Menurut Mazhab Sjafi'i wukuf di Arafah itu sesudah masuk waktunja, jaitu sesudah tergelintjir matahari pada tanggal 9 Zulhidjdjah itu, tidak usah sampai pagi hari, walaupun sebentar sekalipun sudah berhasil. Tetapi meskipun
demi-165
kian biasanja djema'ah-djema'ah hadji itu meninggalkan Ara-fah pada sore atau malam hari, karena hawanja sedikit dingin.
Bahkan banjak jang berangkat pada malam hari, karena tidak ingin terlalu lama wukuf atau berhenti di Muzdalifah, jang harus dilalui sesudah tengah malam.
Bermalam di Muzdalifah ini adalah termasuk wadjib hadji dan berhenti disini sesudah tengah malam walaupun sebentar berarti sudah memenuhi kewadjiban itu. Jang sebaik-baiknja memang bermalam disini sampai terbit fadjar dan sembah-jang Subuh, menurut sebagaimana sembah-jang dikerdjakan oleh Ra-sulullah, supaja paginja berada di Masj'aril Haram, sesuai dengan firman : „Apabila kamu sudah berangkat kembali dari Arafah, maka hendaklah kamu ingat akan Allah tatkala kamu berada di Masj'aril Haram. Ingat dan sebutlah nama Allah itu sebagaimana jang telah diadjarkan kepadamu, mes-kipun kamu sebelumnja termasuk golongan orang-orang jang sesat" (Qur'an II : 198).
Sepandjang djalan disunatkan membatja do'a, talbijah dan takbir.
Di Muzdalifah itu biasanja orang-orang hadji mentjahari batu-batu kerikil sebanjak 49 atau 70 butir, jang berguna besok di Mina untuk melontar Djumrah. Ditjari butir-butir jang kira-kira besarnja sebesar katjang tanah. Di Mina sukar mentjahari batu jang baik. Batu-batu itu ditjutji bersih sebelum diperguna-kan.
Ada suatu tempat jang terletak ditengah djalan antara Masj'aril Haram dan Mina, tempat jang disebut Wadi Mahsar.
Perdjalanan ditempat itu oleh setengah orang dipertjepat sampai melewati Wadi itu.
Kemudian sampailah kita di Mina, sekarang disebut djuga Mina, suatu kota ketjil jang didalamnja terdapat tiga buah Djumrah jang harus dilontari menurut wadjib hadji. Jang ter-penting diantaranja bernama Djumratul Aqabah, terletak di-udjung Mina disebelah kanan djalan ke Mekkah. Djumrah ini dilontari pada pagi tanggal 10 Zulhidjdjah dengan tudjuh buah batu ketjil jang tadi dipungut di Muzdalifah.
Djumratul Aqabah ini terletak melekat pada sebuah din-ding batu jang tinggi dan pada tiap-tiap kali lontaran jang tudjuh itu dimulai dengan utjapan „Bismillahi Allahu Akbar!", jang artinja „Dengan nama Allah, Tuhan Jang Maha Besar!"
Ada orang-orang hadji jang kemudian terus berangkat ke Mekkah dengan pakaian ihram dan mengerdjakan thawaf, thawaf ifadah, namanja. Mereka jang belum mengerdjakan sa'i melakukan sa'i itu dan bertjukur atau bergunting. Ini tentu 186
bergantung kepada matjam hadji jang diniatkan pada waktu masuk ke Mekkah, sebagai jang sudah dibitjarakan.
Kemudian orang-orang hadji ini menanggalkan ihramnja.
Pekerdjaan ini dinamakan tahallul awwal, artinja tidak ter-larang lagi baginja mengerdjakan ter-larangan-ter-larangan jang tidak dibolehkan sewaktu ihram, ketjuali dua perkara, pertama akad nikah, kedua bersetübuh. Sesudah itu mereka kembali lagi ke Mina untuk bermalam disana.
Tetapi sedikit sekali orang jang mempergunakan kesem-patan ini berhubung kesukaran kendaraan dan djalan Mina-Mekkah terlalu penuh sesak dengan pengangkutan. Oleh karena itu tidak ada pula halangannja, djika orang-orang hadji itu mengerdjakan" thawaf dan sa'i-nja sesudah selesai semua penginapannja di Mina pada tanggal 13 Zulhidjdjah.
Kewadjiban di Mina pada hari 11 Zulhidjdjah sesudah Lohor ialah melontar Djum'rah jang tiga buah itu. Dimulai dengan Djumrah U l a atau Djumrah Saghir, kemudian Djumrah Sani atau Djumrah Wustha, dan kesudahannja Djumrah A l -Aqabah jang besar itu. Tiap-tiap Djumrah itu dilontari dengan tudjuh buah batu ketjil, sambil mengutjapkan basmalah dan takdir. Waktunja sesudah Lohor itu sampai malam hari.
Orang-orang jang pulang ke Mekkah pada hari 12 Zulhidj-djah sesudah melempari ketiga Djumrah itu dinamakan „Nafar Awwal" dan dibolehkan, sesuai dengan firman: „Barang siapa jang bersegera dua hari tidaklah ia berdosa, dan barang siapa jang terlambat djuga ia tiada berdosa, jang demikian ini adalah teruntuk bagi orang jang takut, memelihara diri dari pada dosa" (Qur'an II : 203). Tetapi mereka jang ingin bermalam di Mina semalam lagi dan pulang ke Mekkah pada hari 13 Zulhidjdjah sesudah Lohor, sesudah melontari ketiga. Djumrah itu, pekerdjaannja dinamai „Nafar Sani": Masanja bermalam itu dimulai dari tenggelam matahari sampai fadjar. Dan masa melontar Djumrah setiap hari ialah setelah lepas sembahnjag lohor.
Setelah selesai menginap di Mina dan melontar Djumrah-Djumrah pada hari 12 sesudah Lohor atau pada hari 13 sesudah Lohor; maka orang-orang hadji itupun pulanglah ke Mekkah untuk thawaf dan sa'i, djika ibadah ini belum dikerdjakan pada malam 10 Zulhidjdjah tersebut Maka dengan ini selesailah ibadah hadji.
Maka tinggallah lagi jang perlu diterangkan bahwa apabila orang-orang hadji itu hendak meninggalkan kota Mekkah, balk' karena bermaksud pergi ke Madinah atau mau kembali ketanah airnja, mereka harus lebih dahulu mengerdjakan tha-waf jang penghabiÊan atau thatha-waf selamat tinggal, thatha-waf
167
wida' namanja, jang diiringi dengan dua raka'at sembahjang dan do'a-do'a, terutama jang diutjapkan pada bahagian Ka'bah jang dinamakan Multazam.
7. KERINGKASAN HUKUM-HUKUM HADJI MENURUT MAZHAB EMPAT
Dibawah ini diuraikan dengan setjara ringkas pekerdjaan-pekerdjaan sekitar ibadat atau ibadah hadji dan ibadah-ibadah jang berhubungan dengan itu menurut hukumnja sepandjang Mazhab Empat, jaitu Hanafi, Sjafi'i, Maliki dan Hambali.
Untuk dapat mengikuti istilah fikh jang menentukan hukum-hukum itu perlu diterangkan disini sebagai berikut.
Rukun ialah suatu bahagian dari pada ibadah, jang kalau ditinggalkan, ibadah itu rusak sama sekali. Bedanja dengan sjarath, bahwa sjarath itu bukan bahagian dari pada ibadah, tetapi diperlukan supaja ibadah itu sah. Fardhu dalam agama artinja sesuatu perintah jang mesti dilakukan, wadjib namanja, dengan pengertian, barangsiapa jang tidak melakukannja ber-dosa dan jang melakukannja mendapat gandjaran Tuhan atau pahala. Berlainan dengan sunnah atau sunat, jang biasa di-kerdjakan, atau mustafiab, jang diingini dan mandub, jang dipudjikan, ketiga-tiganja, kalau dikerdjakan mendapat pahala, sedang kalau ditinggalkan tidak berdosa. Mubah atau djaiz dapat diartikan dengan tidak masuk hitungan, baik dikerdjakan maupun ditinggalkan tidak berakibat mendapat pahala atau dosa. Kemudian perlu djuga diketahui apa jang dikatakan makruh, jaitu sesuatu pekerdjaan jang kalau mungkin lebih baik ditinggalkan, sebab dengan meninggalkan itu mendapat pahala, kalau terkerdjakan tidak berdosa. Achirnja perlu di-ketahui apa jang dikatakan haram, kadang-kadang disebut mahzur, jaitu pekerdjaan jang dilarang oleh agama, berdosa djikalau dikerdjakan, berpahala kalau ditinggalkan.
Dibawah ini akan disebutkan ibadah hadji dan umrah.
dan lain-lain ibadah jang dikerdjakan berhubungan langsung atau tidak dengan itu, menurut hukum-hukum tersebut
Ajrtaian
atau pe- Hanafi Sjafi'i Maliki Hambali kerdjaan
Hadji Fardhu Fardhu ta- Fardhu faur Fardhu faui fauri) uachi*)
Umrah Sunnah Fardu tara- Sunnak , Fardhu faur muakka- chi muakkadah dah 3)
') Faur artinja segera. Fardhu £aur jaitu suatu kewadjiban ibadat agama jang mesti dilakukan dengan eegera.
J) Taxachi artinja terlambat : Far<lhu tarachi jaitu suatu kewadjiban iang tidak ?erhi dilakukan dengan segera. tetapi boleh diundurkan sampai ada kesempatan.
'*) Sunnah muakkadah artrnfn sunnah jang diperlntahkan. sunnah jang terbaik.
Amalan Hanafi Sjafi'i Maliki Hambali atau pekerdjaan
Ihram oer- Sjarath dan Rukun Rukun Ruknm hadji ja'ni » k u n
njiatnja
Ehram ber- sjarath, ada Rukun Rukun , Rukun ' 'umrah ja'ni jang'
meng-tüatnja anggap ru-kun
Menjatukan Sunnah Sunnah Sunnah, ada Sunnah Ihram de- jong
menga-ngan Tal- takan
wa-biah djiib fhram dari Mikat Wadjib Wadjib Wadjib Wadjib
Mandi buat Ihram Sunnah Sunnah Sunnah Mustahab Memakai wangis- Sunnah Sunnah Makruh Mustahab an buat Ihra-m
Talbiah Sunnah Sunnah Wadjib Sunnah Thawaf Kudum Sunnah Sunnah Wadjib Sunnah Niat Thawaf Sjarath Sjarath 1) Wadjib Sjarath Mulai Thawaf dari Wadjib Sjarath Wadjib Sjarath Hadjar Aswad
Mendjadikan Ka'- Wadjib Sjarath Sjarath Sjarath bah disebelah kiri
waktu thawaf
Berdjalan ketika Wadjib Sjarath Wadjib Sjarath thawaf bagi orang
jang sanggup her-djalan
Sutji dari kedua Wadjib Sjarath Sjarath Sjarath hadas diwaktu /
thawaf
Sutji badan, pa- Sunnah Sjarath Sjarath Sjarath kadan dan tempat
ddwaktu thawaf
Thawaf dibela- Wadjib Sjarath Sjarath Sjarath kang Hidjir
(Ia-mail)
Thawaf didalam Wadjib Sjarath Sjarath Sjarath Mesdjid
Thawaf tudjuh ka- Wadjib Sjarath Sjarath Sjarath li (keliling)
Muwalah (bertu- Sunnah Sunnah Wadjib Sjarath rut-turut) antara
tudjuh kali keli-ling thawaf
ï ) Hanja pada thawaf wida' dan tathatiwu' (sunnah).
169
a t a u ^ l r d j a a n H a n a f i Sja f i'i M a , i k' Hambali Menutup aurat di- Wadjib Sjarath Sjarath Sjarath waktu thawaf
Sembahjang dua Wadjib Sunnah Wadjib Sunnah raka'at untuk tha-
berpenda-waf ada jang pat wadjrb
Thawaf buat Urn- Rukun Rukun Rukun Rukun rah
Sa'i diantara Safa Wadjib Rukun Rukun Rukun dan Marwah
di-waktu hadji atau umrah
Mengerdjakan Sa'i Wadjib Sjarath Wadjib Sjarath sesudah thawaf
Nl » t Sa'i Wadjib Sjarath Sjarath Sjarath Memulai Sa'i de- Wadjib Sjarath Sjarath Sjarath ngan Safa dan
ber-hentinja dengan Marwah
Berdjalan diwaktu Wadjib Sunnah Wadjrb Sjarath Sa'i bagi orang jg.
kuasa
Mengerdjakan Sa'i Wadjib Sjarath Sjarath Sjarath mundar mandir
tu-djuh kali
Muwalah (bertu- Sunnah Sunnah Wadjib Sjarath fut-turut) antara
tudjuh kali pada waktu Sa'i
Berturut-turut an- Sunnah Sunnah Wadjib Sunnah tara thawaf dan
Sa'i
Bertjukur atau Wadjrb Wadjib Wadjib Wadjib gunting rambut
dalam ber'umrah
Bermalam di Mina Wadjib Sunnah Wadjib Mustahab malam Arafah
Wukuf dan ber- Rukun Rukun Rukun Rukun henti di Arafah
Waktu wukuf di Dan waktu turun matahari sampai terbttnja pada Arafah hari Qurban.
Waktu wukuf sam- Wadjib Wadjib ada Rukun Wadjrb pai sudah Maghrib jang
berka-dimulai dari siang ta Sunnah
Keluar dari Ara- Wadjib Sunnah Wadjib Sunnah fah dengan Imam
atau wakllnja
Amalan Hanafi Sjafi'i Maliki Hambali atau pekerdjaan
Djama' antara Wadjrb Sunnah Sunnah Sunnah Bembahjang Magh.
rib dan Isja di Muzdalifah
Bermalam di Wadjib Wadjib Wadjib Wadjib Muzdalifah
Berhenti di Muz- Wadjib Wadjib Sunnah Wadjib
dalifah „Al-Masj- atau 'aril Haram" pada Mustahab waktunja (dari
terbit fadjar sam-pai timbul mata-hari)
Melontar Djumra- Wadjib Wadjib Wadjib Wadjib tul Aqabah pada
hari Qurban
Bertjukur atau Wadjib Rukun Wadjib Wadjib gunting rambut
diwaktu hadji
Tertib antara pe- Wadjib Sunnah Sunnah Sunnah lontaran Djumrah,
pemotongan Qur-ban dan Gunting rambut
Terdjadi penggun- Wadjib Sunnah Sunnah Sunnah tingan rambut di
Haram dan pada hari-hari Qurban
Thawat Al-If adhah Kebanjak- Rukun Rukun Rukun annja rukun
Berlaku thawaf ini Wadjib Rukun Wadjib di- Sunnah di pada hari-hari bulan Zul- Hari Raya
Qurban hldjdjah Mengundurkan Sunnah Sunnah Wadjib Sunnah
Thawaf Al-Ifa-dhah dari
pelon-taran Djumrah _ Melontar Djumrah Wadjib Wadjib Wadjib Wadjib
dihari-hari Tasjrik
Tidak terlambat- Sunnah Sunnah Wadjib Sunnah nja pelontaran
sampai malam
Bermalam di Mina Sunnah Wadjib Wadjib Wadjib pada hari-hari
Tasjrik i)
Thawaf Al-Wida' Wadjib Wadjib Mustahab Wadjib
*) Yaum Tasjrik faltu hari-hari tanggal 11-13 Zulhiddjah. Tanggal 10 Zul-hiddjah bernama Yaum Adhahi atau Yaum Nahr atau hari Qurban.
171
8. P E R A T U R A N - P B R A T U R A N HADJI