KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Landasan Teori dan Konsep
2.1.1 Nilai Perusahaan
Menurut Kasmir (2011:6), tujuan utama dari manajemen keuangan adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual (Husnan dkk., 1998:7). Meningkatnya nilai perusahaan dapat meningkatkan kemakmuran yang dapat diterima oleh pemilik perusahaan (Wiagustini,2010:8).
Nilai perusahaan sangatlah penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham (Brigham, 2010:7). Semakin tinggi harga saham maka akan dapat meningkatkan kekayaan pemegang saham (Sartono, 2010:9). Hal ini dapat berarti bahwa harga saham yang tinggi, dapat pula meningkatkan nilai perusahaan.
Lebih mudah memperhitungkan nilai perusahaan yang telah go public di banding dengan perusahaan yang bukango public.Bagi perusahaan yang telahgo public, nilai perusahannya dapat terlihat dari harga sahamnya. Sebaliknya bagi perusahaan yang tidak go public, niali perusahannya dapat diukur dengan harga
14
Enterprise value atau dikenal juga sebagai firm value (nilai perusahaan) merupakan konsep penting bagi investor, karena merupakan indikator bagi pasar menilai perusahaan secara keseluruhan (Salvatore, 2011:9)
Rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan atau Price book value (PBV), menunjukan tingkat kemampuan perusahaan menciptakan nilai relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. PBV yang tinggi mencerminkan harga saham yang tinggi dibandingkan nilai buku perlembar saham. Semakin tinggi harga saham, semakin tinggi perusahaan menciptakan nilai tersebut tentunya memberikan harapan kepada pemegang saham berupa keuntungan yang lebih besar pula (Salvatore, 2011:12). Secara sederhana Price book value (PBV) merupakan rasio pasar (market ratio) yang digunakan untuk mengukur kinerjaharga pasar saham terhadap nilai bukunya (Kusumajaya, 2011)
Ada beberapa konsep penilaian yaitu, nilai ditentukan pada harga yang wajar, penilaian tidak dipengaruhi oleh kelompok pembeli tertentu. Hartono (2009:124) secara umum banyak metode dan teknik yang telah dikembangkan dalam penilaian perusahaan diantaranya adalah:
1) Pendekatan laba antara lain metode rasio tingkat laba atau price earning ratiometode kapitalisai
2) Pendekatan arus kas antara lain metode diskonto arus kas 3) Pendekatan dividen antara lain pertumbuhan dividen
4) Pendekatan aktiva antara lain metode penilaian aktiva 5) Pendekatan harga saham
6) Pendekataneconomic value added
Salvatore (2011:9) indikator-indikator yang memengaruhi nilai perusahaan antara lain:
1) PER (price earning ratio) yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para pemegang saham (Mohammad Usman dalam malla Bahagia,2008)
2) PBV (Price Book Value)
Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Brigham,2010)
Nilai perusahaan dapat diartikan sebagai nilai atau harga pasar yang berlaku atas saham umum suatu perusahaan. Dalam penelitian ini nilai perusahaan akan diukur menggunakan Price to Book Value (PBV) dengan satuan persentase. Price to Book Value (PBV) membandingkan besar nilai harga saham per lembar dengan dengan nilai buku per lembar saham yang diukur dalam periode penelitian lima tahun (2010-2014) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
16
Indonesia (BEI). Proksi PBV diukur dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: (Wiagustini, 2010)
PBV = x 100%
2.1.2 Profitabilitas
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dalam penjualan, total aktiva maupun modal sendiri (Sartono, 2010:122). Brigham dan Houston (2010:146) mengatakan bahwa, rasio profitabilitas merupakan sekelompok rasio yang menunjukan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen asset, dan hutang pada hasil operasi. Wiagustini (2010:76) menyatakan bahwa, profitabilitas menunjukan kemampuan perusahaan memperoleh laba atau ukuran efektviitas pengelolaan manajemen perusahaan. Kasmir (2013:115) menyatakan bahwa rasio profitabilitas memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan yang ditunjukan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasinnya. Profitabilitas menunjukan tingkat pengembalian dari bisnis atau seluruh investasi yang telah dilakukan (Deitin, 2009). Perusahaan yang dapat membukukan profit tinggi maka perusahaan tersebut dinilai berhasil menjalankan usaha (Hardiatmo dan Daljono, 2013).
beberapa rasio yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu perusahaan (Wiagustini, 2010:81)
1) Profit margin
Rasio ini mengukur laba yang dicapai dibandingkan dengan penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus:
Profit margin= x 100%
2) Return on Asset
Rasio ini mengukur kemampuan menghasilkan laba dari total aktiva yang digunakan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus:
Return on asset= x 100% 3) Return on Equity
Rasio ini mengukur return atas modal sendiri. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus:
Return on Equity= x 100%
Dalam penelitian ini, profitabilitas diproksikan dengan return on asset. Return on asset mengukur kemampuan menghasilkan laba dari total aktiva yang digunakan (Wiagustini, 2010:81). Menurut Marrieta dan Sampurno (2013) Return on Asset merupakan rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan didalam menghasilkan keuntungan dalam memanfaatkan aktiva yang dimiliknya. Return on assets menunjukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan assets yang dimiliki pada masa lalu (Pribadi dan
18 2.1.3 Likuiditas
Likuiditas menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban financial yang berjangka pendek tepat pada waktunya (Sartono, 2010:114). Menurut Wiagustini (2010: 42) likuiditas menunjukan kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Fred Weston (dalam Kasmir, 2013:110), rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek, artinya apabila perusahaan ditagih maka akan mampu untuk memenuhi utang (membayar) tersebut terutama utang yang sudah jatuh tempo. Perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan dan profitable akan memerlukan dana yang cukup besar guna membiayai investasinya, oleh karena itu likuiditas perusahaan sangat besar pengaruhnya terhadap investasi perusahaan dan kebijakan pemenuhan kebutuhan dana (Sartono, 2010:292). Beberapa rasio yang dapat digunakan diantaranya (Wiagustini, 2010:78).
1) Current Ratio
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya yang segera jatuh tempo. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus:
2) Quik atau Acid Test Ratio
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang segera jatuh tempo dari quick assets (melihat kualitas dari aktiva lancar). Ratio ini dapat dihitung dengan rumus:
Quik atau Acid Test Ratio=( x 100% 3) Cash Ratio
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang segera jatuh tempo dengan kas yang dimiliki. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus:
Cash Ratio= x 100% 4) Net Working Capital To Sales
Rasio ini mengukur peranan sumber jangka panjang yang terikat pada aktiva lancar sehubung dengan pelaksanaan penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus:
Net Working Capital to Sales = x 100% 5) Current Assets to Sales
Rasio ini menunjukan peranan modal kerja dalam mencapai penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus:
20
Dalam penelitian ini likuiditas diproksikan dengan current ratio. Current ratio menunjukan sejauh mana kewajiban lancar (current liabilities) di jamin pembayarannya oleh aktiva lancar (current assets) (Deitiana, 2009). Kasmir (2013:111) menyatakan bahwa current ratio merupakan rasio untuk mengukur perusahaan membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan.
2.1.4 Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen adalah kebijaksanaan yang berhubungan dengan pembayaran dividen oleh pihak perusahaan, berupa penentuan besarnya pembayaran dividen dan besarnya laba ditahan untuk kepentingan pihak perusahaan. Kebijakan dividen adalah kebijakan yang diambil manajemen perusahaan untuk memutuskan pembayaran sebagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham dari pada menahannya sebagai laba ditahan untuk diinvestasikan kembali agar mendapatkan capital gains (Fajriyah, 2011). Kebijakan dividen merupakan kebijakan yang sulit dilakukan karena pihak manajemn perlu menentukan apakah laba yang diperoleh badan usaha akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai deviden atau ditahan dalam bentuk laba ditahan (Lopolusi, 2013)
Perusahaan yang diberiakan dividen dalam jumlah relatife besar akan melahirkan sentment positif pada para investor, dan akan membuat para investor
termotivasi untuk menahan modal yang dimiliki pada saham perusahaan tersebut ( Ayuningtias dan Kurnia, 2013). Kebijakan dividen dalam penelitian ini diproksikan dengandeviden payout ratio(DPR).Deviden payout ratiomerupakan persentase laba bersih yang dibayarkan sebagai dividen tunai (Brigham dan Houston, 2011: 211). deviden payout ratio merupakan indikasi atas persentase jumlah pendapatan yang diperoleh dan didistribusikan kepada pemilik atau pemegang saham dalam bentuk kas. Besar kecilnya dividen payout ratio akan mempengaruhi keputusan investasi para pemegang saham dan disisi lain berpengaruh pada kondisi keuangan perusahaan (Hardiatmo dan Daljono, 2013). Apabila kinerja keuangan bagus, maka perusahaan tersebut akan mampu menetapkan besarnya dividen payout ratio sesuai dengan ekspektasi dari para pemegang saham (Hardiatmo dan Daljono, 2013). DPR diukur dengan membandingkan dividen kas per lembar saham terhdap laba yang diperoleh per lembar saham (Wiagustini, 2010:259). Dengan rumus :
DPR =