BAB II KAJIAN TEORI
B. Deskripsi Teori
2. Murabahah
a. Definisi murabahah
Al-murabahah bersumber dari kata al-ribh yang menurut etimologi ialah al-ziyadah (tambahan) serta al-nama’ (tumbuh serta berkembang) pada perdagangan (al-tijarah). Arti al-murabahah menurut harfiah sama dengan arti al-riba secara literal, yakni tambahan, tumbuh serta berkembang.8 Menurut Muhammad Syafi’i Antonio mendefinisikan ba’i al-murabahah ialah jual beli produk pada harga pokok ditambah laba yang sudah disetujui bersama. Yang mana pada bai’ al-murabahah, distributor wajib menginformasikan harga pokok produk yang dibeli serta menetapkan tingkat laba sebagai tambahan.9
Akad murabahah pada dasarnya ialah akad jual beli. Maksudnya adalah saat memiliki permintaan dari nasabah, bank lebih dulu membeli apa yang nasabah inginkan, selanjutnya bank memindahtangankan ke
7 H. Tachjan, Implementasi Kebijakan Publik, (Bandung: AIPI Bandung, 2006), 56.
8 Fayadh ‘Abd al-Mun’im Al-Hasanain, Ba’i al-Murabahah fi al-Masharif al-Islamiyyah, (Kairo: al-Ma’had al-‘Alami li al-Fikr al-Islami, 1996), 19.
9 Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2001), 101.
nasabah dengan harga semula serta ditambahkan dengan margin laba yang sesuai dengan kesepakatan.10
Namun, banyak yang berasumsi jika margin sama halnya dengan bunga, akan tetapi tata nama yang berbeda. Pendapat tersebut salah jika dilihat dari substansi yang dibiayai. Perlu diketahui bahwa akad murabahah bukanlah akad pemberian pinjaman uang, melainkan akad jual beli produk material serta untuk pembayarannya ditangguhkan atau dicicil (bai’ tsaman ajil). Penyebab utama akadnya bukanlah pada uang, contohnya dalam kontrak kredit pada bank konvensional, tetapi produk yang berupa output produksi ekonomi riil.11
b. Landasan murabahah
1) Landasan syariah murabahah
Menurut hukum ekonomi syariah terdapat landasan syariah mengenai akad murabahah, yakni:
a) Al-Qur’an
Landasan akad murabahah ada pada QS al- Baqarah/2:
275:
(٢٧٥) ... اوهبِّٰرلا َمَّرَحَو َعْيَ بْلا ُهٰللّا َّلَح َاَو ۗ ...
Terjemahan:
“... Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba ...” (QS al-Baqarah/2: 275).12
10 Darsono, dkk, Perbankan Syariah di Indonesia: Kelembagaan dan Kebijakan serta Tantangan ke Depan, Edisi 1 (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), 222.
11 FORDEBI dan ADESy, Ekonomi dan Bisnis Islam: Seri Konsep dan Aplikasi Ekonomi dan Bisnis Islam, Edisi 1 (Depok: Rajawali Pers, 2019), 33-34.
12 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan dan Tajwid Warna, (Bandung: Cordoba, 2018), 47.
18
Berdasarkan ayat ini, kaum musyrik tidak pernah mempercayai adanya penerapan jual beli pada Al-Qur’an sehingga mereka membolehkan adanya riba dan menolaknya.
Boleh jadi salah satu tanda sempurnanya kalam sebagai penolakan terhadap sesuatu yang diucapkan oleh mereka, padahal mereka memahami berbagai hukum Allah swt. antara keduanya. Tidak ada yang bisa melawan ketetapan-Nya dan Dialah yang mengetahui semua hakikat dan kemashlahatan masalah. Dia juga mengetahui apa yang berguna untuk hamba-Nya, maka Dia mengizinkan. Sementara jika Dia mengetahui apa yang berbahaya, maka Dia melarangnya.13
Terdapat pula dalam QS al-Baqarah/2: 280, yakni:
ْمُكَّل ٌْيَْخ اْوُ قَّدَصَت ْنَاَو ۗ ٍةَر َسْيَم هلِّٰا ٌةَرِّظَنَ ف ٍةَرْسُعْوُذ َناَك ْنِّاَو َنْوُمَلْعَ ت ْمُتْ نُك ْنِّا (
٢ ٨٠ )
Terjemahan:
“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, ia lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah/2:
280).14
Berdasarkan ayat ini, Allah swt. menganjurkan agar kita wajib sabar ketika ada individu yang mengalami kesusahan dalam pembayaran utangnya, yang tidak menerima apa yang
13 M. Abdul Goffar E.M. dan Abdurrahim Mu’thi dan Abu Ihsan Al-Atsari, Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2004), 547.
14 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan dan Tajwid Warna, (Bandung: Cordoba, 2018), 47.
menjadi haknya. Tidak sama dengan kaum Jahiliyah, salah seorang dari mereka berucap kepada peminjam bahwa ketika telah jatuh tempo, yakni dibayar maupun ditambah bunganya.
Kemudian Allah swt. merekomendasikan agar menghapusnya serta menawarkan kebaikan serta pahala yang melimpah, dan juga hendaklah meninggalkan pokok harta (modal) sepenuhnya dan membebaskannya dari peminjam.15
b) Hadist
Terdapat riwayat hadist oleh Ibnu Majah jika Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut:
ُِّٰبَْلا ُطْلَخَو ،ُةَضَراَقُمْلاَو ،ٍلَجَأ َلِّٰإ ُعْيَ بْلَا : ُةَكََبَْلا َّنِّهْيِّف ٌث َلََث )بيهص نع هجام نبا هاور( ِّعْيَ بْلِّل َلَ ِّتْيَ بْلِّلِّْيِّْعَّشلِّبِ
Terjemahan:
“Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudarabah), dan mencampur gandum dengan jejawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah dari Shuhaib).
c) Ijmak
Tidak hanya dalil ini, yakni Al-Qur’an maupun hadist, juga terdapat Kesepakatan para ulama mengenai kebolehan jual beli memakai akad murabahah, seperti dalam Al-Kasani, Bada’i as-Sana’i, V/220-222 dan pada kitab Ibnu Rusyd (Bidayah al-Mujtahid, II/161), yakni menyatakan jika:
15 M. Abdul Goffar E.M. dan Abdurrahim Mu’thi dan Abu Ihsan Al-Atsari, Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2004), 557.
20
“Jumhur ulama sepakat jika jual beli itu ada dua macam: jual beli tawar menawar (musawamah) serta jual beli murabahah.”16
2) Landasan hukum murabahah
Menurut hukum positif memiliki landasan hukum mengenai akad murabahah, yakni tercantum pada pengaturan:
a) Pasal 1 angka 13 UU No. 10 Tahun 1998 mengenai Revisi Atas UU No. 7 Tahun 1992 mengenai Perbankan.
b) UU No. 21 Tahun 2008 mengenai Perbankan Syariah, yakni Pasal 19 ayat (1) yang pada dasarnya menuangkan jika aktivitas usaha Bank Umum Syariah, yakni mendistribusikan pembiayaan menurut akad salam, murabahah, istishna maupun akad lainnya yang tidak berlawanan sesuai ketetapan Islam.17
c. Rukun dan syarat akad murabahah
Rukun dalam melaksanakan transaksi akad murabahah mencakup atas:18
1) Pelaku akad mencakup dua pihak, yakni ba’i (produsen) serta musytari (pembeli). Ba’i, yakni pihak yang menyediakan produk yang ingin dijual, sementara musytari ialah pihak yang membutuhkan serta mau membeli produk.
2) Objek akad adalah mabi’ (produk) yang dijadikan sebagai objek transaksi jual beli dan wajib memiliki bentuk fisik.
16 Ibnu Rusyd, Terjemah Bidayatu’l Mujtahid, (Semarang: Asy-Syifa’, 1990), 181.
17 Khotibul Umam dan Setiawan Budi Utomo, Perbankan Syariah: Dasar-dasar dan Dinamika Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2016), 105.
18 Ismail, Perbankan Syariah, Edisi 1 (Jakarta: Prenadamedia Group, 2011), 136-137.
3) Harga, harga jual yang disetujui di antara pihak pembeli serta distributor wajib disebutkan dengan jelas.
4) Sighah, yakni ijab dan kabul ialah persetujuan penyerahan produk serta pendapatan produk hasil jual beli.
Prosedur dalam melaksanakan transaksi akad murabahah mencakup atas:19
1) Distributor menginformasikan berapa biaya modal kepada nasabah.
2) Perjanjian awal wajib legal sejalan dengan ketetapan yang ditentukan.
3) Perjanjian wajib terhindar dari riba.
4) Distributor wajib menginformasikan kepada pembeli jika ada kecacatan atas produk setelah pembelian, dan
5) Distributor diharuskan menginformasikan semuanya secara keseluruhan yang ada kaitannya dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilaksanakan dengan kredit.
d. Prosedur umum mengenai murabahah
Pembiayaan murabahah sudah diatur pada Keputusan Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN-MUI/IV/2000. Keputusan ini menyatakan jika prosedur umum murabahah dalam bank syariah, yakni:20
1) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
19 Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2001), 102.
20 Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia, “Nomor Fatwa 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah,” https://dsnmui.or.id/kategori/fatwa/page/15/
22
2) Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariah Islam.
3) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.
4) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
5) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
6) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
7) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
8) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
9) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip menjadi milik bank.
Prosedur murabahah kepada nasabah, yakni ialah:
1) Nasabah mengajukan permohonan dan janji pembelian suatu barang atau aset kepada bank.
2) Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.
3) Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima (membelinya) sesuai dengan janji yang telah disepakatinya, karena secara hukum janji tersebut mengikat;
kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli.
4) Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan.
5) Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.
6) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.
7) Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun21 sebagai alternatif dari uang muka, maka jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga, serta jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.
21 M. Nadratuzzaman Hosen dan AM. Hasan Ali, Kamus Populer Keuangan dan Ekonomi Syariah, (Jakarta: PKES Publishing, 2008), 95.
24
Prosedur agunan pada murabahah, yakni:
1) Jaminan pada murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dengan pesanannya.
2) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang
Prosedur utang dalam murabahah, yakni ialah:
1) Secara prinsip, penyelesaian utang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan utangnya kepada bank.
2) Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya.
3) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus menyelesaikan utangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan.
Prosedur penundaan pembayaran dalam murabahah, yakni:
1) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian utangnya.
2) Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka
penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
Prosedur bangkrut pada murabahah, yakni jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan utangnya, bank harus menunda tagihan utang sampai ia menjadi sanggup kembali, atau berdasarkan kesepakatan.
e. Jenis-jenis murabahah
Jika kita lihat proses pengadaan produk murabahah, maka dapat terbagi menjadi dua, yakni:
1) Murabahah tanpa pesanan
Murabahah tanpa pesanan ialah murabahah yang sifatnya tidak terikat.22 Maksudnya ialah dalam akad murabahah tanpa pesanan, bank syariah menawarkan produk maupun persediaan produk yang ingin dijual ini terjadi terlepas dari apakah ada pelanggan yang membeli maupun tidak.23
Gambar 2.1 Skema Murabahah Tanpa Pesanan (Sri Nurhayati dan Wasilah, 2014)
22 Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Edisi 3 (Jakarta: Salemba Empat, 2014), 178.
23 Bagya Agung Prabowo, Aspek Hukum Pembiayaan Murabahah pada Perbankan Syariah, (Yogyakarta: UII Press, 2012), 34.
26
Keterangan:
Berdasarkan skema di atas, kedua belah pihak yakni distributor (bank syariah) atau pembeli (nasabah) melaksanakan akad murabahah atau jual beli terhadap suatu produk yang relevan dengan spesifikasi pembeli. Selanjutnya, distributor menyerahkan produk tersebut kepada pembeli. Setelah pembeli mendapat produk tersebut menjadi miliknya, kemudian pembeli melaksanakan pembayaran.
2) Murabahah berdasarkan pesanan (pemesanan pembelian)
Murabahah tipe ini ialah pengadaan produk (bank syariah sebagai pembeli) sebagai objek jual beli, dilaksanakan karena pesanan yang didapat (bank syariah sebagai produsen). Sehingga dalam jenis murabahah berdasarkan pesanan ini perlu adanya pesanan dari nasabah selaku pemesan yang mengusulkan pembiayaan murabahah terlebih dahulu di bank syariah.24
Gambar 2.2 Skema Murabahah dengan Pesanan (Sri Nurhayati dan Wasilah, 2014)
24 Wiroso, Produk Perbankan Syariah, Edisi 1 (Jakarta: LPFE Usakti, 2009), 174.
Keterangan:
a) Melaksanakan akad murabahah
b) Distributor melaksanakan pemesanan serta membeli di distributor/produsen
c) Produk dari distributor d) Produk kepada pembeli
e) Pembeli melaksanakan pembayaran
f. Skema maupun mekanisme proses transaksi murabahah
Menurut Sutan Remy Sjahdeini skema proses transaksi akad murabahah, yakni:25
1) Pembentukan jual beli produk antara bank serta nasabah yang juga berupa pesanan produk nasabah atas produk dari bank.
2) Pembentukan jual beli yang disertai penyelenggaraan pembayaran harga produk oleh bank.
3) Penjualan serta distribusi hak milik produk dari distributor kepada bank.
4) Penjualan produk ditambah mark up/margin serta distribusi hak milik dari bank ke nasabah.
5) Pemindahan produk secara fisik dari distributor ke nasabah.
6) Pembayaran harga produk oleh nasabah kepada bank dengan mencicil maupun sekaligus pada akhir masa pelunasan.
25 Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah: Produk-produk dan Aspek-aspek Hukumnya, Edisi 1 (Jakarta: Kencana, 2014), 194.
28
Gambar 2.3 Skema Bai’ al-Murabahah (Muhammad Syafi’i Antonio, 2001)
Adapun mekanisme akad murabahah, yakni:26
1) Nasabah membuat permintaan kepada bank guna pembelian produk.
2) Bank serta nasabah melaksanakan kesepakatan harga produk, prosedur serta pembayaran.
3) Bank serta nasabah setuju agar bertransaksi dengan menggunakan akad murabahah.
4) Bank membeli produk dari distributor yang relevan dengan spesifikasi yang nasabah inginkan.
5) Bank serta nasabah melaksanakan kontrak jual beli atas produk yang bersangkutan.
6) Distributor menyampaikan produk serta dokumen.
7) Nasabah mendapat produk serta dokumen.
26 Andrianto dan M. Anang Firmansyah, Manajemen Bank Syariah (Implementasi Teori dan Praktek), (Surabaya: Penerbit Qiara Media, 2019), 338.
8) Nasabah melaksanakan pembayaran sejumlah harga perolehan serta margin kepada bank dengan cara mencicil.