• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Karakter yang Dikembangkan dalam Pendidikan Karakter

Hasil wawancara dengan Kepala SMA Negeri 1 Mungkid terungkap bahwa perencanaan dalam pendidikan karakter di sekolah ini menyangkut nilai religiusitas, moral, dan nasionalisme.

Aspek religi yang dilaksanakan di sekolah berdasar atas perencanana program sebelumnya di awal tahun. Yang pada praktiknya dilakukan secara terpadu antara sekolah dan siswa baik melalui organisasi intra sekolah, ataupun lingkup kelas. Untuk siswa yang beragama Islam, perencanaan kegiatan dilakukan melalui wadah Rohis (Rohani Islam) di bawah bimbingan pamong (guru) mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Perencanaan program umumnya berkaitan erat dengan kegiatan dan peringatan hari-hari besar keagamaan seperti kegiatan ibadah shalat wajib lima waktu secara individual maupun, dan peringatan hari besar agama.

Aspek moral menitikberatkan pada subaspek tingkah laku dan perilaku baik di sekolah maupun di luar sekolah. Perencanaan terkait dengan aspek moral pun dapat diketahui dari hasil analisis dokumen rencana tindak pendidikan karakter bangsa yang sudah ada, maupun pada silabus yang mengandung unsur-unsur nilai karakter.

Aspek ketiga yang direncanakan dalam pendidikan karakter di sekolah SMAN 1 Kota Mungkid adalah nasionalisme. Kegiatan yang dilakukan misalnya:

219

upacara bendera, peringatan hari-hari besar nasional, kunjungan ke museum-museum perjuangan, mengadakan lomba lukis tokoh-tokoh pahlawan nasional, dan sebagainya.

Komponen-Kompenen Pendukung Perencanaan Pendidikan Karakter

Penyelenggaraan pendidikan karakter di SMAN 1 Mungkid meliputi komponen pendukung input siswa, sarana, dan lingkungan sekolah yang kondusif.

a) Komponen Input

Komponen input siswa merupakan komponen terpenting dalam proses pendidikan. Untuk memperoleh hasil pendidikan yang berkualitas tentu diperlukan input siswa yang berkualitas. Siswa didapatkan melalui proses seleksi nilai akademik yang dipadupadankan dengan sistem zonasi yang diterapkan oleh pemerintah saat ini. Proses penerimaan siswa baru ini dilakukan oleh panitia Penerimaan Siswa Baru.

b) Komponen Sarana dan Prasarana

Penyelenggaraan pendidikan karakter di SMAN 1 Mungkid ditunjang oleh tersedianya sarana prasarana yang lengkap. Mulai dari ruang kelas, laboratorium, asrama, aula, sarana olahraga, ruang kantor, perpustakaan, dapur dan kantin, laboratorium, termasuk kendaraan sebagai sarana untuk mobilitas.

c) Komponen Lingkungan Sekolah

SMAN 1 Kota Mungkid berada di tengah kabupaten Magelang dan berada dalam lingkungan yang strategis dari sisi jangkauan. Suasana sekolah yang

220

rindang, dan tidak terlalu ramai cukup mendukung terselenggaranya pembelajaran yang efektif. Luas sekolah yang hampir 3 Ha ini hampir sekelilingnya dikelilingi pepohonan yang usianya sudah belasan bahkan puluhan tahun. Suasana hijau pepohonan ini juga dilengkapi dengan adanya dua lapangan yang hijau dengan rerumputan, yaitu lapangan sepak bola dan lapangan upacara.

Meskipun berada di jantung ibukota Kabupaten Magelang, tetapi sekolah yang berada di tepi jalan alternatif ke arah Semarang dan Purworejo ini suasana lalu lintas di sepanjang jalan tersebut tidaklah terlalu ramai. Tidak adanya angkutan umum yang berlalu lalang di jalan utama depan sekolah ini membuat suasana lingkungan sekolah tidak bising oleh kendaraan. Itulah sebabnya, SMAN 1 Kota Mungkid terpilih sebagai sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Magelang dan pernah meraih juara II lomba Sekolah Sehat tingkat nasional pada tahun 2008.

2) Faktor Penghambat Perencanaan Pendidikan Karakter

Perencanaan pendidikan karakter menghadapi beberapa kendala dalam prosesnya. Kendala tersebut mencakup kendala dari siswa, keragaman disparitas akademik, disparitas tenaga kependidikan, dan pengaruh lingkungan.

a) Disparitas Latar Belakang Status Sosial dan Ekonomi Siswa

Sebagai sebuah sekolah yang berada dalam naungan pemerintah, SMAN 1 Kota Mungkid merupakan sekolah yang inklusif. Menerima berbagai kalangan, dari mulai kalangan bawah sampai dengan atas. Sebagai sebuah sekolah unggulan, tentu sekolah ini menjadi sebuah sekolah yang favorit bagi semua kalangan,

221

tentunya yang siswa-siswanya memiliki modal akademik yang cukup untuk bisa masuk ke sekolah tersebut.

Dengan bermacam-macamnya latar belakang orang tua siswa, terutama dari sisi ekonomi, tentu ini sedikit menyulitkan sekolah dalam merencanakan kegiatan pendidikan karakter, khususnya yang memerlukan keterlibatan orang tua dalam hal pendanaan kegiatan. Mengingat anggaran dari pemerintah tidak selalu tersedia dan bisa dianggarkan secara maksimal.

b) Kualitas pendidik dan Tenaga Kependidikan yang Beragam

Proses seleksi atau rekrutmen pendidik dan tenaga kependidikan tidak sebebas sekolah swasta ketika mengadakan tenaga. Sekolah hanya bisa mengusulkan kualifikasi serta jumlah yang dibutuhkan ke pemerintah daerah, dan kemudian pemerintah daerah yang mengusahakannya. Kadangkala tenaga yang datang ke sekolah tidak selalu sangat sesuai dengan yang diinginkan

c) Perbedaan Pola Pendidikan di Sekolah dan di Rumah

Sudah menjadi masalah yang umum, pola pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah tidak mendapat dukungan atau bahkan kontradiktif dengan pola yang digunakan di rumah. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah pada umumnya saat ini.

Pada sekolah-sekolah regular siswa berada di sekolah rata-rata sampai sore hari, selebihnya para siswa kembali ke rumah dan tinggal bersama orang tuanya

222

sampai esok paginya ke mbali ke sekolah. Selama di sekolah para siswa ini mendapat pendidikan dan pembinaan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dari para gurunya. Khususnya tentang aspek kognitif yang berkaitan langsung dengan pendidikan karakter harus dilakukan secara berkesinambungan selama 24 jam. Di sinilah diperlukan peran orang tua untuk ikut membina pendidikan karakter anak-anaknya selama berada di rumah. Perlu adanya kerjasama yang sinergis antara pendidikan karakter yang diberikan kepada siswa di sekolah dengan pendidikan karakter yang dilakukan para orang tua di lingkungan rumah.

Jika perlu, para orang tua siswa diberi pedoman atau panduan pendidikan karakter bagaimana yang semestinya diberikan kepada anak-anaknya selama berada di rumah.

b. Pengorganisasian

Sistem pengorganisasian sistem pendidikan karakter di SMAN 1 Kota Mungkid untuk pemimpin sekolah dilakukan berdasarkan kesepakatan antara unsur pimpinan sekolah dan dewan guru. Yang dijadikan pertimbangan adalah kemampuan dan dedikasi.

Pengorganisasian penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah ini dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan karakter yang termaktub dalam visi sekolah, yaitu Humanis, tangguh, dan memiliki jiwa nasionalisme. Dalam

223

penyelenggaraannya diintegrasikan dalam proses belajar mengajar, pembiasaan, serta keteladanan dalam kegiatan ibadah.

1) Faktor Pendukung Pengorganisasian Pendidikan Karakter

Menurut Kepala SMAN 1 Kota Mungkid faktor pendukung pengorganisasian pendidikan karakter di sekolah ini adalah tersedianya guru yang bermutu serta profesional. Dari sisi kualifikasi dan kemampuan mereka memiliki semua persyaratan tersebut.

Dari sisi kurikulum, kurikulum SMAN 1 Kota Mungkid memiliki visi humanis, kompetitif, tangguh, dan memiliki jiwa nasionalisme. Itu semua mencerminkan karakter yang harus tertanam dan dibiasakan pada semua warga sekolah baik di sekolah ataupun di luar sekolah, sekaligus menjadi bagian dari diri para siswa dan lulusan tentunya.

Dalam proses pembelajaran, karakter menjadi bagian yang tak terpisahkan. Dalam hal ini, karakter sudah direncanakan di dalam kurikulum serta perangkat kurikulum. Tentunya ini akan tercermin dalam proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas ataupun di luar kelas.

.

2) Aspek Penghambat Pengorganisasian Pendidikan Karakter

Salah satu faktor penghambat pengorganisasian pendidikan karakter, sebagaimana dikatakann oleh responden adalah kurang efektif serta efisiennya

224

proses penanaman nilai-nilai karakter dikarenakan bebam belajar siswa yang banyak.

Intensnya terjadi pelanggaran atas disiplin serta batasan-batasan yang diberikan sekolah menjadi penghambat dalam proses pengorganisasian. Dari catatan pelanggaran yang terjadi mulai dari terlambat masuk kelas, tidak mengikuti pembelajaran, sampai dengan perkelahian, menjadi penghambat proses ini.

Perbedaaan persepsi orang tua terhadap kebijakan sekolah juga menjadi penghambat berjalan mulusnya pengorganisasian pendidikan karakter di sekolah.

Kurang tersosialisasinya program pendidikan karakter di sekolah kepada masyarakat luas, khususnya orang tua juga menjadi permasalahan tersendiri dalam penyelenggaraan pendidikan karakter di SMAN 1 Kota Mungkid ini.

c.

Pelaksanaan

Kegiatan yang Dilaksanakan dalam Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter yang dilaksanakan di SMAN 1 Kota Mungkid diwujudkan dalam pelaksanaan berbagai kegiatan dalam bentuk proses pengajaran, dan pembinaan siswa. Masing-masing dipaparkan berikut ini.