• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Haugh Unit diperoleh dengan cara telur dipecahkan terlebih dahulu untuk dicari tinggi albumennya dengan alat Deepth Micrometer. Setelah mendapatkan nilai tinggi albumen, selanjutnya dikonversikan dalam satuan HU dengan rumus :

HU = 100 log (H+7,57-1,7 W0,37) Keterangan : HU = Haugh Unit H = Tinggi Albumen

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

20

4. Pelaksanaan penelitian

Pengumpulan data rataan produksi telur, rataan konversi pakan, dan rataan berat telur dilakukan ketika puyuh sudah bertelur yaitu pada umur 46 hari. Sedangkan data rataan tebal kerabang telur, warna kuning telur, dan tinggi albumen dilakukan tiga kali dalam tiga hari pada tanggal akhir bulan periode penelitian. Pemberian pakan dan minum dilakukan satu kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 07.00 WIB secara ad libitum

E. Cara Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisis dengan Analysis of Variance (Anava), dan jika terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji Orthogonal Kontras (Astuti, 1980).

Tabel 4. Tabulasi data

Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 5 Rata-rata P0 4 - - - - 4 P1 4 - - - - 4 P2 4 - - - - 4 P3 4 - - - - 4 Tabel 5. Anava Sumber Variasi db jk KT Fhit Ftab

5% 1% Perlakuan 3 JkP KTp KTp/KT6 P0 Vs P1, P2, P3 1 Jkp1 KTp1 P1 Vs, P2, P3 1 Jkp2 KTp2 P2, Vs, P3 1 Jkp3 KTp3 Galat/Eror 16 Jk6 KT6 Sd = …. Total 19 19 Jkk KTk KK=…..%

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Produksi Telur

Rata-rata produksi telur puyuh selama penelitian disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Rata-rata produksi telur (HDA%)

Perlakuan Ulangan Rata-rata 1 2 3 4 5

P0 75,52 76,79 72,55 78,06 73,33 75,25 P1 76,50 77,57 75,56 74,43 74,49 75,71 P2 73,31 81,62 62,19 84,31 82,61 76,81 P3 85,50 75,02 81,48 81,25 84,57 81,56

Rata-rata Produksi Telur (HDA%) yang diperoleh selama penelitian untuk masing-masing perlakuan P0, P1, P2, dan P3 berturut-turut yaitu 75,25; 75,71; 76,81; dan 81,56. Hasil analisis variansi produksi telur (HDA%) menunjukan hasil yang berbeda tidak nyata (P>0,05). Hal ini berarti suplementasi vitamin A dalam ransum hingga aras 4500 IU berpengaruh tidak nyata terhadap produksi telur (HDA%), ini disebabkan karena peranan vitamin A dalam produksi telur hanya sebagai penunjang dalam proses pembentukan telur sehingga pengaruhnya kurang begitu terlihat, dalam hal ini fungsi vitamin A adalah untuk menstabilkan pelaksanaan metabolisme dalam tubuh puyuh sehingga apabila metabolisme berjalan dengan baik maka produksi telur akan optimal.

Vitamin A juga merupakan unsur gizi yang dibutuhkan oleh puyuh dalam proses pembentukan telur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (1983) Zat-zat makanan yang dibutuhkan burung puyuh adalah protein, energi, vitamin, mineral dan air. Semua unsur gizi itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, menggantikan bagian-bagian tubuhnya yang telah rusak, pembentukan daging dan lemak, pembentukan telur, dan bagian tubuh yang lain.

Hasil analisis statistik tercantum pada Lampiran 1, sedangkan diagram batang rata-rata produksi telur (HDA%) dapat dilihat pada Gambar 1.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22

Gambar 1. Diagram rata-rata produksi telur

B. Konversi Pakan

Rata-rata Konversi Pakan puyuh selama penelitian disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Rata-rata konversi pakan

Perlakuan Ulangan Rata-rata 1 2 3 4 5

P0 4,74 3,30 5,70 5,62 5,81 5,03 P1 3,48 3,83 4,72 3,68 5,00 4,14 P2 2,89 5,92 2,92 3,33 3,12 3,64

P3 3,34 3,01 4,49 2,72 2,90 3,29

Rata-rata konversi pakan yang diperoleh selama penelitian untuk masing- masing perlakuan P0, P1, P2, dan P3 berturut-turut yaitu 5,03; 4,14; 3,64; dan 3,29.Berdasarkan analisis variansi ternyata pengaruh aras vitamin A terhadap konversi pakan menunjukan hasil yang berbeda tidak nyata (P>0,05). Hal ini menunjukan bahwa pada penambahan suplementasi vitamin A ke dalam ransum hingga aras 4500 IU berpengaruh tidak nyata terhadap konversi pakan, walaupun ada kecendrungan semakin tinggi pemberian suplementasi vitamin A akan semakin memperbaiki konversi pakan.

Nilai konversi pakan yang berbeda tidak nyata disebabkan oleh nilai berat telur yang juga mempunyai hasil berbeda tidak nyata karena angka konversi pakan didapat dengan cara pembagian antara jumlah pakan yang dihabiskan (g) dengan jumlah berat telur (g) yang dihasilkan dalam waktu tertentu disebutkan oleh Rasyaf (1991).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

Secara Umum dapat dilihat bahwa pemberian suplementasi vitamin A dengan aras 4500 IU pada perlakuan P3, memiliki angka konversi pakan yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu sebesar 3,29 yang artinya pakan yang paling efisien diberikan pada taraf 4500 IU, seperti yang dinyatakan Rasyaf (1991) bahwa semakin kecil konversi pakan berarti pemberian pakan semakin efisien, namun jika konversi pakan tersebut membesar, berarti telah terjadi pemborosan pakan.

Hasil analisis statistik tercantum pada Lampiran 2, sedangkan diagram batang rata-rata Konversi Pakan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Diagram rata-rata konversi pakan

C. Berat Telur

Rata-rata berat telur puyuh selama penelitian disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Rata-rata berat telur (g/ekor/hari)

Perlakuan Ulangan Rata-rata 1 2 3 4 5

P0 10,53 11,11 11,21 10,72 10,62 10,84 P1 10,84 10,55 10,73 11,19 11,10 10,88 P2 11,15 11,19 10,76 10,57 11,12 10,96 P3 10,98 11,14 11,25 11,48 11,36 11,24

Rata-rata berat telur (g/ekor/hari) yang diperoleh selama penelitian untuk masing-masing perlakuan P0, P1, P2, dan P3 berturut-turut yaitu 10,84; 10,88; 10,96; dan 11,24 (g/ekor/hari). Hasil analisis variansi berat telur menunjukan hasil yang berbeda tidak nyata (P>0,05). Hal ini berarti suplementasi vitamin A dalam ransum hingga 4500 IU berpengaruh tidak nyata terhadap berat telur,

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24

ini disebabkan karena vitamin A bukanlah faktor utama yang mempengaruhi berat telur, vitamin A hanya membantu proses terbentuknya berat telur secara tidak langsung karena vitamin A berfungsi untuk mendorong pertumbuhan dan menjaga berat badan pada puyuh yang sedang berproduksi, hal ini sesuai dengan pendapat (Anggorodi, 1995) bahwa fungsi vitamin A adalah untuk menjaga struktur dan fungsi normal sel epithel dan jaringan syaraf, untuk pertumbuhan, menjaga sekresi mukosa dan menjaga berat badan.

Sedangkan Berat badan akan berpengaruh terhadap berat telur, hal ini sesuai dengan pernyataan Etches (1996) menyatakan bahwa berat telur dipengaruhi oleh faktor genetik, berat badan ternak, umur, dan temperatur lingkungan. Ditambahkan oleh Listiyowati dan Roospitasari (1992) menyatakan bahwa bobot telur puyuh rata-rata 10 g/btr atau sekitar 8% dari bobot puyuh betina.

Hasil analisis statistik tercantum pada Lampiran 3, sedangkan diagram batang rata-rata Berat Telur dapat dilihat pada Gambar 3.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

D. Tebal Kerabang Telur

Rata-rata ketebalan kerabang telur puyuh selama penelitian disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Rata-rata tebal kerabang telur (mm)

Perlakuan Ulangan Rata-rata 1 2 3 4 5 P0 0,27 0,27 0,27 0,26 0,26 0,27 P1 0,27 0,27 0,28 0,29 0,26 0,27 P2 0,32 0,28 0,27 0,26 0,27 0,28 P3 0,29 0,29 0,29 0,29 0,29 0,29

Rata-rata tebal kerabang telur (mm) yang diperoleh selama penelitian untuk masing-masing perlakuan P0, P1, P2, dan P3 berturut-turut adalah 0,27; 0,27; 0,28; dan 0,29 mm. Hasil analisis variansi tebal kerabang telur puyuh menunjukan hasil yang berbeda tidak nyata (P>0,05). Hal ini berarti suplementasi vitamin A dalam ransum hingga 4500 IU berpengaruh tidak nyata terhadap tebal kerabang telur. Hal ini disebabkan karena ransum pada setiap perlakuan memiliki kandungan kalsium yang sama sehingga nilai yang diperoleh hanya sedikit perbedaannya, kualitas kerabang telur dipengaruhi oleh kandungan kalsium dalam ransum seperti yang diungkapkan Stadelman and Cotterill (1995) Kualitas kerabang telur ditentukan oleh besarnya kandungan kalsium dalam ransum, hal ini disebabkan karena 94% bagian kerabang telur adalah kalsium karbonat (Stadelman and Cotterill, 1995).

Peranan Vitamin A terhadap tebal kerabang telur adalah memberikan daya tahan tubuh terhadap penyakit, seperti yang diungkapkan Rasyaf (1983) fungsi vitamin A antara lain adalah untuk meningkatkan daya tahan terhadap penyakit, sehingga apabila kondisi tubuh ternak terjaga kesehatannya maka kemampuan telur mengabsorbsi dan memobilisasi kalsium dan fosfor dari Intestinum dan tulang akan berjalan dengan baik, namun apabila kandungan vitamin A kurang akan berjalan sebaliknya, hal ini dinyatakan oleh Wells and Belyavin (1987) bahwa Kualitas kerabang dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kemampuan telur mengabsorbsi dan memobilisasi kalsium dan fosfor dari Intestinum dan tulang.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26

Nilai ketebalan kerabang telur yang didapat pada penelitian ini berkisar antara 0,27 mm hingga 0,29 mm, sedangkan Stadelman dan Cotteril (1995) menyatakan tebal kerabang normal adalah 0,20 mm hingga 0,33 mm, oleh karena itu rata-rata tebal kerabang dalam penelitian ini masih dalam batas yang normal.

Hasil analisis statistik tercantum pada lampiran 4, sedangkan rata-rata Tebal Kerabang Telur dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Grafik rata-rata tebal kerabang telur

E. Warna Kuning Telur

Rata-rata warna kuning telur puyuh selama penelitian disajikan pada Tabel 10

Tabel 10. Rata-rata nilai warna kuning telur

Perlakuan Ulangan Rata-rata 1 2 3 4 5

P0 1,13 1,21 1,40 1,00 1,19 1,19a P1 1,13 1,13 1,35 1,19 1,41 1,24b P2 2,20 3,11 2,13 2,13 2,17 2,35c P3 2,08 3,09 1,45 3,13 2,78 2,51c

Keterangan : Huruf subskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukan adanya perbedaan yang sangat nyata (P<0,01)

Rata-rata warna kuning telur puyuh yang diperoleh selama penelitian untuk masing-masing perlakuan P0, P1, P2, dan P3 berturut-turut adalah 1,19; 1,24; 2,35; dan 2,51. Berdasarkan analisis variansi ternyata pengaruh aras vitamin A terhadap nilai warna kuning telur menunjukan hasil yang sangat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

nyata (P<0,01). Hasil uji orthogonal kontras dinyatakan bahwa perlakuan P0 berbeda sangat nyata dengan perlakuan P1, P2, dan P3. Selanjutnya P1 berbeda sangat nyata dengan P2, dan P3, namun P2 berbeda tidak nyata dengan P3.

Suplementasi vitamin A dalam ransum hingga 4500 IU berpengaruh sangat nyata ini disebabkan pengaruh vitamin A dalam ransum karena vitamin A memiliki bentuk prekursor berupa karoten seperti disebutkan Maynard and Loosli (1975) bahwa Bentuk prekursor vitamin A adalah karoten dan mempunyai tiga bentuk isomer yakni alpha, beta, dan gama karoten. Prekursor vitamin A yang berupa karoten ini yang mempengaruhi perbedaan warna pigmentasi kuning telur, ini sesuai pendapat Wells and Belyavin (1987) bahwa perbedaan warna pada kuning telur disebabkan oleh karena adanya karotenoid. Diperkuat oleh Parkhurst and Mountney (1995) bahwa pigmentasi karotenoid yang memberikan karakteristik warna kuning pada yolk antara lain cryptoxanthin, xantofil, dan karoten yang ada dalam pakan, termasuk vitamin A di dalamnya.

Nilai rata-rata warna kuning telur pada semua perlakuan mempunyai nilai yang amat rendah yakni dari 1,19 - 2,51, hal ini disebabkan karena pakan yang diberikan menggunakan jagung putih yang pada umumnya tidak memiliki xantofil dan vitamin A (Tabel 2) sehingga nilai warna kuning telur rendah. Diperkuat oleh Yuwanta (2007) bahwa Warna kuning telur ditentukan oleh pakan yang mengandung karotenoid yang mempunyai struktur seperti vitamin A, diantara karotenoid tersebut adalah xantofil dan lutein.

Hasil analisis statistik tercantum pada Lampiran 5, sedangkan rata-rata Warna Kuning Telur dapat dilihat pada Gambar 5.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28

Gambar 5. Grafik rata-rata warna kuning telur

F. Nilai Haugh Unit

Rata-rata nilai haugh unit (HU) selama penelitian disajikan pada Tabel 13 Tabel 11. Rata-rata nilai Haugh Unit (HU)

Perlakuan Ulangan Rata-rata 1 2 3 4 5

P0 77,62 77,25 77,62 77,36 78,20 77,61 P1 77,75 77,77 78,15 77,96 77,59 77,84 P2 76,48 78,47 78,70 78,42 79,18 78,25 P3 79,39 79,46 79,25 77,16 77,39 78,53

Rata-rata nilai Haugh Unit (HU) yang diperoleh selama penelitian untuk masing-masing perlakuan P0, P1, P2, dan P3 berturut-turut adalah 77,61; 77,84; 78,25; dan 78,53. Hasil analisis variansi nilai HU menunjukan hasil yang berbeda tidak nyata (P>0,05). Hal ini berarti suplementasi vitamin A dalam ransum hingga 4500 IU berpengaruh tidak nyata terhadap nilai HU, ini disebabkan karena nilai haugh unit (HU) merupakan logaritma terhadap tinggi albumen dan kemudian ditransformasikan ke dalam nilai koreksi dari fungsi berat telur, sehingga apabila nilai berat telur yang diperoleh berbeda tidak nyata, maka dapat menyebabkan nilai haugh unit berbeda tidak nyata, seperti pernyataan Stadelman and Cotterill (1995) faktor yang mempengaruhi nilai HU adalah tinggi putih telur dan berat telur.

Hasil penelitian nilai haugh unit ini memiliki rata-rata antara 77,61 hingga 78,53 sehingga telur puyuh tersebut tergolong kedalam kualitas A sesuai pendapat Yuwanta, (2007). Telur yang mempunyai nilai HU>79

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

29

termasuk kelas AA, nilai HU 79>u>55 termasuk kelas A, nilai HU 55>u>31 termasuk klas B, dan nilai HU<31 termasuk kelas C.

Hasil analisis statistik tercantum pada Lampiran 6, sedangkan rata-rata Nilai Haugh Unit dapat dilihat pada Gambar 6.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan penelitian ini adalah suplementasi vitamin A sampai aras 4500 IU ke dalam ransum belum mampu memperbaiki produksi telur, konversi pakan, berat telur, ketebalan kerabang telur, dan nilai Haugh Unit, namun mampu memperbaiki terhadap nilai warna kuning telur (Yolk).

Dokumen terkait