• Tidak ada hasil yang ditemukan

bŒ)ÛOÁFZ‰

B. Nafkah Madhiyah Ditinjau dari Keadilan Gender

Agama mewajibkan suami menafkahi isterinya, oleh karena dengan adanya ikatan yang sah itu seseorang menjadi terikat semata-mata kepada suaminya, dan tertahan sebagai miliknya, karena ia berhak menikmatinya, secara terus-menerus. Isteri wajib taat kepada suami, tinggal di rumahnya, mengatur rumah tangganya, memelihara dan mendidik anak-anaknya. Sebaliknya suami, ia berkewajiban memenuhi kebutuhan isteri selama ikatan suami isteri masih berjalan, dan isteri tidak durhaka atau karena ada hal-hal yang menghalangi penerimaan nafkah.142

Pemberian nafkah oleh suami kepada isteri adalah perkara yang wajib.Apabila suami yang memiliki kewajiban menafkahi ini selama masa pernikahan tidak memberikan nafkah sebagaimana mestinya kepada isteri, maka nafkah tersebut menjadi hutang yang harus dipertanggungjawabkan. Hutang dalam hal ini sama dengan hutang-piutang lainnya yang sah, yang tidak akan gugur dari tanggung jawabnya, kecuali kalau dilunasi atau dibebaskan. Maka,

142Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h. 75

apabila terjadi perceraian, maka suami dianggap berhutang dan harus melunasi apabila selama pernikahan terbukti tidak pernah memberikan nafkah kepada isteri.

Dalam Islam, mayoritas ulama dari kalangan Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, nafkah tidak menjadi gugur disebabkan suami dalam keadaan tidak mampu perekonomiannya. Selama belum mampu memberi nafkah, maka suami dianggap berhutang kepada isterinya yang harus dibayar di kemudian hari apabila ia mampu. Dalam hal suami enggan memberikan nafkah kepada isterinya padahal ia berada dalam keadaan lapang dari segi ekonomi, maka menurut kalangan Hanafiyah, hakim di pengadilan berhak menyita harta suami secara paksa dan harganya diserahkan untuk pembiayaan isteri.143

Berdasarkan pendapat beberapa ulama di atas, maka jelas bahwa dalam Islam, nafkah madhiyah adalah nafkah yang wajib dipenuhi oleh seorang suami kepada isterinya karena dianggap sama dengan hutang-piutang pada umumnya.

Nafkah ini wajib diberikan sekalipun suami dan isteri telah bercerai, sebab isteri berhak menuntut nafkah madhiyah yang memang menjadi haknya ataupun berhak pula untuk membebaskannya.

Namun, bagi umat Islam di Indonesia Hukum yang berlaku bukan hanya hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur`an dan hadis yang telah diformulasikan oleh para ulama fiqh dalam kitab-kitab fiqh akan tetapi juga terikat dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang merupakan hasil loka karya ulama Indonesia tanggal 2 sampai dengan 5 Februari 1988 dan disebarluaskan dengan Instruksi Presiden nomor 1 Tahun 1991. Di samping menjadi panduan bagi masyarakat

143Satria Efendi, M. Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, (Jakarta:

Kencana, 2010), h. 161

umumnya, Kompilasi Hukum Islam menjadi salah satu hukum materil bagi hakim Peradilan Agama dalam memutus perkara dibidang perkawinan, kewarisan dan perwakafan.

Mengenai ketentuan nafkah bagi istri, ada satu aturan dalam KHI yang mengatur mengenai isteri yang kehilangan haknya untuk mendapatkan nafkah dari bekas suami.Kompilasi Hukum Islam (KHI) mengaturnya dalam pasal 149 huruf b yang berbunyi:

Bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib:

b. Memberikan nafkah, maskan dan kiswah kepada bekas istri selama dalam ‘iddah, kecuali bekas istri telah dijatuhi talak ba’in atau nusyūz dan dalam keadaan tidak hamil.144

Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam pasal ini, maka dapat dipahami bahwa KHI pada dasarnya membebankan kewajiban pada suami untuk memenuhi semua persoalan terkait nafkah hanya kepada bekas istri yang tidak nusyuz dan tidak dijatuhi talak ba’in. Artinya, secara otomatis jika istri menggugat cerai kepada suami, maka suami tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi nafkah, maskan, dan kiswah jika terjadi perceraian karena istri yang menggugat cerai akan dijatuhi talak ba’in.

Aturan dalam pasal 149 huruf b Kompilasi Hukum Islam (KHI) ini, jika ditinjau dari sudut pandang keadilan gender, maka menurut penulis memang seolah terlihat tidak adil atau berat sebelah dimana nafkah, termasuk nafkah

144Pasal 149 huruf b Kompilasi Hukum Islam (KHI)

madhiyahhanya akan diberikan kepada mantan istri jika ia ditalak raj’i dalam artian suami yang menjatuhkan talak kepada istri, sedangkan dalam keadaan istri yang menggugat cerai suami dan diputus pengadilan dengan status talak ba’in, maka istri tidak berhak mendapat nafkahnya yang menurut penulis adalah haknya.

Hal ini sekilas terlihat kurang adil sebab jika suami yang menjatuhkan talak maka baru istri mendapat nafkah sedangkan jika istri yang menggugat cerai maka haknya mendapat nafkah menjadi hilang.

Ketidakseimbangan sangat terlihat dalam aturan ini mengingat ketentuan mengenai nafkah ini hanya diatur pada perceraian yang disebabkan oleh talak (perceraian yang diajukan oleh suami), namun tidak ada aturan terkait nafkah isteri pada perceraian yang diakibatkan oleh gugatan cerai dari isteri. Padahal dalam kenyataannya, sering kali isteri yang mengajukan gugatan cerai juga mengajukan gugatan karena tidak terpenuhinya nafkah dari suami, dalam artian isteri hidup dalam keadaan menderita karena suami tidak menafkahi.

Dalam persepektif kesetaraan gender, seharusnya perempuan dan laki-laki menikmati status yang setara dan memiliki kondisi yang sama untuk mewujudkan secara penuh hak-hak asasi dan potensinya di segala bidang kehidupan.

Kesetaraan gender memberikan kesempatan baik pada perempuan maupun laki-laki untuk secara setara/sama/sebanding menikmati hak-haknya sebagai manusia, secara sosial mempunyai benda-benda, kesempatan dan sumber daya.145 Dalam hal ini, jika dikaitkan dengan ketentuan mengenai nafkah bagi bekas istri yang sebagaimana yang tercantum dalam pasal 149 huruf b Kompilasi Hukum Islam

145Herien Puspitawati, Konsep, Teori dan Analisis Gender, (Bogor: IPB Press, 2012), hlm.5

(KHI) maka terlihat bahwa ada ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan dimana saat perempuan yang mengajukan gugatan cerai, maka ia kehilangan haknya untuk mendapatkan nafkah, padahal secara jelas nafkah termasuk nafkah madhiyah merupakan hak bagi perempuan yang wajib dibayarkan oleh suami.

Jika dilihat secara eksplisit, maka memang terdapat kesan bahwa Kompilasi Hukum Islam (KHI) menetapkan aturan yang berat sebelah, apalagi mengingat terkadang seorang perempuan atau istri dalam rumah tangganya sering menjadi sosok yang double burden (melakukan peran ganda).Dikotomi peran publik dan peran domestik terhadap laki-laki dan perempuan membuat perempuan mengemban beban ganda/double burden.Peran ganda adalah adanya dua beban pekerjaan bahkan lebih yang harus diemban oleh perempuan. Perempuan sering kali tidak ada pilihan lain kecuali menjalani peran ganda tersebut demi kelangsungan hidupnya.146 Sehingga, menurut penulis saat ia bercerai dari suaminya, sudah seharusnya ia mendapatkan nafkah yang selama ini tidak dipenuhi oleh suaminya dalam masa pernikahan.

Ketentuan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam Pasal 149 huruf b yang menyatakan bahwa nafkah hanya diberikan kepada mantan istri tidak tertalak ba’in atau nusyuz, menurut penulis secara eksplisit memang memberi kesan bahwa ada ketidakadilan atau ketidaksetaraan hak yang diterima antara laki-laki dan perempuan yang dalam hal ini antara suami dan istri. Namun, jika dilihat secara lebih mendalam, maka akan dapat dipahami mengapa KHI menetapkan aturan yang sedemikian rupa mengenai nafkah bagi istri yang tertalak ba’in ini.

146Nur M. Kasim, “Perspektif Islam Tentang Gender”, Jurnal Inovasi, Vol 9, No. 2, Juni 2012, hlm. 4

Salah satu aspek yang dapat dilihat dari ketentuan KHI ini adalah aspek mashlahah bagi perempuan itu sendiri. Dari aspek mashlahah ini, maka akan dapat dimengerti bahwa sebenarnya KHI menetapkan aturan yang demikian atas dasar pertimbangan mashlahah bagi pihak perempuan.

Pasal 149 huruf b Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada dasarnya mengatur bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib memberikan nafkah, maskan dan kiswah kepada bekas istri kecuali bekas istri telah dijatuhi talak ba’in atau nusyūz dan dalam keadaan tidak hamil. Jika dilihat sekilas, memang aturan ini terkesan diskriminatif dalam memposisikan perempuan selaku pihak penggugat. Hanya saja, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, keadilan yang dimaksud tidak hanya dapat dilihat secara kasat mata saja melainkan harus dilihat apa sebenarnya tujuan dari penetapan aturan yang demikian. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, maka dapat dipahami bahwa penetapan aturan yang demikian di dalam KHI semata-mata demi mempertimbangkan mashlahah bagi kedua pihak.

Aturan dalam Pasal 149 huruf b KHI ini juga perlu dianalisa dari sudut pandang berbagai teori keadilan gender yang beragam, sehingga dapat diketahui dan dipahami teori manakah yang identik dan sejalan dengan semangat dibentuknya aturan dalam Pasal 149 huruf b ini. Terdapat beberapa teori keadilan gender yang dikenal dalam kajian gender seperti teori feminis liberal, teori marxis dan lain-lain. Berikut analisa penulis terhadap pasal 149 huruf b KHI dari sudut pandang beberapa teori keadilan gender:

1. Ketentuan Nafkah pada Pasal 149 huruf b KHI dalam sudut pandang teori struktural-fungsional

Teori ini merupakan teori sosiologi yang diterapkan dalam melihat institusi keluarga.Teori ini berangkat dari asumsi bahwa suatu masyarakat terdiri atas beberapa bagian yang saling mempengaruhi.Teori ini mencari unsur-unsur mendasar yang berpengaruh di dalam suatu masyarakat, mengidentifikasi fungsi setiap unsur, dan menerangkan bagaimana fungsi unsur-unsur tersebut dalam masyarakat.147 Teori struktural-fungsional mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Keragaman ini merupakan sumber utama dari adanya struktur masyarakat dan menentukan keragaman fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem. Terkait dengan peran gender, peran perempuan lebih terbatas di sekitar rumah dalam urusan reproduksi, seperti mengandung, memelihara, dan menyusui anak. Pembagian kerja seperti ini telah berfungsi dengan baik dan berhasil menciptakan kelangsungan masyarakat yang stabil148. Dalam masyarakat ini stratifikasi peran gender sangat ditentukan oleh sex (jenis kelamin).

Aturan dalam Pasal 149 huruf b Kompilasi Hukum Islam (KHI), jika dianalisa dari sudut pandang teori struktural-fungsional ini, maka menurut penulis pasal 149 huruf b ini tidak sejalan dengan konsep keadilan yang dimaksud dalam teori ini. Hal ini karena, menurut teori struktural-fungsional peran gender sangat ditentukan oleh sex (jenis kelamin) dimana peran perempuan lebih terbatas di sekitar rumah dalam urusan reproduksi, seperti mengandung, memelihara, dan

147Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, ..., hlm. 62

148Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, ..., hlm.53

menyusui anak.Sedangkan dalam pasal 149 huruf b, para istri yang mengajukan gugatan cerai dan dijatuhi talak ba’in ditetapkan tidak berhak untuk mendapatkan nafkah dari mantan suaminya. Hal ini salah satunya karena pasal 149 huruf b menganggap bahwa para mantan istri yang dijatuhi talak ba’in dapat secara mandiri melanjutkan hidupnya pasca mengajukan gugatan dan resmi bercerai dari mantan suaminya, sedangkan suaminya terkadang dalam keadaan sulit dari segi ekonomi, sehingga tidak membayarkan nafkah madhiyah.

Jika menurut teori struktural-fungsional peran wanita hanya terbatas pada soal reproduksi saja, maka tentu hal ini tidak sejalan dengan pasal 149 huruf b KHI yang memandang bahwa perempuan memiliki peran dan hak lebih dari itu, dimana perempuan juga memiliki hak untuk bekerja mencari penghidupan meskipun dengan syarat tetap tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan.

Menurut pasal 149 huruf b KHI, perempuan memiliki hak untuk lepas dari segala macam diskriminasi dan penindasan dari kaum laki-laki, perempuan berhak membangun karir meskipun tetap harus memperhatikan keluarga.

Para penganutnya beranggapan, teori struktural-fungsional ini tetap relevan diterapkan dalam masyarakat modern. Namun, menurut penulis teori struktural-fungsional ini kurang relevan dengan keadaan masa kini, dimana perempuan pada dasarnya memiliki hak dan dapat berperan ganda selain sebagai pengurus rumah tangga tetapi juga dapat membangun karir dan mandiri secara ekonomi tanpa harus bergantung pada pihak laki-laki saja. Jadi, dapat dipahami bahwa teori struktural-fungsional ini tidak sejalan dengan cita-cita yang terkandung dalam Pasal 149 huruf b KHI.

2. Ketentuan Nafkah pada Pasal 149 huruf b KHI dalam sudut pandang teori Feminisme Liberal

Adapun pokok pikiran dari teori ini adalah setiap individu, laki-laki maupun perempuan memiliki hak-hak yang sama dan mestinya tidak ada tindakan penindasan antara yang satu dengan yang lain. Kapasitas pemikiran rasional laki-laki setara dengan perempuan sehingga mempunyai kesempatan yang sama dalam membuat keputusan dan menentukan pilihan-pilihan terbaiknya. Hanya saja, aliran ini masih memandang perlu adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan terutama dalam hal reproduksi. Kelompok ini juga membenarkan adanya kerja sama antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dikehendaki agar perempuan diintegrasikan dalam semua peran baik peran sosial, ekonomi maupun politik.149

Pasal 149 huruf b Kompilasi Hukum Islam (KHI), jika dianalisa dari sudut pandang teori feminisme liberal ini, maka menurut penulis teori inilah yang paling sejalan dengan cita-cita yang terkandung dalam pasal 149 huruf b KHI dimana menurut teori ini perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang setara serta mempunyai kesempatan yang sama dalam membuat keputusan dan menentukan pilihan-pilihan terbaiknya.

Dalam pasal 149 huruf b KHI, ditentukan bahwa bagi para istri yang mengajukan gugatan cerai dan diputus dengan talak ba’in tidak berhak mendapat nafkah.Aturan ini sangat sejalan dengan teori feminisme liberal dalam keadaan dimana istri yang mengajukan gugatan cerai secara ekonomi sebenarnya mampu

149Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, ..., hlm. 57

untuk hidup mandiri dan merasa tidak tahan untuk berlama-lama tinggal bersama mantan suami. Dengan aturan ini, maka istri yang menggugat cerai dapat secara bebas menentukan pilihan hidupnya pasca bercerai dan tidak akan lagi merasa tersiksa untuk terus berlama-lama bersama suaminya. Hal ini sejalan dengan konsep feminisme liberal dimana teori ini memandang peran laki-laki dan perempuan adalah setara baik dalam hal ekonomi, politik maupun aspek lainnya.Sehingga, menurut teori ini dan menurut pasal 149 huruf b KHI, tidak tertutup kemungkinan bagi perempuan untuk mandiri secara finansial dan membangun karir demi kehidupan yang mandiri tanpa harus mengharapkan nafkah dari mantan suami.

3. Pasal 149 huruf b KHI dalam pandangan teori feminisme radikal

Teori ini berpendapat bahwa perempuan harus melakukan kontrol radikal terhadap tubuh dan kehidupan mereka. Kelompok ini tidak hanya menuntut persamaan hak laki-laki dan perempuan tetapi juga menuntut persamaan seks, dalam arti bahwa kepuasan seksual bisa diperoleh dari sesama perempuan.150 Jika menganalisa pasal 149 huruf b KHI dari sudut pandang teori ini, maka dapat dipahami secara jelas bahwa teori ini tidak sejalan dengan pasal 149 huruf b KHI dan bahkan terkesan sangat ekstrem dan bertolak belakang dengan KHI yang bersumber dari ajaran hukum Islam.

Pasal 149 huruf b KHI memang mengakui adanya persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, sehingga aturan ini menetapkan bahwa istri dapat kehilangan hak nafkahnya jika dijatuhi talak ba’in namun aturan ini menurut

150Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, ..., hlm. 57

penulis dibuat guna memberi kesempatan bagi perempuan untuk bebas melanjutkan kehidupannya pasca menggugat cerai.Hanya saja, meskipun hak dan kewajiban yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan pada dasarnya setara, namun dalam hal sex (jenis kelamin) tentu ada perbedaan antara keduanya.Merupakan hal yang mustahil untuk menyamakan keduanya sebab secara kodrat memang keduanya berbeda, apalagi jika sampai menghalalkan hubungan sesama jenis yang tentu sangat bertentangan dengan aturan hukum Islam.Maka dari itu, teori feminisme radikal ini tidak sejalan dengan konsep keadilan dalam pasal 149 huruf b KHI sebab bertentangan dengan kodrat dan menyalahi aturan hukum Islam.

4. Pasal 149 huruf b KHI dalam sudut pandang teori feminisme Marxis

Teori ini berupaya untuk menghilangkan struktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan antara kedua jenis kelamin lebih disebabkan oleh faktor budaya alam. Mereka menganggap ketimpangan gender di dalam masyarakat adalah akibat penerapan sistem yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa upah bagi perempuan dalam rumah, istri mempunyai ketergantungan lebih tinggi pada suami dari pada sebaliknya. Perempuan senantiasa mencemaskan keadaan ekonomi, karena mereka memberikan dukungan penuh pada suaminya.Para suami digambarkan sebagai kaum borjuis dan istri sebagai proletor yang tertindas.151

Jika menganalisa pasal 149 huruf b KHI yang memandang perempuan memiliki hak untuk hidup mandiri tanpa ada diskriminasi dan ketertindasan dari

151Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, ..., hlm. 57

kaum laki-laki, maka jika dilihat dari sudut pandang teori ini sebenarnya keduanya sejalan dimana teori ini berusaha menghilangkan struktur kelas berdasarkan jenis kelamin dalam artian laki-laki dan perempuan pada dasarnya berada pada strata yang sama dalam struktur sosial. Hanya saja, teori ini seolah berusaha menyamakan segala hal antara laki-laki dan perempuan yang tentunya dalam Islam tidak semua hal dapat disamakan antara laki-laki dengan perempuan.

Hal ini tampak pada pemikiran dalam teori ini bahwa ketimpangan gender di dalam masyarakat yang dialami perempuan adalah akibat penerapan sistem yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa upah bagi perempuan dalam rumah.

Padahal, dalam Islam pekerjaan rumah tangga secara kodrat memang sudah menjadi tugas bagi perempuan meskipun sebenarnya pihak laki-laki juga sudah seharusnya membantu dan saling bekerja sama.

Menurut penulis, idealnya dalam rumah tangga baik istri maupun suami saling bekerja sama dalam menjalankan roda kehidupan berumah tangga sehingga tidak tertutup kemungkinan bagi suami untuk membantu istri untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang memang sebenarnya menjadi kewajiban istri. Sebaliknya, tidak tertutup kemungkinan pula bagi istri untuk membantu suami dalam hal finansial meskipun sebenarnya kewajiban tersebut adalah kewajiban suami. Penghilangan sama sekali kewajiban-kewajiban kodrati yang melekat pada perempuan, menurut penulis akan mengakibatkan kekacauan dalam rumah tangga. Sehingga menurut penulis teori feminisme Marxis ini tidak sejalan dengan konsep keadilan yang dimaksud dalam pasal 149 huruf b KHI.

5. Pasal 149 huruf b KHI dalam sudut pandang teori feminisme sosial

Teori feminisme sosial menganggap bahwa perempuan terkebelakang karena salah mereka sendiri, mereka tidak mampu bersaing bersama laki-laki.Asumsi dasar ini mendasari gerakannya menuntut kebebasan dan equalitas yang berakar pada rasionalitas. Oleh karena itu dasar perjuangan mereka menuntut kesempatan dan hak bagi setiap individu termasuk perempuan karena perempuan termasuk makhluk rasional juga.152

Jika dikaitkan dengan pasal 149 huruf b KHI, maka pada dasarnya apa yang diinginkan oleh teori feminisme sosial dan apa yang diinginkan dari dibuatnya aturan dalam pasal 149 huruf b KHI adalah sama yakni sama-sama menginginkan perempuan untuk memiliki kesempatan, kesempatan dan equalitas yang sama dalam struktur sosial termasuk masalah ekonomi dan kemandirian hidup serta kebebasan dalam menentukan keputusan. Maka, pada dasarnya teori ini memiliki kesamaan dengan konsep keadilan yang dimaksud dalam pasal 149 huruf b KHI yang memandang bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal kebebasan menentukan keputusan, kemandirian ekonomi dan lain-lain. Hanya saja bedanya adalah, dalam pasal 149 huruf b KHI perempuan memiliki kesetaraan hak dengan laki-laki tanpa mengkesampingkan kodratnya sebagai seorang perempuan.

6. Pasal 149 huruf b KHI dalam pandangan teori ekofeminisme

Teori ekofeminisme muncul karena ketidakpuasan akan arah perkembangan ekologi dunia yang semakin bobrok. Menurut teori ini, apa yang terjadi setelah para perempuan masuk ke dunia maskulin yang tadinya didominasi

152Hamidah, “Gerakan Tahrirul Mar’ah dan Feminisme (Studi Terhadap Kesetaraan Gender dalam Islam”, ..., hlm. 4

oleh laki-laki adalah tidak lagi menonjolkan kualitas femininnya, tetapi justru menjadi male clone (tiruan laki-laki) dan masuk dalam perangkap sistem maskulin yang hierarkis. Masuknya perempuan ke dunia maskulin (dunia publik umumnya) telah menyebabkan peradaban modern semakin dominan diwarnai oleh kualitas maskulin.Akibatnya yang terlihat adalah kompetisi, self-centered, dominasi, dan eksploitasi.Contoh nyata dari memudarnya kualitas feminin (cinta, pengasuhan, dan pemeliharaan) dalam masyarakat adalah semakin rusaknya alam, meningkatnya kriminalitas, menurunnya solidaritas sosial, dan semakin banyaknya perempuan yang menelantarkan anak-anaknya.153 Menurut teori ini, dunia semakin rusak dengan semakin berperannya perempuan dalam bidang-bidang yang selama ini ditekuni oleh laki-laki.

Konsep keadilan yang dimaksud dalam pasal 149 huruf b KHI dimana dalam pandangan aturan ini perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki dalam berbagai bidang, jika dianalisa dari sudut pandang teori ekofeminisme, maka keduanya terlihat bertentangan dimana teori ekofeminisme memandang bahwa terjadinya ketidakteraturan di dunia ini karena telah masuknya perempuan dalam berbagai bidang yang biasanya ditekuni oleh laki-laki.

Menurut penulis, keadilan yang dimaksud pasal 149 huruf b KHI yang berpandangan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang setara dalam berbagai bidang kehidupan termasuk ekonomi adalah benar, dan tidak lah benar jika memandang kekacauan yang terjadi di dunia ini karena banyaknya perempuan yang mulai bergelut dibidang-bidang yang biasa digeluti oleh kaum

153 Soenarjati Djayanegara, Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2003), hlm. 53

Dokumen terkait