BAB III METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.18 Nilai Demokratis
4.1.1.17 Nilai Peduli Sosial
(17.1) “Tidak apa-apa, jatuh itu biasa. Ayo main, bangkit lari lagi. Anak lelaki harus kuat. Lukman bukan anak cengeng. Ayo lari lagi!”. Halaman 28
Kutipan ini dikatakan peduli sosial karena menggambarkan bahwa Syifa menemani Lukman yang sedang bermain, karena terlalu semangatnya Lukman terjatuh ke lantai, Lukman seperti ingin menangis dan melihat ke arah Syifa, kemudian Syifa menguatkan adiknya dengan mengatakan bahwa jatuh adalah hal yang biasa dalam bermain, anak lelaki harus kuat. Dengan ucapan semangat yang diberikan Syifa kepada Lukman menggambarkan bahwa Syifa memiliki karakter peduli sosial.
(17.2) “Ridho membantu Diana membawa koper besar ke gerbong kereta lalu meletakkanya di tempat bagasi di atas kepada mereka”. Halaman 59
Kutipan ini dikatakan peduli sosial karena menggambarkan bahwa ketika Ridho dan Diana akan berangkat ke Lampung dari Cirebon menggunakan kereta, Ridho membantu Diana membawa koper besar milik Diana yang sangat berat, dan mengangkat keatas bagasi di atas tempat duduk mereka.
(17.3) “Pokoknya habis shalat Ashar aku ke sini ya. Kalau kau mau jualan aku antar, nggak ya, nggak apa-apa”. Halaman 90
Kutipan ini dikatakan peduli sosial karena menggambarkan bahwa Santi menyampaikan kepada Syifa akan ada pasar malam di lapangan kecamatan, dan ia memberi saran Syifa untuk berjualan di sana, dan Santi akan mengantarkan Syifa
apabila ia hendak berjualan, karena Syif sendiri tidak memiliki kendaraan untuk kesana.
(17.4) “Boleh saya bantu?”
“Kalau tidak merepotkan Abang”.
“Tidak repot. Ganti ban mobil itu Cuma sebentar saja kok. Sama sekali tidak merepotkan”. Halaman 100
Kutipan ini dikatakan peduli sosial karena menggambarkan bahwa Ridho melihat mobil yang terparkir di depan masjid, ketika ia lihat ban mobil yang dimiliki oleh Lina kempes, hingga ia menawarkan diri untuk membantu Lina mengganti ban mobil milik Lina tersebut.
(17.5) “Anda sebaiknya melanjutkan jalan besok pagi saja. Benar riskan. Ya, kita semua sudah pasti ingin selamat. Dan kita sangat mengimani Allah yang Maha Menentukan. Tetapi waspada itu penting. Masalahnya, Mbak sendirian dan bawa mobil mewah. Soal kajian itu aka nada panitia lain.
Sekali lagi maaf, saya sama sekali tidak berniat manakut-nakuti. Ini hanya saran”. Halaman 101
Kutipan ini dikatakan peduli sosial karena menggambarkan bahwa Lina akan melanjutkan perjalananya dari Liwa menuju Bandar Lampung, mendengar hal itu Ridho memberikan saran kepada Lina untuk melanjutkan perjalannya besok pagi saja, karena rute perjalanan yang akan di lalui oleh Lina perkebunan panjang dan hutan serta tempat sepi, akan berbahaya jika lina terus melanjutkan perjalanan, Ridho memberikan saran tersebut untuk keselamatan Lina.
Dalam hal ini dapat diketahui bahwa novel KBR menyampaikan kepada pembaca untuk menanamkan karakter peduli sosial di dalam dirinya. Dengan tertanamnya karkter ini maka orang tersebut akan senantiasa peka terhadap orang lain yang membutuhkan pertolongan.
4.1.1.18 Nilai Tanggug Jawab
(18.1) “Tidak usah. Sudah menjadi kewajiban saya mengamankan masjid ini”.
Halaman 18
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Lina ingin memberikan sedikit uang lembaran kertas untuk takmir masjid sebagai bentuk terimakasih karena sudah menjaga ponselnya.
(18.2) “Astaghfirullah, itu jauh Neng. Jangan! Gus Najib kasih amanah sampai Kota Kuningan Saja”. Halaman 34
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Diana dengan keras kepalanya memaksa untuk melanjutkan perjalanan ke Banjar, akan tetapi Ridho melarangya karena Gus Najib memberikan amanah hanya sampai kekota kuningan saja, hal ini terlihat bahwa Ridho memiliki karakter tanggung jawab karena berusaha memegang amanah yang telah diberikan Gus Najib padanya.
(18.3) “Syifa sang gadis penjual pisang goreng tampak sedang merawat neneknya”.
Halaman 51
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Syifa merawat Nenek Zumroh yang sedang sakit yang mana menjadi salah satu tanggung jawab seorang cucu kepada Neneknya. Dalam hal ini terlihat bahwa Syifa memiliki karakter bertanggung jawab kepada Neneknya selaku pengganti orang tuanya yang sudah meninggal dunia
(18.4) “Syifa ini cucu nenek, siapa lagi yang merawat nenek kalau bukan cucu nenek.” Halaman 52
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Syifa yang bertanggung jawab dengan situasi saat ini, dan dia menjaga keluarga
dengan sepenuh hati serta terus mengais rezeki walaupun cukup makan sehari itu sudah memenuhi tugasnya sebagai cucu yang berbakti kepada orang tua.
(18.5) “Ada banyak hal penting yang harus ia rampungkan, terutama terkait beberapa amanah. Ia sudah menemui Cak Rosyid dan menjelaskan semuanya”. Halaman 52
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Ridho akan pulang ke Lampung akan tetapi sebelum pulang ia memiliki banya hal penting yang harus ia selesaikan terutama terkait amanah yang diberikan kepadanya, ia pun menceritakan semua kepada Cak Rosyid mengenai hal tersebutt.
(18.6) “Kita sebagai santri jangan kalah militan dengan kopasus. Kopasus sangat setia pada komandan dan korpsnya. Kita harus melebihi mereka. Ketika mengawal Kyai Nawir, maka kehormatan dan keselamatan beliau adalah segalanya. Kita harus siap mengorbankan diri untuk keselamatan beliau.
Sebab beliau adalah guru, orang tua, dan pemimpin kita”. Halaman 71 Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Cak Rosyid memberikan wejangan kepada Ridho, ia mengatakan bahwa seorang satri jangan kalah dengan tentara yang setia kepada komandan dan satuannya. Seorang santri harus melebihi mereka dalam mengawal Kyai Nawir, kehormatan dan keselamatan Kyai adalah segalanya. Karena Kyai merupakan guru, orang tua serta pemimpinnya.
(18.7) “Santri dari Way Meranti itu sangat marah besar kepada dua orang yang berani mengganggu dan mencolek putri Kyainya”. Halaman 84
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Diana diganggu dan dicolek oleh dua preman dikapal perjalanan menuju Lampung.
Hal itu membuat Ridho marah besar melihat putri dari Kyainya diganggu oleh dua preman laki-laki yang bukan mahram dari Diana. Dalam hal ini terlihat bahwa
Ridho memiliki karakter tanggung jawab karena ia sangat menjaga putri dari Kyainya dari gangguan preman.
(18.8) “Karena Udo sudah pulang, nanti biar Udo yang antar jika kau perlu diantar.
Tapi Udo berharap kamu tidak usah repot-repot jualan, biar Udo nanti yang repot”. Halaman 116
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Ridho sedang berbincang kepada Syifa, kemudian ia mengatakan kepada Syifa bahwa ia yang akan mengantar Syifa berjualan, dan cukup ia saja yang nanti mencari rezeki.
(18.9) “Mana preman yang lain, yang berani menghina Kyai? Datang ke sini sekarang juga kalau punya nyali. Atau kalau mau, nanti saat saya pulang, silahkan dicegat di jalan dekat lapangan sana, saya akan hadapi! Kita buktikan siapa yang hidup dan mati! Saya sebagai santri tidak rela sedikitpun Kyai saya dilecehkan, apalagi dengan terang-terangan!”.
Halaman 140
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Ridho marah besar ketika melihat ada dua orang berjalan mondar mandir dengan membawa minuman keras di depan para pemuka masyarakat dan para Kyai yang sedang melangsungkan acara pengajian, melihat kemungkaran tersebut Ridho menerjang mereka, dan mengatakan apabila ada lagi orang yang berani meghina Kyai maka berhadaplah dengan dia, ia tak rela apabila Kyainya dihina dengan acara tersebut. Dalam hal ini terlihat Ridho memiliki karakter tanggung jawab karena sebagai seorang santri ia harus menjaga marwah Kyainya dimanapun ia dan Kyainya berada.
(18.10) “Maaf pak, kebetulan saya kakak sepupu mereka. Saya yang bertanggung jawab atas mereka.” Halaman 183
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Ridho yang menjadi Kakak terbaik buat adek-adeknya dalam segala hal dan dia ikut meluruskan apa yang terjadi, dia juga menafkahi mereka sedari orang tua mereka tidak ada itu lah Ridho yang tidak lari dari tugasnya sebagai yang tertua.
(18.11) “Apakah anda tadi tidak mendengar apa yang sudah saya katakana? Saya adalah yang bertanggung jawab di sini! Saya kepala keluarga di sini!”.
Halman 185
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Syifa didatangi oleh dua suruhan Sita, Kakak tiri dari Syifa. Ia datang untuk memberikan uang sebesar lima puluh juta kepada Syifa sebagai pengganti hak waris, melihat ketidakadilan itu Ridho mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada keluarganya, baik Nenek, Kakek dan Adik-adiknya.
(18.12) “Ridho kemudian teringat pesan Kyai Harun yang nomor empat, yaitu menyekolahkan Syifa lagi. Pemuda itu mencari informasi ke sana kemari, hingga akhirnya mendapatkan solusi, yakni Syifa bisa ikut kejar paket C”.
halaman 234
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Ridho teringat salah satu amanah dari Kyai Harun, beliau berpesan kepada Ridho untuk menyekolakan Syifa, ia pun mencari informasi kesana-kemari sampai akhirnya Syifa bisa mengikuti ujian paket C sebagai tanda bahwa Syifa telah lulus dan mendapatkan ijaza.
(18.13) “Alhamdulillah. Baiklah kalau begitu, Syifa akan menyiapkan segalanya, termasuk menyiapkan barang-barang yang diperlukan lukman.” Halaman 237
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Syifa yang selalu menjalankan tugasnya sebagai kakak dan pengganti seorang ibu kepada adiknya, serta ia selalu menyiapkan kebutuhan adiknya itu sampai hal sekecil apapun.
(18.14) “Kamu segera daftar. Dan jangan pikirkan biaya! Itu tugas Udo”. Halaman 255
Kutipan ini dikatakan tanggung jawab karena menggambarkan bahwa Syifa ingin kuliah karena ia telah menghafal Al-Qur’an di atas dua puluh juz maka salah satu sekolah tinggi di sana memberikan beasiswa enam puluh persen bagi calon mahasiswa yang hafal Al-Qur’an dua puluh juz lebih, ia mengatakan hal tersebut kepada Ridho, melihat Syifa yang semangat untuk kuliah akhirnya Ridho memerintahkan Syifa untuk sesegera mendaftar kuliah, untuk sisa biaya kuliah Syifa sudah menjadi tugas Ridho sebagai kepala keluarga untuk membayarnya.
Dalam hal ini dapat diketahui bahwa novel KBR menyampaikan kepada pembaca bahwa sangat penting menanamkan karakter tanggung jawab sejak dini, karena dengan adanya karakter tanggung jawab dalam diri seseorang maka ia akan selalu melaksanakan apa yang telah menjadi kewajibanya dan apa yang telah menjadi tanggung jawabnya, baik itu sebagai seorang anak yang bertanggung jawab terhadap orang tuanya yang telah rentang, sebagai seorang Kakak yang bertanggung jawab terhadap kehidupan adik-adiknya maupun seorang tokoh masyarakat yang bertanggung jawab terhadap masyarakatnya.