Tugas Mandiri Bilamana suatu neraca
II. Neraca Rekening Modal
Jumlah = + 800
II. Neraca Rekening Modal
a. Neraca Modal = – 600 b. Neraca Moneter = – 200 + Jumlah = – 800 + Jumlah I dan II = 0 Keterangan:
I. Neraca Rekening Berjalan
Pada tahun 2006, transaksi perdagangan negara A mengalami surplus 1.000, akan tetapi transaksi jasa defisit 200. Berarti rekening berjalannya tinggal surplus 1.000 – 200 = 800.
II. Neraca Rekening Modal
Surplus 800 digunakan untuk mencicil pinjaman modal sebesar 600 dan 200 untuk menambah cadangan devisa. Berarti rekening modalnya 800. Antara rekening berjalan dengan rekening modal jumlahnya sama, sehingga rekening berjalan ditambahkan rekening modal jumlah saldonya nol. Contoh 2
I. Neraca Rekening Berjalan
a. Neraca Perdagangan = – 1.000
b. Neraca Jasa = + 200
+
Jumlah = – 800
II. Neraca Rekening Modal
a. Neraca Modal = + 600 b. Neraca Moneter = + 200 + Jumlah = + 800 + Jumlah I dan II = 0
Keterangan:
I. Neraca Rekening Berjalan
Pada tahun 2006, transaksi perdagangan negara A mengalami defisit 1.000, akan tetapi transaksi jasa surplus 200. Berarti rekening berjalannya tinggal minus 1.000 – 200 = minus 800.
II. Neraca Rekening Modal
Untuk menutup defisit 800 dengan cara menambah pinjaman modal sebesar 600 dan kekurangan 200 diambil-kan dari cadangan devisa, sehingga rekening modalnya 800. Antara rekening berjalan dengan rekening modal jumlahnya sama, sehingga rekening berjalan dikurangi rekening modal jumlah saldonya (0).
D. Kebijakan Perdagangan Internasional
Setiap negara yang melakukan kegiatan perdagangan internasional selalu berusaha tetap melindungi perekonomian dalam negerinya. Setiap negara mempunyai kebijakan yang berbeda-beda untuk mengatasi permasalahan tersebut. Setiap kebijakan yang diambil, mempunyai akibat dan pengaruh yang berbeda-beda bagi masing-masing negara.
Adapun kebijakan yang selama ini dilakukan antara lain sebagai berikut.
1. Tarif Impor
Kebijakan tarif merupakan salah satu cara melindungi perekonomian dalam negeri terutama produsen dalam negeri. Pernahkah kalian membandingkan produk tas luar negeri dengan tas buatan dalam negeri? Sebelum dikenakan tarif, produk tas dalam negeri mempunyai harga yang relatif mahal dibanding tas dengan kualitas yang sama buatan luar negeri. Hal ini dikarenakan biaya produksi tas dalam negeri lebih tinggi daripada biaya produksi tas buatan luar negeri. Akibatnya para produsen tas di Indonesia tidak mampu bersaing dengan produk tas impor yang harganya lebih murah. Lalu, bagaimana pemerintah melindungi produsen dalam negeri? Dengan kebijakan tarif maka setiap barang yang berasal dari luar negeri yang masuk ke pasar dalam negeri dikenakan tarif. Jadi, harga barang impor yang kamu temukan sekarang merupakan harga setelah dikenakan tarif, sehingga harga tas buatan luar negeri menjadi lebih mahal di pasar dalam negeri dibanding tas buatan dalam negeri. Dengan demikian diharapkan tas buatan dalam negeri dapat bersaing dengan tas impor, bila mungkin dengan kualitas yang lebih bagus. Hal ini diharapkan juga berlaku bagi barang-barang lain dari luar negeri yang masuk ke pasar dalam negeri.
Ditinjau dari sudut perdagangan internasional, sistem per-ekonomian Indonesia menganut sistem ekonomi terbuka. Hal ini tampak pada besarnya nilai perdagangan internasional Indo-nesia dalam kegiatan ekonomi.
Permintaan dalam negeri terhadap tas digambarkan oleh kurva permintaan D dan penawaran dalam negeri oleh kurva GS. Apabila tidak ada hubungan dengan luar negeri, keseimbangan akan terletak di titik I. Ketika negara tersebut membuka perdagangan dengan luar negeri, penawaran barang impor ke negara tersebut digambarkan dengan kurva P1S' (bagi negara berkembang kurva penawaran barang akan horizontal). Akibatnya, konsumen dalam negeri menghadapi kurva penawarannya tidak lagi GS, tetapi GAS’, maka produksi dalam negeri sebesar OQ1, impor sebesar Q1Q4 dan konsumsi total sebesar OQ4. Harga yang terjadi adalah harga barang impor sebesar OP1 dan harga barang dalam negeri lebih tinggi dari itu. Seandainya pemerintah mengenakan tarif (bea masuk) sebesar P1P2, harga barang luar negeri menjadi OP2, dan kurva penawarannya bukan lagi GAS´, tapi GBS". Dari sini terlihat bahwa produksi dalam negeri naik menjadi OQ2, impor turun menjadi Q2Q3, dan harga pun naik menjadi OP2.
Proteksi yang diberikan pemerintah membuat harga barang impor menjadi lebih mahal di dalam negeri. Dengan demikian, barang-barang dalam negeri bisa bersaing dengan barang impor. Para produsen diuntungkan dua kali yaitu bisa menjual barang lebih banyak (tadinya OQ1 menjadi OQ2) dan harga barangnya bisa lebih mahal. Sebaliknya, konsumen dirugikan dua kali yaitu mengurangi konsumsi (dari OQ4 jadi OQ3) dan mereka harus membayar dengan harga lebih mahal.
2. Larangan Impor
Dalam kebijakan larangan impor, produksi luar negeri sama sekali tidak boleh masuk ke pasaran dalam negeri. Untuk jelasnya dapat kamu lihat melalui kurva berikut ini.
Dewasa ini kebijakan pemerintah mengenai beras impor mendapat sorotan banyak pihak.
1. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang kebijakan pemerintah tersebut dari surat kabar!
2. Buatlah dalam bentuk kliping, kemudian kumpulkan kepada gurumu untuk didiskusikan bersama!
Tugas Bersama
Gambar 5.2 Pengaruh tarif impor terhadap permintaan dan penawaran
Sebelum pelarangan impor, kurva penawaran barang adalah GAS´, produksi dalam negeri OQ1, impor sebesar Q1Q3, dan tingkat harga OP1. Setelah impor dilarang, kurva penawarannya menjadi GES yang berakibat produksi dalam negeri naik menjadi OQ2, jumlah barang di pasaran berkurang (dari OQ3 menjadi OQ2), dan harga barang naik dari OP1 ke OP2. Pengaruhnya hampir sama dengan pengaruh tarif, hanya kenaikan harganya cukup tinggi.
3. Kuota
Kuota adalah kebijakan pemerintah untuk membatasi jumlah fisik barang yang diperdagangkan secara internasional. Kuota impor artinya pembatasan jumlah barang yang diimpor. Sebagai suatu alat proteksi, kuota jauh lebih efektif dibandingkan dengan tarif. Untuk lebih jelasnya perhatikan kurva berikut.
Gambar 5.3 Pengaruh larangan impor terhadap permintaan dan penawaran.
Sebagai contoh, pemerintah membatasi impor barang elektronik berupa televisi ke Indonesia. Sebelum diberlakukannya kuota, produksi dalam negeri sebesar OQ1, impor Q1Q4, dan harga P1. Setelah pembatasan (misalnya boleh masuk maksimum Q2Q3),
harga televisi naik menjadi OP2, produksi dalam negeri naik menjadi OQ2, dan impor sesuai dengan kuota sebesar Q2Q3.
4. Subsidi
Subsidi diberikan pemerintah agar produsen dalam negeri bisa menjual barangnya dengan harga lebih murah dibanding harga barang dari luar negeri, sehingga bisa bersaing dengan produk impor. Bentuk subsidi berupa uang yang diberikan secara langsung dan subsidi per unit produksi. Pengaruh subsidi dapat dilihat melalui kurva berikut.
Gambar 5.5 Pengaruh subsidi terhadap permintaan dan penawaran
Sebelum pemerintah memberi subsidi, produksi dalam negeri OQ1, impor Q1Q3, dan harga OP1. Seandainya pemerintah menghendaki produksi dalam negeri naik sehingga impor tidak lebih dari Q1Q3, artinya pemerintah berupaya agar kurva S bergeser ke S*. Supaya kebijakan ini berjalan, pemerintah harus memberi subsidi kepada produsen sebesar BC dan akibatnya produksi dalam negeri naik menjadi OQ2, impor berkurang menjadi Q2Q3 (sesuai target) dan konsumsi masyarakat tetap OQ3 dengan harga OP1. Dari kurva di atas dapat disimpulkan beberapa hal penting mengenai subsidi sebagai berikut.
a. Besarnya subsidi total yang diberikan kepada produsen adalah sebesar bidang P1P2BC
b. Tingkat harga tetap yaitu OP1.
c. Jumlah konsumsi masyarakat juga tetap yaitu OQ3.
5. Politik Dumping
Salah satu kebijakan dalam perdagangan internasional yang banyak mendapat sorotan adalah dumping. Kebijakan ini merupakan salah satu bentuk diskriminasi harga, di mana suatu negara mengekspor hasil produksinya ke pasar negara lain