Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki pantai terpanjang di dunia, dengan garis pantai lebih 81.000 km. Dari 67.439 desa di Indonesia, kurang lebih 9.261 desa dikategorikan sebagai desa pesisir yang sudah bisa dipastikan sebagi besar penduduknya miskin.(Kusnadi;2002). Tegasnya, diperkirakan 22 % jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 41 Juta jiwa tinggal dan hidup di wilayah Pesisir, yang mata pencahariannya adalah dengan cara memanfaatkan sumber daya alam yang ada diwilayah pesisir baik sebagai nelayan ataupun petani tambak. (Rais;1995)
Nelayan dan petani tambak ini dipandang sangat potensial dan memegang peranan sebagai pemasok ikan, karena sebagian besar (90%) produksi ikan dihasilkan dari usaha mereka untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Bahkan lebih dari itu, nila ekonomi total yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan pembangunan (pemanfaatan) sumberdaya pesisir dan kelautan sebesar Rp.36,6 trilyun atau sekitar 22 persen dari total produk domestik bruto pada tahun 1987. Tentu saja kontribusi laut masih sangat kecil dibanding dengan Korea Selatan dan Jepang yang masing-masing memiliki garis pantai sepanjang 2.713 km dan 34.386 km, mampu menyumbang 37 % dan 54 % dari PDB masing- masing. Demikian pula halnya dengan Thailand yang memiliki garis panjang pantai yang jauh lebih kecil dari Indonesia, ternyata mampu mengekspor produk perikanan senilai 4,2 miliar dolar AS. Sementara Indonesia pada tahun 2000 hanya mengekspor 1,76 miliar dolar AS. Hal ini menunjukkan masih rendahnya produktivitas pemanfaatan sumber daya kelautan yang sebenarnya sangat kaya dan potensial. Yang lebih parah dari itu, seperti yang sering disinyalir oleh menteri kelautan dan Perikanan RI, bagaimana mungkin kemiskinan masih menjadi masalah yang menjerat nelayan dan petani tambak, pada hal mereka tinggal di wilayah yang memiliki sumber daya alam yang cukup kaya. Ini menjadi sesuatu yang paradoksal, kantong-kantong kemiskinan justru terdapat di wilayah-wilayah pesisir/laut yang sumber
daya alamnya sangat kaya. Ibarat semut yang mati kelaparan di lumbung gula. Untuk itulah masalah kemiskinan nelayan ini sejatinya harus mendapat perhatin serius bagi semua pihak dan harus di atasi dengan menggunakan berbagai macam cara.
Bentuk Kemiskinan
Setidaknya ada tiga bentuk kemiskinan yang melanda Nelayan.
Pertama, kemiskinan struktural. Kemiskinan ini diderita oleh segolongan nelayan karena kondisi struktur sosial yang ada mereka tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Jadi soalnya ketidakmerataan akses pada sumber daya karena struktur sosial yang ada. Semakin tinggi posisi sosial nelayan dalam struktur sosial yang ada, semakin besar pula peluang mereka memperoleh akses pada sumber daya, baik modal, teknologi, informasi dan pasar (Dahuri;2001). Contoh yang paling jelas, sampai saat ini nelayan belum dapat menikmati harga dari hasil produksinya karena marjin pemasaran lebih banyak jatuh ketangan pedagang atau pengusaha.
Kedua, Kemiskinan Kultural yang melihat kemiskinan terjadi karena faktor budaya seperti kemalasan yang bersumber pada nilai-nilai lokal yang memang tidak kondusif bagi suatu kemajuan. (Dahuri:2001). Bisa jadi masalahnya tidak hanya disebabkan oleh nilai-nilai lokal, adat atau tradisi, namun dapat juga terjadi akibat nilai-nilai relegius yang selama ini diyakini. Sadar atau tidak, pemahaman teologis seseorang pada hakikatnya memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap etos kerja yang dimilikinya. Menyangkut hal ini telah banyak penelitian yang dilakukan berkenaan dengan pengaruh agama terhadap etos kerja. Penelitian yang menjadi klasik dan selalu dirujuk oleh peneliti- peneliti berikutnya adalah karya Max Weber yang berjudul The Prot- estant Ethic and Spirit of Capitalisme. Di dalam karyanya Weber berhasil dengan baik menunjukkan pengaruh ajaran protestan terhadap bangkitnya Kapitalisme di Jerman.
Dalam konteks Islam, beberapa penelitian juga menunjukkan indikasi yang sama. Di antaranya, Penelitian Nanat Fatah Nasir tentang Etos Kerja Wirausahawan Muslim di Kabupaten Tasik Malaya. Jawa Barat (1999). Selanjutnya penelitian Zuly Qodir tentang Agama dan Etos Dagang yang mengambil lokasi di Pekajangan Yogyakarta (2002)
juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Tegasnya ada korelasi positif antara pemahaman teologi dengan etos kerja. Jika paham teologi yang diyakini progresif, maka etos kerjanya akan tinggi dan sebaliknya jika pemahaman teologinya tidak memberikan kebebasan pada manusia, maka etos kerjanyapun akan rendah.
Ketiga, kemiskinan alamiah terjadi di mana kondisi alam tidak
mendukung mereka melakukan kegiatan ekonomi produktif. Dalam konteks masyarakat agraris, dapat digambarkan dengan gersangnya lahan. Sementara dalam konteks masyarakat nelayan, dapat digambarkan dengan miskin atau rusaknya sumber daya pesisir laut, baik mengenai faktor alam ataupun manusia (pengeboman ikan, pencemaran, dsb).(Dahuri:2001).
Tentu saja ketiga bentuk kemiskinan tersebut harus di atasi dengan pendekatan yang berbeda. Mengutamakan yang satu serta mengabaikan yang lainnya, tidak akan pernah berhasil membawa masyarakat miskin di wilayah pesisir ke arah kehidupan yang lebih baik. Namun tulisan ini secara spesifik hanya membicarakan kemiskinan struktural dan bank syari‘ah.
Solusi
Sebagaimana yang telah diuraikan di muka, kemiskinan struktural sebenarnya lebih disebabkan suatu kondisi sosial masyarakat yang menempatkan nelayan tersebut tidak berada dalam posisi yang menguntungkan.
Setidaknya para nelayan secara sosial dapat digolongkan kepada tiga golongan. Pertama, dari segi penguasaan alat-alat produksi atau peralatan tangkap (perahu, jaring dan perlengkapan lain), nelayan itu dapat dibagi kepada nelayan pemilik alat-alat produksi dan nelayan buruh. Nelayan jenis terakhir ini tidak memiliki apa-apa kecuali hanya menyumbangkan jasanya (tenaganya) kepada nelayan pemilik. Kedua, dari skala investasi modal usaha, struktur masyarakat nelayan terbagi kepada nelayan besar yang investasi modalnya cukup besar dalam usaha perikanan, dan sebaliknya nelayan kecil yang sama sekali tidak memiliki modal yang cukup. Ketiga, dipandang dari segi peralatan dan pemanfaatan teknologi dibagi kepada nelayan modern dan nelayan tradisional. Nelayan modern biasanya menggunakan peralatan yang
lebih canggih, sebaliknya nelayan tradisional hanya menggunakan peralatan yang sangat-sangat terbelakang. (Kusnadi:2002)
Implikasi dari tipologi ini memiliki pengaruh yang signifikan dalam tingkat pendapatan masing-masing nelayan. Bisa di duga, nelayan buruh, nelayan kecil dan nelayan tradisional memiliki penghasilan yang relatif lebih kecil dibanding dengan nelayan besar dan modern. Sebenarnya jika disederhanakan, klasifikasi nelayan yang disebut di atas, dapat dibagi kepada dua katagori utama; nelayan dengan penghasilan yang relatif lebih besar dan nelayan dengan penghasilan yang relatif lebih kecil. Ironisnya, jumlah nelayan yang penghasilannya besar sangat kecil. Mayoritas adalah nelayan-nelayan kecil.
Persoalannya, mengapa nelayan-nelayan miskin ini tidak dapat bangkit? jawabnya adalah struktur sosial tidak memihak kepada mereka. Posisi sebagian besar nelayan yang tidak memiliki modal dan peralatan penangkapan yang memadai, membuat mereka berada pada posisi yang tidak seimbang dengan nelayan besar. Dalam paradigma kapitalis, hubungan mereka tak obahnya antara kalangan proletar dengan borjuis. Wajar saja bagi hasil yang mereka peroleh sering tidak adil.
Pada sisi lain, kendatipun dalam waktu-waktu tertentu nelayan- nelayan buruh/ kecil atau tradisional tersebut mendapat tangkapan yang banyak, misalnya pada musim ikan, keadaan ini tidak menjadikan mereka memiliki nilai tukar (uang) yang memadai. Masalahnya adalah, jaringan pemasaran ikan dikuasai sepenuhnya oleh para pedagang perantara. Hubungan antara nelayan dan pedagang perantara sangat kuat dan berjangka panjang. Nelayan membangun kerjasama dengan nelayan perantara untuk mengatasi kesulitan modal ataupun untuk konsumsi sehari-hari.
Pedagang perantara biasanya selalu menyediakan modal atau kebutuhan nelayan pada saat dibutuhkan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan berlaku sistem rente di mana pedagang antara menyediakan pinjaman modal dengan sistem bunga. Akhirnya, nelayan yang berjuang mati- matian mencari ikan di laut lepas, tetap berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Mereka tidak bisa menentukan harga sendiri bahkan mereka sama sekali tidak mengetahui harga di pasaran karena mereka sama sekali tidak memiliki akses terhadap pasar.
Dengan demikian yang menjadikan nelayan-nelayan kecil tidak berdaya terhadap struktur sosial yang ada, karena “mereka tidak memiliki akses terhadap sumber-sumber modal yang tidak mengeksploitasi mereka” yang sudah barang tentu menjadikan mereka tidak mampu memiliki alat-alat produksi.
Dalam kerangka menyelesaikan persoalan modal yang memberikan keadilan, maka keberadaan lembaga perbankan terlebih lagi perbankan Islam menjadi sebuah keniscayaan. Mengapa harus perbankan syari‘ah atau lebih tepatnya BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syari‘ah) yang harus diwujudkan di daerah sekitar pesisir.
Alasannya adalah, Pertama, Bank syari‘ah adalah bank yang menjunjung tinggi nilai-nilai syari‘ah seperti keadilan, kemaslahatan bersama dan persamaan. Berbeda dengan bank konvensional yang berbasis bunga yang cenderung eksploitatif, bank syari‘ah akan tampil dengan sistem bagi hasilnya yang lebih manusiawi.
Kedua, Bank Syari‘ah menyiapkan berbagai macam skim-skim yang
dapat membantu para nelayan untuk memenuhi kebutuhan modalnya, seperti mudharabah dan musyarakah. Skim ini lebih rasional dan mampu mendorong produktifitas nelayan.
Ketiga, Bank Syari‘ah juga menyediakan pembiayaan-pembiayaan
yang dapat digunakan para nelayan untuk melengkapi peralatan penangkapan ikan melalui pembiayaan murabahah, atau ba‘i bi al-saman ajil (BBA) ataupun al-ijarah al-muntahia bi al-tamlik (sewa beli). Keempat, Dalam tingkat tertentu, bank syari‘ah juga dapat berfungsi sebagai pembeli hasil penangkapan nelayan agar tidak lagi dipermainkan oleh pedagang perantara.
Kelima, Bank Syari‘ah juga pada gilirannya dapat mendidik nelayan untuk melakukan saving, dan ini merupakan cara yang paling efektif untuk merubah kultur nelayan yang cenderung konsumtif dan berpikir jangka pendek (di sini dan saat ini) menjadi berpikir untuk jangka waktu yang lebih panjang.
Keenam, Bank Syari‘ah juga dapat membantu nelayan untuk mengcover melalui asuransi takaful. Sehingga kecelakaan (jika ada dan mudah- mudahan tidak terjadi) yang dialami nelayan tidak berarti berakhirnya usaha keluarga.
lebih memungkinkan dapat dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama.Di samping itu BPRS lebih diorientasikan untuk pemberdayaan masyarakat kurang mampu.
Dengan demikian, pendirian Bank Syari‘ah di wilayah pesisir adalah keputusan yang paling tepat yang harus didukung oleh PEMKO Medan dalam kerangka meretas kemiskinan struktural yang begitu akut di wilayah pesisir Medan.
4. Peranan Ulama dan Akademisi Dalam Pengembangan