2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Nelayan
Menurut UU Nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan (Anonymous, 2004).
Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan, untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Berdasarkan status penguasaan modal, nelayan dapat dibagi menjadi nelayan pemilik dan nelayan buruh. Nelayan pemilik atau juragan adalah orang yang memiliki sarana penangkapan seperti kapal/perahu, jaring dan alat tangkap, sedngkan nelayan buruh adalah orang yang menjual jasa tenaga kerja sebagai buruh dalam kegiatan penangkapan ikan di laut, atau sering disebut anak buah kapal (ABK) (Satria, 2002).
Berdasarkan waktu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan ikan, maka nelayan juga dapat dibedakan menjadi :
1) Nelayan penuh ; adalah orang yang seluruh waktu kerjanya digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan ikan di laut;
2) Nelayan sambilan utama adalah orang yang sebagian besar waktu kerjanya digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan. Disamping melakukan pekerjaan penangkapan ikan, nelayan kategori ini dapat mempunyai pekerjaan lain; dan
3) Nelayan sambilan tambahan adalah orang yang sebagian kecil waktu kerjanya digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan (Anonymous, 2002).
Menurut Hermanto (1986), kelompok pelaku dalam usaha penangkapan ikan bila ditinjau dari bagian yang diterima oleh pelaku, diantaranya: juragan/pemilik dan ABK.
1) Juragan/pemilik adalah orang yang mempunyai perahu dan alat penangkapan ikan tetapi tidak ikut dalam operasi penangkapan ikan di laut. Juragan darat hanya menerima bagi hasil tangkapan yang diusahakan oleh orang lain. Pada umumnya juragan darat menanggung seluruh biaya operasi penangkapan.
2) ABK adalah orang yang tidak memiliki unit penangkapan dan hanya berfungsi sebagai buruh atau pandega, umumnya menerima bagi hasil tangkapan dan jarang diberi upah harian.
Kedua kelompok diatas juga terdapat pada perikanan payang. Jumlah nelayan dalam pengoperasian unit penangkapan payang berkisar antara 10-20 orang.
Biasanya nelayan payang telah membentuk satu kesatuan kerja yang tetap dan
dipimpin oleh juru mudi yang sekaligus bertindak sebagai fishing master (Monintja, 1991).
2.4 Bahan Bakar Minyak dan Dampak Kenaikan Harganya
Bahan bakar minyak (BBM) adalah salah satu hasil pertambangan yang mempunyai nilai sangat strategis bagi kehidupan suatu negara. Bahan bakar minyak dijabarkan dalam berbagai bentuk dan memiliki harga tertentu sebagaimana yang disajikan pada Tabel 1.
Kenaikan harga BBM memberikan dampak yang cukup besar bagi sektor perikanan dan kelautan terutama nelayan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar kebutuhan melaut nelayan adalah BBM. Selain harga bahan bakar untuk pengoperasian kapal semakin tidak terjangkau, kenaikan harga BBM juga berdampak pada kenaikan biaya operasional lain seperti bahan kebutuhan pokok selama melaut yang mencapai 20 hingga 30 persen dari biaya produksi, serta penyediaan es balok.
Kenaikan harga solar dari Rp 4.300,00 menjadi Rp 5.500,00 pada tanggal 23 Mei 2008 (Tabel 1) menjadikan kondisi ekonomi nelayan semakin miskin, terlebih karena tanpa kenaikan harga BBM, nelayan sudah menerima harga yang melebihi harga pasar. Hal ini terjadi karena biaya pengangkutan solar dari distributor ke daerah sekitar pesisir membutuhkan biaya yang besar yang disebabkan jarak tempuh dalam pendistibusian BBM tersebut cukup jauh. Dengan kenaikan harga BBM, nelayan harus menerima harga yang begitu tinggi, yaitu harga BBM yang secara resmi dinaikkan oleh pemerintah ditambah dengan biaya pendistribusian yang semakin tinggi.
Tabel 1 Perkembangan harga BBM di Indonesia tahun 2008
(Rp/KL) 9.136.000 11.229.000 11.277.000 10.984.000 - 6.783.500 11.560.000 Bunker
(Rp/KL) 9.136.000 11.229.000 11.133.045 10.984.000 9.708.000 6.783.500 11.560.000 Bunker
(Rp/KL) 7.870.090 9.572.482 9.313.886 9.231.973 8.206.333 5.947.446 9.797.829 Bunker
(US$/KL) 852,16 1.036,49 1.008,47 999,58 888,6 644 1.060,87
Catatan : Harga Tanpa Pajak
Wilayah 1 : Harga berlaku Ex. Suplai Point (Depot/Transit Terminal) selain Batam, Wilayah 4, UPmsVII Makasar, Upms VIII Jayapura dan Propinsi NTT
Wilayah 2 : Harga berlaku Ex. Suplai Point (Depot/Transit Terminal) di UPmsVII Makasar Wilayah 3 : Harga berlaku Ex. Suplai Point (Depot/Transit Terminal) di UPmsVIII Jayapura dan Propinsi NTT
Wilayah 4 : Harga berlaku Ext. Inst. Medan Grup, Depot Panjang TT. TG. Gerem, Depot
Pelumpang, Depot Cikampek, Inst. Tanjung Priok, Int. semarang/Pengampon, Int. Surabaya Grup
Kenaikan harga BBM akan meningkatkan biaya operasional nelayan. Seperti pada perikanan payang di Cirebon jumlah melaut 21 kali per bulan menurun tajam menjadi 8 kali per bulan. Sebagaimana diketahui, pada kenyataannya kebanyakan nelayan di Indonesia hanya menggantungkan sumber penghasilan dari hasil melaut.
Peningkatan biaya untuk BBM juga berpengaruh secara ”berantai” terhadap komponen biaya lain yang merupakan bagian dari biaya operasional. Biaya lain yang turut meningkat adalah biaya kebutuhan pokok selama melaut, biaya penyediaan es balok, serta biaya lain yang terpengaruh karena kenaikan harga BBM tersebut.
Sejauh ini belum terdapat energi alternatif bagi nelayan selain BBM (solar dan minyak tanah). Nelayan melakukan penghematan BBM dengan cara mencampur solar dengan minyak tanah, oli atau zat lain yang persentasenya tetap lebih kecil dibandingkan solar yang digunakan.”Pengoplosan” bahan bakar tersebut akan memperpendek usia mesin perahu nelayan.
3 METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2008 dengan lokasi penelitian di Desa Bandengan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Lampiran 1).
3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini, untuk mendapatkan data adalah kuisioner dan bahan yang digunakan di dalam penelitian adalah data hasil kuisioner.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan aspek yang dikaji adalah aspek pendapatan usaha penangkapan ikan nelayan payang dan aspek pengaruh kenaikan harga BBM terhadap pendapatan yang berada di sekitar Tempat Pelelangan Ikan Desa Bandengan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.
Pada aspek di atas akan diteliti input produksi yang mempengaruhi volume hasil tangkapan ikan, besaran tingkat pendapatan usaha penangkapan ikan dan pengaruh atau dampak kenaikan harga BBM terhadap tingkat pendapatan usaha penangkapan ikan nelayan. Perolehan data berupa input, besaran dan dampak diatas dilakukan dengan 3 cara, yaitu melakukan observasi (pengamatan), melakukan wawancara dengan menggunakan angket (kuisioner) dan mengumpulkan data sekunder.
Pengamatan dilakukan terhadap kegiatan nelayan payang yang berada di Desa Bandengan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon meliputi pengamatan proses persiapan melaut (terutama penyiapan kebutuhan BBM) dan proses pendaratan dan pemasaran hasil tangkapan di PPI Bandengan. Wawancara dilakukan terhadap nelayan pemilik payang; yang jumlah unit penangkapan seluruhnya 27 unit.
Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan metode sensus yaitu seluruh anggota populasi (nelayan yang memiliki dan menggunakan alat tangkap payang) di Desa Bandengan dijadikan responden berjumlah 27 nelayan.
Data pendapatan nelayan payang sebelum dan sesudah kenaikan BBM diperoleh melalui wawancara langsung terhadap responden nelayan pemilik payang dengan berpedoman pada kuisioner yang telah disiapkan sebelumnya;
meliputi: jumlah hasil tangkapan ikan per trip, harga ikan, lama hari melaut dalam sebulan, jumlah ABK dan biaya kebutuhan setiap melaut pada waktu sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM. Keseluruhan data tersebut merupakan data yang diperlukan untuk menghitung pendapatan nelayan.
Wawancara juga dilakukan untuk mendapatkan informasi profil sosial-ekonomi masyarakat nelayan di desa Bandengan Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon dan keragaman kegiatan usaha penangkapan ikannya. Data yang akan dikumpulkan disampaikan pada Tabel 2.
Pengumpulan data dibagi dalam 2 tahap, tahap pertama pengumpulan data sekunder dari instansi terkait. Instansi tersebut antara lain: Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Cirebon, Kantor Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon dan Kantor Badan Statistik Kabupaten Cirebon.
Tahap kedua adalah pengumpulan data primer yang dilakukan dengan melakukan pengamatan, wawancara dan pengisian angket (kuisioner) responden nelayan payang.
Tabel 2 Data yang dikumpulkan: data utama dan data tambahan
Data yang dikumpulkan Data Primer Data Sekunder
Data Utama
3.4 Analisis Data
Data hasil penelitian secara umum akan diolah dan dianalisis secara deskriptif melalui tabulasi dan perhitungan rata-rata. Untuk mendapatkan tingkat pendapatan usaha penangkapan ikan nelayan payang, akan dilakukan analisis pendapatan (subbab 2.2.2). Pada metode tersebut akan dihitung biaya operasi penangkapan ikan, biaya tetap, biaya variabel, bagi hasil dan biaya investasi.
Faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap perolehan volume produksi hasil tangkapan ikan dianalisis dengan uji korelasi Spearman (subbab 2.2.3), sedangkan untuk mendapatkan besaran pengaruh kenaikan harga BBM terhadap perolehan tingkat pendapatan usaha penangkapan ikan nelayan payang digunakan metode analisis komparatif antar pendapatan nelayan payang sebelum dan sesudah bulan Mei kenaikan harga BBM.
4 KEADAAN UMUM
4.1 Keadaan Geografi
Kabupaten Cirebon dengan luas wilayah 990,36 km2 merupakan bagian dari wilayah propinsi Jawa Barat yang terletak di bagian timur Jawa Barat dan merupakan batas sekaligus sebagai pintu gerbang propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Letak geografisnya antara 108º40’-108º48’ Bujur Timur dan 6º30’-7º00’
Lintang Selatan (Anonymous, 2007).
Batas administratif Kabupaten Cirebon adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Kabupaten Indramayu
Sebelah Timur : Wilayah kota Cirebon dan Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah
Sebelah Selatan : Kabupaten Kuningan Sebelah Barat Laut : Kabupaten Majalengka
Kabupaten Cirebon memiliki jarak terjauh arah barat-timur sepanjang 54 km dan utara-selatan 39 km meliputi 40 kecamatan, 412 desa dan 12 kelurahan dengan ibukota kabupaten di Sumber (Ditetapkan berdasarkan PP. No. 33 tahun 1979) (http://www.jabarprov.go.id).
Secara topografi Kabupaten Cirebon terletak pada ketinggian antara 0-130 m di atas permukaan laut. Di lihat dari permukaan tanah atau daratannya dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu dataran rendah dan dataran tinggi. Wilayah kecamatan yang terletak disepanjang pantai utara Pulau Jawa termasuk pada dataran rendah yang memiliki letak ketinggian antara 0-10 m dari permukaan laut terdiri atas Kecamatan Gegesik, Kapetakan, Suranenggala, Arjawinangun, Klangenan, Gunungjati, Kedawung, Weru, Mundu, Astanajapura, Lemahabang, Karangsembung, Waled, Babakan, Ciledug dan Losari, sedangkan wilayah kecamatan yang terletak di bagian selatan memiliki letak ketinggian antara 11-130 m dari permukaan laut (Anonymous, 2006).
Kecamatan-kecamatan yang memiliki wilayah pantai untuk kegiatan usaha penangkapan ikan di Kabupaten Cirebon terjadi di tujuh kecamatan terdiri atas Kecamatan Kapetakan, Cirebon Utara, Mundu, Astanajapura, Pangenan, Gebang dan Losari. Wilayah Kabupaten Cirebon memiliki suhu rata-rata 28ºC, suhu
tertinggi di wilayah ini dapat mencapai 33ºC sedangkan suhu terendah sekitar 24ºC. Suhu di wilayah ini cenderung tidak fluktuatif, sementara itu wilayah ini juga dikenal dipengaruhi oleh angin kumbang yang bertiup relatif kencang, terkadang berputar dan bersifat kering (http://www.jabarprov.go.id).
Iklim dan curah hujan di Kabupaten Cirebon dipengaruhi oleh keadaan alamnya yang sebagian besar terdiri atas daerah pantai, terutama bagian utara, timur, dan barat, sedangkan di sebelah selatan adalah daerah perbukitan. Menurut Schmidt dan Ferguson bahwa Kabupaten Cirebon termasuk kategori iklim tipe C dan D dengan jumlah curah hujan rata-rata per tahun berkisar antara 1000-3000 mm. Iklim kabupaten Cirebon bersifat tropis dengan jumlah curah hujan tertinggi terdapat di bagian tengah dan selatan yaitu daerah perbukitan di kaki gunung Ciremai (Kecamatan Beber, Sumber, Palimanan dan Plumbon) sedangkan curah hujan terendah umumnya di wilayah pesisir dan wilayah dataran di bagian utara (Anonymous, 2007).
4.2 Penduduk
Kabupaten Cirebon adalah salah satu kabupaten di Jawa Barat yang mempunyai luas wilayah terkecil kedua setelah Kabupaten Purwakarta tetapi mempunyai jumlah penduduk yang cukup besar. Jumlah penduduk Kabupaten Cirebon pada tahun 2007 adalah sebanyak 2.107.945 jiwa, terdiri atas laki-laki 1.057.750 jiwa dan perempuan 1.050.195 jiwa dengan luas wilayah administratif 990,36 km2. Rata-rata kepadatan penduduk di wilayah Kabupaten Cirebon adalah sebesar 2.128 jiwa per km2 dari total penduduk sebanyak 2.107.945 jiwa. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Sumber yaitu sebanyak 84.710 jiwa dengan sebaran distribusi penduduk sebesar 4,02 % dan yang terkecil adalah Kecamatan Pasaleman dengan jumlah penduduk hanya 26.678 jiwa dengan sebaran distribusi penduduk sebesar 1,27 % (Anonymous, 2008). Salah satu kecamatan di Kabupaten Cirebon adalah kecamatan Mundu, yang memiliki luas wilayah 25,58 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2007 sebanyak 66.461 jiwa.
Jumlah penduduk di Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon disajikan dalam Tabel 3 berikut :
Tabel 3 Jumlah penduduk Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon tahun 2007
Keterangan:
L=laki-laki; P=perempuan
Sumber : Kantor Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon, 2008
Jumlah penduduk Kecamatan Mundu tahun 2007 berjumlah 66.461 orang yang terdiri atas jenis kelamin laki-laki 33.554 orang dan perempun 32.907 orang.
4.3 Prasarana umum 4.3.1 Transportasi
Keberadaan sarana penghubung untuk transportasi darat di Kabupaten Cirebon relatif cukup baik dilihat dari kondisi jalan kabupaten, jalan propinsi dan jalan negara yang hampir semuanya berkondisi baik/sedang. Tingkat pengelolaan jalan untuk kategori jalan kabupaten membentang sepanjang 643,16 km seperti disajikan dalam Tabel 4.
No Desa Jumlah Penduduk (jiwa)
L P L+P
1 Waruduwur 2.001 1.986 3.987
2 Citemu 1.724 1.809 3.533
3 Mundu Pesisir 2.843 2.828 5.671
4 Suci 1.536 1.410 2.946
5 Banjarwangunan 4.972 4.789 9.761
6 Pamengkang 4.685 4.841 9.526
7 Setupatok 4.268 4.367 8.635
8 Sinarrancang 1.419 1.333 2.752
9 Penpen 3.976 3.770 7.746
10 Mundumesigit 2.119 1.866 3.985
11 Bandengan 1.637 1.633 3.270
12 Luwung 2.374 2.275 4.649
Jumlah 33.554 32.907 66.461
Tabel 4 Panjang jalan (kilometer) menurut jenis dan kondisi dirinci per tingkat pengelolaan jalan di Kabupaten Cirebon tahun 2007
Jenis dan kondisi jalan Panjang jalan (km)
Jalan kabupaten Jalan propinsi Jalan negara Jenis permukaan
Aspal 643,16 53,20 88,50
Kondisi jalan
Baik 247,26 41,5 65
Sedang 21,4 11,7 23,5
Rusak 139,3 - -
Rusak berat 46,2 - -
Jumlah 643,16 53,20 88,50
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Cirebon, 2008
Sarana transportasi darat di Kecamatan Mundu terdiri atas sepeda, delman, becak, sepeda motor, mikrolet, mobil dinas, mobil pribadi dan truk sebagaimana tertera pada Tabel 5.
Sepeda motor merupakan sarana transportasi paling dominan di Kecamatan Mundu yaitu sebesar 2.406 unit dibandingkan dengan yang lain. Adapun sarana transportasi darat di Desa Bandengan pada umumnya cukup tersedia, beberapa jenis yang digunakan adalah truk 2 unit, mobil pribadi 14 unit, sepeda motor 135 unit, becak 28 unit dan sepeda 32 unit. Adapun jalan yang menghubungkan dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bandengan menuju jalan raya sudah beraspal sehingga memudahkan jenis transportasi tersebut untuk melakukan kegiatan pengangkutan barang.
Tabel 5 Jumlah sarana transportasi darat menurut jenis sarana dan desa di
Sumber : Kantor Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon, 2008
4.3.2 Komunikasi
Dalam era modernisasi saat ini khususnya dalam sektor komunikasi banyak dikuasai oleh pasar yang mengedepankan kecepatan, kemudahan dan terjangkau.
Handphone adalah salah satu produk modernisasi dalam komunikasi, dengan mengandalkan produk SMS (Short Message Service) dimana semua pengguna dapat dengan mudah berkomunikasi secara cepat, mudah dan murah bahkan saat ini internet telah dapat di download oleh handphone sehingga layanan e-mail lebih mudah dilakukan.
Berbagai kemajuan teknologi komunikasi saat ini, sangat berpengaruh terhadap penurunan perkembangan pengiriman surat sebagai media komunikasi pada PT. POS Indonesia (persero) khususnya di Kabupaten Cirebon pada tahun 2007. Jumlah pengiriman surat pada tahun 2007 sebanyak 618.827 surat (dalam dan luar negeri) menurun 20% dibandingkan tahun 2006 (Anonymous, 2008).
Penduduk Desa Bandengan, berdasarkan wawancara terhadap nelayan, belum memiliki sarana komunikasi berupa telepon rumah sehingga menggunakan handphone (HP) untuk berkomunikasi. Pada umumnya nelayan pemilik kapal atau juragan yang memiliki handphone tersebut, sedangkan nelayan buruh belum memilikinya. Adapun sarana informasi lainnya berupa TV milik pribadi dan radio tidak semua nelayan yang memilikinya.
4.3.2 Listrik dan Air
Pada tahun 2007 PT. PLN (persero) Kabupaten Cirebon memiliki pelanggan sebanyak 280.412 orang dengan total tarif sebesar 3.737 (Rp/KWh). Sebagaimana tertera pada Tabel 6.
Tabel 6 Banyaknya pelanggan pemakai listrik menurut jenis tarif di Kabupaten Cirebon tahun 2007
Jenis Tarif Jumlah Pelanggan (pelanggan) Tarif Rp/KWh
Sosial 6.256 463,68
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Cirebon, 2008
Jumlah pelanggan pemakai listrik terbesar terdapat pada tarif rumah tangga sebanyak 265.432 pelanggan dengan tarif 506,32 (Rp/KWh). Adapun pengguna jasa listrik di Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon tersebar di 11 desa sebagaimana yang tertera pada Tabel 7.
Tabel 7 Pengguna jasa listrik menurut desa/kelurahan di Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon tahun 2007
No Desa/kelurahan Pengguna jasa PLN (pelanggan)
1 Waruduwur 415
Sumber : Data monografi Kecamatan Mundu, 2008
Selain listrik prasarana umum lainnya adalah air yang didistribusikan oleh perusahaan daerah air minum (PDAM). Pada tahun 2007 total pelanggan yang terdaftar di PDAM Kabupaten Cirebon sebanyak 23.488 pelanggan sebagaimana yang tertera pada Tabel 8.
Tabel 8 Banyaknya pelanggan dan air minum yang didistribusikan serta nilainya menurut jenis pelanggan di Kabupaten Cirebon tahun 2007
Jenis pelanggan
Jumlah
(Pelanggan) Banyak (m3) Nilai (Ribuan Rp)
Rumah tempat tinggal 22.459 3.772.358 12.099.516,6
Badan sosial dan rumah sakit 324 119.649 165.392,2
Sarana umum 56 50.010 105.087,0
Perusahaan, pertokoan dan industri 4 1.344 9.280,3
Instansi pemerintah 170 126.313 470.869,0
Lain-lain/tangki 53 11.808 170.876,1
Niaga kecil 389 113.369 384.879,4
Niaga sedang 29 18.537 92.156,9
Niaga besar 4 2.540 14.359,5
Jumlah 23.488 4.215.928 13.407.435,14
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Cirebon, 2008
Jumlah pelanggan pemakai air minum dominan terdapat pada jenis pelanggan rumah tangga sebanyak 22.459 pelanggan dibandingkan dengan lainnya. Adapun pengguna air minum di Kecamatan Mundu pada umumnya menggunakan pompa dan sumur untuk mendapatkan air guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk di Desa Bandengan.
Penduduk nelayan di Desa Bandengan belum memiliki sarana air dari PDAM sehingga menggunakan pompa dan air sumur untuk keperluan hidup sehari-hari seperti minum, mandi, mencuci, wudhu dan sebagainya. Pada tahun 2007 pengguna air minum di Desa Bandengan dengan menggunakan pompa berjumlah 135 pengguna dan sumur 75 pengguna sebagaimana yang tertera pada Tabel 9.
Tabel 9 Pengguna jasa air minum di Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon tahun 2007
No Desa/kelurahan
Pengguna jasa air minum (pengguna) PDAM
Badan pengelola
air Pompa Sumur
1 Waruduwur 2 175 35
2 Citemu 185 46
3 Bandengan 1 135 75
4 Mundupesisir 41 110 910
5 Suci 95 155
6 Banjarwangunan 276 35
7 Pamengkang 375 25
8 Setupatok 200 721
10 Penpen 256 65
11 Mundumesigit 20 175 500
12 Luwung 25 485
Jumlah 61 3 2007 3052
Sumber : Data monografi Kecamatan Mundu, 2008
Pengguna air minum di Kecamatan Mundu yang menggunakan PDAM hanya terdapat di dua desa yaitu Desa Mundupesisir dan Mundumesigit berjumlah 41 dan 20 pengguna, sedangkan desa lainnya di Kecamatan Mundu pada umumnya menggunakan pompa dan sumur dalam mendapatkan air minum. Pengguna jasa air minum menggunakan pompa dan sumur terbanyak terdapat pada Desa Pamengkang sebesar 375 pengguna dan Desa Mundupesisir sebesar 910 pengguna. Pada Desa Bandengan yang terdapat nelayan payang biasanya menggunakan air berasal dari pompa dan sumur.
5 KEADAAN PERIKANAN TANGKAP KECAMATAN MUNDU KABUPATEN CIREBON
Perikanan tangkap di Kabupaten Cirebon memiliki prasarana perikanan seperti pangkalan pendaratan ikan (PPI). Pangkalan pendaratan ikan yang baik merupakan salah satu pendukung pengembangan pembangunan perikanan, sehingga dapat memberikan kemudahan bagi nelayan untuk melaksanakan kegiatan usahanya guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.
Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Kabupaten Cirebon berjumlah 20 unit, yang terdiri atas PPI inti 2 dan PPI plasma 18 unit. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) inti tersebar di Kecamatan Cirebon Utara dan Gebang, sedangkan PPI plasma tersebar di Kecamatan Kapetakan 4 unit, Cirebon Utara 3 unit, Mundu 4 unit, Pangenan 2 unit, Babakan 5 unit dan Losari 2 unit. Salah satu PPI plasma di Kecamatan Mundu adalah PPI Desa Bandengan.
Keempat unit PPI plasma di Kecamatan Mundu adalah PPI Mundu Pesisir, PPI Bandengan, PPI Citemu dan PPI Waru Duwur. Prasarana yang dimiliki PPI Bandengan diantaranya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Tempat pelelangan ikan Desa Bandengan Kabupaten Cirebon tahun 2008.
Tempat Pelelangan Ikan PPI Desa Bandengan yang sudah dibangun sejak tahun 2007, berdasarkan hasil wawancara terhadap nelayan payang, belum memiliki aktivitas pelelangan ikan; sehingga nelayan belum dapat melakukan aktivitas pelelangan hasil tangkapannya di TPI PPI Desa Bandengan. Selama TPI belum beroperasi nelayan kebanyakan menjual hasil tangkapannya kepada tengkulak dengan tingkat harga yang relatif rendah.
Dengan adanya kenaikan harga BBM, maka nelayan yang semula melaut dengan menggunakan bahan bakar solar beralih menggunakan minyak tanah. Hal tersebut akan berdampak pada cepat rusaknya mesin kapal dan biaya pemeliharaannya meningkat seperti yang dialami oleh nelayan payang desa Bandengan. Berdasarkan hasil wawancara, minyak tanah yang dipakai ”dioplos”
terlebih dahulu dengan oli mesin; hal ini jelas akan mempengaruhi keawetan mesin. Mesin yang seharusnya mampu bertahan untuk dua tahun, kini hanya mampu bertahan hanya sekitar satu tahun. Kerusakan mesin itu bisa dilihat dari suara mesin yang kasar dan cepat panas. Mesin perahu nelayan yang menggunakan campuran minyak tanah dan oli atau solar oplosan akan mengalami rusak berat. Akibatnya mereka menjadi semakin susah karena untuk memperbaiki mesin mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Kondisi seperti itulah yang menyebabkan tidak semua nelayan dapat melaut.
5.1 Unit Penangkapan Ikan
Kapal atau perahu penangkap ikan di Kabupaten Cirebon dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu perahu tanpa motor (PTM), kapal motor (KM) dan perahu motor tempel (PMT). Perahu tanpa motor (PTM) adalah perahu yang tidak menggunakan mesin atau motor dalam operasi penangkapan ikan, kapal motor (KM) adalah kapal yang pengoperasiannya menggunakan mesin atau motor dalam (inboard motor) dimana mesin kapal ditempatkan di dalam kapal itu sendiri, sedangkan perahu motor tempel (PMT) adalah perahu yang pengoperasiannya menggunakan mesin luar sebagai tenaga penggeraknya yang ditempatkan disamping perahu atau disebut juga dengan (outboard motor).
Pada tahun 2007 jumlah armada penangkapan ikan di Kabupaten Cirebon sebanyak 4.049 unit. Armada penangkapan ikan yang mendominasi di wilayah Kabupaten tersebut pada tahun yang sama adalah perahu motor tempel (PMT)
sebanyak 4.049 unit atau 98,92% dari seluruh armada yang ada di Kabupaten Cirebon, sedangkan jumlah armada kapal motor (KM) hanya terdapat 7 unit atau 0,17 %.
Perkembangan jumlah armada penangkapan ikan di Kabupaten Cirebon per kecamatan pada tahun 2007 disajikan dalam Tabel 10.
Tabel 10 Perkembangan jumlah armada penangkapan ikan per kecamatan
Keterangan : PTM = Perahu Tanpa Motor; PMT = Perahu Motor Tempel; KM = Kapal Motor Sumber : Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cirebon 2008
Menurut Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cirebon (2008), perahu motor tempel di Kecamatan Mundu pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 13,22 % yaitu dari 4.666 unit tahun 2006 menjadi 4.049 unit tahun 2007.
Selain unit penangkapan ikan berupa perahu, unit penangkapan ikan lainnya yang digunakan nelayan dalam usaha penangkapan ikan di laut adalah alat tangkap.
Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Kabupaten Cirebon sangat bervariasi. Adapun rekapitulasi jumlah alat tangkap yang digunakan nelayan Kabupaten Cirebon per kecamatan menurut jenis alat tangkap pada tahun 2007
Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Kabupaten Cirebon sangat bervariasi. Adapun rekapitulasi jumlah alat tangkap yang digunakan nelayan Kabupaten Cirebon per kecamatan menurut jenis alat tangkap pada tahun 2007