Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II tahun 2014 surplus sebesar USD 4,3 miliar atau lebih tinggi dibandingkan dengan surplus NPI pada triwulan I tahun 2014 yang mencapai USD 2,1 miliar. Membaiknya kinerja NPI tersebut ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang mencatat peningkatan surplus dibandingkan dengan triwulan I tahun 2014 sehingga dapat membiayai sepenuhnya defisit transaksi berjalan yang melebar sesuai pola musimannya. Pada triwulan II tahun 2014, surplus neraca transaksi modal dan finansial tercatat sebesar USD 14,5 miliar, jauh meningkat dibandingkan pada triwulan I tahun 2014 yang mencapai USD 7,6 miliar. Sejalan dengan surplus NPI, cadangan devisa Indonesia pada triwulan II tahun 2014 mencapai USD 107,7 miliar atau setara dengan 6,1 bulan impor.
Surplus neraca transaksi modal dan finansial yang didorong oleh meningkatnya total aliran masuk modal portofolio dan aliran masuk investasi langsung mencerminkan kepercayaan investor kepada Indonesia. Instrumen investasi portofolio tercatat sebesar USD 7,7 miliar meskipun lebih rendah USD 1,4 miliar dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sedangkan investasi langsung tercatat sebesar USD 4,8 miliar atau meningkat USD 1,3 miliar dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Selain itu, surplus neraca transaksi modal dan finansial juga dipengaruhi oleh surplus investasi lainnya yang tercatat sebesar USD 1,9 miliar. Pada triwulan I tahun 2014, investasi lainnya defisit sebesar USD -4,8 miliar. Surplus investasi lainnya berasal dari penarikan simpanan milik perbankan domestik di luar negeri, selain untuk memenuhi kebutuhan nasabah juga untuk memanfaatkan fasilitas simpanan berupa instrumen term deposit valas yang disediakan oleh Bank Indonesia.
Jul Agt Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun
2013 2014
Produksi Semen (Ribu Ton) 4665 3705 5003 5223 5171 5262 4605 4268 4823 4424 4989 5029 Pertumbuhan YoY (Persen) -1,4 -11,3 7,6 8,6 5,1 5,3 8,4 3,6 5,1 4,9 11,3 7,8
-15,0 -10,0 -5,0 0,0 5,0 10,0 15,0 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000
Tabel 9. Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I Tahun 2012 – Triwulan II Tahun 2014 (Miliar USD) 2012 2013 2014 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1-Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1-Q4 Q1 Q2 I. Transaksi Berjalan -3,2 -8,2 -5,3 -7,8 -24,4 -6,0 -10,1 -8,6 -4,3 -29,1 -4,2 -9,1 A. Barang 3,2 0,8 3,2 0,8 8,6 1,6 -0,6 0,1 4,7 5,8 3,4 -0,5 - Ekspor 48,4 47,5 45,5 47,1 188,5 44,9 45,2 43,8 48,1 182,1 43,9 44,2 - Impor -44,5 -46,7 -42,4 -46,3 -179,9 -43,3 -45,8 -43,7 -43,4 -176,3 -40,6 -44,7 1. Nonmigas 4,7 2,0 4,0 3,2 13,9 4,1 1,3 2,1 6,3 13,8 5,6 2,4 a. Ekspor 38,6 38,4 37,4 38,5 152,9 36,1 37,6 35,6 39,7 149,8 35,8 36,4 b. Impor -33,9 -36,5 -33,5 -35,3 -139,1 -32,0 -36,1 -32,8 -32,9 -132,9 -30,2 -34,0 2. Minyak -5,3 -5,3 -4,2 -5,6 -20,4 -6,4 -5,1 -5,7 -5,4 -22,5 -6,1 -6,1 a. Ekspor 4,6 4,3 4,2 4,7 17,9 4,3 4,2 4,8 4,5 17,9 3,5 0,0 b. Impor -9,9 -9,7 -8,4 -10,3 -38,3 -10,7 -9,3 -10,5 -9,9 -40,4 -9,6 0,0 3. Gas 4,4 4,2 3,4 3,2 15,2 3,5 3,0 3,0 3,2 12,8 3,3 3,0 a. Ekspor 5,2 4,8 3,9 3,8 17,7 4,2 3,7 3,7 4,1 15,7 4,1 3,6 b. Impor -0,8 -0,6 -0,5 -0,6 -2,5 -0,7 -0,7 -0,7 -0,9 -2,9 -0,8 -0,7 B. Jasa - jasa -2,0 -2,8 -2,4 -3,2 -10,3 -2,6 -3,6 -2,8 -3,1 -12,1 -2,2 -2,9
II. Transaksi Modal dan Finansial 2,1 5,1 5,9 12,1 25,1 -0,7 8,6 5,0 9,0 22,0 7,6 14,5
A. Transaksi modal 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 B. Transaksi finansial 2,1 5,1 5,9 12,1 25,1 -0,7 8,6 5,0 9,0 21,9 7,6 14,5 1. Investasi langsung 1,6 3,7 4,5 4,1 14,0 3,6 3,7 5,9 0,5 13,7 3,5 4,8 2. Investasi portofolio 2,6 3,9 2,5 0,2 9,2 2,8 3,4 1,6 1,8 9,5 9,1 7,7 3. Investasi lainnya -2,1 -2,5 -1,2 7,7 1,9 -6,9 1,6 -2,2 6,7 -0,9 -4,8 1,9 III. Total ( I + II ) -1,1 -3,1 0,6 4,3 0,7 -6,6 -1,5 -3,2 4,5 -7,2 3,5 5,4 IV. Selisih Perhitungan Bersih 0,0 0,3 0,2 -1,0 -0,5 0,0 -1,0 1,0 -0,2 -0,2 -1,4 -1,1 V. Neraca Keseluruhan (III+IV) -1,0 -2,8 0,8 3,2 0,2 -6,6 -2,5 -2,6 4,4 -7,3 2,1 4,3
- Posisi Cadangan Devisa 110,5 106,5 110,2 112,8 112,8 104,8 98,1 95,7 99,4 99,4 102,6 107,7
Dalam Bulan Impor 6,2 5,8 6,1 6,1 6,1 5,7 5,4 5,2 5,5 5,5 5,7 6,1
Transaksi Berjalan (%PDB) -1,5 -3,7 -2,4 -3,6 -2,8 -2,7 -4,5 -3,9 -2,1 -3,3 -2,1 -4,3
Sumber: Bank Indonesia
Meskipun demikian, surplus NPI tertahan oleh kinerja defisit neraca transaksi berjalan yang pada triwulan II tahun 2014 semakin melebar. Pada triwulan II tahun 2014 defisit neraca transaksi berjalan besarnya mencapai USD -9,1 miliar, setelah pada triwulan sebelumnya hanya mencapai USD -4,1 miliar. Hal ini didorong oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan migas yang besarnya USD -3,2 miliar atau lebih tinggi dibandingkan dengan defisit neraca perdagangan migas pada triwulan sebelumnya yang besarnya USD -2,7 miliar. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat meningkatnya impor migas terutama karena meningkatnya
volume impor minyak mentah, sementara ekspor migas mengalami penurunan karena ekspor LNG yang rendah akibat penurunan produksi di LNG Arun. Pada triwulan II tahun 2014, nilai impor migas sebesar USD 10,7 miliar meningkat cukup signifikan setelah pada periode sebelumnya hanya mencapai USD 10,3 miliar. Di sisi lain, surplus neraca perdagangan nonmigas menyempit seiring meningkatnya impor nonmigas karena peningkatan kebutuhan masyarakat terkait puasa dan Idul Fitri. Pada triwulan II tahun 2014, nilai pada impor nonmigas sebesar USD 34,0 miliar, meningkat cukup signifikan setelah pada periode sebelumnya hanya mencapai USD 30,2 miliar. Selain pelebaran defisit neraca perdagangan migas, defisit neraca jasa juga melebar akibat meningkatnya pembayaran jasa transportasi barang seiring dengan kenaikan impor serta meningkatnya perjalanan masyarakat ke luar negeri selama liburan sekolah. Dalam periode yang sama, defisit neraca pendapatan juga meningkat terutama karena mengikuti jadwal pembayaran dividen dan bunga utang luar negeri kepada investor asing.
BOX 1
Rencana Kerja Pemerintah 2015 di Bidang Ekonomi
Di tengah transisi kepemimpinan Indonesia, pemerintah menetapkan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2015 dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan serta untuk menghindari kekosongan rencana pembangunan nasional bagi pemerintahan
berikutnya. Tema RKP 5 adalah Melanjutkan Reformasi bagi Percepatan
Pembangunan Ekonomi yang Berkeadilan .
Di bidang ekonomi, kondisi lingkungan global yang diperkirakan dapat mempengaruhi ekonomi Indonesia pada tahun 2015 antara lain integrasi perekonomian global dengan diberlakukannya ASEAN Community 2015, krisis kawasan Eropa yang masih belum pulih, harga komoditas dunia yang masih melanjutkan tren penurunan ataupun flat, dan rencana berakhirnya stimulus moneter (tapering off) di AS sampai akhir tahun 2014. Sementara itu, berbagai hambatan di dalam negeri akan dihadapi dengan berbagai langkah yang tepat, antara lain penguatan ekonomi domestik melalui investasi agar daya beli meningkat, peningkatan efektivitas belanja negara terutama yang terkait dengan prioritas belanja negara infrastruktur, serta peningkatan efektivitas penerimaan negara sekaligus pengurangan defisit anggaran.
Dengan memperhatikan perkiraan kondisi ekonomi global dan domestik pada tahun 2015, tantangan dan kebijakan pokok yang dihadapi adalah sebagai berikut:
1. Memantapkan Perekonomian Nasional. Perhatian akan di tujukan pada peningkatan investasi, industri pengolahan nonmigas, daya saing ekspor, peningkatan efektivitas penerimaaan negara, penguatan penyerapan belanja negara, dan pemantapan ketahanan pangan dan energi;
2. Menjaga Stabilitas Ekonomi. Dorongan akan diberikan pada langkah-langkah yang terpadu untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri dan nilai tukar risiko fluktuasi harga komoditi baik migas maupun nonmigas, serta pengendalian arus modal;
3. Mempercepat Pengurangan Pengangguran dan Kemiskinan. Upaya akan ditujukan dalam rangka menciptakan lapangan kerja yang lebih besar serta dapat menjangkau masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dengan program-program pemberdayaan yang tepat dan terpadu.
Arah kebijakan ekonomi makro di atas, sebagai dasar penerapan sasaran kebijakan ekonomi makro 2015 dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan sebesar 5,8 persen. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta stabilitas ekonomi yang terjaga, sasaran kuantitatif tingkat pengangguran terbuka tahun 2015 diperkirakan sebesar 5,5-5,7 persen pada tahun 2015 dan jumlah penduduk miskin menjadi berkisar antara 9,0-10,0 persen pada tahun 2015.
Perkembangan dan Sasaran Ekonomi Makro dan Proyeksi Neraca Pembayaran Tahun 2014-2015
Uraian 2010 2011 2012 2013
2014 2015
Perkiraan Sasaran
Pertumbuhan Ekonomi (persen) 6,2 6,5 6,3 5,8 5,5 5,5-6,0
Laju Inflasi (persen) 7,0 3,8 4,3 8,4 5,3 4,4
Tingkat Pengangguran Terbuka (persen) 7,1 6,6 6,07 6,17 5,6-5,9 5,5-5,7
Penduduk Miskin (Persen) 13,3 12,49 11,66 11,47 9,0-10,5 9,0-10,0
Transaksi Berjalan (USD Miliar) 5,1 1,7 -24,2 -28,5 -21,9 -19,9
Neraca Keseluruhan (USD Miliar) 30,3 11,9 0,2 -7,3 8,56 8,54
Cadangan Devisa (USD Miliar) 96,2 110,1 112,8 99,4 107,9 116,4
Sumber: Rencana Kerja Pemerintah 2015
BOX 2
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2014
Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memutuskan untuk menyetujui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan tahun anggaran 2014. Dengan disetujuinya perubahan APBN-P 2014 maka pemerintah menyepakati sejumlah perubahan asumsi makroekonomi APBN 2014.
Dalam asumsi dasar ekonomi makro APBN-P 2014, ekonomi diasumsikan tumbuh sebesar 5,5 persen (YoY) atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dalam asumsi dasar ekonomi makro APBN 2014 yang besarnya 6,0 persen (YoY). Perlambatan ekonomi Indonesia diperkirakan terjadi akibat kinerja sektor eksternal yang diperkirakan masih lemah sebagai implikasi dari kebijakan hilirisasi industri. Tingkat inflasi sebesar 5,3 persen (YoY) juga diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan asumsi dasar ekonomi makro APBN 2014 sebesar 5,5 persen (YoY). Penurunan inflasi didorong oleh membaiknya pasokan barang dan jasa. Sementara itu, dalam asumsi dasar ekonomi makro APBN-P, nilai tukar diperkirakan sebesar Rp 11.600 atau lebih tinggi dibandingkan dengan nilai tukar pada asumsi dasar ekonomi makro APBN 2014. Pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan karena adanya defisit transaksi berjalan serta ketidakseimbangan di pasar valuta asing (valas) domestik akibat tingginya permintaan valas di tengah terbatasnya pasokan. Selain itu, pasar keuangan global juga masih tidak stabil akibat tapering off yang dilakukan oleh pemerintah AS.
Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2011-2014
No. Indikator Ekonomi 2011 2012 (APBN-P) 2013 (APBN) 2014 (APBN-P) 2014
1. Pertumbuhan Ekonomi (%) 6,5 6,2 6,3 6,0 5,5
2. Inflasi (%) 3,8 4,3 7,2 5,5 5,3
3. Nilai Tukar (Rp/USD) 8.779 9.380 9.600 10.500 11.600
4. Suku Bunga SPN 3 Bulan (%) 4,8 3,2 5,0 5,5 6,0
5. Harga Minyak ICP
(USD/barel) 111,5 112,7 108,0 105,0 105,0
6. Lifting Minyak (ribu
barel/hari) 898,5 859,0 840,0 870,0 818,0
7. Lifting Gas (ribu barel setara
minyak/hari) - - 1.240,0 1.240,0 1.224,0
Sumber: Kementerian Keuangan
Dengan asumsi makroekonomi tersebut, juga disepakati dalam APBN-P tahun 2014 bahwa pendapatan negara ditetapkan Rp 1.635,4 triliun. Target pendapatan negara ini didukung dengan kebijakan untuk mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan dari perpajakan dan bukan pajak. Sementara itu, belanja negara disepakati sebesar Rp 1.876,9 triliun dengan penghematan belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 43 triliun dan diharapkan akan terjadi pengendalian subsidi energi melalui pengendalian volume BBM bersubsidi serta harmonisasi tarif tenaga listrik. Dengan demikian, defisit APBN-P 2014 ditetapkan sebesar Rp 241,5 triliun atau 2,4 persen PDB.
Dengan asumsi makroekonomi tersebut, juga disepakati dalam APBN-P tahun 2014 bahwa pendapatan negara ditetapkan Rp 1.635,4 triliun. Target pendapatan negara ini didukung dengan kebijakan untuk mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan dari perpajakan dan bukan pajak. Sementara itu, belanja negara disepakati sebesar Rp 1.876,9 triliun dengan penghematan belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 43 triliun dan diharapkan akan terjadi pengendalian subsidi energi melalui pengendalian volume BBM bersubsidi serta harmonisasi tarif tenaga listrik. Dengan demikian, defisit APBN-P 2014 ditetapkan sebesar Rp 241,5 triliun atau 2,4 persen PDB.
BOX 3
Kebijakan Pembatasan Bahan Bakar Minyak Bersubsidi
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengatur pengendalian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi melalui surat edaran kepada penyalur BBM bersubsidi, yaitu PT Pertamina, PT AKR Corporindo Tbk, dan PT Surya Parna Niaga (SPN). Di dalam surat tersebut, BPH Migas meminta waktu penjualan solar bersubsidi di stasiun pengisian bahan bakar umum di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali akan dibatasi hanya pukul 08.00 hingga 18.00 mulai Senin, 4 Agustus 2014. Pembatasan konsumsi BBM bersubsidi dilakukan setelah kuota yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2014 (APBN-P 2014) terancam terlampaui. Hingga 31 Juli 2014, konsumsi solar bersubsidi mencapai 9,12 juta kiloliter atau menghabiskan 60 persen jatah APBN-P 2014. Sementara itu, realisasi konsumsi permium mencapai 17,08 juta kiloliter atau 58 persen dari kuota APBN-P 2014.
Selain itu, kebijakan ini dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan BBM bersubsidi yang sering dibeli, ditimbun, dan dijual kembali ke industri perkebunan dan pertambangan. Langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh BPH Migas ialah menghentikan penjualan premium di sedikitnya 24 SPBU di pinggir jalan tol dan pengaturan penyaluran solar bersubsidi kepada nelayan dengan bobot kapal lebih dari 30 gross ton.
Namun, kebijakan tersebut dikhawatirkan akan menciptakan black market dengan membeli solar bersubsidi pada periode yang diizinkan lalu dijual ke pihak industri di luar waktu yang diizinkan. Karena itulah, kebijakan ini memerlukan pengawasan yang ketat dari pemerintah.
Secara keseluruhan, langkah pengendalian BBM bersubsidi diperkirakan tidak akan terlalu berdampak pada tingkat inflasi. Namun, langkah ini diperkirakan akan berdampak langsung ke sektor transportasi karena kendaraan pengguna solar adalah truk dan bus. Adapun truk merupakan kendaraan yang paling banyak digunakan untuk kepentingan logistik. Kenaikan biaya logistik diperkirakan akan meningkatkan harga-harga kebutuhan pokok. Pembatasan penjualan BBM bersubsidi juga dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena dapat membuat pengusaha kesulitan memenuhi kebutuhan BBM untuk industri dan pengangkut produk.