• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.2 Proses Pelaksanaan Penelitian

4.1.2.2 Profil Universitas Sumatera Utara

4.1.2.2 Profil Universitas Sumatera Utara.

Kampus Universitas Sumatera Utara atau biasa disingkat USU, berlokasi di Jl. Dr. T. Mannsur No. 9, sebuah area yang hijau dan rindang seluas 120 ha yang terletak di tengah Kota Medan. Zona akademik seluas 90 ha. menampung hampir seluruh kegiatan perkuliahan dan praktikum mahasiswa. Sistem pembelajaran didukung oleh fasilitas perpustakaan dan lebih dari 200 laboratorium. Perpustakaan menyediakan berbagai jenis sumber belajar baik dalam bentuk cetak maupun elektronik. Perpustakaan USU merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia saat ini. Kampus USU Padang Bulan juga didukung oleh infrastruktur teknologi informasi untuk memfasilitasi akses terhadap berbagai sumber daya informasi dan pengetahuan untuk mendukung proses pembelajaran dan penelitian mahasiswa dan tenaga pendidik.

4.1. Foto Bagian Pusat Administrasi USU (Biro Rektor) 4.1.2.3 Visi, Misi dan Tujuan Universitas Sumatera Utara

- Visi

Menjadi perguruan tinggi yang memiliki keunggulan akademik sebagai barometer kemajuan ilmu pengetahuan yang mampu bersaing dalam tataran dunia global.

- Misi

1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi berbasis otonomi yang menjadi wadah bagi pengembangan karakter dan profesionalisme sumber daya manusia yang didasarkan pada pemberdayaan yang mengandung semangat demokratisasi pendidikan yang mengakui kemajemukan dengan orientasi pendidikan yang menekankan pada aspek pencarian alternatif penyelesaian masalah aktual berlandaskan kajian ilmiah, moral, dan hati nurani;

2. Menghasilkan lulusan yang menjadi pelaku perubahan sebagai kekuatan modernisasi dalam kehidupan masyarakat luas, yang memiliki kompetensi keilmuan, relevansi dan daya saing yang kuat, serta berperilaku kecendikiawanan yang beretika; dan

3. Melaksanakan, mengembangkan, dan meningkatkan pendidikan, budaya penelitian dan program pengabdian masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas akademik dengan mengembangkan ilmu yang unggul, yang bermanfaat bagi perubahan kehidupan masyarakat luas yang lebih baik.

- Tujuan

1. Menghasilkan lulusan yang berkualitas yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, humaniora, dan seni, berdasarkan moral agama, serta mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional;

2. Menghasilkan penelitian inovatif yang mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, humaniora, dan seni dalam lingkup nasional dan internasional;

3. Menghasilkan pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dan pemberdayaan

masyarakat secara inovatif agar masyarakat mampu menyelesaikan masalah secara mandiri dan berkelanjutan;

4. Mewujudkan kemandirian yang adaptif, kreatif, dan proaktif terhadap tuntutan masyarakat dan tantangan pembangunan, baik secara nasional dan internasional;

5. Meningkatkan kualitas manajemen pembelajaran secara berkesinambungan untuk mencapai keunggulan dalam persaingan dan kerja sama nasional dan internasional;

6. Menjadi kekuaan moral dan intelektual dalam membangun masyarakat madani Indonesia; dan

7. Mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.

Wawancara dengan Mahasiswa

Peneliti melakukan wawancara kepada lima informan, semua informan adalah mahasiswa dari Fakultas yang berbeda. Wawancara disusun dalam bentuk narasi dan sesuai dengan susunan pedoman wawancara yaitu karakteristik Informan, dampak instant whatsapp, dan interaksi sosial keluarga dikalangan mahasiswa perantauan.

Informan I

Nama : Ami Susanti Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 20 Tahun Fakultas : Ekonomi

Penelitian : Hasil Penelitian 2017

4.2. Informan I

Seperti yang sudah dijanjikan oleh Ami Susanti bahwa penelitian bisa dilakukan di tanggal 15 Agustus 2017, dan informan meminta peneliti untuk datang ke kost-kostan informan yang bernama ami untuk melakukan wawanncara. Setelah sesuai dengan janji informan kepada responden pada tanggal yang sudah ditentukan, akhirnya tepat pukul 10.00 wib peneliti tiba dikost-kostannya Ami. Ami seorang yang ramah, dan komunikatif. Hal ini terbukti dari kesan pertama peneliti ketika bertemu dengan informan di halte dekat kampus. Begitu juga saat melihat kedatangan penneliti di kost-kostan informan, informan menerima dan langsung dekat dengan peneliti.

Dalam wawancara peneliti menggunakan alat bantu perekam dari gudget dan alat tulis untuk mencatat hal-hal penting dari wawancara dan tidak lupa mendokumentasikannya.

Berdasarkan hasil wawancara, peneliti mengetahui bahwa Ami seorang mahasiswi perantauan dari Rantau Prapat. Ami mengatakan jika dia mengetahui tentang aplikasi whatsapp dan menggunakan aplikasi whatsapp untuk berkomunikasi dengan orang tuannya di perantauan. Ami juga mengatakan jika hampir setiap hari melakukan pesan singkat dengan whatsap kepada orang tuanya dan komunikasinya lumayan efektif karena hampir setiap hari tersebut. Masalah jaringan kadang yang menjadi kendala, ketika orang tua lama membalas whatsaapnya, ami akan menelpon orang tuanya langsung apalagi ketika hal tersebut sangat mendesak. Seperti yang diungkapkan Ami saat wawancara berlangsung tanggal 15 Agustus 2017.

“Saya menggukan whatsapp dan orang tua juga, saya hampir sering melakukan

selalu kami lakukan lewat whatsapp. Lumayan efektif komunikasi pesan singkat whatsapp, walau terkadang terkenndala dijaringan. Kalau ketika menghubungi orangtua dan jaringan terganggu, orangtua tidak membaca dan membalas pesan saya, biasanya saya telfon orangtua. Agar segera mungkin membaca pesan singkat saya, mungkin mereka sedang sibuk. Selain orang tua saya juga sering melakukan komunikasi whatsapp dengan kakak kandung saya, dan juga sepupu saya baik yang juga kuliah di medan maupun di kampung saya. Lebih seringnya nanya sudah makan atau Tanya tentang kuliah.dan saya juga terbuka sama keluarga dalam hal apapun, sehinngga diskusi juga jarang dengan orang tua.

Dampak instants messenger atau pesan singkat whatsapp terhadap interaksi sosial dengan keluarga tidak ada, karena dengan whatsaap interaksi kami semakin terjalin..

Informan II

Nama : Siti Nurhazlina Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 20 Tahun

Fakultas : Ekonomi Akutansi Penelitian : Hasil Penelitian 2017

4.3. Informan II

Senin, 21 Agustus 2017 peneliti datang kembali ke kost-kostan informan bernama Ami. Tetapi bukan untuk bertemu dengan ami, tetapi dengan informan yang berbeda dan kebetulan satu kost dengan Ami. Siti nurhazlina namanya, mahasiswi Akuntansi ini sedikit pemalu, tetapi ramah. Siti, mahasiswi perantauan yang asalnya dari Balige. Mahasiswi semester 5 ini, juga menggunakan aplikasi whatsaap dan menggunakannya untuk komunikasi dengan orang tuanya yang jauh

darinya. Siti sedikit bercerita, sebelumnya hanya lewat sms dan telepon saja. Tapi karena biaya tarif telpon mahal dan mau sms juga dikenakan biaya, akhirnnya siti menawarkan kepada orang tuanya agar menggunakan gudget yang ada aplikasi whatsapp, agar mereka lebih mudah melakukan komunikasi baik lewat pesan singkat atau instant messenger maupun telepon. Dan akhirnya orang tua siti menuruti kemauan Siti untuk berganti gudget.

Menurut Siti, melakukan pesan singkat dengan whatsapp sangat efektif dan interaksi sosial dengan keluarga juga semakin terjalin walau dengan jarak berjauhan, akan tetapi kendala jaringan juga sering dialami oleh Siti ketika melakukan pesan singkat dengan orangtuanya di kampung, dan pernah ketika Siti mengirimkan pesan disaat yang sangat mendesak, pesan tersebut tidak juga masuk (hanya bertanda ceklist saja), karena memang Siti membutuhkan informasi secepatnya, akhirnya Siti memilih menelpon orang tuanya. Sewaktu peneliti bertanya apakah Siti sering berdiskusi masalah pribadi atau kuliahnya dengan orangtua melalui whatsapp, Siti menjelaskan jika sampai diskusi masalah pribadi tidak pernah karena takut jadi kefikiran orangtua.

“ semenjak saya fikir mudah dan praktis menggunakan aplikasi whatsapp dalam melakukan komunikasi, akhirnya saya meminta orangtua juga menggunakan aplikasi whatsapp untuk melakukan komunikasi. Menggunakan aplikasi whatsaap sangat efektif , walau kadang saya merasa lebih enak menelpon langsung, tapi whatsaap juga efektif kok. Kalaupun ada gangguan biasanya karena faktor jaringan. Orang tua saya kadang susah saya kirim whatsapp dan pasti bisa lama dibaca. Biasanya kalau sudah begitu saya telpon saja. Inilah kadang yang membuat saya kurang puas juga menggunakan aplikasi whatsaap. Karena aplikasi whatsapp disukai oleh banyak kalangan, biasanya saya juga sering whatsapp dengan kakak kandung saya dan juga kakak sepupu saya. Karena dengan whatsapp memudahkan semuanya. Hanya beli paket internet kita sudah bisa sepuasnya berkomunikasi dengan siapa saja. saya juga menjelaskan bahwa adanya dampak instant messenger atau pesan singkat wa (whatsaap) terhadap interaksi sosial dengan keluarga, dimana jadi jarang komunikasi langsung dengan keluarga, sehinngga kami jadi jarang diskusi dengan orangtua.

Informan III

Nama : Nini Meisyarizki Jenis Kelamin : Perempuan

Fakultas : Pertanian Penelitian : Hasil Penelitian 2017

4.4. Informan III

Dikost-kostan kembali, tetapi yang ini berbeda tempat dengan sebelumnya tepat tanggal 5 September 2017. Peneliti bertemu dengan informan yang ketiga. Informan ketiga ini bernama Nini Meisyarizki. Orangnya sedikit pendiam dan pemalu, sehingga waktu peneliti ingin mewawancarai, informan meminta agar soal wawancaranya di isi sendiri saja. Sewaktu peneliti bertanya, informan menjawab, jika informan grogi, dan akan bingung menjawab jika ditanya langsung, dengan bantuan dan arahan dari peneliti, sembari juga bertanya hal-hal tentang whatsapp. informanpun dapat menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diberikan peneliti. Nini, sapaannya kuliah di Universitas Sumatera Utara pada fakultas Pertanian. Nini sudah lama mennggunnakan aplikasi whatsapp. Dan untuk melakukan komunikasi dengan orangtuanya Nini menggunakan aplikasi whatsapp, Nini menjelaskan dan menjawab

“jika tidak sering melakukan komunikasi instant messenger whatsaap dengan orangtuanya. Hal ini dikarenakan jaringan yang sering bermasalah sehingga membuat saya enggan untuk menghubungi orangtuanya dengan aplikasi whatsaap walau hanya instant messenger.

Saya lebih senang menghubungi orang tua lewat telepon apalagi ketika dalam keadaan darurat dan mengharuskan untuk menghubungi lewat telepon. Ditambah lagi ketika ada pesan yang tidak sampai ke orang tua.

Biasanya juga karena faktor jaringan. Ada juga dampak instant

messenger atau pesan singkat wa (whatsaap) terhadap keluarga karena tidak bicara langsung. Akibatnnya interaksi sosial jadi terganggu dengan jaringan dan lama orangtua membalas. Tetapi walau keterbatasan whatsapp saya dan keluarga sering diskusi dan bicara banyak hal.

Karenakan tidak bayar seperti telepon atau sms yang pakai biaya.bukan hanya dengan orangtua saja, dengan kakak kandung dan sepupu juga saya sering melakukan komunikasi whatsapp dengan mereka, selain bisa berkirim gambar juga bisa berbagi cerita karena gratis tidak bayar seperti sms dan telpon dengan menggunakan biaya.”

Informan IV

Nama : Ika Apriadi Pratiiwi Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 20 Tahun

Fakultas : sastra bahasa jepang Penelitian : Hasil Penelitian 2017

4.5. Informan IV

Sampai bertemu dengan responden yang keempat, informan juga minta wawancara di kost-kostan. Alasannya karena informan malu jika diwawancarai di kampus, malu jika dilihatin sama mahasiswa-mahasiswa lain. Ika mengaku sudah cukup lama menggunakan aplikasi whatsapp dan informan sangat sering dan hampir setiap hari melakukan interaksi sosial dengan whatsapp. Informan juga menjelaskan jika masalah jaringan dan keterbatasan kuota juga menjadi hambatan,

Sebab informan dan keluarga saling berkomunikasi satu sam lain bahkan diskusi dan juga membicarakan hal apa saja selain tentang perkuliahan. Berikut kutipan wawancara penliti dengan informan yang sedikit sama dengan informan I.

“Saya dan orangtua juga menggunakan aplikasi whatsapp, saya sering melakukan komunikasi dengan orangtua melalui whatsapp dan interaksi kami selalu kami lakukan lewat whatsapp. Lumayan efektif komunikasi pesan singkat whatsapp, walau terkadang terkenndala dijaringan. Kalau ketika menghubungi orangtua dan jaringan terganggu, orangtua tidak membaca dan membalas pesan saya, biasanya saya telfon orangtua. Agar segera mungkin membaca pesan singkat saya, mungkin mereka sedang sibuk. Selain orang tua saya juga sering melakukan komunikasi whatsapp dengan kakak kandung saya, dan juga sepupu saya baik yang juga kuliah di medan maupun di kampung saya. Untuk kabar apapun orangtua selalu menghubungi saya lewat whatsapp. Kadang diskusi masalah dirumah juga orang tua selalu meminta pendapat saya. Tanya tentang kuliah juga orang tua paling rajin, sehinngga diskusi dengan orang tua. Dampak instants messenger atau pesan singkat whatsapp terhadap interaksi sosial dengan keluarga tidak ada, karena dengan whatsaap interaksi kami semakin terjalin..

Informan V

Nama : Oki Maulana

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 19 Tahun

Fakultas : Ekonomi

Penelitian :Hasil Penelitian 2017

4.6 Informan V

Hal yang sama juga dialami peneliti ketika mewawancarai informan yang bernama oki. Oki juga tidak mau dilakukan wawancara di kampus. Sehingga dia meminta peneliti datang bersama teman dan wawancara dilakukan di kost-kostannya. Kebetulan kost-kostan informan berdekatan dengan teman penleiti dan juga teman peneliti ada yang kost di tempat oki juga kost. Oki mengatakan jika dia tidak terlalu sering melakukan komunikasi pesan singkat whatsapp dengan orang tuanya. Oki lebih suka menelpon langsung, disamping lebih efektif oki juga merasa kalau menggunakan aplikasi whatsapp dalam berkomunikasi terkadang suka terbentur di masalah jaringan. Sehingga kadang oki kesal dan tidak mau menggunakan aplikasi whatsapp dalam melakukan komunikasi dengan keluarganya di perantauan. Akan tetapi pesan singkat whatsapp juga bisa dikatakan cukup efektif. Oki menjelaskan jika bukan hanya dengan orangtua saja dia sering melakukan pesan singkat whatsapp, dengan saudara kandung juga bahkan dengan sepupu juga sering whatsapp. Interaksi oki dan keluarga bisa dikataka jarang. Hal ini terbukti jiika interaksinya hanya sebatas uang kuliah saja.

“interaksi sosial saya dengan keluarga kurang terjalin. Apalagi dengan whatsapp yang sering bermasalahan dengan jaringan. Walau sebenarnya interaksi sosial dengan orangtua harus tetap terjalin, akan tetapi saya jarang menghubungi orang tua melalui whatsapp, sehingga tidak banyak yang saya bicarakan dengan orangtua. Paling hanya sebatas uang kuliah saja”

Dampak Instant Messenger Whatsapp

Berdasarkan tujuan penelitian yakni untuk mengetahui dampak Instant Messenger Whatsapp terhadap interaksi sosial keluarga di kalangan remaja perantauan Universitas Sumatera Utara. Dampak instant messenger dapat dilihat dari dampak negative dan positif sebagai akibat penggunaan instant messenger dalam keluarga semakin Nampak dengan adanya komunikasi yang berkesinambungan dari digital ke keadaan sebenarnya. Sikap saling terbuka dalam keluarga semakin ada. Namun ada penghalang diantara komunikasi yang dilakukan karena adanya respon lama terhadap pesan yang dikirim, dan kebanyakan dilakukan oleh anak-anak.

Kondisi ini juga berdampak kepada komunikasi yang kurang efektif dan dapat terputus dengan alasan melakukan komunikasi dengan menggunakan pesan singkat (Instant Messenger) tidaklah efektif, apalagi penghalang dari whatsapp adalah jaringan yang terganggu pembicaraan antara peneliti dengan informan.

Setelah peneliti melakukan wawancara mendalam kepada setiap informan yang menjadi subjek penelitian dalam penelitian ini. Hanya ada satu informan yang merasakan dampak instant messenger whatsapp tidak efektif.

Informan V

Nama : Oki Maulana

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 19 Tahun

Fakultas : Ekonomi

Tanggal Wawancara 30 September 2017

Oki Maulana adalah informan ke lima yang peneliti wawancara. Saat peneliti wawancarai. Dan ketika peneliti bertanya adakah dampak instant messenger atau pesan singkat whatsapp terhadap interaksi sosial dengan keluarga.

Oki yang senyum-senyum antara bingung, takut salah menjawabpun berkata jika tidak ada, karena dengan pesan singkat whatsapp orang tua akan semakin jarang menghubungi. Karena capek mengetik kalimat-kalimat di handphone.

“ribet saya rasa jika ketik-ketik lagi. Apalagi orangtua terkadang ingin cepat dan singkat saja dalam segala urusan dikampus.”

Informan IV

Nama : Ika Apriadi Pratiiwi Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 20 Tahun

Fakultas : sastra bahasa jepang Tanggal wawancara : 01 Oktober 2017

Dengan malu-malu akhirnya peneliti bisa mewawancarai informan yang bernama Ika. Wanita berkacamata ini, ketika ditanya mengenai dampak instant messenger atau pesan singkat whatsapp, ika mengatakan jika

“Dampak instants messenger atau pesan singkat whatsapp terhadap interaksi sosial dengan keluarga tidak ada, karena dengan whatsaap interaksi kami semakin terjalin.”

Informan III

Nama : Nini Meisyarizki Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 20 Tahun

Fakultas : Pertanian

Tanggal wawancara : 5 September 2017

Wanita pendiam dan pemalu ini walaupun sama dengan informan 4 dan 5 yang enggan untuk diwawancarai memiliki jawaban tersendiri ketika ditanya mengenai dampak instant messenger whatsapp, yaitu :

“Biasanya juga karena faktor jaringan. Ada juga dampak instant messenger atau pesan singkat wa (whatsaap) terhadap keluarga karena tidak bicara langsung.

Akibatnnya interaksi sosial jadi terganggu dengan jaringan dan lama orangtua membalas. Tetapi walau keterbatasan whatsapp saya dan keluarga sering diskusi dan bicara banyak hal. Karenakan tidak bayar seperti telepon atau sms yang pakai biaya.bukan hanya dengan orangtua saja, dengan kakak kandung dan sepupu juga saya sering melakukan komunikasi whatsapp dengan mereka, selain bisa berkirim gambar juga bisa berbagi cerita karena gratis tidak bayar seperti sms dan telpon dengan menggunakan biaya.”

Informan II

Nama : Siti Nurhazlina Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 20 Tahun

Fakultas : Ekonomi Akutansi Tanggal Wawancara :21 Agustus 2017

Mahasiswi semester 5 ini, juga menggunakan aplikasi whatsaap dan menggunakannya untuk komunikasi dengan orang tuanya yang jauh darinya. Siti sedikit bercerita, sebelumnya hanya lewat sms dan telepon saja. Tapi karena biaya tarif telpon mahal dan mau sms juga dikenakan biaya, akhirnnya siti menawarkan kepada orang tuanya agar menggunakan gudget yang ada aplikasi

whatsapp, agar mereka lebih mudah melakukan komunikasi baik lewat pesan singkat atau instant messenger maupun telepon.

”Karena dengan whatsapp memudahkan semuanya. Hanya beli paket internet kita sudah bisa sepuasnya berkomunikasi dengan siapa saja. saya juga menjelaskan bahwa adanya dampak instant messenger atau pesan singkat wa (whatsaap) terhadap interaksi sosial dengan keluarga, dimana jadi jarang komunikasi langsung dengan keluarga, sehinngga kami jadi jarang diskusi dengan orangtua.”

Informan I

Nama : Ami Susanti Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 20 Tahun Fakultas : Ekonomi

Tanggal wawancara : 15 Agustus 2017

Informan dengan nama Ami ini adalah informan pertama yang ditemui waktu pertama kali tanpa sengaja di Halte Bus. Untuk masalah dampak instant messenger whatsapp, informan memiliki jawaban sendiri.

“Dampak instants messenger atau pesan singkat whatsapp terhadap interaksi sosial dengan keluarga tidak ada, karena dengan whatsaap interaksi kami semakin terjalin.”

Interaksi Sosial di kalangan Mahasiswa Perantauan

Selain dampak instant messenger whatsapp, peneliti bertujuan melihat interaksi sosial dikalangan mahasiswa perantauan. Apakah interaksinya baik atau malah jadi tidak ada interaksi sosial sama sekali antara mahasiswa perantauan dengan orang tua mereka.

Informan I

Nama : Ami Susanti

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 20 Tahun

Fakultas : Ekonomi

Tanggal wawancara : 15 Agustus 2017

Ami berpendapat jika interaksi sosial dengan whatsapp dikalangan mahasiswa perantauan sangatlah baik dan lumayan efektif, walau terkendala masalah jaringan.

“Lumayan efektif komunikasi pesan singkat whatsapp, walau terkadang terkenndala dijaringan. Kalau ketika menghubungi orangtua dan jaringan terganggu, orangtua tidak membaca dan membalas pesan saya, biasanya saya telfon orangtua. Agar segera mungkin membaca pesan singkat saya, mungkin mereka sedang sibuk. Selain orang tua saya juga sering melakukan komunikasi whatsapp dengan kakak kandung saya, dan juga sepupu saya baik yang juga kuliah di medan maupun di kampung saya.

Banyak hal yang dapat didiskusikan dan dibicarakan sehingga interaksi kamipun tetap terjaga.

Informan II

Nama : Siti Nurhazlina Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 20 Tahun

Fakultas : Ekonomi Akutansi Tanggal Wawancara :21 Agustus 2017

Ketika peneliti bertanya mengenai interaksi sosial dikalangan mahasiswa perantauan, informan atas nama Siti, menjelaskan :

“jika interaksi sosialnya kurang baik ketika menggunakan aplikasi whatsapp dalam melakukan komunikasi dengan orangtua. Karena hanya pesan singkat saja yang diterima dan tidak melakukan komunikasi secara langsung.”

Informan III

Nama : Nini Meisyarizki Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 20 Tahun

Fakultas : Pertanian

Tanggal wawancara : 5 September 2017

Informan bernama Nini wanita pemalu dan pendiam ini, mengatakan jika

“interaksi sosial jadi terganggu dengan jaringan dan lama orangtua membalas.

Tetapi walau keterbatasan whatsapp saya dan keluarga sering diskusi dan bicara

itu juga, whatsapp cara yang baik untuk kita melakukan komunikasi dengan siapa saja selain singkat, mudah dan biaya terbebani dengan paket internet.”

Informan IV

Nama : Ika Apriadi Pratiiwi Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 20 Tahun

Fakultas : sastra bahasa jepang Tanggal wawancara : 01 Oktober 2017 Informan V

Nama : Oki Maulana

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 19 Tahun

Fakultas : Ekonomi

Tanggal Wawancara 30 September 2017

ketika peneliti bertanya tentang interaksi sosial dikalangan mahasiswa, Oki pun menjawab jika .

“Walau sebenarnya interaksi sosial dengan orangtua harus tetap terjalin, akan tetapi saya jarang menghubungi orang tua melalui whatsapp, sehingga tidak banyak yang saya bicarakan dengan orangtua. Paling hanya sebatas uang kuliah saja”

4.2. Pembahasan

Proses wawancara dilakukan dengan mahasiswi dari fakultas yang berbeda-beda. Selama penelitian berjalan tidak ada mengalami kesulitan untuk melakukan wawancara dalam upaya pengumpulan data penelitian. Berdasarkan hasil wawancara dan hasil analisis maka peneliti membuat pembahasan berdasarkan teori yang digunakan dalam penelitian.

Dampak instan messenger whatsapp.

Jika dipahami dari teori yang ada pada uraian teoritis bahwa ada dampak baik itu negative maupun positif ketika kita menggunakan instant messenger. Jika dilihat dari sisi positif, Untuk menghimpun keluarga, saudara, kerabat yang tersebar, dengan jejaring sosial ini sangat bermanfaat dan berperan untuk mempertemukan kembali keluarga atau kerabat yang jauh dan sudah lama tidak

Dokumen terkait