• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BENTUK-BENTUK NAMA USAHA DAGANG MAKANAN DAN

2.2 Nama Usaha Dagang Makanan dan Minuman Berunsur Pusat

Warung merupakan kata benda. Hal ini dikarenakan referen kata itu adalah benda atau bangunan. Dalam KBBI (2005: 1269), dijelaskan bahwa warung berarti tempat menjual makanan, minuman, kelontong, dsb. Adapun yang dimaksud nama depan di sini

unsur pusat. Perhatikan data pada nomor (1) sampai dengan (8) di bawah ini: a. warung + moto

(1) Warung ”Miroso” b. warung + menu + moto

(2) Warung Sambel ”Rasakan dasyatnya sambel” c. warung + menu + daerah asal

(3) Warung Soto Jawa Timur (4) Warung Soto Mataram

d. warung + menu + daerah asal + nama penjualnya (5) Warung Bakmi Djowo ”Pak Karjo”

e. warung + nama penjualnya (6) Warung Pak Leman (7) Warung Cak Midun

f. warung + nama penjualnya + daerah asal (8) Warung Samun Madiun

Dari data (1) sampai dengan (8) di atas, kata warung digunakan sebagai nama depan atau unsur pusat. Pada data (1), kata warung digabung dengan moto, yakni miroso yang berasal dari bahasa Jawa. Untuk lebih jelas dapat disimak pada BAB III. Pada data (2) nama dibentuk dengan penggabungan kata warung, plus salah sebuah menu, yakni sambel, dan moto yakni ”rasakan dasyatnya sambel.”

Pada data (3) dan (4), nama dibentuk dengan penggabungan kata warung, plus menu, dan plus daerah asal. Begitulah dibentuknya nama Warung Soto Jawa Timur dan Warung Soto Mataram. Data (5), yakni Warung Bakmi Djowo ”Pak Karjo” dibentuk dengan penggabungan kata warung, plus menu, plus daerah asal, dan plus nama penjualnya. Pada data (6) dan (7) kata warung digabungkan dengan nama penjualnya

19

yakni, Pak Leman pada data (6), dan Cak Midun pada data (7). Yang terakhir, yakni data (8), kata warung digabungkan dengan nama penjualnya dan daerah asal sehingga menjadi Warung Samun Madiun.

Di samping enam bentukan nama di atas, diperoleh pula penggunaan kata warung dalam nama usaha dagang makanan dan minuman di Jalan Selokan Mataram – yang tidak seperti enam bentukan data di atas. Kata warung pada tiga nama berikut ini digabungkan dengan kata atau frasa yang tidak memiliki relevansi terhadap aspek dagang. Lebih jelasnya, tidak berelevansi dengan menu yang ditawarkan, nama pemiliknya, atau daerah asal: baik pemilik, maupun menunya. Nama-nama ini dibentuk oleh daya kreativitas pemilik dengan menarik aspek lain seperti penonjolan pelayanan dan nuansa tempat usaha dagang. dan Perhatikan data (9) sampai dengan (11) di bawah ini:

(9) Warung Soto Ayam Kampung UGD (10) Warung Gaul ”ADJ”

(11) Warung Pendekar

Pada data (9), kata warung digabungkan dengan menu, yakni soto ayam kampung. Masalahnya, setelah warung + soto ayam kampung digabung pula dengan UGD yang merupakan singkatan. Secara kontekstual UGD kerap digunakan dalam dunia kesehatan, yakni penamaan salah sebuah sub-bagian pada rumah sakit. Yang merupakan kependekan dari Unit Gawat Darurat. Mengenai hal ini, pemilik bertujuan menonjolkan aspek pelayanan agar setara dengan unit gawat darurat seperti di rumah sakit. Cepat dalam menyajikan pesanan agar rasa lapar pelanggan segera sembuh.

Kata warung pada data (10) digabung dengan kata gaul dan ADJ yang merupakan kependekan dari Aduh DJ. Gaul, merupakan istilah anak muda posmodernis yang maknanya ’peka zaman.’ Sementara Aduh DJ merupakan salah sebuah judul lagu disko

posmodernisme dan cenderung berkiblat pada gaya hidup barat yang banyak dianut anak muda masa kini.

Warung pada data (11) digabung dengan kata pendekar yang merupakan istilah jagoan atau manusia hebat pada masa kerajaan. Nama pada data ini sama sekali tidak mempunyai relevansi dengan pelbagai aspek, baik menu, penjualnya, daerah asal, ataupun moto yang menegaskan usaha dagang makanan dan minuman. Meskipun demikian, Warung Pendekar menjunjung sikap pemiliknya yang berjiwa mirip pendekar. Cekatan dalam pergulatan usaha dagang yang persaingannya sangat ketat.

Kedai termasuk kata benda. Dalam KBBI (2005: 524), dijelaskan bahwa ”kedai berarti bangunan tempat berjualan (makanan dsb).” Pada data (12) sampai dengan (16) berikut kata kedai digunakan sebagai unsur pusat.

(12) Kedai Putri (13) Kedai Losari (14) Kedai Serba Ceker (15) Kedai Jamoer

(16) Kedai Kopi Espresso Bar

Pada nomor (12), kata kedai sebagai unsur pusat digabungkan dengan putri. Seperti data (11), untuk mencari relevansi nama Kedai Putri terhadap aspek menu yang ditawarkan agaknya terlalu mustahil. Tidak mungkin kata putri merupakan salah sebuah menu yang ditawarkan. Kata putri ialah nuansa kedai yang hendak dicitrakan pemiliknya sehingga dapat menarik perhatian pelanggan yang bergender wanita. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya pelanggan bergender pria. Pada dasarnya, tidak ada diskriminasi gender di kedai itu.

21

Pada data (13) sampai dengan (16), kata kedai digabungkan dengan kata atau frasa yang memiliki relevansi dengan hal-hal tertentu. Dengan menyimak sekilas pun, sudah dapat diketahui. Misalnya, Kedai Losari pada nomor (13) yang merupakan penggabungan kedai dengan daerah asal yakni Losari nama suatu daerah. Begitu pula dengan Kedai Serba Ceker pada data (14), Kedai Jamoer pada data (15), dan Kedai Kopi Ekspresso Bar pada data (17), secara berurutan frasa serba ceker, kata jamoer, dan frasa kopi ekspresso bar, mengacu pada menu yang ditawarkan.

Selanjutnya, diperoleh pula nama usaha dagang makanan dan minuman dengan kata lesehan sebagai unsur pusat. Lesehan berasal dari kata leseh bersinonimi dengan leser yang bermakna ’ditarik atau dieret.’ Ngeleseh bermakna ’dieret atau ditarik ke tanah,’ sedangkan lesehan bermakna ’bertarik atau bereret ke tanah’ (Bausastra Jawa – Indonesia Jilid I a-ny, 1957: 254). Maksud dari kata lesehan ialah tempat usaha dagang makanan dan minuman dengan tanpa menggunakan kursi atau meja sebagai tempat untuk makan. Biasanya, lesehan menggunakan tikar dan pelanggan duduk bersila di atasnya. Perhatikan data (17) sampai (19) di bawah ini:

(17) Lesehan Makmur (18) Lesehan Cak Wawan (19) Lesehan Selokan

Tiga nama di atas berbentuk frasa, dibentuk dengan kata lesehan sebagai unsur pusat. Pada data (17) lesehan digabungkan dengan kata makmur, sehingga menjadi Lesehan Makmur. Pada data (18) lesehan digabung dengan nama penjualnya yakni Cak Wawan sehingga menjadi Lesehan Cak Wawan. Begitu pula lesehan pada data (19), digabung dengan kata selokan sehingga menjadi Lesehan Selokan. Bila ditinjau segi

2.3 Nama Usaha Dagang Makanan dan Minuman Berunsur Pusat rumah makan, warung makan,pondok makan, dan warung lesehan

Rumah makan, termasuk frasa nominal. Dalam penamaan, unsur ini layak digunakan sebagai unsur pusat yang kemudian mengalami perluasan. Misalnya bentuk Rumah Makan Raso Minang, unsur pusatnya adalah Rumah Makan. Dengan begitu, Raso Minang merupakan perluasannya. Dari data yang terkumpul, hanya diperoleh dua data saja seperti pada data (20) dan (21). Kedua data ini, rumah makan digunakan sebagai unsur pusat, atau nama depan suatu usaha dagang makanan dan minuman yang bernuansa Minang. Dalam artian, menjual makanan khas Padang (Minangkabau).

Raso Minang pada data (20) mencerminkan menu yang ditawarkan adalah masakan padang atau etnis Minangkabau. Graha Minang pada data (21) yang bermakna ’rumah Minang’ tentunya menjual masakan khas Minangkabau atau kerap disebut nasi padang. Kata graha dalam Bausastra Djawa – Indonesia (1957: 131) bermakna ’istri.’ Sementara itu, dalam Kamus Jawa-Indonesia Indonesia-Jawa (2006: 99) graha bermakana ’rumah.’ Pastinya, kata graha pada data (21) dimaksudkan pembuat nama untuk memaknai ’rumah.’ Memang, seharusnya ditulis greha yang bermakna ’rumah laki-bini,’ merupakan bahasa Jawa kuna (Bausastra Djawa-Indonesia Jilid I a-ny, 1957: 132). Rumah Makan Graha Minang jika diterjemahkan secara bebas menjadi ’rumah makan rumah minang.’

23

Selain itu, ditemui pula penggunaan singkatan, yakni RM yang merupakan kependekan dari rumah makan, yakni RM. ”Valle”, RM. Samudra Madiun, dan RM. Nusantara. Dapat diperhatikan dalam data (22) sampai dengan (24).

(20) Rumah Makan Raso Minang (21) Rumah Makan Graha Minang (22) RM. ”Valle”

(23) RM. Samudra Madiun (24) RM. Nusantara

Selain rumah makan, ditemui pula penamaan dengan warung makan. Meski kedua bentuk ini berbeda, namun tetap memiliki kemiripan arti. Ada sepuluh nama yang terkumpul, perhatikan (25) sampai dengan (34) di bawah ini.

g. warung makan + menu + nama penjual

(25) Warung Makan SGPC & Gado-gado -2 Bu Mur h. warung makan + menu + nama penjual + penegasan tempat

(26) Warung Makan Bakso Pak Min Di Sini i. warung makan + nama penjual

(27) Warung Makan Mbak Titis (28) Warung Makan Risky

(29) Warung Makan ”Mbak Noor” (30) Warung Makan Kang Jhon (31) Warung Makan ”Pak Mul” (32) Warung Makan Rifqi

j. warung makan + nama penjualnya + moto (33) Warung Makan Sha-Sha Enggal

k. warung makan + daerah asal + nama penjualnya (34) Warung Makan ”Lamongan Jaya” Cak Antok

Pada (25), warung makan digabung dengan SGPC yang merupakan kependekan dari Sego Pecel dan gado-gado sebagai unsur perluasannya. SGPC dan gado-gado merupakan menu yang ditawarkan oleh Bu Mur selaku penjual. Dengan begitu, nama pada data (25) dibentuk dengan penggabungan warung makan (unsur pusat) dengan

Gado-gado Bu Mur,” ada lebih dari satu.

Warung Makan Bakso Pak Min Di Sini pada (26), ialah nama usaha dagang makanan dan minuman yang menjual bakso. Pak Min merupakan penjualnya. Sementara itu, Di Sini merupakan penegasan tempat. Meskipun seharusnya Warung Makan Bakso Pak Min, tetapi Di Sini ikut ditulis serangkai oleh pembuat nama dengan ukuran font yang besarnya sama. Dengan begitu, Di Sini tetap menjadi bagian dari nama.

Pada data (27) sampai dengan (32), warung makan digabungkan dengan nama penjualnya. Secara berurutan, Mbak Titis, Risky, Mbak Noor, Kang Jhon, Pak Mul, dan Rifqi ialah nama penjual atau pemiliknya. Jadi, Warung Makan Mbak Titis adalah warung makan milik Mbak Titis. Begitu pula dengan nama pada (28) sampai dengan (32).

Pada data (33), warung makan digabung dengan nama penjual dan moto yakni sha-sha dan enggal. Dalam hal ini, enggal merupakan kata dalam bahasa Jawa yang bermakna ’tiap-tiap hari.’ Sementara bentuk ulang dari sha, ialah nama penjualnya. Hal ini dibuktikan oleh peneliti, saat bertanya kepada pemilik warung. Sha-sha merupakan nama panggilan. Pada data (34), warung makan digabung dengan daerah asal dan nama penjualnya, yakni ”Lamongan Jaya” plus Cak Antok.

Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat pula satu bentuk nama dengan pondok makan sebagai unsur pusat. Seperti rumah makan dan warung makan, pondok makan juga mengacu pada tempat dan dapat disebut frasa nominal atau frasa benda. Perhatikan data (35) di bawah ini.

25

Data di atas, meskipun hanya satu, merupakan salah sebuah bukti bahwa masyarakat bahasa memiliki kebebasan dalam membentuk nama. Pondok makan digabung dengan kata soka sebagai unsur perluasannya. Dalam KBBI, soka ialah nama salah satu jenis tanaman hias. Memang, soka tidak memiliki relevansi terhadap aspek menu, tempat, ataupun nama pemilik. Dalam hal ini, soka lebih mengacu pada nuansa tempat usaha yang indah (penuh bunga) sehingga diharapkan pelanggan akan menyukainya dan akan sering makan di sana.

Pemakaian warung lesehan sebagai unsur pusat dapat diperhatikan pada (36) dan (37) berikut ini:

l. warung lesehan + menu

(36) Warung Lesehan ”WS” Spesial Ayam Keprek m. warung lesehan + nama penjualnya + menu

(37) Warung Lesehan ”Rahayu Spesial Sego Teri dan Jamur”

Warung lesehan pada data (36) digabungkan dengan menu makanan yang ditawarkan sebagai perluasannya, yakni Ayam Keprek. Meskipun terdapat pemakaian singkatan WS yang merupakan kependekan dari Warung Lesehan. Pada data (37), warung lesehan digabung dengan perluasan, yakni nama penjualnya (Rahayu) dan menu yang ditawarkan (Spesial Sego Teri dan Jamur).

2.4 Nama Usaha Dagang Makanan dan Minuman Berunsur Pusat Menu

Bentuk nama yang menggunakan menu, baik makanan maupun minuman sebagai unsur pusat atau secara awam dapat disebut nama depan, ditemui juga di lapangan. Hal ini tentu bertujuan untuk menonjolkan aspek menu yang ditawarkan. Misalnya Srabi Solo Echo, tentu hendak menonjolkan bahwa Srabi yang merupakan makanan khas Solo yang

’enak; nikmat.’ Nama ini tersaji pada nomor (41).

Tentunya, tidak semua nama pada bagian ini dapat dianalisis seperti data (41). Penamaan yang menggunakan menu makanan dan minuman sebagai unsur pusat amat bervarian dari segi pembentukannya. Untuk jelasnya, perhatikan data (38) sampai dengan (60) di bawah ini:

n. menu + daerah asal

(38) Gurat Spesial Ikan Laut Khas Jawa Timur (39) Sate Gule Brebes

(40) Kopi Kampung

o. menu + daerah asal + penjelasan (41) Srabi Solo Echo

p. menu + daerah asal + nama penjual

(42) Sate Ayam/Kambing Madura Cak Marsid (43) Mi Jakarta Pak Brewok 2

q. menu + daerah asal + menu

(44) Nasi Uduk Sambal Bawang Khas Suroboyo Ca’ Kangkung r. menu + lokasi

(45) SGPC Bulaksumur s. menu + penjelasan

(46) Bakso Jumbo (47) Sambel Pawon (48) Baso Sapi ”Ragil” (49) Burjo Pamungkas (50) Mi Ayam Harapanku

(51) Lotek & Gado-gado Mandiri (52) Kopi Kotok

t. menu + penjelasan + nama penjualnya

(53) Bakmi Harga Anak Mahasiswa Bu Mono (54) Bakso – Soto Spesial Pak Ateng

27

u. menu + nama penjualnya (55) Bakso Ababil (56) Ayam Bakar Joko

(57) Gudeg Mbarek Bu Hj. Amad

(58) Sate Ayam & Kambing Cak Burhan (59) Baso, Es Teler, dan Soto Pak Mono v. menu + nama penjualnya + penjelasan

(60) Pecel Lele Pak Tarom Raos Pisan

Pada data (38) sampai dengan (40), nama dibentuk dengan menu sebagai unsur pusat yang diperluas dengan daerah asal. Pada (38) Gurat Spesial Ikan Laut merupakan menu yang diperluas dengan penjelasan daerah asal, yakni Khas Jawa Timur. Gurat ialah kata dari bahasa Indonesia yang bermakna ’gores’. Kata ini menerangkan proses pembuatan ikan laut yang digores ala Jawa Timur. Jadi menu tersebut mengandung kekhasan atau cita rasa Jawa Timur.

Sate Gule Brebes pada (39) dimaksudkan tempat usaha dagang tersebut menjual sate dan gule khas Brebes. Sate Gule ialah unsur pusat, kemudian digabung dengan perluasan, yakni Brebes. Pada (40), Kopi Kampung dimaksudkan bahwa kopi yang ditawarkan adalah kopi yang berasal dari kampung, meskipun tidak ada kejelasan rinci mengenai kopi tersebut berasal dari kampung mana. Tetap saja, kopi tersebut berasal dari suatu daerah yang diverbalkan secara tertulis dengan kata kampung. Jadi pada bentukan nama (40) ini, unsur pusatnya adalah kopi dan diperluas dengan kampung sehingga nama tersebut secara linguistik berbentuk frasa nominal.

Data (42) dan (43) merupakan nama tempat usaha dagang makanan dan minuman yang dibentuk dengan: menu (unsur pusat) + daerah asal (perluasan) + nama penjualnya (perluasan). Secara ekstrabahasa, Sate Ayam/Kambing Madura Cak Marsid pada data (42), dapat diketahui bahwa sate ayam dan kambing yang dijual adalah khas Madura. Cak

Ayam/Kambing ialah unsur pusat sedangkan Madura dan Cak Marsid merupakan perluasannya. Pada data (43), Mi Jakarta Pak Brewok 2 unsur pusatnya ialah Mi. Jakarta dan Pak Brewok 2 merupakan unsur penjelasan. Jakarta mengacu pada daerah asal, sedangkan Pak Brewok ialah nama penjualnya. Mengenai angka 2 yang digunakan pada nama dimaksudkan untuk menandai bahwa tempat usaha itu tidak hanya satu. Dengan begitu, nama ini dapat menginformasikan ada pula Mi Jakarta Pak Brewok 1.

Bentuk nama dengan menu (unsur pusat) + daerah asal (perluasan) + menu (unsur pusat), juga ditemui di lapangan, yakni Nasi Uduk Sambal Bawang Khas Suroboyo Ca’ Kangkung pada (44). Nasi Uduk Sambal Bawang (unsur pusat) merupakan menu yang ditawarkan, sedangkan Khas Suroboyo yang mengacu pada daerah asal merupakan penjelasannya. Ca’ Kangkung merupakan menu atau makanan terbuat dari kangkung dengan campuran daging, kaldu, sayur mayur dan sebagainya.

Sejatinya, bentuk penamaan ini dapat menjadi Nasi Uduk, Sambal Bawang, Cak Kangkung Khas Suroboyo sehingga pelbagai menu yang ditawarkan yang menduduki unsur pusat berada di depan. Hanya saja – berdasarkan penjelasan pemilik usaha – penamaan Nasi Uduk Sambal Bawang Khas Suroboyo Ca’ Kangkung lebih estetis. Tentu argumen tersebut sah-sah saja mengingat tidak ada kaidah baku dalam penamaan usaha. Dalam pada itu, pelbagai menu yang tertulis dalam nama usaha tersebut menduduki unsur pusat walaupun disisipi perluasan di tengahnya.

Bentuk nama dengan menu (unsur pusat) + lokasi (perluasan), yakni SGPC Bulaksumur sebagaimana tersaji pada data (45), dimaksudkan bahwa tempat usaha

29

dagang sego pecel tersebut berlokasi di Bulaksumur. Perangkaian menu + lokasi ini, hanya ditemui satu data saja. SGPC yang dipanjangkan menjadi Sego Pecel merupakan unsur pusat yang diperluas dengan Bulaksumur. Dalam pada itu, Sego Pecel pun merupakan gabungan kata atau frasa. Sego ialah unsur pusatnya. Pecel ialah perluasannya.

Bentuk dengan menu (unsur pusat)+ penjelasan (perluasan) juga ditemui; tersaji pada (46) sampai dengan (52). Bakso Jumbo pada data (46) merupakan bentuk nama dengan penggabungan bakso (unsur pusat) dengan jumbo. Dalam hal ini, jumbo (perluasan) yang bermakna ’besar’dimaksudkan menjelaskan bakso dari segi bentuk atau ukurannya. Sambel Pawon pada (47), merupakan bentuk nama dengan penggabungan sambel (unsur pusat) dan pawon (perluasan). Dengan begitu, pawon menjelaskan cita rasa sambel. Bisa jadi, sambel itu dibuat di pawon atau dapur dalam bahasa Indonesia. Begitu pula pada data (48), Baso Sapi ”Ragil” merupakan nama yang dibentuk dengan gabungan baso sapi dan ragil. Kata ragil yang biasanya digunakan penutur bahasa Jawa untuk menyebut anak terakhir dalam sebuah keluarga. Kata itu, selaku perluasan di belakang frasa baso sapi.

Burjo Pamungkas pada data (49) ialah frasa dengan burjo sebagai unsur pusat dan pamungkas yang bermakna ’andalan’ sebagai unsur perluasannya. Burjo merupakan akronim yang bila dipanjangkan menjadi bubur kacang ijo. Akronim ini dibuat oleh penutur bahasa Sunda. Pada kenyataannya, kata burjo memiliki dua acuan: bisa menu dan bisa juga tempat. Peneliti mengambil acuan yang pertama (menu) karena lebih relevan. Dalam artian, burjo lebih masuk akal mengacu pada menu, bukan tempat.

merupakan gabungan menu lotek dan gado-gado (unsur pusat), dan mandiri (perluasan). Begitu juga dengan Kopi Kotok pada data (52), bentukkan frasa nominal ini terdiri dari unsur pusat yang digabung dengan perluasan di belakangnya. Jadi, kopi merupakan unsur pusat dan kotok ialah unsur perluasan dibelakangnya.

Bakmi Harga Anak Mahasiswa Bu Mono pada data (53), menggunakan menu yakni bakmi sebagai unsur pusatnya. Setelah itu, diperluas dengan harga anak mahasiswa sebagai penjelas dan Bu Mono (nama penjualnya). Bentukan nama ini, memang terkesan tidak ekonomis. Hal ini dikarenakan terlalu panjang. Meski demikian, penamaan macam ini ditemui di lapangan. Begitu pula dengan data (54), Bakso-Soto Spesial Pak Ateng, bentuknya sama dengan data (53). Persamaannya ditinjau dari aspek pembentuk, yakni menu + penjelasan + nama penjualnya. Bakso-Soto, ialah dua menu yang ditawarkan, berkedudukan sebagai unsur pusat. Spesial, merupakan unsur penjelasan dapat pula disebut perluasan. Juga Pak Ateng selaku nama pemilik atau penjualnya berkedudukan sebagai perluasan. Dengan demikian, pembentukan dan aspek kreativitas kebahasaan benar-benar digunakan oleh pembuat nama yang hidup dalam habitat multilingual.

Data (55) sampai dengan (59) merupakan bentuk nama dengan menu + nama penjualnya. Seperti bagian sebelumnya, unsur pusat berada di depan perluasan. Jadi, menu merupakan unsur pusat, setelahnya barulah digabung dengan perluasan. Seperti Bakso Ababil pada (55), bakso merupakan menu yang ditawarkan sedangkan Ababil

31

merupakan nama penjual yang dibentuk dengan pelekatan aba- dan Bil. Masalah ini akan dikaji lebih terang dalam BAB III.

Ayam Bakar Joko pada (56), frasa Ayam Bakar digabung dengan penjelasan Joko (nama penjualnya). Meski demikian, Bakar juga merupakan penjelas Ayam yang merupakan unsur pusat dari frasa Ayam Bakar. Pada data (57), Gudeg Mbarek Bu Hj. Amad dibentuk dengan unsur pusat Gudeg (menu). Mbarek, dan Bu Hj. Amad merupakan perluasannya. Kata mbarek tidak dijumpai di kamus bahasa Jawa. Yang ada ialah kata barek yang bermakna ’berpakaian indah’ dalam Kamus Jawa-Indonesia Indonesia-Jawa (Purwadi, 2006: 19).

Sate Ayam&Kambing Cak Burhan pada data (58), menggunakan tanda (&) sebagai pengganti kata dan. Jika menggunakan satuan kebahasaan seutuhnya, layak menjadi Sate Ayam dan Kambing. Menu ini, merupakan unsur pusat. Hanya saja masih dapat dipecah menjadi Sate Ayam dan Sate Kambing. Kata sate pada dua nama menu itu merupakan unsur pusatnya. Meski begitu, Sate Ayam & Kambing merupakan aspek menu yang menjadi inti atau pusat, barulah diperjelas dengan nama penjual yakni Cak Burhan.

Begitu juga dengan data (59), yakni Baso, Es Teler, dan Soto Pak Mono merupakan nama yang dibentuk dengan menu yang menjadi unsur pusat lalu diperluas dengan nama penjualnya. Tiga menu yang menjadi pusat itu, sebenarnya dapat dipecah-pecah menjadi satu-persatu kemudian diperluas dengan nama penjualnya. Misalnya menjadi, Baso Pak Mono, Es Teler Pak Mono, dan Soto Pak Mono. Pembuat nama selaku penutur bahasa dan penjual, merangkai tiga menu yang ditawarkannya menjadi nama depan yang layak dikategorikan sebagai unsur pusat nama (frasa) kemudian namanya menjadi perluasan dibelakang unsur pusat.

penjelasan. Menu di sini, berfungsi sebagai unsur pusat nama, yakni Pecel Lele. Setelahnya, barulah digabung dengan perluasan nama penjuanya dan penjelasan yang menjelaskan menu tersebut. Perlu diketahui, Raos Pisan yang bermakna ’nikmat sekali’ merupakan bahasa Sunda. Pecel Lele pun merupakan gabungan kata dengan unsur pusat di depan, yakni kata pecel. Kata tersebut, kemudian digabung dengan perluasan lele dibelakangnya.

2.5 Nama Usaha Dagang Makanan dan Minuman yang Menggunakan Nama

Dokumen terkait