MUSIK TRADISIONAL DAN MASYARAKAT
A. Musik Tradisional sebagai Pengalaman Estetis Masyarakat
Keberadaan musik tradisional tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat. Masyarakat sebagai tempat pencipta musik tradisional yang dianggap sebagai subjek berhak secara otoritatif mengkreasikan musik tradisional yang diinginkan. Oleh karena itu memandang pencipta musik tradisional bukan semata-mata sebagai individu melain juga sebagai representasi sosial karena musik yang diciptakannya bukan hanya dipengaruhi oleh pengalaman pencipta sebagai personal tetapi juga dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman sosial yang terjadi pada masyarakat tempat subjek berada. Musik tradisional sebagai representasi suara sosial sehingga ia juga dapat dikategorikan sebagai produk sosial.
Musik tradisional sebagai salah satu bentuk seni pasti mengandung keindahan yang dikenal dengan istilah estetis.
Meskipun musik tradisional bersifat tradisional tetapi karakter keindahan yang menempel padanya tetap berlaku secara universal. Maksudnya keindahan yang dihasilkan
oleh musik tradisional dapat dinikmati oleh siapa pun dan dari lapisan masyarakat mana pun. Dalam konteks ini musik tradisional dapat menjadi medium estetis antarelemen masyarakat baik masyarakat pendukung musik tradisional tersebut maupun masyarakat lainnya.
Meskipun musik tradisional awalnya diciptakan oleh individu akan tetapi pada perkembangannya menjelma milik komunal masyarakat tertentu dan bahkan pencipta musik tradisional tidak lagi lagi dikenali. Oleh karena itu, musik tradisional sebagai sarana penggambaran kebudayaan atau karakter suatu seuatu masyarakat yang bersifat esetetis dengan irama serta nada sebagai mediumnya. Estetika yang direprensentasikan musik tradisional dengan nada dan irama yang sederhana mewakili karakter masyarakat tertentu. Hal itu membuat siapa saja yang mendengarkan musik tradisional dapat menebak identitas masyarakat daerah yang memiliki musik tradisional tersebut. Oleh sebab itu musik tradisional mempunyai hubungan yang erat dengan budaya suatu masyarakat pemiliknya karena pada dasarnya musik tradisional lahir sebagai wahana estetika yang tidak lepas dengan konteks masyarakatnya.
Musik tradisional sebagai pengalaman estetika masyarakat sangat diperlukan guna pelestarian dan pengembanganya. Menurut Suka Hardjana ( 1983; 73), menjelaskan bahwa “di timur para pecipta musik (tradisional) pada umumnya memandang dunia musik (estetika) dalam kaitannya dengan ajaran-ajaran yang berkaitan dengan; etika, moral, agama, kepercayaan dan sebagainya, sehingga terbentuk pengalaman seni lingkungannya akibat adanya tradisi musik tradisional yang berkembang di masyarakat.
Pengalaman tersebut didapatkan adanya interaksi dalam sistem sosial kemasyarakatan yang menggunakan musik tradisional dalam kegiatan agama, adat, upacara pernikahan, bersih desa. Oleh sebab itu musik tradisional yang berkembang tersebut memberikan pengalaman seni, seperti bermain, bernyanyi, berkreasi musik menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar tempat tinggal masyarakat.
Tradisi kesenian di suatu wilayah, tentu akan memberikan pengalaman estetis, baik bagi pelaku seni maupun apresiasi masyarakat asli maupun pendatang, bahkan penonton musik tradisional. Pengalaman dalam pelesatrian dan pengembangan musik tradisional
merupakan suatu pengalaman bagi masyarakat. Musik tradisional sebagai bagian dalam masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam aktivitas kemasyarakatan.
Musik tradisional yang menimbulkan pengalaman estetis bagi masyarakatnya disebabkan; pertama, musik tradisional yang diciptakan sangat berhubungan dengan tradisi dan kebudayaan setempat. Segala sesuatu yang diketahui, dipahami, kemudian dirasakan, dihayati serta direnungkan oleh pelaku seni sebagai hal yang indah, berhubungan dengan pengalaman lingkungan sosial budaya musik tradisional tersebut diciptakan dan berkembang. Oleh sebab itu pengalaman yang didapatkan dari lingkungan tersebut yang berupa nilai, peristiwa yang diekspresikan sebagai karya seni. Kedua, pelaku seni dan penikmat seni khususnya musik tradisional yang menghasilkan bunyi yang berirama selalu mendapat dorongan atau motivasi untuk mencari yang bunyi-bunyi yang indah dari alat-alat yang ada untuk dinikmati. Selanjutnya ketiga, rasa pencipta dan penikmat alat musik tradisional terbentuk dari pengalaman seni. Oleh sebab itu harus ada identitas sebuah musik tradisional sehingga rasa yang tergandung dalam irama musik tradisional tersebut masih dapat lestari.
Contoh nyata musik tradisional sebagai pengalaman estetis masyarakat adalah konteks gamelan Jawa. Rasa batiniah utamanya terkait jiwa kemanusiaan pencipta dan penikmat musik tradisional gamelan Jawa terbentuk oleh pengalaman ketika nglaras gending-gending Jawa dalam rangka untuk menentukan dan memutuskan gending tercipta itu dalam laras slendro ataukah laras pelog.
Mereka secara dominan dipengaruhi pengalaman rasa dalam menciptakan laras terlepas dari unsur notasi juga penting. Berdasarkan rasa tersebut lah yang membuat gending Jawa terasa senantiasa abadi dan mempunyai fleksibilitas sehingga lestari sampai kini serta cenderung masih mendapatkan apresiasi dari masyarakat pendukungnya. Estetika dan harmonisasi yang melekat pada gending yang dihasilkan oleh gamelan Jawa dapat dinikmati siapapun.
Selain itu juga pengalaman rasa puas, bahagia bagi seorang komponis (pencipta pertama), pemain dan penyanyi (pencipta kedua) akan terpatri dan akan terus memainkan musik tradisional tersebut. Realitas bahwa kegiatan kreativitas seni itu merupakan sebuah ungkapan yang bebas dan mandiri. Dunia estetik (etnis) mempunyai sifat yang individual, atau kelompok, karena pengalaman
estetik itu bersifat pribadi, dunia estetik bukan dunia pengetahuan. Selain itu juga nilai-nilai moral dan estetik dinyatakan hanya kepada orang yang mengalami atau berpengalaman terhadap karya seni tersebut sehingga nilai-nilai moral itu bersifat transenden bagi yang terpanggil.
Terpanggil di sini untuk menjadi pencipta seni dan penikmat seni tidak bisa dipaksa dengan kesadaran diri dari dalam sanubari seseorang.
Pada hakikatnya semua manusia membutuhkan berbagai nilai moral seperti kasih dan sayang. Namun nilai tersebut tiadk bisa kita wujudkan dengan kata-kata namun lewat rasa yang hanya yang terlibat dalam sebuah peristiwa tersebut yang merasakan kasih sayang. Begitu juga nilai estetis seperti kemampuan bermain dan atau bernyanyi merupakan wilayah otonom individu, tidak direduksikan sebagai sesuatu yang perlu disetujui oleh setiap orang. Oleh sebab itu seseorang yang terampil dan bagus dalam memainkan alat musik tradisional merupakan nilai dan menjadi miliknya yang berguna dalam kehidupannya sendiri di kemudian hari.
B. Musik Tradisional Sebagai Identitas Masyarakat