Negara menurut Muhammad Natsir adalah satu institusi yang mempunyai hak, tugas dan tujuan yang khusus. Institusi dalam pengertian umum adalah suatu badan atau organisasi yang mempunyai tujuan khusus serta dilengkapi oleh alat-alat material dan peraturan-peraturan tersendiri, dan diakui oleh umum. (Natsir 2014).
Lebih lanjut Natsir mendefinisikan institusi sebagai suatu badan organisasi yang memenuhi kebutuhan masyarakat dibidang jasmani dan rohani yang memiliki syarat tertentu serta institusi tersebut diakui oleh masyarakat, mempunyai alat untuk melaksanakan tujuan, berisi peraturan, norma dan nilai tertentu yang berdasarkan atas paham hidup serta mempunyai kedaulatan atas anggotanya serta memberikan sanksi atas atas setiap pelanggaran atas setiap peraturan dan norma-norma yang berlaku. (Natsir 2014)
Cakupan dari institusi meliputih seluruh masyarakat dan segala lembaga yang ada di dalamnya, mengikat maupun mempersatukan institusi-institusi lainnya dalam suatu peraturan hukum, menjalankan koordinasi dan regulasi dari seluruh
bagian-bagian masyarakat, memberi edukasi, pelayanan pemenuhan hak masyarakat dan bersifat mekaksa. (Natsir 2014)
Agar suatau negara berjalan sesuai dengan tugas pokok maka perlu adanya pembagian kekuasaan seperti yang populerkan oleh Barat, Natsir tidak menolak itu hanya saja dimodifikasi berdasarkan konsep dan pemahaman terkait sisem ketatanegaraan yang beliau gagas. Pemahaman M. Natsir ini bisa dikatakan sebagai pandangan yang moderat dan realistis sesuai dengan kebutuhan zaman yang sedemikain jauh berusaha menerapkan asas-asas Islam kedalam negara modern dengan pendekatan yang realistis serta dikompromikan dengan problem-problem kongkrit. Gagasan ataupu gambaran beliau terkait dengan pembagian kekuasaan itu di anatanya adalah sebagai berikut:
a. Eksekutif, sebagai kepala negara yang menjalankan roda pemerintahan.
Tentang penamaan kepala negara, bagi Natsir, tidak harus bergelar khalifah serta yang penting adalah pemimpin negara harus berasal dari warga pribumi serta harus Ulil amr yang sanggup menjalankan peraturan-peraturan Islam dalam susunan kenegaraan. Karenanya, Natsir memberikan standarisasi kepala negara diantaranya harus berwibawa, amanah, cinta agama, dan cinta Tanah Air. (Natsir 2001).
b. Legislatif, dinamai DPR menurut pendapat Natsir mirip dengan definisi secara umum yang kita pahami bersama yakni berfungsi sebagai pengontrol dan pengawas jalannya pemerintahan. Jika seorang kepala negara tidak menjalankan amanah rakyat ataupun dalam kinerjanya kurang memadai, maka DPR mengajukan keberatan ke MPR agar kepala negara diminta pertangungjawaban (bisa diturunkan atau tetap berjalan jika masi memadai). Namun demkian DPR tidak mempunyai wewenang untuk
menjatuhkan. (Ihza 1999). Natsir cenderung menerima realitas bagaimana negara melakukan cek and balance agar berjalan harmonis antar institusi negara dengan syarat tidak boleh menyimpang dari kaidah dan etika Islam.
Konsep syura dilihat sebagai suatu yang dapat dimanifestasikan dalam dunia modern melalui parlemen dengan sistem partai. Demikian juga kekhalifahan pada masa nabi yang tunduk pada pengawasan parlemen. Hal tersebut dapat disesuaikan dengan tradisi pemerintahan parlementer. (Natsir 2014)
c. Yudikatif, menurut Natsir badan ini bersifat independen yang bebas dari kekuasaan eksekutif dan legislatif. Dengan mendudkan prisip-prinsip hudud (batas-batas) dan etika keangamaan dalam menimbang dan mengambil keputusan. (Natsir 2014)
Dalam demokrasi Islam, perumusan kebijakan politik, ekonomi, hukum dan lain-lainnya haruslah mengacu kepada asas-asas yang telah ditetapkan oleh Al-Quran dan Sunnah Nabi. Atau sekurang-kurangnya kebijakan itu tidak bertentangan dengan doktrin Islam. (Natsir 2014).
2. Agama dan Negara
Berbicara agama dan negara adalah dua dimensi yang tak terpisahkan.
Seperti yang dikatan Hujjahtul Islam Al-Imam Al-Gazali bawasannya agama adalah pondasi dan negara adalah tiangnnya, keduanya berjalan saling keterkaitan.
Muhammad Natsir memberikan argumentasi dan landasan terkait perkawainan agama dan negara serta titik temu dalam dimensi politik yang dikenal dengan Istilah Teistik Demokrasi, corak pemeikiran beliau tentu sedikit banyak berbeda dengan pemikir Islam abad klasik hingga kontemporer lainnya.
Natsir berpendapat bahwasannya agama tidak dapat dipisahkan dari negara. Ia menganggap bawasannya urusan kenegaraan pada pokoknya adalah bagian integral dari risalah Islam. Kaum muslimin mempunyai falsafah hidup atau ideologi. Natsir kemudia mengutip ayat Al-Quran yang dianggap sebagai idologi Islam:
“Tidaklah Aku jadikan Jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada Ku”.
Jadi, seorang Muslim hidup di atas dunia ini adalah dengan cita-cita hendak menjadi seorang hamba-Allah dengan arti yang sepenuhnya, mencapai kejayaan didunia dan kemenangan di akhirat, dunia dan akhirat ini sekali-kali tidak mungkin dipisahkan oleh seorang muslim dari ideologinya, ini sama-sama dimaklumi.
(Natsir. M. 1957).
Natsir berpendapat bahwa membicarakan urusan agama Islam bukanlah semata-mata peribadatan dalam istilah sehari-hari, seperti shalat dan puasa saja, lebih dari itu mencakup semua kaidah-kaidah, hudud-hudud (batas-batas), dalam muamalah (pergaualan) dalam masyarakat menurut garis-garis yang telah ditetapkan oleh Islam. (Natsir 2014).
Maka dari itu, Natsir sangat intens mengkaji dan menawarkan gagasan persatuan agama dan negara. Natsir berpendapat, memang Rasulullah tidak tidak pernah mendirikan negara. Akan tetapi, dengan ataupun tanpa Islam, negara bisa berdiri, dan memang sudah berdiri sebelum dan sesudah Islam, dimana saja ada manusia dan golongan yang hidup bersama-sama dalam suatu masyarakat. Natsir menegaskan, dizaman unta dan pohon korma sudah ada negara, dizaman kapal terbang juga ada negara, dengan maupun tidak dengan Islam. Namun Islam datang membawa beberapa aturan tertentu untuk mengatur negara, supaya negara itu menjadi kuat dan subur, dan boleh menjadi wasilah (sarana) yang sebaik-baiknya
untuk mencapai tujuab hidup manusia yang berhimpun di dalam negara itu, untuk keselamatan diri dan masyarakat, untuk kesentosaan perseoarangan dan kesentosaan umum. (Natsir 2014)
Natsir berpendapat bahwa Islam bukanlah hanya semata-mata agama dalam pengertian sempit yakni agama ritual semata tetapi Islam adalah suatu ideologi. Islam mengadung dua unsur yaitu unsur ibadah dan muamalah.
Muamalah meliputih kehidupan secara perorangan, kehidupan secara kekeluragaan, dan kehidupan kenegaraan. Ajaran Islam yang tersimpan dalam unsur muamalah adalah ajaran Islam yang dipakai dalam urusan kenegaraan.
(Natsir 2014)
Menurut Natsir, teokrasi adalah suatu sistem kenegaraan dimana pemerintah dikuasai oleh satu kependetaan yang mempunyai sistem hierarkhi dan menjalankan yang demikian itu sebagai wakil tuhan di dunia. Dalam Islam tidak dikenal sistem semacam itu. Islam memberikan dasar-dasar pokok untuk mengatur hidup keduniawian yang bersifat abadi. Negara yang berdasarkan Islam bukanlah suatu teokrasi tetapi negara demokrasi bukan pula sekuler, sistem itu adalah demokrasi Islam atau Teodemokrasi (Teistik demokrasi). (Natsir 2014)
Bagi Natsir, negara bukanlah tujuan, negara hanyalah alat untuk mencapai tujuan, yaitu kesempurnaan berlakunya undang-undang ilahi. Karena itu, Islam sebagai tolok ukur pemikiran politik bukan sekedar berlakunya secara formal Islam sebagai dasar negara, tetapi yang lebih penting adalah berlakunya nilai-nilai Islam di dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbanggsa dan bernegara.
(Natsir 2014)