• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Tipologi Pemikiran Filosofis Pendidikan Islam

4. Neo-Modernis

Terkahir Neo-Modernis, model ini memahami ajaran dan nilai kandungan al-Qur‘an dan sunnah dengan mempertimbangkan dan mengikutsertakan khazanah intelektual klasik di samping mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan yang ditawarkan dunia teknologi modern. Sumber rujukannya adalah al-Qur‘an, sunnah, dan khazanah

126Redja Mudyaraharj, Pengantar Pendidikan; Sebuah studi awal tentang dasar-dasar…, hlm 142. 127Redja Mudyaraharj, Pengantar Pendidikan; sebuah studi awal tentang dasar-dasar.., . hlm 29

klasik serta pendekatan keilmuan yang muncul era abad ke-19 dan 20.128 Dengan kata lain keilmuan yang muncul di era kontemporer.

Model keempat (Neo-Modernis) berupaya memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam Alquran dan al-sunnah al-sahihah dengan mengikutsertakan dan mempertimbangkan khazanah intelektual Muslim klasik serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh dunia teknologi modern. Jadi, model ini selalu mempertimbangkan Alquran dan sunnah al-sahihah, khazanah pemikiran Islam klasik, serta pendekatan-pendekatan keilmuan yang muncul pada abad ke-19 dan 20 M. Jargon yang sering dikumandangkan adalah ―Muhafazah „ala Qadim Salih wa al-Akhzu bi al-Jadid al-Aslah‖, yakni memelihara hal-hal yang baik yang telah ada sambil mengembangkan nilai-nilai baru yang lebih baik129

Kata al-Muhafazah „ala al-Qadim al-Salih, menggarisbawahi adanya unsur perenialism dan essentialism, yakni sikap regresif dan konservatif terhadap nilai-nilai Ilahi dan nilai-nilai insani (budaya manusia) yang telah ada yang telah dibangun serta dikembangkan oleh para pemikir dan masyarakat terdahulu. Namun sikap-sikap tersebut muncul setelah dilakukan kontekstualisasi, dalam arti mendudukkan khazanah intelektual Muslim klasik dalam konteksnya. Pemikiran-pemikiran mereka bukan berarti terlepas dari kritik atau undebatable (tidak bisa diperdebatkan atau dikritisi) terutama dalam konteks keberlakuannya pada masa sekarang. Karl R. Popper menawarkan

128 Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam….., hlm. 56 129

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan

prinsip falsifikasi, yaitu bahwa suatu pemikiran, teori atau ucapan bersifat ilmiah kalau terdapat kemungkinan untuk menyatakan salahnya, atau dilakukan uji falsifikasi terutama dikaitkan dengan keberlakuan atau ketidakberlakuannya pada kasus-kasus tertentu, dan/atau menguji relevan atau tidaknya pemikiran mereka dalam konteks masa sekarang dengan menggunakan pendekatan keilmuan yang ada. Hal-hal yang dipandang relevan akan dilestarikan, sebaliknya yang kurang relevan akan disikapi dengan cara al-Akhzu bi al-Jadid al-Aslah, yakni mencari alternatif lainnya yang terbaik dalam konteks pendidikan masyarakat Muslim kontemporer. Kata al-Akhzu bi al-Jadid al-Aslah ini menunjukkan adanya sikap dinamis dan progresif serta sikap rekonstruktif walaupun tidak bersifat radikal. Karena itu, dalam konteks pemikiran (filsafat) pendidikan Islam ia dapat dikategorikan sebagai tipologi perenial-esensialis kontekstual-falsifikatif.130

Dengan demikian, jargon yang dikumandangkan oleh tipologi tersebut menggarisbawahi perlunya para pemikir, pemerhati dan pengembang pendidikan Islam untuk mendudukkan pemikiran dan pengembangan pendidikan yang dilakukan pada era kenabian dan sahabat serta oleh para ulama terdahulu (pasca salafi) sebagai pengalaman mereka dan dalam konteks ruang dan zamannya. Untuk selanjutnya pengalaman tersebut perlu dilakukan uji falsifikasi, agar ditemukan relevan/tidaknya dengan konteks sekarang dan yang akan datang. Hal-hal yang dipandang relevan akan dilestarikan, sebaliknya yang kurang relevan akan dicarikan

130

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam, (Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 111.

alternatif lainnya atau dilakukan rekonstruksi tertentu dalam konteks pendidikan masyarakat Muslim kontemporer.

Jika dibandingkan dengan dua tipologi sebelumnya, yaitu perenial-esensialis salafi dan perenial-perenial-esensialis mazhabi, yang juga mengandung sikap regresif dan konservatif, maka tipologi ini lebih bersifat kritis karena adanya upaya kontekstualisasi dan falsifikasi, dan lebih bersifat komprehensif dan integratif dalam membangun kerangka filsafat pendidikan Islam. Kajian tentang persoalan hakikat komponen-komponen pokok aktivitas pendidikan Islam serta persoalan landasan/dasar pemikirannya dibangun dari nash Alquran dan al-hadis melalui model penafsiran tematik (maudlu‟i), dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai khazanah intelektual Muslim klasik di bidang pendidikan Islam yang dianggap relevan dan kontekstual, serta mencermati nilai-nilai dan sistem pendidikan yang perlu dikembangkan pada era sekarang.

Dari kelima tipologi tersebut di atas, dapat ditegaskan bahwa pada masing-masing tipologi terdapat titik temu dalam aspek rujukan utama mereka kepada fakta-fakta, informasi, pengetahuan, serta ide-ide dan nilai-nilai esensial yang tertuang dan terkandung dalam Alquran dan al-sunnah. Perbedaan dari masing-masing tipologi tersebut terletak pada tekanannya dalam pengembangan wawasan kependidikan Islam dari rujukan utama tersebut.

Tipologi perenial-esensialis kontekstual-falsifikatif mengambil jalan tengah antara kembali ke masa lalu dengan jalan melakukan

kontekstualisasi serta uji falsifikasi dan mengembangkan wawasan-wawasan kependidikan Islam masa sekarang selaras dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan sosial yang ada. Fungsi pendidikan Islam adalah sebagai upaya mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai (Ilahiyah dan insaniyah) dan sekaligus menumbuhkembangkannya dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan sosial yang ada.

Pemikirannya mengambil hasil pemikiran klasik yang baik dan dikontekstualisasikan pada eranya untuk mengembangkan rumusan-rumusan dan nilai-nilai baru. Jargon yang sering didengungkan adalah al muhafazah „ala al-qadim al-shalih wa al-akhzu bi al jadid al-aslah. Karena itu dalam neo-modernis terdapat unsur perennialis dan esensialis; bersikap regresif dan konservatif pada nilai-nilai Illahiyah dan insaniyah yang telah dibangun pemikir klasik. Akan tetapi, sikap ini kemudian dikontekstualisasi yakni mendudukkan khazanah intelektual klasik pada konsteksnya.

Sikap mengkontekstualisasi ini, bukanlah proyek mudah, bisa saja menimbulkan kontroversi dan perdebatan. Diperlukan prinsip falsifikasi; di mana suatu pemikiran, teori atau ucapan bersifat ilmiah jika ada kemungikanan untuk menyatakan salahnya. Melakukan uji falsifikasi dalam kaitan keberlakuan atau ketidakberlakuannya pada kasus-kasus tertentu, dan menguji relevan atau tidaknya pemikiran pendahulu dalam konteks masa kini dengan menggunakan pendekatan keilmuan yang ada. Yang relevan akan dilestarikan dan yang tidak relevan disikapi dengan

mencari alternatif lainnya yang terbaik (al-akhzu bi al jadid al-aslah) dalam konteks pendidikan masyarakat Muslim kontemporer.131

Dokumen terkait