dibentuk khusus untuk Jurusan Multimedia. Di samping itu, tuntutan dari orangtua untuk menduduki peringkat pertama atau paling tidak peringkat kedua di dalam kelas, membentukku jadi seorang perempuan yang tidak pernah putus asa dan mengeluh atas sesuatu yang sedang aku usahakan.
***
150 | K u p e n u h i P a n g g i l a n K i b l a t I l m u Awal tahun 2018, seluruh siswa kelas XI mengikuti Praktek Kerja Lapangan atau kadang kita sebut dengan sebutan PKL. Aku termasuk salah satu siswa yang diutus untuk PKL di luar daerah, lebih tepatnya di kota Makassar. Tiap pagi berangkat ke tempat PKL di kantor Fajar TV/FM dan tepat pukul 16.00 sore kembali ke rumah, begitu seterusnya hingga tiga bulan berlalu.
Bulan terakhir PKL, aku mendapat pesan singkat dari seorang kiai yang dari beliau aku belajar mengenal huruf Hijaiyah. Beliau adalah Ustaz Abdullah Wahab yang juga merupakan seseorang yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sulit ini. Beliau adalah salah satu lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir, jarak rumahku dengan rumah beliau lumayan dekat.
Isi pesan beliau sedikit mengusikku hingga terjadi dilema dalam hati ini. Beliau bertanya, “Apakah berniat menuntut ilmu di Mesir?”
Sejak kecil aku memang memiliki niat yang besar menjadi seperti beliau, menuntut ilmu di negeri para anbiya’, tapi kutepis sedikit demi sedikit. Karena melihat ekonomi keluarga dan mengetahui keadaanku, bahwa aku bukan santri pondok pesantren pada umumnya.
***
“Orang yang ingin menuntut ilmu di Mesir, wajib tahu baca kitab kuning dan hafal minimal dua juz Al-Qur'an. Tahun 2017 ini, santri dari Kabupaten Pinrang tidak ada yang lulus tes ke Mesir,” begitulah kira-kira pesan singkat beliau.
Siapa sangka, pesan singkat itu membekas sampai saat ini. Pesan singkat itu yang mengantarkan hati ini untuk menggali kembali apa yang telah terkubur. Inilah saat-saat terberat dalam hidupku. Inilah detik-detik dilema itu hadir.
151 | K u p e n u h i P a n g g i l a n K i b l a t I l m u
***
Tepatnya di bulan keempat di tahun 2019. Setelah mendapat izin dari kedua orangtua, sesegera mungkin surat pindah dari SMK itu aku urus. Dengan berbekal pengalaman yang telah diajarkan oleh kedua orangtua sejak kecil, urusan pindah sekolah itu kuselesaikan sendiri. Bukan karena kedua orangtuaku tidak peduli, tapi aku sadar sudah terlalu banyak merepotkan mereka. Dan kuanggap hal ini sebagai ajang latihan untuk mengurus keperluanku sendiri di negeri Kinanah nanti.
Di sekolah baru atau lebih tepatnya pesantren baru aku hanya mengikuti proses belajar mengajar selama kurang lebih dua minggu, setelah itu aku izin pamit kepada pimpinan untuk berangkat ke pondok yang terletak tidak jauh dari rumahku. Ya, namanya Pondok Pesantren Al-Azhar Asy-Syarif, yang dibangun oleh Ustaz Abdullah Wahab, satu-satunya pondok pesantren non-formal yang khusus mengajarkan kitab kuning di Kabupaten Pinrang.
Ya, di pondok Al-Azhar itulah aku banyak menghabiskan waktu untuk belajar kitab kuning selama setahun. Dan kembali ke pesantren Darul Ulum menjelang Ujian Nasional.
***
Beberapa minggu setelah Ujian Nasional, Kemenag mengeluarkan pengumuman tes Timur Tengah, tanpa menunggu waktu lama aku dan teman-teman dari pondok Al-Azhar segera mendaftarkan diri.
Aku berusaha keras untuk impian itu, belajar lebih banyak daripada teman-teman yang lain, menabung untuk membeli kitab, mengurangi bermain gadget, mengetuk pintu langit berkali-kali, meminta doa kepada kedua orangtua, guru-guru dan orang-orang terdekat, meminta arahan dari senior
152 | K u p e n u h i P a n g g i l a n K i b l a t I l m u yang telah lebih dulu berangkat ke Mesir, kemudian mengikuti bimbingan belajar di salah satu mediator, yaitu ICATT Makassar.
Hingga waktu tes tiba, di tahun 2019, terjadi perubahan sistim ujian yang sangat berbeda dari ujian yang diadakan pada tahun-tahun sebelumnya. Berbeda karena kali ini tes diadakan menggunakan komputer.
Aku dan dua orang teman, yaitu Kak Dewi dan Musyayyadah berangkat ke Makassar. Di malam ujian, aku mendapat sedikit masalah. Laptop yang akan kugunakan ujian besok rusak dan tidak dapat berfungsi. Aku mulai putus asa dan hanya mampu bertawakal kepada Allah. Kedua teman terbaikku itu menyarankan agar mengadukan segala keluh kesah kepada Allah Azza wa Jalla.
Benar saja, setelah bersujud dan memohon kepada Allah, pihak UIN Alauddin Makassar mengeluarkan pengumuman bahwa seluruh peserta ujian akan menggunakan komputer laboratorium, bukan lagi laptop masing-masing. Aku tersenyum lega dan mengucapkan alhamdulillah.
***
Beberapa bulan setelah tes, keluarlah pengumuman. Hal yang sangat luar biasa terjadi dalam hidupku saat melihat nama ini ada di dalam salah satu daftar nama yang lulus. Detik itu juga aku percaya kalimat, man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
Meninggalkan sekolah kejuruan, mendaftar ke sekolah baru, mengkaji kitab kuning, mendaftar tes Kemenag, dan kata orang-orang, “Mundur selangkah untuk melompat yang lebih jauh!”
153 | K u p e n u h i P a n g g i l a n K i b l a t I l m u Memang benar, usaha tidak pernah mengkhianati hasil.
Penantian menunggu visa selama kurang lebih lima bulan aku gunakan untuk memantapkan bahasa. Aku sempat ragu untuk melanjutkan mimpi ini karena terkendala biaya yang tidak sedikit, tapi aku selalu percaya bahwa Allah Maha Kaya.
Benar saja, BAZNAS membuka pendaftaran beasiswa bagi calon mahasiswa yang kurang mampu. Aku segera mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan. Setelah tes berkas dan tes lisan, lagi dan lagi Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk menjadi salah satu dari empat puluh calon mahasiswa yang mendapatkan beasiswa itu.
Tentunya itu semua tidak terlepas dari doa kedua orangtua, dukungan guru-guru juga teman-teman seperjuangan. Jazakumullahu khairan katsiran untuk kalian orang-orang baik.
154 | K u p e n u h i P a n g g i l a n K i b l a t I l m u