Karbon Tersimpan (Ton/Ha) Biomassa Total (Ton/Ha)
Hasil pengolahan data di lapangan menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi nilai biomassa adalah kekayaan jenis, jenis vegetasi, diameter, jumlah vegetasi, berat jenis vegetasi, dan luas RTH kota. Data yang diperoleh juga menunjukkan bahwa kekayaan jenis vegetasi mempengaruhi nilai biomassa, dimana RTH Hutan Kota Taman Beringin yang memiliki tingkat kekayaan jenis lebih tinggi memiliki nilai biomassa yang tinggi, yaitu dengan 44 jenis vegetasi dan nilai biomassa sebesar 226,56468 Ton/Ha. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rauf (2004) yang menyatakan bahwa semakin banyak jumlah vegetasi pada suatu kawasan atau unit lahan maka akan semakin tinggi juga energi tersimpan (nilai biomassa dan karbon tersimpan pada vegetasi) dalam kawasan tersebut.
Diameter dan berat jenis vegetasi juga merupakan faktor yang mempengaruhi nilai biomassa dan karbon tersimpan, hal ini didukung pernyataan Maulana (2009) yang menyatakan bahwa tingginya potensi karbon tersimpan lebih dipengaruhi oleh komposisi diameter dan berat jenis pohon daripada kerapatan tutupan lahan. Tipe hutan dengan komposisi berberat jenis tinggi akan mempunyai potensi simpanan yang cenderung lebih tinggi daripada tipe hutan dengan kerapatan tinggi tetapi jenis pohonnya berberat jenis rendah.
Karbon tersimpan yang merupakan perkalian antara nilai biomassa dengan konsentrasi karbon dalam bahan organik yaitu 46% (Hairiah dan Rahayu, 2007) tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu parameter saja seperti keanekaragaman jenis vegetasi, diameter, dan kerapatan individu. Adinugroho (2011) menyatakan bahwa parameter tersebut akan secara bersama-sama memberikan kontribusi dalam besarnya nilai karbon tersimpan suatu vegetasi. Semakin besar nilai diameter dan didukung dengan tingginya jumlah jenis vegetasi, dan disusun oleh
tegakan yang memiliki nilai kerapatan yang tinggi akan menghasilkan nilai biomassa dan karbon tersimpan yang semakin besar.
Secara umum karbon tersimpan di RTH lebih rendah daripada hutan alam. Masripatin (2010) menyatakan bahwa cadangan karbon pada berbagai kelas penutupan lahan di hutan alam berkisar antara 7,5–264,70 Ton/Ha dan Panggabean (2013) menyebutkan besarnya karbon tersimpan pada tegakan hutan alam di Resort Bukit Lawang, Resort Tangkahan, dan Pamah yaitu sebesar 213,72 Ton/Ha, 214,47 Ton/Ha, dan 205,99 Ton/Ha.
Karbon tersimpan pada Hutan Kota Taman Beringin yang memiliki luas 1,304 Ha adalah sebesar 104,21975 Ton/Ha, Taman Olahraga dan Rekreasi Gadjah Mada dengan luas 1,180 Ha adalah sebesar 30,38908 Ton/Ha, dan Taman Kota Ahmad Yani dengan luas 1,776 Ha adalah sebesar 61,48555 Ton/Ha. Karbon tersimpan pada Hutan Kota Taman Beringin dan Taman Kota Ahmad Yani relatif lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah karbon tersimpan di Taman Wisata Alam Taman Eden di Toba Samosir Sumatera Utara yakni sebesar 95,81 Ton/Ha (Bakri 2009) dan pada tegakan agroforestri di Kecamatan Sei Bingai, Kecamatan Bahorok, dan Kecamatan Wampu yaitu 58,438 Ton/Ha, 63,005 Ton/Ha, dan 56,76 Ton/Ha (Malau, 2013).
Jumlah karbon tersimpan pada Hutan Kota Taman Beringin tergolong sangat baik, yakni mendekati jumlah karbon tersimpan di Taman Kota I Bumi Serpong Damai (BSD) yang memiliki 20 jenis pohon yang termasuk dalam 13 famili dengan jumlah tegakan sebanyak 279 individu, dan luas 2,5 Ha yaitu 115,1 Ton/Ha (Nugraha, 2011) dan jauh sangat baik jika dibandingkan dengan nilai karbon tersimpan di Hutan Kota Pekanbaru (Ratnaningsih dan Suhesti, 2010)
pada hutan kota yang berbentuk jalur yaitu 56,15 Ton/Ha dan pada hutan kota berbentuk gerombol yaitu 69,47 Ton/Ha.
Jumlah karbon tersimpan pada Hutan Kota Taman Beringin berbanding terbalik dengan jumlah karbon pada Taman Olahraga dan Rekreasi Gadjah Mada dengan luas 1,180 Ha yang hanya memiliki karbon tersimpan sebesar 30,38908 Ton/ Ha. Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa Hutan Kota Taman Beringin dan Taman Kota Ahmad Yani dapat berperan dalam mengurangi karbon dioksida dari lingkungan sekitarnya, karena memiliki potensi yang baik dalam menyimpan karbon. Taman Olahraga dan Rekreasi Gadjah Mada memiliki potensi yang rendah dalam menyimpan karbon karena sedikitnya jenis vegetasi yang ditanam dan lebih didominasi oleh lapangan olah raga. Penambahan vegetasi dan pemilihan jenis yang tepat, seperti Palem Raja (Oreodoxa regia) yang memiliki batang yang tinggi, tanpa membutuhkan wilayah yang luas, perakaran yang tidak mengganggu pondasi dan cepat tumbuh.
Penanaman jenis pohon yang memiliki diameter dan tutupan kanopi yang besar dapat menambah tingkat daya serap dan simpan karbon dalam upaya
mengurangi polusi udara di sekitar RTH, seperti kerai payung (Filicium decipiens), mahoni daun lebar (Swietenia macrophylla), mahoni
(Swietenia mahagoni), tanjung (Mimusops elengi), dan trembesi
(Pithecolobium saman Benth). Diperlukan perhatian khusus untuk meningkatkan nilai karbon tersimpan pada vegetasi RTH kota. Dinas Pertamanan Kota Medan harus lebih memperhatikan jenis-jenis vegetasi yang ditanam agar tercapai tujuan penyelenggaraan RTH Kota Medan yaitu untuk kelestarian, keserasian, dan
keseimbangan ekosistem perkotaan yang meliputi unsur lingkungan, sosial dan budaya.
Peta Penyebaran Vegetasi di RTH Kota
Pengambilan titik masing-masing vegetasi di Hutan Kota Taman Beringin, Taman Olahraga dan Rekreasi Gadjah Mada, dan Taman Kota Ahmad Yani menghasilkan peta penyebaran masing-masing vegetasi di RTH tersebut. Hasil pengolahan data diperoleh bahwa RTH Hutan Kota Taman Beringin adalah
hutan kota dengan bentuk yang menyebar. Bentuk ini sesuai dengan PERMENPU No. 5 Tahun 2008 yang menyatakan pola menyebar adalah hutan
kota yang tidak mempunyai pola tertentu, dengan komunitas vegetasinya tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau bergerombol kecil.
Taman Olahraga dan Rekreasi Gadjah Mada dan Taman Kota Ahmad Yani sesuai dengan PERMENPU No. 5 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau), yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga, dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80%-90%. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan, perdu, dan semak ditanam secara menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. Bentuk penyebaran vegetasi pada ketiga RHT Kota penelitan dapat di lihat pada Gambar 6, Gambar 7, dan Gambar 8.