• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai ekonomi dan faktor-faktor yang mempengaruhi minat wisata merupakan salah satu hal yang penting diketahui dari suatu kawasan wisata. Nilai ekonomi menunjukan besarnya manfaat keberadaan wisata alam Gunung Dempo. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat wisata digunakan untuk melihat faktor apa saja yang mempengaruhi kegiatan berwisata dari pengunjung.

6.1.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Wisata di Gunung Dempo Fungsi permintaan wisata di Gunung Dempo dibentuk dengan memasukkan delapan variabel bebas diduga mempengaruhi variabel terikat yaitu jumlah kali kunjungan dalam satu tahun terakhir. Variabel bebas tersebut antara lain biaya perjalanan, pendapatan total, usia, jarak ke lokasi wisata, lama mengetahui lokasi wisata, jumlah tanggungan keluarga, lama pendidikan, dan waktu yang dihabiskan di lokasi wisata. Hasil output analisis regresi dapat dilihat pada Tabel 11 dan lebih jelas disajikan pada Lampiran 1.

Tabel 11 Hasil regresi fungsi permintaan wisata alam Gunung Dempo

Variabel Koefisien P value VIF

Constant 3.428 0.000

X1 (Biaya perjalanan ) -0.000000363 0.749 2.743

X2 (Pendapatan total) 0.0000013 0.000a 2.710

X3 (Usia Pengunjung) -0.009 0.614 2.648

X4 (Jarak ke lokasi wisata) -0.002 0.094c 4.160

X5 (Lama mengetahui lokasi wisata) 0.060 0.088c 1.836

X6 (Jumlah tanggungan keluarga) -0.194 0.170 2.198

X7 (Lama pendidikan) -0.251 0.002

b 2.282

X8 (Waktu di lokasi wisata) 0.004 0.454 1.380

R2 72.8%

R2 (adj) 70.5% Durbin Watson 1.593

Keterangan: Tanda a, b, dan c menunjukkan taraf nyata koefisien regresi masing-masing variabel berturut-turut pada α : 1% , 5% dan 10%.

Model fungsi permintaan wisata alam Gunung Dempo dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, diestimasi dengan menggunakan analisis regresi berganda. Fungsi permintaan wisata ke Gunung Dempo yang diperoleh dari hasil analisis regresi berganda adalah sebagai berikut:

Y = 3,428 - 0.000000363X1 + 0.0000013X2 – 0.009X3 – 0.002X4 + 0.060X5 - 0.194X6 – 0.251X7 + 0.004X8

Nilai R-adj dari hasil analisis regresi berganda diperoleh sebesar 70.5%. Nilai tersebut menunjukkan sebesar 70.5% keragaman jumlah kunjungan wisata ke Gunung Dempo dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas yang terdapat di dalam model, dan sisanya 29.5% dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.

Berdasarkan hasil regresi linear berganda, uji normalitas terpenuhi karena nilai Asymp.Sig (2-tailed) lebih besar dari 0.05 (taraf nyata) yaitu sebesar 0.309 (Lampiran 2). Nilai P value (0.000) lebih kecil dari α(5%), artinya diduga minimal ada satu variabel bebas mampu menjelaskan variabel Y (Lampiran 3). Uji multikolinearitas diketahui dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF). Berdasarkan pengolahan data yang sudah dilakukan, diperoleh nilai VIF masing- masing peubah bebas antara 1.380 sampai 4.160 (Lampiran 4) sehingga tidak terjadi multikolinearitas. Nilai Durbin Watson yang diperoleh adalah 1.593 (Lampiran 5), dimana nilai ini berada pada selang 1.55 sampai 2.46 sehingga tidak terjadi autokorelasi. Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas (Lampiran 6), diperoleh sebaran titik-titik tidak mengumpul pada satu titik maka dapat dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas.

Tanda positif pada model persamaan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai dari variabel pendapatan total, lama mengetahui lokasi wisata, dan waktu di lokasi wisata akan meningkatkan jumlah kunjungan ke Gunung Dempo. Sebaliknya tanda negatif menunjukkan bahwa semakin meningkatnya nilai dari variabel biaya perjalanan, usia, jarak ke lokasi wisata, jumlah tanggungan keluarga, dan lama pendidikan akan menurunkan jumlah kunjungan ke Gunung Dempo. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan terdapat beberapa faktor yang tidak berpengaruh secara signifikan yaitu variabel biaya perjalanan, usia pengunjung, jumlah tanggungan keluarga, dan waktu yang dihabiskan di lokasi.

Variabel biaya perjalanan memiliki nilai P value (0.749) lebih besar dari

α(5%) sehingga tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini dikarenakan wisatawan yang mengunjungi Gunung Dempo tersebut sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa yang belum memiliki tanggungan keluarga (Tabel 7).

Pelajar dan mahasiswa ini biasanya mencari alternatif biaya termurah, sehingga biaya perjalanan yang dikeluarkan pengunjung tersebut tidak akan mengurangi tingkat kunjungan. Variabel usia pengunjung memiliki nilai P value (0.6140) lebih besar dari α(5%) sehingga tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini dikarenakan wisatawan yang mengunjungi Gunung Dempo dengan usia 21 sampai 30 tahun melakukan kegiatan pendakian, sedangkan pengunjung yang berusia diatas 40 tahun hanya menikmati keindahan pemandangan. Pengunjung dengan usia 21-30 tahun lebih banyak yang datang ke Gunung Dempo, karena wisata alam ini melibatkan kekuatan fisik (Tabel 7). Hal tersebut menunjukkan bahwa pengunjung dengan usia berapapun tetap meningkatkan kunjungan ke Gunung Dempo untuk melakukan pendakian atau menikmati keindahan pemandangan saja.

Variabel jumlah tanggungan keluarga memiliki nilai P value (0.170) lebih besar dari α(5%) sehingga tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini dikarenakan sebagian besar pengunjung dengan usia 21-30 tahun belum memiliki tanggungan keluarga (Tabel 7), sehingga mereka akan meningkatkan jumlah kunjungan ke Gunung Dempo. Variabel waktu di lokasi wisata memiliki nilai P value (0.454) lebih besar dari α(5%) sehingga tidak berpengaruh secara signifikan. Lamanya sebagian besar responden pengunjung berada dilokasi wisata adalah 1-24 jam (Tabel 7). Lama atau tidaknya wisatawan berada di lokasi belum tentu bisa meningkatkan jumlah kunjungan ke Gunung Dempo

Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kunjungan wisatawan yaitu pendapatan total, jarak ke lokasi wisata, lama mengetahui lokasi wisata, dan lama pendidikan. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi minat wisata pengunjung secara signifikan:

a. Pendapatan total

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji t, variabel pendapatan total berpengaruh signifikan pada taraf nyata 1% dan memiliki pengaruh positif terhadap jumlah kunjungan individu ke Gunung Dempo dengan nilai 0.00000130. Nilai koefisien ini menunjukkan bahwa jika pendapatan wisatawan meningkat sebesar Rp 1 000 000, maka jumlah kunjungan wisata ke Gunung Dempo cenderung akan mengalami peningkatan sebesar 1,3 kali dengan asumsi peubah

bebas lain tetap (cateris paribus). Hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkat pendapatan pengunjung semakin sering mereka mengunjungi Gunung Dempo.

b. Jarak ke lokasi wisata

Variabel jarak ke lokasi wisata berpengaruh signifikan pada taraf nyata 10% dan memiliki pengaruh negatif terhadap jumlah kunjungan individu ke Gunung Dempo dengan nilai sebesar 0.002. Hal ini sesuai hipotesis awal dan memiliki arti apabila terjadi peningkatan jarak ke lokasi wisata sebesar 1 Km, maka jumlah kunjungan wisata ke Gunung Dempo cenderung akan mengalami penurunan sebesar 0.002 kali dengan asumsi peubah bebas lain tetap (cateris paribus). Hal ini menunjukkan semakin jauh jarak tempuh pengunjung ke lokasi wisata semakin menurukan jumlah kunjungan ke wisata alam Gunung Dempo.

c. Lama mengetahui lokasi wisata

Variabel ini berpengaruh signifikan pada taraf nyata 10% dan memiliki pengaruh positif terhadap jumlah kunjungan individu ke Gunung Dempo dengan nilai sebesar 0.060. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal dan memiliki arti apabila terjadi peningkatan lama mengetahui lokasi sebesar 1 tahun, maka jumlah kunjungan ke Gunung Dempo cenderung akan mengalami peningkatan sebesar 0.06 kali dengan asumsi peubah bebas lain tetap (cateris paribus). Hal ini menunjukkan semakin lama pengunjung mengetahui lokasi wisata semakin sering mereka mengunjungi lokasi wisata Gunung Dempo.

d. Lama pendidikan

Variabel lama pendidikan berpengaruh signifikan pada taraf nyata 5% dan memiliki pengaruh negatif tehadap jumlah kunjungan individu ke Gunung Dempo dengan nilai sebesar 0.251. Nilai koefisien tersebut menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan lama pendidikan sebesar 1 tahun, maka jumlah kunjungan ke Gunung Dempo cenderung akan mengalami penurunan sebesar 0.251 kali dengan asumsi peubah bebas lain tetap (cateris paribus). Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal karena berdasarkan data demografi (Tabel 7), pengunjung yang paling banyak mengunjungi Gunung Dempo adalah kalangan mahasiswa dengan pendidikan terakhir SMA dan D3 atau lama pendidikan sebesar 12 sampai dengan 15 tahun. Sedangkan hanya sedikit pengunjung yang lama pendidikannya mencapai 16 tahun (S1). Hal ini dikarenakan, responden pengunjung yang lama

pendidikannya mencapai 16 tahun hanya mempunyai sedikit waktu untuk berlibur ke Gunung Dempo. Berbeda dengan responden pengunjung dengan lama pendidikan 12 sampai 15 tahun, mereka mempunyai banyak waktu untuk ke lokasi wisata, sehingga Gunung Dempo lebih banyak dikunjungi oleh mahasiswa. 6.1.2 Nilai Ekonomi Objek Wisata Alam Gunung Dempo

Nilai ekonomi Gunung Dempo diestimasi menggunakan pendekatan Individual Travel Cost Method (ITCM). Nilai ekonomi diperoleh dengan mengetahui nilai surplus konsumen pengunjung terlebih dahulu. Surplus konsumen diperoleh dengan cara mengkuadratkan jumlah kunjungan responden pengunjung satu tahun terakhir kemudian dibagi dengan dua kali koefisien biaya perjalanan. Jumlah kunjungan responden pengunjung dalam satu tahun terakhir adalah 230 kunjungan yang dapat dilihat pada Lampiran 8.

Analisis regresi antara jumlah kunjungan sebagai variabel terikat dan biaya perjalanan sebagai variabel bebasnya dilakukan agar nilai koefisien biaya perjalanan lebih akurat. Berdasarkan hasil analisis regresi (Lampiran 7), diperoleh persamaan sebagai berikut:

Y = 2.738 – 0.00000277 X1

Keterangan:

Y = Jumlah kali kunjungan ke Gunung Dempo satu tahun terakhir (Kali) X1 = Biaya perjalanan individu (Rp)

Koefisien biaya perjalanan yang diperoleh digunakan untuk mengestimasi besarnya nilai surplus konsumen. Kemudian nilai surplus konsumen digunakan untuk mengestimasi nilai ekonomi wisata, dengan cara mengalikan surplus konsumen tersebut dengan jumlah pengunjung pada tahun 2013. Perhitungan nilai ekonomi wisata alam Gunung Dempo dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Perhitungan nilai ekonomi Gunung Dempo

Keterangan Nilai Satuan Jumlah responden (a) 100 Orang Jumlah kunjungan responden(b) 230 Kali pertahun Jumlah kunjungan tahun 2013* ( c ) 37 893 Kali pertahun Koefisien biaya perjalanan (d) 0.00000277 Satuan Surplus konsumen (e) = b2/2d 9 548 736 462 Rupiah Surplus konsumen/individu/kunjungan (f) = e/a/b 415 163 Rupiah Nilai ekonomi (g) = f x c 15 731 771 559 Rupiah Sumber* : Disbudpar (2014a)

Tabel 12 menunjukkan, surplus konsumen pengunjung terhadap objek wisata alam Gunung Dempo sebesar Rp 415 163 per orang per kunjungan, sehingga diperoleh nilai ekonomi Gunung Dempo sebesar Rp 15 731 771 559. Artinya, Gunung Dempo mempunyai nilai sebagai penghasil jasa wisata. Nilai tersebut dapat dirasakan secara terus menerus jika keberadan kawasan wisata alam Gunung Dempo dijaga dengan melestarikan sumber daya alam dan lingkungan yang terdapat di Gunung Dempo.

6.2 Dampak Ekonomi dan Lingkungan Wisata Alam Gunung Dempo

Dokumen terkait