BAB IV PEMBAHASAN
4.5 Nilai dan Norma Hamoraon Hagabeon dan Hasangapon di Desa Lae Itam
Hamoraoan, hagabeon dan hasangapon adalah trio cita-cita yang selalu dipadukan karna jika salah satu dapat dicapai maka yang lainnya akan mengikuti.
Oleh karna itu, masyarakat selalu menyebutkan dengan tidak terpisah. Nilai norma ini sering disingkat dengan 3 H. Nahum Situmorang menyisipkan
Hamoraon, Hagabeon dan Hasangapon dalam beberapa karyanya. Salah satu lagu yang berjudul alusi ahu. Beliau menyebutkan bahwa hamoraon, hagabeon dan hasangapon ido dilului na deba. Kalimat ini memiliki arti bahwa hamoraon,hagabeon, dan hasangaponadalah hal hal yang dicari-cari orang pada umumnya.
Sebagai masyarakat yang berasal dari Tapanuli Utara dan Toba Samosir yang merantau ke Kabupaten Dairi nilai dan norma yang dibawa dari daerah asal masih dibudayakan didaerah tujuan. Hal ini penulis jumpai di Desa Lae Itam, dimana petani durian yang mayoritas etnis Batak Toba masih menyakini dan menjunjung nilai dan norma hamoraon, hagabeon, dan hasangapon dalam kehidupan sehari-harinya dan menyakini dengan dengan tercapainya hamoraon, hagabeon dan hasangapon dilingkungan masyarakat akan mengangkat martabat dan status sosial ditengah-tengah masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan pengungkapan seorang petani durian yang berasal dari Desa Lae Itam yang mengatakan :
“Marragam-ragam do anggo sitta-sitta dihita manisia, jala marasing-asing do anggo pangidoan diganup ganup jolma. Hamoraon, hagabeon hasangapon ido dilului nadeba dinadeba asalma tarbarita goana tahe.”
Bermacam-macam cita-cita manusia dan berbeda-beda permintaan setiap orang. Kekayaan, dan kehormatan itu yang dicari sebagian orang dan sebagian orang ada yang mencari agar mereka dikenal saja.
Berdasarkan penjelasan informan diatas dapat kita simpulkan bahwa walaupun berbeda-beda cita-cita setiap orang khususnya etnis Batak Toba, tetapi yang menjadi tujuan akhirnya tidak lari dari hamoraon yang artinya kekayaan,
hagabeon yang artinya keturunan dan hasangapon yang artinya kehormatan.
Berbagai usaha dilakukan untuk mencapai hamoraon, hagabeon dan hasangapon tersebut termasuk melakukan segala cara, bagi petani durian untuk mencapai ketiga norma tersebut, diversifikasi pekerjaan sebagai strategi petani bukan semata untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi untuk meningkatkan status sosial ditengah-tengah masyarakat. Tercapainya ketiga norma tersebut menjadi tolak ukur kesejahteraan keluarga dan mengangkatkat status petani durian ditengah-tengah masyarakat, hal ini sesuai dengan pernyataan seorang petani durian yang berasal dari Desa Lae Itam yang mengatakan :
“Diulahon jolma pe akka ragam karejo anddoran sopanen tarutung, dang holan lao allangon siganup ari. Ale bohama asa mamora, gabe maranak dohot marboru dohot sangap dijoloni jolmai ido nadilumba ni jolma. Alana molo mamora iba, maranak marboru jala sangap dijolo ni dongan.”
“Diversifikasi pekerjaan yang dilakukan petani durian sebelum durian berproduksi tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Tetapi bagaimana agar petani durian kaya, punya anak laki-laki dan perempuan serta dihormati orang lain. Karna jika petani durian kaya harta, memiliki anak dan disegani orang lain ditengah-tengah masyarakat akan meningkatkan status sosial petani durian secara otomatis.”
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa diversifikasi pekerjaan sebagai strategi petani durian bukan semata untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga untuk mencapai nilai dan norma etnis Batak Toba tentang hamoraon, hagabeon dan hasangapon.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan langsung terhadap subjek penelitian ditemukan fakta, bahwa petani durian beretnis Batak Toba melakukan diversifikasi pekerjan, menerapkan strategi adaptasi bertahan hidup dan menerapkan budaya anakhon hi do hamoraon di ahu dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani durian.
Diversifikasi pekerjaan adalah usaha untuk meningkatkan produksi dengan cara menambah jenis dan keanekaragaman produksi. Selain bertani durian, masyarakat juga banyak menanam aneka jenis tanaman di areal pertanian mereka, seperti kopi robusta, kakao, pinang, pisang,jengkol dan aneka jenis sayuran. Jenis pekerjaan lain juga banyak dilakukan sebagian besar masyarakat petani durian seperti kuli bangunan, tukang bangunan, buruh harian dan merantau ke kota.
Dengan adanya diversifikasi pekerjaan yang dilakukan petani durian beretnis batak Toba di Desa lae Itam akan menambah penghasilan keluarga, dapat memenuhi kebutuhan hidup, dapat menyekolahkan anak laki-laki dan perempuan ke jenjang lebih tinggi dan mengurangi penjualan penjualan tanah.
Selain melakukan diversifikasi pekerjaan, masyarakat petani durian beretnis Batak Toba juga melakukan strategi adaptasi, yaitu kemampuan semua anggota keluarga dalam mengelola aset yang dimilikinya. Strategi adaptasi yang dilakukan petani durian beretnis batak Toba di Desa Lae Itam terbagi menjadi tiga, yaitu strategi aktif, strategi pasif, dan strategi jaringan. Strategi aktif yang
dilakukan petani durian yaitu melakukan pekerjaan sampingan, memelihara ternak dan peran anggota keluarga lain. Sedangkan strategi pasif yang dilakukan petani durian beretnis Batak Toba adalah strategi bertahan yang dilakukan dengan menerapkan pola hemat dalam segala aspek sosial dan ekonomi diantaranya , menghemat makanan sehari-hari, menyimpan hasil panen, membeli sandang pada musim panen durian dan hari natal, berobat kepuskesmas memanfaatkan askes, berobat ke dukun dan membeli obat ketika sakit. Adapun strategi jaringan adalah strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara meminta bantuan kepada kerabat, tauke , tetangga dan relasi lainnya baiksecara formal maupun informal untuk penambahan modal usaha dan ketika mengalami kesulitan.
Nilai dan norma Batak Toba yang menyebutkan bahwa “anak hon hi do hamoraon di ahu” artinya bahwa anak itu lah yang menjadi kekayaan mereka, serta nilai dan norma tentang “hamoraon, hagabeon dan hasangapon”
menjadikan masyarakat petani durian beretnis Batak Toba di Desa Lae Itam memiliki cita-cita menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang lebih tinggi tanpa membeda-bedakan anak laki-laki dengan perempuan. Dalam situasi ini, terwujudnya nilai dan norma “hamoraon, hasangapon, dan hagabeon menjaditolak ukur kesejahteraan keluarga dan mengangkat harkat martabat serta status sosial keluarga petani durian beretnis Batak Toba dimata masyarakat Desa Lae Itam.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:
1. Semua petani durian beretnis batak Toba agar tetap mempraktekkan budaya adat Batak Toba dalam kehidupan sehari-hari.
2. Aparat desa diharapkan bisa mengadakan penyuluhan tentang pertanian agar para petani lebih memiliki wawasan dan keterampilan ketika melakukan penganekaragaman tanaman dibawah pohon durian.
3. Pemerintah diharapkan bisa mengadakan penyuluhan atau pelatihan kepada petani durian agar produksi durian tidak di jual bulat-bulat kepada touke melainkan durian dapat diolah sehingga mempunyai nilai tambah yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat seperti pengolahan durian menjadi dodol ataupun lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Ismawan dan Kartjono. 1993. Kemandirian Kelompok Swadaya dan Peranannya dalam Penciptaan Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan dalam Mubyarto.
Peluang Kerja dan Beruaha di Pedesaan. Yokyakarta: BPFE.
Barret, C.B. dan T. Reardon. 2000. Asset, activity, and Income Diversification Among.
African Agriculturalist: Somer Practical Issues. Project Report to USAID BASIC CRSP.
Bungin, Burhan. 2014. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Penerbit Kencana.
Leibo, Jefta. 1995. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Penerbit Andi Ofset.
Miles, M.B, Huberman, A.M, (1994) Qualitative data analysis. USA: Sage Publication.
Mubyarto, 1993. Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. Yokyakarta: PT. BPFE untuk P3PK UGM.
Nahum, Situmorang, 2004. Nahum Song’s Kumpulan Lagu-lagu Tapanuli Modern, Jakarta:
Yayasan Pewaris Nahum Situmorang.
Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto (editor). 2010. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan edisi ketiga. Jakarta : Prenada Media Group.
Nasution, S. 1996. Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Penerbit Tarsito.
Paul H. Landis. 1995. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian dalam Leibo. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Prof. Drs. Widjaja, HAW. 2003. Pemerintahan Desa/Marga. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Rogers, Everett, M, 1976. Komunikasi dan Pembangunan, Persperktif Kritis (Communication and Development, Critical Perspectives).(Terj. Dasmar Nurdin). Penerbit LP3ES, Jakarta.
Roucek and Warren, 1962. Sociology, An Introduction . London: Patterson Littlefield and Adams.
Smith, Adam. 1986. Teori Pertumbuhan Ekonomi Perencanaan dan Pembangunan. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Pustaka.
Soemardjan, Selo. 2009. Perubahan Sosial di Yokyakarta. Jakarta: Komunitas Bambu.
Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Bandung: Refika Aditama.
Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sugihen. 1996. Sosiologi Pedesaan Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suratmo. 2004. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Jakarta: Gadjah Mada University Press.
Suyanto, Bagong dan Sutinah (Ed). 2005. Metode Penelitian Sosial: berbagaialternative pendekatan. Jakarta: Penerbit Kencana.
Usman, Husnaini, Setiady. 2009. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: PT. BumiAksara.
Wolf, R. Eric. 1987. Petani, Suatu Tinjauan Antropologis dalam Ibid Koendjoroningrat.
Jakarta: CV. Rajawali.
Sumber lain :
UU nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Badan Pusat Statistik Kabupaten Dairi. 2015. Statistik Daerah Kecamatan Siempat Nempu Hilir 2015.
Badan Pusat Statistikdan direktorat Jenderal Holtikultura. Statistik Produksi Durian di Indonesia 2015
http://www.pertanianindonesia.co.cc.Map (diakses pada hari kamis 29 Maret 2017 pukul 20.00 WIB).
Pentahapan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) (2005- 2025) Undang-Undang Republik Indonesia no 6 Tahun 2015 Tentang Pengertian Desa, penjelasan
mengenai desa.
http://repositoryusu.ac.id (diakses pada hari kamis 29 Maret 2017 pukul 01.00 WIB)