Kehidupan sehari-hari kita tidak akan bisa terlepas dari yang dinamakan budaya. Budaya memiliki bentuk yang abstrak namun dimanapun kita berdiri di dunia ini maka secara langsung maupun tidak langsung kita akan terllibat dalam suatu kebudayaan yang menjadi ciri khas suatu tempat atau daerah. Adanya budaya disuatu tempat maka daerah tersebut dapat dengan mudah untuk diketahui secara luas oleh orang lain, karena budaya juga merupakan ciri khas yang pasti dimiliki oleh setiap daerah atau tempat di dunia.
Kebudayaan sendiri diartikan sebagai hal-hal bersangkutan dengan akal atau budi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sarjono Soekanto (2006:150) bahwa budaya beralas dari bahasa Sansekerta yaitu “buddayah”, yang merupakan bentuk jamak dari kata “budhi” yaitu budi atau akal. Kebudayaan itu tumbuh karena adanya suatu masyarakat, kebudayaan dan masyarakat adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Suatu kebudayaan akan bisa berkembang dan bertahan jika masyarakat masih memandang kebudayaan tersebut berguna bagi kehidupanya, namun sebaliknya kebudayaan tersebut di pandang tidak berguna bagi mereka sehingga kebudayaan tersebut perlahan dilupakan. Eksistensi suatu budaya dalam masyarakat sangat bergantung pada keberadaan masyarakat itu sendiri. Koentjaraningrat (2004:9) mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan gagasan dari hasil budi dan karyanya itu. Karena seperti yang disebutkan oleh Van Peursen (1988:144) seluruh kebudayaan merupakan satu proses belajar yang besar.
Sekarang ini kebudayaan yang telah menjadi sistem pengetahuan, secara terus menerus dapat digunakan untuk memahami berbagai peristiwa dan gejala yang ada dalam lingkungan sehingga kebudayaan itu menjadi milik semua masyarakat dimana budaya itu ada. Karena dalam kehidupan sosial masyarakat harus menghasilkan sesuatu yang harus saling mereka pahami agar keteraturan sosial dan kelangsungan hidup mereka sebagai makhluk sosial dapat dipertahankan.Berdasarkan pengertian kebudayaan menurut para ahli, dapat disimpulkan bahwa budaya merupakan hasil dari pemikiran manusia yang dituangkan baik dalam bentuk gagasan, nilai, norma, dan benda yang berlaku
dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari serta dijadikan pedoman hidup dalam bertingkah laku di masyarakat. Kehidupan bermasyarakat, budaya kerap kali dijadikan pengetahuan dasar secara menyeluruh untuk memahami lingkungan yang dihadapi danmendorong terciptanya kelakuan yang sesuai dengan tata kehidupan bermasyarakat.
Sifat budaya nasional akan menyangkut masalah kepribadian nasional, dan masalah kepribadian nasional itu tidak hanya langsung mengenai identitasi kita sebagai bangsa, tetapi juga menyangkut soal tujuan kita bersama untuk hidup sebagai bangsa, menyangkut soal tujuan kita bersama untuk dengan susah payah mengeluarkan tenaga banyak untuk membangun, dan menyangkut soal motivasi kita untuk membangun. Sebagai negara yang multikultur, Indonesia merupakan negara yang sangat menghargai kebudayaan meskipun terdapat keragaman budaya yang tersebar di seluruh pelosok negeri, akan tetapi tidak terjadi perpecahan di dalam masyarakat yang ada di wilayah Indonesia. Rangka mewujudkan kebudayaan nasional, di Indonesia terdapat sebuah perlindungan terhadap keragaman budaya yang ada di masyarakat, dengan adanya pengakuan tersebut setiap daerah akan diberi kebebasan dalam berbudaya sesusai dengan kebudayaan masing-masing.
Hubungan kebudayaan menyangkut semua kegiatan manusia, untuk itu unsur-unsur dalam kebudayaan perlu dikaji lebih dalam. Menurut Koentjrooningrat (2004:2) unsur-unsur kebudayaan bersifat universal dan dapaat ditemukan didalam kebudayaan semua bangsa yang tersebar diberbagai penjuru dunia. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut adalah:
1. Sistem Bahasa
Bahasa merupakan sarana bagi seluruh manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan sesamnya. 2. Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan dalam hal kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud di dalam ide manusia. Batasan sistem pengetahuan sangatlah luas karena mencakup pengetahuan manusia tentang berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupanya.
3. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Kekerabatan yang berkaitan dengan tentang pengertian tentang perkawinan dalam suatu masyarakat karena perkawinan merupakan inti atau dasar pembentukan suatu komunitas atau organisai sosial.
4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Sistem teknologi dan peralatan merupakan produksi dari manusia sebagai homo faber. Bersumber dari pemikirannya yang cerdas serta dibantu dengan tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan erat, manusia dapat menciptakan sekaligus mempergunakan suatu alat. Dengan alat-alat ciptaannya itu, manusia dapat lebih mampu mencukupi kebutuhannya. 5. Sistem mata pencaharian hidup
Merupakan produk-produk dari manusia sebagai homo economicus menjadikan tingkat kehidupan manusia secara umum terus meningkat. Dalam tingkat sebagai food gathering, kehidupan manusia sama dengan hewan. Tetapi dalam tingkat food producing terjadi kemajuan yang pesat.
Setelah bercocok tanam, kemudian beternak yang terus meningkat (rising demand) yang kadang-kadang cenderung serakah. Sistem mata pencaharian hidup ini meliputi jenis pekerjaan dan penghasilan.istem Ekonomi/Mata Pencaharian Hidup
6. Sistem Religi
Usaha untuk memecahkan pertanyaaan mendasar yang menjadi penyebab lahirnya asal mula religi tersebut, para ilmuwan sosial berasumsi bahwa religi suku-suku bangsa di luar Eropa adalah sisa dari bentuk-bentuk religi kuno yang dianut oleh seluruh umat manusia pada zaman dahulu ketika kebudayaan mereka masih primitif.
7. Kesenian
Kesenian merupakan hasil dari manusia sebagai homo esteticus. Setelah mencukupi kebutuhan fisiknya, manusia perlu dan selalu mencari pemuas untuk memenuhi kebutuhan psikisnya. Semuanya itu dapat dipenuhi melalui kesenian. Kesenian ditempatkan sebagai unsur terakhir karena enam kebutuhan sebelumnya, pada umumnya harus dipenuhi lebih dahulu.
Tiga wujud kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1979: 186-187). Pertama wujud kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, atau norma. Kedua wujud kebudayaan sebagai aktifitas atau pola tindakan manusia dalam masyarakat. Ketiga adalah wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud pertama berbentuk absarak, sehingga tidak dapat dilihat dengan indera penglihatan. Wujud ini terdapat di dalam pikiran masyarakat. Ide atau gagasan banyak hidup bersama dengan masyarakat. Gagasan itu selalu berkaitan dan tidak bisa lepas antara yang satu dengan yang lainnya.
Keterkaitan antara setiap gagasan ini disebut sistem. Koentjaraningrat mengemukaan bahwa kata „adat‟ dalam bahasa Indonesia adalah kata yang sepadan untuk menggambarkan wujud kebudayaan pertama yang berupa ide atau gagasan ini. Sedangkan untuk bentuk jamaknya disebut dengan adat istiadat (1979: 187).
Wujud kebudayaan yang kedua disebut dengan sistem sosial (Koentjaraningrat, 1979: 187). Sistem sosial dijelaskan Koentjaraningrat sebagai keseluruhan aktifitas manusia atau segala bentuk tindakan manusia yang berinteraksi dengan manusia lainnya. Aktifitas ini dilakukan setiap waktu dan membentuk pola-pola tertentu berdasarkan adat yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Tindakan-tindakan yang memiliki pola tersebut disebut sebagai sistem sosial oleh Koentjaraningrat. Sistem sosial berbentuk kongkrit karena bisa dilihat pola-pola tindakannya dengan indra penglihatan.Kemudian wujud ketiga kebudayaan disebut dengan kebudayaan fisik (Koentjaraningrat, 1979: 188). Wujud kebudayaan ini bersifat konkrit karena merupakan benda-benda dari segala hasil ciptaan, karya, tindakan, aktivitas, atau perbuatan manusia dalam masyarakat.
Kebudayaan yang dimiliki oleh setiap masyarakat adalah berbeda, tetapi kebudayaan memiliki ciri dan sifat yang sama. Sifat itu tidak diartikan secara spesifik melainkan suatu universal. Sifat-sifat kebudayaan memiliki ciri yang sama bagi semua kebudayaan manusia tanpa membedakan faktor ras, lingkungan alam atau pendidikan.
G. Sumber Data dan Data