• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. GAMBARAN UMUM ORGANISASI DAN KONSEPSI NILAI-NILAI DASAR,

2.2 Konsepsi Nilai Dasar, Kedudukan dan Peran ASN

2.2.2 Nasionalisme

Yaitu sikap menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila. Setiap sila dalam Pancasila mengandung nilai-nilai kemuliaan. Sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, Persatuan Indonesia. Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima sila ini merupakan pondasi dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Sebagai motor penggerak suatu negara, ASN harus mampu menjadi teladan.

Dalam UU No. 5 tahun 2014 tentang ASN, salah satu fungsi ASN adalah menjalankan kebijakan publik. Kebijakan publik diharapkan dapat dilakukan dengan integritas tinggi dalam melayani publik sehingga dalam menjadi pelayan publik yang professional. ASN adalah aparat pelaksana yang melaksanakan segala peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan kebijakan publik untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan.

Indikator-indikator yang terdapat dalam nilai nasionalisme yang harus dimiliki Aparatur Sipil Negara antara lain sebagai berikut:

1. Berwawasan kebangsaan yang kuat ; 2. Memahami pluralitas;

3. Berorientasi kepublikan yang kuat; dan

4. Mementingkan kepentingan nasional di atas segalanya. 2.2.3 Etika Publik

Yaitu pembelian pelayanan kepada masyarakat Seorang ASN harus mampu memberi pelayanan yang ramah selama menjalankan tugasnya. Dalam kondisi apapun, ASN tidak boleh terlihat sombong, angkuh, galak, apalagi tidak sopan. Aspek etika publik antara lain:

1. Jujur;

2. Integritas;

3. Disiplin;

4. Sopan;

5. Transparan;

6. Kerjasama;

7. Empati;

8. Respek; dan 9. Keluwesan.

2.2.4 Komitemen Mutu

Yaitu sikap menjaga efektivitas dan efisiensi mutu. Ada empat indikator dari nilai-nilai dasar komitmen mutu yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Efektif

Efektif adalah berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai dengan target.

Sedangkan efektivitas menunjukan tingkat ketercapaian target yang telah direncanakan, baik yang menyangkut jumlah maupun mutu hasil kerja. Efektifitas organisasi tidak hanya diukur dari kuantitas dan mutu hasil kerja, melainkan kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan pelanggan.

2. Efisien

Efisiensi adalah berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan mencapai hasil tanpa menimbulkan keborosan. Sedangkan efisiensi merupakan tingkat ketepatan realisasi penggunaan sumber daya dan bagaimana pekerjaan dilakukan sehingga dapat diketahui ada tidaknya penggunaan sumber daya yang berlebihan, penyalahgunaan alokasi, penyimpanagan prosedur dan mekanisme yang tidak sesuai dengan alur.

3. Inovasi

Inovasi Pelayanan Publik merupakan hasil pemikiran baru yang konstruktif, sehingga akan memotivasi setiap individu untuk membangun karakter sebagai aparatur yang diwujudkan dalam bentuk profesionalisme layanan publik yang berbeda dari sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau menggugurkan tugas rutin.

4. Mutu

Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang sesuai atau bahkan melebihi harapan konsumen. Mutu mencerminkan nilai keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, bahkan melampaui harapan. Ada lima dimensi karakteristik yang digunakan pelanggan dalam mengevaluasi kualitas pelayanan (Berry dan Pasuraman dalam Zulian Zamit, 2010:11) yaitu:

a. Tangibles, yaitu bukti langsung yang meliputi fasilitas fisik, perlengkapan pegawai dan sarana komunikasi.

b. Reliability, yaitu kemampuan dalam memberikan pelayanan dengan segera dan memuaskan serta sesuai dengan yang telah dijanjikan.

c. Responsiveness, yaitu keinginan untuk memberikan pelayanan dengan tanggap.

d. Assurance, yaitu mencakup kemampuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya.

e. Empaty, yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik dan perhatian yang tulus terhadap kebutuhan pelanggan.

2.2.5 Anti Korupsi

Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang artinya kerusakan, kebobrokan dan kebusukan. Korupsi dikatakan sebagai kejahatan yang luar biasa karena dampaknya yang luar biasa yaitu mampu merusak tatanan kehidupan dalam ranah pribadi, keluarga, masyarakat maupun ranah kehidupan yang lebih luas lagi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama dengan pakar telah melakukan identifikasi nilai – nilai dasar anti korupsi. Ada 9 (sembilan) nilai – nilai anti korupsi yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Kejujuran

Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan utama bagi penegakan integritas diri. Seseorang yang dapat berkata jujur dan transparan serta tidak berdusta baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, sehingga dapat membentengi diri dari perbuatan curang.

2. Kepedulian

Dengan adanya kepedulian terhadap orang lain menjadikan seseorang memiliki rasa kasih sayang antar sesama. Pribadi dengan jiwa sosial yang tinggi tidak akan tergoda untuk memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar.

3. Kemandirian

Kemandirian membentuk karakter pada diri seseorang untuk tidak mudah bergantung kepada pihak lain. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi mencapai keuntungan sesaat.

4. Kedisiplinan

Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Seseorang yang mempunyai pegangan kuat terhadap nilai kedisiplinan tidak akan terjerumus dalam kemalasan yang mendambakan kekayaan dengan cara yang mudah.

Menurut UU No. 31/1999 jo No. UU 20/2001, terdapat 7 kelompok tindak pidana korupsi yang terdiri dari: (1) kerugian keuangan negara; (2) suap-menyuap;

(3) pemerasan; (4) perbuatan curang; (5) penggelapan dalam jabatan; (6) benturan kepentingan dalam pengadaan; dan (7) gratifikasi.

Untuk menciptakan Pegawai Negeri Sipil yang baik, maka adanya Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian yang telah

Negara. Karena ASN memegang peranan besar dalam kelancaran pemerintahan dan pembangunan, maka ASN memiliki peran dan kedudukan yang sangat penting dalam berjalannya sistem pemerintahan serta pelayanan lembaga Negara kepada masyarakat. Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN, Pegawai Negeri Sipil diharuskan mempunyai fungsi sebagai berikut:

1. Pelaksana Kebijakan Publik

ASN berfungsi, berperan dan bertugas untuk melaksanakan kebijakan yang dibuat oleh pejabat Pembina kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Untuk itu ASN harus mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat luas dalam menjalankan fungsi dan tugasnya tersebut, harus mengutamakan pelayanan yang berorientasi pada kepentingan publik.

2. Pelayan publik

ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk memberikan pelayanan publik yang professional dan berkualitas. Pelayanan publik merupakan kegiatan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga Negara dan penduduk atas barang, jasa dan/atau pelayanan administrasi yang diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik dengan tujuan memenuhi kepuasan pelanggan.

Oleh karena itu ASN dituntut untuk memberikan pelayanan secara professional kepada masyarakat.

3. Perekat dan pemersatu bangsa

ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ASN senantiasa taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 1945, Negara, dan pemerintah. ASN senantiasa menjunjung tinggi martabat ASN serta mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi/golongan. Dalam Undang- undang ASN disebutkan bahwa dalam penyelenggaraan dan kebijakan manajemen ASN, salah satu diantaranya adalah asas persatuan dan kesatuan. ASN harus senantiasa mengutamakan dan mementingkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Sedangkan kedudukan ASN dalam NKRI yaitu:

1. Pegawai ASN berkedudukan sebagai Aparatur Negara;

2. Pegawai ASN melaksanakan Kebijakan yang ditetapkan oleh Pimpinan Instansi Pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan Intervensi semua Golongan serta Parpol;

3. Pegawai ASN dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik;

4. Kedudukan ASN berada di Pusat, Daerah dan Luar Negeri, namun demikian Pegawai ASN merupakan satu kesatuan.

2.2.6 Manajemen ASN

Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Manajemen ASN meliputi Manajemen ASN dan Manajemen PPPK. ASN diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki suatu jabatan pemerintahan dan memilili nomor induk pegawai nasional. Sementara itu, PPPK diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan kebutuhan instansi pemerintah untuk jangka waktu tertentu.

Manajemen ASN diselenggarakan berdasarkan Sistem Merit. Manajemen ASN meliputi penyusunan dan penetapan kebutuhan; pengadaan; pangkat dan jabatan;

pengembangan karier; pola karier; promosi; mutasi; penilaian kinerja; penggajian dan tunjangan; penghargaan; disiplin; pemberhentian; jaminan pensiun dan jaminan hari tua; dan perlindungan (LAN, Manajemen Aparatur Sipil Negara, 2014).

2.2.7 WoG

Whole of Goverment (WoG) merupakan suatu pendekatan penyelenggaraan pemerintah yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program, dan pelayanan publik. Oleh karena itu WoG dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu pendekatan dengan melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait urusan-urusan yang relevan (Suwarno

& Sejati, 2016).

WoG dipandang sebagai metode suatu instansi pelayanan publik bekerja lintas batas atau lintas sektor guna mencapai tujuan bersama dan sebagai respon terpadu pemerintah terhadap isu-isu tertentu (Shergold & lain-lain, 2004).

2.2.8 Pelayanan Publik

LAN (1998), mengartikan pelayanan publik sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintahan di Pusat dan Daerah, dan di lingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan /atau jasa, baik dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. Dalam UU No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, Pelayanan Publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan Peraturan perundang- undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara Pelayanan Publik.

Barang/jasa publik adalah barang/jasa yang memiliki rivalry (rivalitas) dan excludability (ekskludabilitas) yang rendah. Barang/jasa publik yang murni yang memiliki ciri-ciri: tidak dapat diproduksi oleh sektor swasta karena adanya free rider problem, non-rivalry, dan non- excludable, serta cara mengkonsumsinya dapat dilakukan secara kolektif.

Perkembangan paradigma pelayanan meliputi: Old Public Administration (OPA), New Public Management (NPM) dan seterusnya menjadi New Public Service (NPS).

Sembilan prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima adalah: partisipatif, transparan, responsif, non diskriminatif, mudah dan murah, efektif dan efisien, aksesibel, akuntabel, dan berkeadilan.

2.3 Identifikasi, Penetapan dan Analisis Isu

2.3.1 Identifikasi, Penetapan dan Analisis Isu

Isu-isu yang ada menyangkut Manajemen ASN, Whole of Governmance, dan Pelayanan Publik yang telah diidentifikasi kemudian ditentukan mana isu yang akan diangkat menjadi isu utama dan menjadi dasar dari kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama habituasi. Penetapan kualitas isu dilakukan melalui analisis isu dengan menggunakan alat bantu penetapan kriteria isu.

Analisis isu bertujuan untuk menetapkan kualitas isu dan menentukan prioritas isu yang perlu diangkat untuk diselesaikan melalui gagasan kegiatan yang dilakukan. Analisis isu dilakukan dengan pendekatan APKL yaitu Aktual, Problematik, Kekhalayakan dan Layak.

Analisis APKL merupakan alat bantu untuk menganalisis ketepatan dan kualitas isu dengan memperhatikan tingkat aktual, problematik, kekhalayakan dan layak dari isu-isu yang ditemukan di lingkungan unit kerja. Setelah diperoleh analisis APKL, maka dipilih isu yang menjadi prioritas utama yang selanjutnya akan diidentifikasi.

Secara lebih rinci penjelasan APKL data dilihat pada tabel 2.4.

Tabel 2.4 Indikator APKL dalam Penetapan Isu

No Indikator Keterangan

1. Aktual ( A )

Isu yang sering terjadi atau dalam proses kejadian sedang hangat dibicarakan di kalangan masyarakat.

2. Problematik ( P )

Isu yang memiliki dimensi masalah yang kompleks sehingga perlu dicarikan segera solusinya.

3. Kekhalayakan ( K ) Isu yang secara langsung menyangkut hajat hidup orang banyak.

4. Layak ( L )

Isu yang masuk akal dan realistis serta relevan untuk dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.

Masing-masing poin dari APKL tersebut diberi penilaian dengan scoring system, yaitu: 5 = sangat tinggi, 4 = tinggi, 3 = sedang/cukup, 2 = rendah, dan 1 = sangat rendah. Setiap isu diberikan nilai untuk masing-masing poin penilaian dari angka 1-5. Akumulasi penilaian akan menunjukkan tingkat prioritas pemilihan isu rancangan aktualisasi nilai dasar ASN.

Analisis isu pada Bidang Cipta Karya Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara dengan menggunakan metode penetapan isu APKL disajikan pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5 Penetapan Isu Metode APKL

Indikator

No Idenifikasi Isu Jumlah Peringkat

A P K L

1

Kurang Optimalnya Penyusunan Dokumentasi Monitoring Capaian Progres Pekerjaan Penataan Bangunan dan Lingkungan Berbasis Sistem Informasi Online Pada Bidang Cipta Karya Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara

5 5 4 5 19 I

2

Kurang tertatanya

dokumen kontrak pekerjaan pada Bidang Cipta Karya

4 5 4 4 17 II

3

Kurangnya

penyampaian informasi publik maupun progam kerja terkait bidang cipta karya

kepada masyarakat

3 4 3 4 14 III

2.3.2 Analisa dampak Isu

Dampak yang mungkin akan terjadi apabila isu kurang Optimalnya Penyusunan Dokumentasi Monitoring Capaian Progres Pekerjaan Penataan Bangunan dan Lingkungan Berbasis Sistem Informasi Online Pada Bidang Cipta Karya Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara adalah:

1. Kurang efektif dan efisiennya pengumpulan dokumentasi monitoring pekerjaan di lapangan karena pengawas lapangan menunggu dokumentasi terkumpul sampai p ekerjaan selesai untuk dapat disetorkan di Bidang Cipta Karya sehingga membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

2. Pengawas lapangan kurang mendapat informasi karena terkendala jarak dan waktu untuk memperoleh langsung informasi dari Bidang Cipta Karya.

3. Dengan tidak terkumpulnya dokumentasi monitoring pekerjaan maka akan menghambat penyusunan capaian progres yang harus disusun ketika Bidang Cipta Karya diminta untuk mengumpulkan progres capaian oleh Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi tenggara.

BAB III

RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI

3.1 Gagasan Pemecah Isu

Dalam menangani suatu permasalahan yang terjadi diperlukan adanya suatu gagasan pemecahan masalah agar permasalahan tersebut dapat teratasi. Dengan adanya isu Kurang Optimalnya Penyusunan Dokumentasi Monitoring Capaian Progres Pekerjaan Penataan Bangunan dan Lingkungan Berbasis Sistem Informasi Online Pada Bidang Cipta Karya Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara maka penulis memberikan suatu gagasan yang bertujuan untuk mengatasi pemecahan masalah isu tersebut agar tidak terjadi secara terus menerus yaitu dengan adanya pembuatan grup WhatsApp pengawasan Capaian Progres Pekerjaan Penataan Bangunan dan Lingkungan Bidang Cipta Karya Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara. Dengan dibuat grup WhatsApp pengawasan tersebut maka diharapkan informasi progres Pekerjaan Penataan Bangunan dan Lingkungan Bidang Cipta Karya Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara dapat tersampaikan dengan tepat, akurat, serta adanya kesamaan persepsi terhadap progres yang dicapai.

24

3.2 Kegiatan Terpilih Sebagai Pemecahan Isu

Tabel 3.1 Kegiatan Terpilih Sebagai Pemecahan Isu

Unit Kerja : Seksi Penataan Bangunan dan Pengembangan Pemukiman Bidang Cipta Karya Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara.

Isu yang diangkat

: Kurang Optimalnya Penyusunan Dokumentasi Monitoring Capaian Progres Pekerjaan Penataan Bangunan dan Lingkungan Berbasis sistem informasi Online pada Bidang Cipta Karya Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara

Judul : Optimalisasi Penyusunan Dokumentasi Monitoring Capaian Progres Pekerjaan Penataan Bangunan dan Lingkungan Berbasis sistem informasi Online pada Bidang Cipta Karya Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara

Kegiatan : 1. Melakukan Konsultasi Pimpinan

2. Melakukan rapat sosialisasi untuk membangun komitmen.

3. Membuat grup informasi pengawasan.

4. Mengumpulkan dokumentasi pekerjaan.

5. Menyusun capaian progres pekerjaan.

6. Melakukan publikasi dan distribusi kepada pihak terkait.

3.3 Deskripsi /Penjelasan Kegiatan

Rancangan kegiatan aktualisasi dan Habituasi di Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara selengkapnya dapat dilihat

Pada Tabel 3.2 Rancangan Aktulisasi dan Habituasi

No. Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Nilai-Nilai Dasar Kontribusi

Terhadap Visi

1. Menjelaskan maksud dan

Dalam menjelaskan maksud dan tujuan aktualisasi kepada pimpinan, saya akan memberikan penjelasan dengan baik kepada pimpinan tentang adanya isu dan pemecahannya yang akan diaktualisasikan.

Nasionalisme :

Dalam menjelaskan maksud dan tujuan aktualisasi kepada pimpinan, saya akan bermusyawarah untuk menentukan ide pemecahan isu kedepan.

Etika Publik :

Dalam menjelaskan maksud dan tujuan aktualisasi kepada pimpinan, saya akan bersopan santun dalam

26 Komitmen Mutu :

Dalam menjelaskan maksud dan tujuan aktualisasi kepada pimpinan, saya akan menyampaikan ide kreatif dalam pemecahan isu.

Anti Korupsi :

Dalam menjelaskan maksud dan tujuan aktualisasi kepada pimpinan, saya akan berani menyampaikan isu dan pemecahannya.

2. Mendengarkan arahan

pimpinan

Terlaksananya pengarahan dari pimpinan

Akuntabilitas :

Dalam mendengarkan arahan pimpinan saya akan mendengarkan setiap arahan-arahan yang harus dilakukan dalam memecahkan isu yang diangkat dengan penuh tanggung jawab

Nasionalisme :

Dalam mendengarkan arahan pimpinan, saya akan mendahulukan pimpinan untuk memberikan setiap arahan arahan dan kemudian kami bersama sama bermusyawarah dalam memecahkan isu yang diangkat.

Etika Publik :

Dalam mendengarkan arahan pimpinan, saya akan mendengarkan setiap arahan pimpinan dengan menunjukkan sikap sopan santun dan hormat.

Komitmen Mutu :

Dalam mendengarkan arahan pimpinan, saya akan mendengarkan setiap arahan pimpinan dengan cermat agar saya dapat melaksanakan kegiatan aktualisasi ini dangan baik.

Anti Korupsi :

Dalam mendengarkan arahan pimpinan, saya akan mendengarkan setiap arahan pimpinan dengan penuh kepedulian untuk menunjang keberhasilan kegiatan aktualisasi dan dapat memecahkan isu yang diangkat 3. Meminta

persetujuan pimpinan

Tersedianya dukungan pimpinan

Akuntabilitas :

Dalam meminta persetujuan pimpinan, saya akan meminta dukungan dengan penuh tanggung jawab

Nasionalisme :

Dalam meminta persetujuan pimpinan, saya menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.

Etika Publik :

Dalam meminta persetujuan pimpinan, saya akan menggunakan bahasa yang sopan

Komitmen Mutu :

Dalam meminta persetujuan pimpinan, saya teliti dan cermat.

Anti Korupsi :

Dalam meminta persetujuan pimpinan, saya akan dengan sederhana dan jujur.

28

No. Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Nilai-Nilai Dasar Kontribusi

Terhadap Visi surat undangan rapat sosialisasi

Akuntabilitas :

Dalam melakukan Menyusun surat undangan dan daftar hadir rapat sosialisasi, saya akan memberikan penjelasan dengan baik tentang maksud dari undangan rapat.

Nasionalisme :

Dalam melakukan Menyusun surat undangan dan daftar hadir rapat sosialisasi, saya akan bermusyawarah dalam penyusunan surat undangan kepada atasan.

Etika Publik :

Dalam melakukan Menyusun surat undangan dan daftar hadir rapat sosialisasi, saya akan menerapkan bahasa bersopan santun dalam penulisannya.

Komitmen Mutu :

Dalam melakukan Menyusun surat undangan dan daftar hadir rapat sosialisasi, saya akan menggunakan bahasa yang efektif dan efisien agar mudah dipahami.

Anti Korupsi :

Dalam melakukan Menyusun surat undangan dan daftar hadir rapat sosialisasi, saya akan tanggung jawab untuk menyelesaikan tepat waktu.

Dengan

2. Mempersiapkan tempat rapat sosialisasi

Tersedianya tempat pelaksanaan rapat sosialisasi

Akuntabilitas :

Dalam melakukan Mempersiapkan tempat rapat sosialisasi, saya akan bertanggung jawab dalam kesiapan prasarana lokasi rapat.

Nasionalisme :

Dalam melakukan Mempersiapkan tempat rapat sosialisasi, saya akan bermusyawarah dalam penentuan lokasi rapat dengan atasan

Etika Publik :

Dalam melakukan Mempersiapkan tempat rapat sosialisasi, saya akan tanggap dalam segala kemungkinan yang terjadi dilokasi rapat.

Komitmen Mutu :

Dalam melakukan Mempersiapkan tempat rapat sosialisasi, saya akan berupaya menyiapkan tempat sesuai standar kenyamanan pelaksanaan rapat.

Anti Korupsi :

Dalam melakukan Mempersiapkan tempat rapat sosialisasi, saya akan tanggung jawab dalam penetuan lokasi rapaat tersebut.

3. Melakukan rapat sosialisasi

Terlaksananya rapat sosialisasi

Akuntabilitas :

Dalam melakukan Melaksanakan rapat sosialisasi, saya akan memberikan penjelasan tentang isu dan pemecahannya.

30 Nasionalsime :

Dalam melakukan Melaksanakan rapat sosialisasi, saya akan bermusyawarah dalam penentuan keputusan rapat.

Etika Publik :

Dalam melakukan Melaksanakan rapat sosialisasi, saya akan menghormati segala perbedaan pendapat yang ada.

Komitmen Mutu :

Dalam melakukan Melaksanakan rapat sosialisasi, saya akan berupaya memberikan ide kreatif dalam pembahasan pemecahan isu.

Anti Korupsi :

Dalam melakukan Melaksanakan rapat sosialisasi, saya akan menerapkan kedisiplinan dalam waktu mulai dan selesainya rapat.

4. Menyusun notulen hasil rapat sosialisasi

Tersedianya, notulen hasil rapat sosialisasi

Akuntabilitas :

Dalam melakukan Menyusun notulen hasil rapat sosialisasi, saya akan menuliskan secara jelas tentang hasil rapat tersebut.

Nasionalsime :

Dalam melakukan Menyusun notulen hasil rapat sosialisasi, saya akan tidak diskriminatif dalam menuliskan masukan dari peserta rapat dalam Berita Acara.

Etika Publik :

Dalam melakukan Menyusun notulen hasil rapat sosialisasi, saya akan tanggap terhadap peserta rapat yang belum mengisi Daftar Hadir rapat.

Komitmen Mutu :

Dalam melakukan Menyusun notulen hasil rapat sosialisasi, saya akan berupaya teliti dalam menuliskan hasil keputusan rapat

Anti Korupsi :

Dalam melakukan Menyusun notulen hasil rapat sosialisasi, saya akan jujur dalam menuliskan hasil yang sebenarnya dalam rapat tersebut.

32

No. Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Nilai-Nilai Dasar Kontribusi

Terhadap Visi

Penulis merasa bertanggung jawab terhadap ketersediaan internet yang stabil.

Nasionalsime :

Penulis merasa lebih peduli terhadap ketersediaan internet yang stabil.

Etika Publik :

Penulis merasa perlu lebih cermat dalam memastikan kesediaan jaringan internet.

Komitmen Mutu :

Penulis merasa perlu adanya tindakan inovatif terhadap ketersediaan internet yang stabil

Anti Korupsi :

Penulis merasa bertanggung jawab terhadap ketersediaan internet yang stabil.

Dengan pembuatan grup pengawasan.

Nasionalsime :

Penulis melihat kepentingan bersama dalam pembuatan grup pengawasan

Etika Publik :

Penulis merasa perlu lebih tanggap dalam melihat pentingnya grup pengawasan

Komitmen Mutu :

Penulis merasa perlu lebih teliti dalam melihat pentingnya grup pengawasan

Anti Korupsi :

Dalam pembuatan grup terkandung nilai jujur dan mandiri dari tiap-tipa anggota grup

3. Mengundang anggota grup

Terkumpulnya anggota dalam grup

Akuntabilitas :

Adanya nilai kepercayaan dari terkumpulnya anggota grup Nasionalisme :

Adanya nilai musyawarah dari terkumpulnya anggota sehingga dapat diperoleh pemecahan masalah dari kendala-kendala yang dihadapi.

Etika Publik :

Adanya nilai kejujuran dalam memberikan informasi dari terkumpulnya anggota grup

Komitmen Mutu :

Komitmen Mutu :