• Tidak ada hasil yang ditemukan

Net Present Value (NPV)

Dalam dokumen BANDENG TANPA DURI BANK INDONESIA (Halaman 71-76)

HASIL PERHITUNGAN ASPEK KEUANGAN

1. Net Present Value (NPV)

NPV adalah nilai sekarang dari arus yang dihasilkan usaha di masa yang akan datang dikurangi nilai investasi pada awal periode. NPV dirumuskan sebagai berikut: n CFn

NPV = ∑ --- - I0 t=1 (1+WACC)n

Keterangan:

CFn = arus kas pada periode ke n

WACC = rata-rata tertimbang biaya modal (weighted average cost of capital) I0 = investasi pada awal periode.

Arus kas (CFn) terdiri dari arus kas masuk dan arus kas keluar. Selisih kedua arus kas tersebut disebut sebagai arus kas bersih. Dengan mendiskontokan arus kas bersih tersebut dengan biaya modal (WACC), maka diperoleh nilai sekarang (present value) dari arus kas tersebut. Arus kas bisa positif bisa pula negatif. Investasi awal tentu merupakan arus kas negatif. Total seluruh arus kas tersebut akan menghasilkan nilai bersih arus kas (net present value).

Jika NPV positif berarti usaha layak untuk dijalankan. Jika NPV negatif berarti usaha tersebut tidak layak dijalankan. Jika NPV sama dengan nol berarti imbal hasil (return) investasi tersebut sama persis dengan biaya modalnya. Investasi di sektor ril mempunyai resiko yang lebih besar daripada deposito misalnya. Untuk mengkompensasi resiko yang besar tersebut, investor meminta imbal hasil yang besar pula. Jika imbal hasil usaha yang akan dianalisis ini tidak lebih baik daripada investasi lain yang resikonya lebih kecil, investor tidak akan menjalankan usaha ini. Cara menghitung NPV adalah seperti pada Tabel L1.1.

LAMPIRAN 2

Tabel L1.1

Contoh Perhitungan NPV

Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun

Uraian 0 1 2 3 4 5

ARUS KAS MASUK

Laba Operasi x (1 - Tarif Pajak) 2.500 2.500 2.500 2.500 2.500 Biaya Penyusutan 200 200 200 200 200 Nilai Sisa Harta Tetap 500 Nilai Sisa Modal Kerja Bersih 750 Total Arus Kas Masuk 2.700 2.700 2.700 2.700 3.950

ARUS KAS KELUAR

Harta Tetap 6.000

Perubahan Modal Kerja Bersih 370 300 0 0 0 0 Total Arus Kas Keluar 6.370 300 0 0 0 0

Arus Kas Bersih -6.370 2.400 2.700 2.700 2.700 3.950

Discount Rate = WACC 15,5% 1,0000 0,8657 0,7494 0,6487 0,5615 0,4861 PV -6.370 2.078 2.023 1.751 1.516 1.920 NPV 2.918

Cara mendapatkan angka-angka pada Tabel L1.1 di atas adalah sebagai berikut: Laba operasi diperoleh dari proyeksi laba rugi.

1.

Biaya penyusutan dan nilai sisa harta tetap didapatkan dari nilai perolehan harta 2.

tetap dibagi dengan nilai ekonomisnya (metode penyusutan garis lurus). Nilai sisa harta tetap adalah selisih antara nilai perolehan dan akumulasi penyusutannya pada akhir tahun proyeksi (dalam contoh ini akhir tahun kelima).

Nilai sisa modal kerja diperoleh dari selisih harta lancar dan utang lancar pada 3.

akhir tahun proyeksi (dalam contoh ini akhir tahun kelima.

Harta tetap pada awal periode adalah total kebutuhan harta tetap yang 4.

dibutuhkan.

Perubahan modal kerja bersih diperoleh dengan cara sebagai berikut: 5.

Hitung kebutuhan modal kerja yaitu untuk mendanai harta lancar yang terdiri •

dari kas untuk berjaga-jaga, piutang usaha, persediaan bahan baku, barang dalam proses, barang jadi, dan biaya sewa. Dana tersebut sebagian sudah dibutuhkan sejak awal periode, misalnya untuk biaya sewa, membeli bahan baku dan biaya pengolahannya.

Hitung utang lancar yang dapat digunakan untuk menalangi sebagian •

BANDENG TANPA DURI

kebutuhan dana untuk harta lancar di atas, khususnya utang yang diberikan oleh pemasok bahan baku.

Hitung selisih harta lancar dan utang lancar, sehingga diperoleh modal kerja •

bersih. Jadi, kebutuhan dana yang masih harus dicarikan adalah sebesar modal kerja bersih tersebut. Sumber dananya bisa berasal dari modal sendiri atau pinjaman. Pada Tabel L1.2 tampak bahwa modal kerja bersih pada awal periode sebesar Rp370 dan tahun pertama dan seterusnya adalah Rp670. Hitung perubahan modal kerja bersih dari waktu ke waktu. Modal kerja bersih •

pada awal periode adalah Rp370. Sedangkan pada tahun kedua dibutuhkan sebesar Rp670. Jadi, tambahan modal kerja yang dibutuhkan pada tahun pertama adalah Rp300. Dengan cara yang sama diperoleh tambahan modal kerja untuk tahun-tahun berikutnya sebesar Rp0. Angka-angka perubahan modal kerja inilah yang dimasukkan kedalam Tabel L1.1

Perubahan modal kerja bersih dapat didanai dengan modal sendiri dan •

pinjaman. Jika 30% didanai dengan modal sendiri dan sisanya dengan pinjaman, maka besarnya dana yang harus disediakan oleh pemilik pada awal periode adalah Rp111 dan pinjaman Rp259. Pada tahun pertama tambahan dana untuk modal kerja dari pemilik adalah Rp90 dan pinjaman Rp210. Bunga pinjaman dihitung atas pinjaman yang sudah ditarik. Karena pinjaman •

modal kerja bisa diperpanjang (roll over), maka baki kredit modal kerja usaha ini adalah Rp259 + Rp210 = Rp469. Biaya bunga dihitung atas pinjaman yang sudah ditarik tersebut (outstanding loan).

Untuk menghitung biaya modal (WACC) digunakan formula berikut: • E D WACC = --- Ke + --- Kd (1-t) E + D E + D Keterangan: E = modal sendiri D = pinjaman

Ke = biaya modal sendiri Kd = biaya modal pinjaman t = tarif pajak

Tabel L1.2

Perhitungan Modal Kerja

Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun

Uraian 0 1 2 3 4 5

Kas 20 20 20 20 20 20 Piutang Usaha 0 250 250 250 250 250 Persediaan Bahan Baku 200 200 200 200 200 200 Persediaan Barang Dalam Proses 300 300 300 300 300 300 Persesiaan Barang Jadi 0 50 50 50 50 50 Biaya Sewa 150 150 150 150 150 150 Total 670 970 970 970 970 970 Utang Usaha 300 300 300 300 300 300 Modal Kerja Bersih 370 670 670 670 670 670 Perubahan Modal Kerja Bersih 370 300 0 0 0 0

Pendanaan

Modal Sendiri 30% 111 90 0 0 0 0 Pinjaman Bank 70% 259 210 0 0 0 0 Total 100% 370 300 0 0 0 0

Langkah-langkah untuk menghitung biaya modal usaha tersebut adalah sebagai berikut:

Hitung porsi pendanaan harta tetap yang berasal dari modal sendiri dan pinjaman. 1.

Misalnya 30% dari modal sendiri dan sisanya pinjaman bank. Buat perhitungan seperti pada Tabel L1.3.

Tentukan biaya modal pinjaman, misalnya 16% per tahun (biasanya disamakan 2.

dengan tingkat bunga pinjaman). Kemudian tentukan biaya modal sendiri, yaitu dengan menambahkan tingkat bunga pinjaman dengan persentase tertentu (spread) untuk menutupi resiko usaha, misalnya 4% di atas tingkat bunga pinjaman, berarti biaya modal sendiri adalah 20%.

Hitung biaya modal pinjaman setelah pajak, sementasa biaya modal sendiri tidak 3.

dikenakan pajak. Mengapa biaya modal sendiri tidak dikenakan pajak? Proses penurunan rumusnya adalah sebagai berikut:

Perhatikan bagian bawah dari laporan laba rugi (mulai dari laba operasi sampai a.

dengan laba bersih) yang terdiri dari: Laba Operasi (EBIT)

- Biaya Bunga (I)

= Laba sebelum pajak (EBT) LAMPIRAN 2

BANDENG TANPA DURI

- Pajak (T)

= Laba Bersih (NI) Keterangan:

NI = laba bersih (net income = NI)

EBT = laba setelah pajak (earning before tax = EBT) T = Pajak, t = tarif pajak

EBIT = laba sebelum biaya bunga bunga dan pajak (eaning before interest and taxes = EBIT)

Dalam bentuk persamaan bagian laba rugi di atas dapat dibuat sebagai b.

berikut: NI = EBT – T NI = EBT–EBT x t NI = EBT (1–t)

Sementara EBT = EBIT – I

Substitusikan (EBIT–I) ke dalam persamaan di atas, sehingga diperoleh: NI = (EBIT – I)(1–t)

NI = EBIT(1–t) – I(1–t) EBIT (1–t)=I(1–t)+NI

Jadi, EBIT dibagikan kepada kreditur dalam bentuk biaya bunga (I) yang besarnya sama dengan pinjaman (debt = D) dikalikan dengan tingkat bunganya (kd). Sedangkan laba bersih (net income = NI) diberikan kepada pemilik yang besarnya minimal sama dengan modal yang ditanam (equity = E) dikalikan dengan biaya modalnya (Ke), shingga diperoleh: EBIT (1-t) = D kd (1–t) + E ke Bagi persamaan di atas dengan total pendanaan (E+D), maka diperoleh: c.

EBIT (1-t) E D

--- = --- Ke + --- Kd (1-t) (E+D) (E+D) (E+D

E D

WACC = --- Ke + --- Kd (1-t) E + D E + D

EBIT(1-t)/(E+D) adalah biaya modal dari usaha (WACC). Jadi, usaha tersebut harus menghasilkan return minimum sebesar WACC, Jika tidak NPV akan negatif.

Kalikan porsi pendanaan dengan biaya modal setelah pajak. Jumlah dari hasil d.

perkalian tersebut adalah rata-rata terimbang biaya modal usaha (WACC). Dalam contoh ini adalah 15,5%.

Tabel L1.3

Menghitung Biaya Modal Usaha

Porsi Biaya Biaya Modal

Sumber Pendanaan Pendanaan Modal Setelah Pajak Perkalian

(1) (2) (3) (4) = (1)x(3)

Modal Sendiri 30% 20% 20,0% 6,0%

Pinjaman 70% 16% 13,6% 9,5%

Total 100% WACC = 15,5%

Menghitung

Dalam dokumen BANDENG TANPA DURI BANK INDONESIA (Halaman 71-76)

Dokumen terkait