• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Estetis Tas Koja

Dalam dokumen TAS KOJA KHAS SUKU BADUY LEBAK BANTEN. (Halaman 108-113)

BAB IV SUKU BADUY DAN TAS KOJA

C. Nilai Estetis Tas Koja

Meskipun bentuk dan warna tas koja terbilang sederhana, tas koja Baduy mempunyai nilai estetis yang layak untuk dikaji. Estetika tas koja tidak bersifat subjektif yaitu dengan menempatkan keindahan pada saat mata memandang namun tas koja juga bersifat objektif yaitu dengan menempatkan keindahan pada benda yang dilihat.

Warna yang terdapat pada tas koja adalah warna asli dari kulit pohon teureup yang berwana coklat biasanya warna tersebut menjadikan ketertarikan bagi konsumen. Dalam tas koja pada masyarakat Baduy Luar dan Baduy Dalam mempunyai sebuah kesatuan yang sangat bagus dan seimbang bila dilihat dari latar belakang masyarakatnya yang tidak terlalu mengikuti modernisasi, apalagi tentang desain.

Tas koja ini berbentuk kotak yang keseluruhan tas berwarna cokelat muda atau cokelat tua polos. Tas koja ini terkesan sederhana dan unik, memang cocok jika digunakan dalam upacara adat. Karena memang tas koja tersebuat adalah tas yang dipakai dalam upacara adat pada suku Baduy. Karena dalam tas koja memiliki makna agar masyarakat Baduy tetap bersatu dengan alam, walaupun mereka tidak mempunyai aturan khusus seperti pada tas koja, bukankah kita dapat membaca sebuah pesan yang tersirat dalam warna yang terdapat pada tas koja dan bentuknya.

Bahwa walaupun mereka hidup dalam sebuah peratuaran adat yang

tentunya terkesan ‘mengurung’ mereka, namun kreatifitas mereka tidak berjalan

di tempat dan bahkan terus berkembang. Hal ini menunjukakan bahwa mereka juga bisa membuat sebuah karya yang dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Seperti yang telah mereka tuturkan bahwa tas koja ini adalah hasil imajinasi mereka. Kemungkinan terbesar yang dapat ditarik bahwa imajinasi yang muncul berlatar belakang dari pengamatan mereka akan lingkungan sekitar. Dalam lingkungan mereka yang masih banyak terdapat tanaman yang beraneka ragam sehingga mereka memunculkan ide-ide untuk memanfaatkan alam dengan baik.

Tas koja merupakan sebuah simbol yang khas yang membedakan masyarakat suku Baduy dengan yang lainnya. Tas koja ini digunakan sebagai identitas yang nyata bahwa mereka berbeda dengan yang lainnya walaupun ada beberapa tas diluar sana yang hampir sama namun pasti memiliki perbedaan tersendiri bagi kebudayaannya masing-masing.

Mereka juga memakai tas koja dalam upacara seba. Upacara seba adalah simbol ketaatan mereka terhadap pemerintah Indonesia melalui Bupati Lebak. Upacara seba dilaksanakan setelah panen selesai. Upacara ini ada dua macam yaitu seba gede dan seba leutik. Seba gede dilaksanakan apabila panen mereka banyak, seba leutik dilaksanakan apabila panen mereka sedikit. Upacara seba adalah upacara silaturahmi suku Baduy dengan pemerintah setempat. Meraka membawa hasil perladangan mereka untuk dipersembahkan kepada bupati Lebak. Dalam upacara ini yang datang untuk mengikuti seba harus menggunakan tas koja dan pakaian adat suku Baduy.

Gambar 47: Upacara Seba

Seperti yang telah diungkapkan oleh Sachari (2002: 98) bahwa makna estetis secara konvensional tersebut sangat pas bila diterapkan dalam tas koja suku Baduy. Tas koja mempunyai makna psikologis yaitu mengingatkan kualitas batin mereka akan kebesaran Tuhan. Hal ini selaras dengan yang diungkapkan oleh bapak Mursyid bahwa tas koja merupakan perlambang kesatuan hidup mereka dengan alam di dunia.

Dengan tas koja inilah mereka melakukakan segala kegiatan beraktifitas. Dalam upacara muja, tas koja juga selalu digunakan oleh masyarakat Baduy. Muja adalah kegiatan ziarah dan memanjatkan doa-doa pengharapan mereka kepada objek sesembahan mereka yaitu para leluhur. Ritual pemujaan ini dilaksanakan di Sasaka Domas. Sasaka Domas adalah tempat pemujaan tertinggi masyarakat Baduy. Sasaka Domas terletak di dalam hutan di dalam kawasan pegunungan Kendeng. Tempat ini sangat rahasia letaknya. Sasaka Domas adalah tempat pemujaan berbentuk bukit yang berupa punden berundak. Sasaka Domas terletak di hulu sungai Ciujung (wawancara dengan Bapak mursyid, 14 Juli 2016). Peribadahan yang dilakukan oleh suku Baduy tidak terbatas pada upacara muja saja. Mencari nafkah dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan bentuk ibadah yang mereka jalani penuh dengan rasa asah, asih dan asuh (Menguatkan, menyayangi, dan saling perduli). Mata pencaharian utama masyarakat Baduy adalah berladang. Dalam upacara ngaseuk masyarakat Baduy juga diharuskan untuk menggunakan tas koja. Upacara ngaseuk yaitu upacara menanam padi membuat lubang-lubang kecil dengan menggunakan aseukan (penungal). Kegiatan ngaseuk dilakukan oleh para pria dewasa.

Dalam kegiatan ini terlihat bahwa tas koja dalam suku Baduy bukan hanya sekedar tas yang menemani suku Baduy dalam kegiatan sehari-harinya, namun juga digunakan dalam acara-acara ritual. Nyi Pohaci adalah dewi kesuburan bagi masyarakat Baduy, seperti halnya dewi Sri pada masyarakat suku Jawa, dewi yang diagungkan dalam proses bercocok tanam (wawancara dengan Bapak Saija, 13 Maret 2016).

Dengan adanya sosok Nyi Pohaci ini kegiatan tanam-menanam tidak dapat dilakukan dengan semabarangan. Selain upacara ngaseuk ada juga upacara ngawalu, dalam upacara ini seluruh kawasan Baduy harus bersih dari benda-benda yang tidak diperbolehkan oleh adat Baduy. Upacara kawalu adalah upacara besar dalam suku Baduy dan pelaksanaannya sangat disiplin. Saat upacara ini berlangsung seluruh kawasan Baduy tertutup untuk umum.

Lestari dan bertahannya tas koja tidak lepas dari usaha para leluhur yang telah mewariskan kerajinan ini secara turun temurun. Pewarisan ini terlihat jelas bahwa sejak kecil mereka sudah diperkenalkan dan di ajarkan membuat tas koja oleh orang tua mereka. Pewarisan ini tergolong dalam ranah estetik tradisi, yaitu estetika yang berkembang melalui proses pewarisan. Bukan estetik akademik, karena mereka tidak mendapatkan ilmu pembuatan tas koja dari sekolah melainkan dari lingkungan dan kebiasaan meraka sejak kecil dan memperkembangkan estetika perdagangan dari hasil pembuatan tas koja. Namun tidak termasuk estetik keagamaan yang berkembang seiring berkembangnnya agama-agama besar di Indonesia.

Agama yang mereka peluk dari dahulu hingga sekarang tetap sama yaitu Sunda Wiwitan. Agama yang mereka anut tidak terpengaruh oleh berkembangnya agama-agama lain. Bukan pula estetik partisipan yang berkembang secara bebas dan otodidak, karena perolehan keterampilan yang mereka dapat adalah dari proses pewarisan bukan karena mereka belajar sendiri (wawancara dengan Bapak mursyid, 14 Maret 2016).

Estetika dari segi warna dan bentuk serta proporsional yang terdapat pada tas koja dapat dilihat dari warna yang memiliki kesan alami dengan warna cokelatnya sehingga jika dipakai terlihat menyatu dengan alam, selain itu bentuknya yang sederhana sangat disukai oleh konsumen di zaman modern seperti sekarang ini. Karena di antara banyaknya peminat tas koja ini adalah kaum perempuan yang menyukai hal-hal sederhana.

Dalam dokumen TAS KOJA KHAS SUKU BADUY LEBAK BANTEN. (Halaman 108-113)

Dokumen terkait