BAB II KERANGKA TEORI
B. Nazhir
7. Nazhir Wakaf Profesional
Nazhir adalah faktor kunci keberhasilan lembaga pengelola wakaf.
Untuk itu, lembaga pengelola wakaf harus mampu merekrut para nazhir yang amanah dan profesional. Setelah itu, lembaga wakaf juga harus mampu mendesain sistem operasional yang memberikan kesempatan kepada para nazhir untuk berkembang dan berkarya sehingga menjadi nazhir benar-benar merupakan suatu pilihan dan pengabdian kepada Allah Swt.71
Tidak bisa dipungkiri, mayoritas nazhir wakaf di Indonesia kurang profesional dalam mengelola harta wakaf yang diamanatkan kepadanya.
Umumnya mereka bekerja sambilan. Mereka memiliki pekerjaan tetap, seperti Pegawai Negeri Sipil, petani, pedagang, dan sebagainya yang harus diutamakan disamping tugas sebagai nazhir. Kenyataan ini menggambarkan bahwa profesi nazhir bukanlah yang diharapkan dalam masyarakat. Nazhir dipilih bukan atas dasar profesional, tetapi karena ketokohan, kerabat dekat wakif, atau orang kepercayaan wakif.72
Akibat dari ketidakprofesionalan nazhir, banyak harta wakaf tidak memberi manfaat kepada masyarakat, bahkan banyak harta wakaf yang
70Departemen Agama RI, Nazhir Profesional dan Amanah..., h.92
71Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf, Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, (Jakarta : Ikhlas Beramal, 2005), h.68
72Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf, Nazhir Profesional dan Amanah, (Jakarta : Ikhlas Beramal, 2005), h.77
dijadikan harta warisan sanak keluarga nazhir wakaf, atau dipersengketakan oleh ahli waris wakif. Realitas ini kadang menjadi kendala bagi calon wakif sehingga mereka ragu untuk mewakafkan hartanya. Untuk itu nazhir wakaf harus membuktikan terlebih dahulu kepada masyarakat, bahwa amanah mengelola untuk mengelola harta wakaf bisa berhasil dan dapat mendatangkan manfaat kepada masyarakat sehingga calon wakif dapat tergerak hatinya untuk mewakafkan sebagian hartanya. Hal ini harus dibuktikan dengan loyalitas, keikhlasan dan kehati-hatian dalam pengelolaan harta wakaf.73
Dalam rangka memelihara dan melestarikan manfaat wakaf, keberadan nazhir sangat dibutuhkan, bahkan menempati posisi sentral.
Sebab nazhir yang mempunyai tanggung jawab dan kewajiban memelihara, menjaga mengembangkan harta wakaf, serta menyalurkan hasilnya. Banyak pengelolaan wakaf yang tidak efektif dan belum mendatangkan manfaat yang maksimal kepada masyarakat. Profesionalisme nazhir wakaf menjadi ukuran yang paling penting dalam pengelolaan harta wakaf.74
Seorang nazhir profesional dalam mengelola harta wakaf harus mengacu pada prinsip-prinsip modern. Kata profesional berasal dari kata profesi, berarti pekerjaan, dilakukan dengan mengandalkan keahlian, keterampilan yang tinggi dan melibatkan komitmen yang kuat. Ada beberapa ciri atau kharakteristik profesional, yaitu75 :
73Suparman Usman, Perwakafan di Indonesia..., h.103
74Rozalinda, Manajemen Wakaf Produktif..., h.53
75Rozalinda, Manajemen Wakaf Produktif..., h.53
a. Mempunyai keahlian dan keterampilan khusus untuk dapat menjalankan pekerjaan dengan baik
Keahlian dan keterampilan ini biasanya dimiliki dari pendidikan, pelatihan, dan pengalaman yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu.
Pengetahuan, keahlian, dan keterampilan ini memungkinkan seorang profesional menjalankan tugasnya dengan tingkat keberhasilan dan mutu yang baik.
b. Adanya komitmen moral yang tinggi
Untuk profesi pelayanan sosial, komitmen dituangkan dalam kode etik profesi. Etika ini merupakan peraturan yang harus dijalankan dalam melaksanakan pekerjaan. Kode etik profesi ini ditujukan untuk melindungi masyarakat dari kerugian dan kelalaian, baik disengaja maupun tidak disengaja, dan ditujukan untuk melindungi profesi tersebut dari perilaku-perilaku yang tidak baik.
c. Orang yang profesional biasanya hidup dari profesi yang dijalankannya.
Ia dibayar dengan gaji yang layak sebagai konsekuensi dari pengerahan seluruh tenaga, pikiran, keahlian, dan keterampilan.
d. Pengabdian kepada masyarakat, adanya komitmen moral yang tertuang dalam kode etik profesi ketika orang-orang yang mengemban suatu profesi lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan dirinya.
e. Legalisasi keizinan. Untuk profesi yang menyangkut kepentingan orang banyak yang terkait dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka profesi tersebut haruslah profesi yang sah dan dizinkan.
Seorang profesional adalah orang yang melakukan pekerjaan dengan keahlian dan keterampilan yang tinggi, serta mempunyai komitmen yang tinggi atas pekerjaannya. Seorang nazhir wakaf dianggap profesional jika ia melakukan pekerjaan karena ia ahli di bidang itu, mengerahkan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk pekerjaan tersebut. Oleh karena itu, seorang yang profesional mempunyai komitmen yang kuat atas pekerjaannya. Ia melibatkan seluruh waktu, tenaga, pikiran dan serius dalam pekerjaannya.
Komitmen pribadi inilah yang melahirkan tanggungjawab yang besar dan tinggi atas pekerjaannya. Seorang nazhir yang profesional dalam mengelola harta wakaf tidak sekedar mengisi waktu luang atau pekerjaan sampingan, akan tetapi, dia sadar dan yakin bahwa pekerjaannya menyatu dengan dirinya. Pekerjaan yang dilakukannya membentuk identitas dan kematangan dirinya. Dia berkembang seiring dengan perkembangan dan kemajuan pekerjaannya.76
Dalam melibatkan keseluruhan diri serta keahlian dan keterampilannya, seorang profesional harus mempunyai disiplin kerja yang tinggi. Disiplin, ketekunan, dan keseriusan adalah perwujudan dari komitmen atas pekerjaan. Karena itu, seorang nazhir belum bisa dianggap profesional jika menjalankan tugasnya mengelola harta wakaf atas dasar
76Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf, Nazhir Profesional dan Amanah..., h.79
pekerjaan sampingan. Karena seorang profesional mengerahkan seluruh waktu, pikiran, tenaganya dan ia berhak memperoleh gaji yang memadai atas pekerjaannya.77
Untuk pengembangan wakaf, kualitas pengelolaan tentu harus didukung oleh nahzir yang memiliki pengetahuan tentang manajemen wakaf, pengetahuan tentang prinsip ekonomi, dan keuangan syariah. Ia mempunyai kemampuan mengelola uang secara profesional sesuai dengan prinsip syariah dan mempunyai kemampuan melakukan investasi harta wakaf. Ini menunjukkan pentingnya manajemen sumber daya manusia pada lembaga pengelola wakaf, terutama aspek perencanaan sumber daya manusia yang terprogram. Dengan demikian, ketersediaan sumber daya yang bermutu dan terampil sangat diperlukan, karena sumber daya manusia adalah faktor penting dalam suatu organisasi.78
Pengelolaan dan pengembangan nazhir menjadi bagian yang sangat penting dari tugas manajemen organisasi pengelola wakaf. Seberapa baik sumber daya manusia yang dikelola akan menentukan kesuksesan organisasi ini di masa yang akan datang. Sebaliknya, jika sumber daya manusia tidak dikelola dengan baik, efektivitas pengelolaan wakaf tidak akan tercapai.
Nazhir merupakan salah satu unsur yang paling penting bagi organisasi pengelola wakaf. Hal ini terjadi karena nazhir mempengaruhi efisiensi dan efektivitas organisasi. Begitu pentingnya manajemen sumber daya manusia
77Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf, Nazhir Profesional dan Amanah..., h.80
78Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf, Paradigma Baru Wakaf di Indonesia..., h.72
ini, apabila tidak dilaksanakan dengan baik, organisasi tidak akan berhasil mencapai tujuan dan sasarannya.79
Untuk itu, dalam rangka meningkatkan kemampuan nazhir, diperlukan sistem manajemen sumber daya manusia yang bagus, agar dapat mencapai tujuan yang telah ditrencanakan.80 Tujuannya yaitu :
a. Meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan nazhir dalam rangka membangun kemampuan manajerial yang tangguh, profesional, dan bertanggungjawab.
b. Membentuk sikap dan prilaku nazhir wakaf yang sesuai dengan akhlakul karimah
c. Menciptakan pola pikir yang sama dalam memahami dan menerapkan pola pengelolaan wakaf, baik dari segi undang-undang wakaf maupun teknis manajerial, sehingga lebih mudah melakukan pengendalian
d. Mengajak para nazhir wakaf untuk memahami tata cara pengelolaan yang lebih berorientasi pada kepentingan pelaksanaan syariat Islam secara lebih luas sehingga wakaf bisa menjadi salah satu elemen penting dalam menunjang penerapan sistem ekonomi syariah secara terpadu.81
Untuk mencapai hal ini, diperlukan upaya nazhir wakaf agar mereka dapat menjalani tugas-tugas kenazhiran secara produktif dan berkualitas.
Upaya pembinaan yang harus dilakukan berdasarkan standar pola manajemen terkini, yakni melalui pendidikan formal, seperti sekolah kejuruan, maupun sekolah umum untuk mencetak calon-calon sumber daya
79Rozalinda, Manajemen Wakaf Produktif..., h.55
80Rozalinda, Manajemen Wakaf Produktif..., h.56
81Faishal Haq, Wakaf dan Perwakafan di Indonesia..., h.58
nazhir wakaf yang siap melaksanakan tugas sebagai nazhir. Misalnya, sekolah pertanian untuk calon nazhir yang dipersiapkan mengelola tanah wakaf yang berupa lahan pertanian, perkebunan dan lain-lain. Lalu didirikan juga sekolah ekonomi untuk mengelola tanah wakaf untuk area perdagangan dan sebagainya. Kemudian, dilakukan pendidikan nonformal berupa kursus, pelatihan kenazhiran terkait dengan manajerial organisasi atau keterampilan berupa teknik pengelolaan pertanian, perdagangan, pemasaran dan sebagainya.82
Nazhir yang ada ditingkatkan secara kemampuannya baik melalui pelatihan yang intensif, maupun bimbingan. Ini akan menghasilkan nazhir yang memiliki kemampuan dalam memegang tanggung jawabnya sebagai pengelola dan pengembang harta wakaf. Para nazhir dalam bekerja harus meletakkan prinsip-prinsip, seperti amanah, transparansi, akuntabilitas, dan inovatif. Selain itu, sistem operasional lembaga pengelola wakaf juga harus
mengakomodasikan kebutuhan para nazhir, sehingga para nazhir dapat memberikan karyanya secara maksimal dalam membangun lembaga pengelola wakaf.83