• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENANAMAN NILAI-NILAI RELIGIU MELALUI

B. Penanaman Nilai-Nilai Religius

3. Nilai-nilai Religius

Religius dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dinyatakan bahwa religius berarti religi atau keagamaan atau yang bersangkut paut dengan religi (keagamaan).10 Adapun pendapat Muhaimin yang dikutip oleh Ngainun Naim menyatakan bahwa religius tidak selalu identik dengan agama. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa tidak sedikit orang beragama, tetapi tidak menjalankan ajaran agamanya secara baik.

Sementara ada orang yang perilakunya sangat religius, tetapi kurang memperdulikan ajaran agama.11

Religius juga diartikan sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran dalam melaksanakan ibadah agama lain dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.12 Menurut Clifford Geetz yang dikutip Roibin dalam bukunya Mohamammad faturrohman, agama mempunyai dua arti yaitu agama sebagai sumber nilai dan agama sebagai sumber kognitif. Pertama, agama merupakan pola bagi tindakan manusia, artinya agama menjadi pedoman yang mengarahkan tindakan manusia. Kedua, agama dianggap sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalaman manusia yang tidak jarang telah melembaga menjadi kekuatan mistis.13

Jadi agama mencakup totalitas tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang dilandasi dengan iman kepada Allah, sehingga seluruh tingkah lakunya berlandaskan keimanan dan akan membentuk

10 Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 106

11 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 297

12 Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 190.

13 Muhammad Faturrohman, Budaya Religius dalam Peningatan mutu pendidikan, (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), hlm. 45-46.

akhlakul karimah yang melekat dalam pribadi dan perilakunya sehari-hari.14

Religius ialah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.15 Religius merupakan penghayatan dan pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai religius adalah nilai yang bersumber dari keyakinan ke- Tuhanan yang ada pada diri seseorang.16 Dengan demikian nilai religius ialah sesuatu yang berguna dan dilakukan oleh manusia, berupa sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. Macam-macam nilai religius yaitu:

a. Nilai Ibadah

Ibadah berasal dari bahasa arab yaitu masdar‟abadan yang berarti penyembahan, sedangkan secara istilah ibadah berarti khidmat kepada Tuhan, taat mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Jadi ibadah adalah ketaatan manusia kepada Tuhan yang diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari. Nilai ibadah perlu ditanamkan kepada anak didik,agar anak didik menyadari pentingnya beribadah kepada Allah. Sebagai seorang pendidik, guru hendaknya senantiasa mengawasi anak didiknya dalam melakukan ibadah, baik ibadah kepada Allah maupun terhadap sesama. Ibadah adalah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT.17

b. Nilai Ruhul Jihad

14 Muhammad Faturrohman, Budaya Religius dalam Peningatan mutu pendidikan, hlm.

49-50.

15Muhammad Fadlillah, Lilif Muallifatul Khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 190.

16 Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, hlm. 31.

17 Listya Rani Aulia,” Implementasi Nilai Religius Dalam Pendidikan Karakter Bagi Peserta Didik Di Sekolah Dasar Juara Yogyakarta”, Jurnal Kebijakan Pendidikan Edisi 3 Vol. V Tahun 2016, hal.5. di akses pada 14 Januari 2020 jam 21.35.

Ruhul Jihad adalah jiwa yang mendorong manusia untuk bekerja atau berjuang dengan sungguh-sungguh. Dengan adanya ruhul jihad, maka aktualisasi diri dan unjuk kerja selalu didasari sikap berjuang dan ikhtiar dengan sungguh-sungguh.

c. Nilai akhlak dan kedisiplinan

Akhlak merupakan kelakuan yang ada pada diri manusia dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Al Ghazali yang dikutip oleh Abidin Ibn Rush dalam bukunya Muhammad Faturrohman, menyatakaan bahwa akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. Maka disimpulkan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan yang diterapkan dalam prilaku dan sikap sehari-hari.18

Sedangkan kedisiplinan merupakan tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

Kedisiplinan itu termanifestasi dalam kebiasaan seseorang ketika melaksanakan suatu aktivitas seperti ibadah rutin setiap hari. Semua agama mengajarkan suatu amalan yang dilakukan sebagai rutinitas penganutnya yang dilakukan sebagai sarana hubungan antara manusia dengan pencipta-Nya. Apabila manusia melaksanakan ibadah dengan tepat waktu, maka secara otomatis tertanam nilai kedisiplinan dalam diri orang tersebut. kemudian apabila hal itu dilaksanakan secara terus menerus maka akan menjadi kebiasaan.

d. Keteladanan

Keteladanan merupkan hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh seseorang dari orang lain. Rasulullah banyak memberikan keteladanan dalam mendidik para sahabatnya, maka dari itu

18 Listya Rani Aulia,” Implementasi Nilai Religius Dalam Pendidikan Karakter Bagi Peserta Didik Di Sekolah Dasar Juara Yogyakarta, hal.6. di akses pada 09 Juni 2020 jam 15.57.

keteladanan dapat dijadikan alat pendidikan Islam sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rosulullah.19

e. Nilai amanah dan ikhlas

Amanah berarti dapat dipercaya. Dalam konteks pendidikan, nilai amanah harus diinternalisasikam kepada anak didik melalui berbagai kegiatan. Ikhlas berasal dari kata khalasa yang artinya membersihkan dari kotoran. Menurut bahasa ikhlas berarti bersih dari campuran. Sedangkan secara umum ikhlas berarti hilangnya rasa pamrih atas segala sesuatu. Pendidikan harus didasarkan pada prinsip ikhlas, karena hanya dengan ikhlas, pendidikan yang dilakukan dan juga segala perbuatan manusia akan mempunyai arti di hadapan Allah SWT.20

Menurut Gay Hendricks dan Kate Ludeman dalam Ari Ginanjar, terdapat beberapa sikap religius antara lain 21

1) Kejujuran

Kejujuran merupakan prilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Sikap kejujuran dapat ditanamkan kepada anak didik melalui perbuatan nyata.22

2) Keadilan

Salah satu skill seseorang yang religius adalah mampu bersikap adil kepada sesama kepada semua pihak, bahkan saat ia terdesak sekalipun.

3) Bermanfaat bagi orang lain

19 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 117.

20 Mohammad Fathurrohman, Budaya Religius dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, hlm. 60-69.

21 Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah, (Malang: UIN-Maliki Press) hlm. 67-68.

22 Muhammmad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia Dini, hlm. 190.

Sesuai dengan hadits nabi yang artinya “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”

4) Rendah hati

Rendah hati merupakan sikap tidak sombong mau mendengarkan pendapat orang lain dan tidak memaksakan gagasan atau kehendaknya. Tidak merasa dirinyalah yang selalu benar mengingat kebenaran juga ada pada diri orang lain.

5) Bekerja efisien

Dapat memusatkan perhatian pada pekerjaan dan dapat mengerjakan pekerjaan selanjutnya, menyelesaikan pekerjaan dengan santai, tetapi juga tetap memusatkan perhatian pada saat belajar dan bekerja.

6) Visi kedepan

Mampu mengajak orang lain kedalam angan-angannya.

Kemudian menjabarkan begitu rinci cara-cara untuk menuju kesana. Tetapi pada saat yang sama ia dengan mantap menatap realitas masa kini.

7) Disiplin tinggi

Kedisiplinan tumbuh dari semangat yang penuh gairah dan kesadaran, bukan dari keharusan dan keterpaksaan.

8) Keseimbangan

Ada beberapa aspek yang harus dimiliki dalam keseimbangan hidupnya yaitu keintiman, pekerjaan, komunitas dan spiritualitas.

Dokumen terkait