METODOLOGI PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Analisis Data
4. Nilai Religius yang Terkandung pada Konsep Ekosistem
Dari kuesioner nilai religius pada materi ekosistem, diperoleh persentase sebagai berikut :
Tabel 4.11 Persentase Nilai Religius yang Terkandung pada Materi Ekosistem. No Pernyataan Sangat setuju/ setuju (%) Kurang setuju/ tidak setuju (%) 1 Perhatikan di sekitar anda, tumbuhan yang kekurangan air
pertumbuhannya kurang baik bahkan mati. Gejala ini merupakan bukti akan kebesaran Tuhan dalam mengatur alam ini.
83,3% 16,7%
2 Meskipun air ini terus digunakan oleh organisme, air tidak habis. Demikian juga oksigen tidak habis karena diatur melalui siklus materi. Adanya siklus oksigen-karbondioksida dan penyusunan materi dari komponen abiotik pada biotik melalui proses fotosintesis ini merupakan bukti kemurahan Allah bagi makhluk terutama manusia.
3 Saling ketergantungan faktor abiotik yang diwakili oleh air terhadap biotik yang diwakili tumbuhan di ekosistem hutan, bagaimanapun derasnya hujan tidak menyebabkan banjir dan longsor menunjukkan bahwa ekosistem diciptakan Allah dalam keadaan seimbang.
79,2% 20,8%
4 Saling ketergantungan antar komponen ekosistem dapat menimbulkan keyakinan bahwa Allah menciptakan alam ini dalam keadaan rapih, teratur, unik, dan indah.
100% 0%
5 Kita perlu bersyukur kepada Allah karena telah menciptakan
cacing, sehinga tanah menjadi subur. 95,8% 4,2%
6 Adanya siklus materi atau perpindahan energi dalam ekosistem tidak dapat mendorong timbulnya kesadaran akan kekuasaan Allah dalam mengendalikan fenomena alam ini.
12,5% 87,5%
7 Meskipun banyak daun yang berguguran, hewan yang mati, namun lingkungan kita tidak penuh sampah-sampah tumbuhan dan bangkai hewan. Semua ini karena adanya bakteri dan jamur saprofit yang dapat menguraikan menjadi mineral. Keadaan ini merupakan kejadian alam yang biasa tanpa campur tangan Allah.
25% 75%
8 Keanekaragaman makhluk dalam ekosistem bukan tanda-tanda
kebesaran Tuhan sebab terjadi sesuai keadaan lingkungannya. 0% 100% 9 Dalam penangkapan ikan untuk menghasilkan ikan dalam
jumlah besar, kita dapat menggunakan pukat harimau. 0% 100%
10 Kita dapat mengeksploitasi hutan secara berlebihan demi kemakmuran masyarakat. Hal ini sebagai tanda syukur
terciptanya hutan dari Allah. 20,8% 79,2%
Nilai religius dari suatu bahan ajar adalah kandungan nilai yang dapat membangkitkan rasa percaya atau keyakinan bahwa sesuatu yang ada pasti ada yang menciptakan dan mengaturnya, yang pada akhirnya timbul kesadaran adanya Allah. Dari tabel 4.11 diatas dapat dilihat bahwa seluruh siswa menunjukkan tingkat religius yang positif. Dalam kuesioner yang disebar diakhir siklus 2, pada pernyataan-pernyataan positif rata-rata persentase siswa yang menjawaba sangat setuju dan setuju jumlahnya 91,7% dan 8,3% siswa yang menjawab tidak setuju dan kurang setuju. Sedangkan untuk pernyataan-pernyataan negative rata-rata persentase siswa yang menjawab tidak setuju dan kurang setuju jumlahnya 88,3% dan 11,7% siswa yang menjawab tidak setuju dan kurang setuju. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa menunjukkan tingkat religius yang positive.
Dengan model pembelajaran STM, siswa tidak hanya memahami materi ekosistem serta kaitanya dengan teknologi, namun siswa juga dapat langsung memahami dan menyadari kebesaran Allah swt yang berkaitan dengan
materi ekosistem. Karena pada dasarnya penguasaan materi pelajaran dan teknologi hanyalah suatu alat dan bentuk peribadatan manusia untuk mencapai target yang lebih tinggi derajatnya, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah swt. Hal ini mengisyaratkan bahwa model pembelajaran dalam system pendidikan seharusnya berorientasi kepada pengembangan IPTEK dan Imtaq kepada peserta didiknya sehingga menghasilkan generasi yang takwa kepada Allah dan tata kehidupan yang mendapat ridho Allah dalam mencapai kebahagaian hidup dunia dan akhirat.
D. Interpretasi Hasil Analisis 1. Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Ada beberapa tahapan perencanaan yang dilakukan peneliti pada siklus I, yaitu :
1) Membuat instrument penelitian, seperti soal pretes dan postes siklus I sebanyak 30 butir soal objektif, dan lembar observasi pembelajaran untuk guru dan siswa.
2) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pembelajaran dilakukan di kelas dan di lingkungan sekitar sekolah, materi yang diajarkan tentang komponen ekosistem dalam aliran energi, daur biogeokimia, dan keterkaitan kegiatan manusia dengan masalah pencemaran serta pelestarian lingkungan. Pembelajaran dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan, pada pertemuan pertama hanya berlangsung 1 x 45 menit. Sedangkan pertemuan kedua dan ketiga berlangsung selama 2 x 45 menit. Rencana pembelajaran siklus I dapat dilihat di dalam lampiran.
b. Tindakan I ( Komponen Ekosistem dalam Aliran Energi, Daur Biogeokimia, dan Keterkaitan Kegiatan Manusia dengan Masalah Pencemaran serta Pelestarian Lingkungan).
Tindakan yang dilakukan pada siklus I dilakukan dalam 3 kali pertemuan, pembelajaran dilakukan di dalam kelas dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, dan penugasan. Selain itu pembelajaran juga dilakukan di sekitar lingkungan sekolah dengan metode praktikum. Deskripsi aktivitas guru dan siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.12. di bawah ini.
Tabel 4.12 Akitivitas Guru dan Siswa pada Siklus I
No. Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Pertemuan Pertama
1 Sebelum dimulai pembelajaran, guru memberikan pretes pilihan ganda sebanyak 30 soal selama 30 menit. Tujuannya untuk mengetahui kemampuan awal siswa tentang subkonsep komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem.
Mengerjakan soal yang diberikan guru
2 Menginformasikan mengenai sistem
pembelajaran STM yang akan dilakukan, serta materi yang akan dipelajari.
Memperhatikan penjelasan guru
3 Membagi siswa menjadi beberapa kelompok Membentuk kelompok
4 Membagikan LKS berupa beberapa
percobaan yang akan dilakukan setiap pertemuan
Menerima LKS berupa data percobaan untuk masing-masing pertemuan
5 Tiap-tiap kelompok diberi tugas untuk mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan pada percobaan I
Memperhatikan intruksi guru
Pertemuan kedua
1 Guru meminta siswa untuk bergabung sesuai kelompoknya masing-masing.
Siswa duduk dalam kelompoknya masing-masing.
2 Guru menarik perhatian siswa dengan memperlihatkan suatu gambar keadaan di hutan dan di dalam kolam.
Masing-masing kelompok merespon dengan memberi pertanyaan dan tanggapan lain.
3 Guru memberikan pertanyaan pendahuluan.
Setelah diamati, komponen apa sajakah yang terdapat di dalam kolam dan di hutan? Dapatkah kamu menyebutkan satu persatu peranan dari setiap komponen?
Dapatkah kamu menerangkan suatu siklus dari gambar yang disajikan?
Masing-masing kelompok merespon dengan memberi pertanyaan dan tanggapan lain.
4 Guru meminta siswa untuk melakukan suatu pengamatan tentang pola aliran energi pada
Bekerjasama melakukan percobaan dengan kelompoknya masing-masing.
beberapa jenis makhluk hidup dalam suatu ekosistem dilingkungan sekolah.
5 Guru memberikan pertanyaan.
Organisme manakah yang termasuk produsen, konsumen pertama, kedua dan ketiga?
Dapatkan kalian menemukan organisme yang bersaing mendapatkan makanan yang sama?
Bagaimanakah kalian menguraikan jarring-jaring makanan menjadi beberapa rantai makanan?
Mendiskusikan dengan kelompoknya masing-masing
6 Guru dan peserta didik membuat rangkuman atau kesimpulan dari materi yang disampaikan serta kaitannya dengan nilai Imtaq yang terdapat di Alquran.
Masing-masing kelompok mengajukan pendapatnya masing-masing.
7 Guru memberikan test secara tertulis tentang komponen ekosistem, aliran energi dan daur biogeokimia.
Mengerjakan tes secara individu
8 Guru menugaskan siswa untuk membawa peralatan percobaan pada pertemuan berikutnya.
Memperhatikan dan merespon instruksi guru
9 Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat peta konsep dari komponen ekosistem, transfer energi, serta daur biogeokimia.
Memperhatikan dan merespon instruksi guru
Petemuan ketiga
1 Guru menyajikan sebuah gambar tentang lingkungan tercemar.
Siswa memperhatikan gambar yang diberikan guru
2 Guru memberikan pertanyaan pendahuluan :
Apa yang menyebabkan kondisi lingkungan tersebut rusak?
Apakah ada dampaknya bagi kehidupan kita?
Apa yang harus segera kita lakukan?
Siswa memperhatikan penjelasan dan menanggapi pertanyaan guru
3 Guru menugaskan siswa bersama-sama melakukan metode diskusi kelompok mengenai model pembelajaran STM dengan judul pencemaran TPA Bantar Gebang.
Siswa duduk bersama anggota kelompok masing-masing dan memulai untuk melakukan diskusi kelompok.
4 Guru mengarahkan dengan memberi
penjelasan langkah kerja yang harus dilakukan beserta LKS.
Siswa memperhatikan penjelasan guru
5 Setiap kelompok mendiskusikan tugas yang telah diberikan guru.
Siswa berdiskusi dengan kelompoknya masing-masing
6 Guru meminta perwakilan masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok siswa.
Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok
7 Guru dan peserta didik membuat kesimpulan dari materi yang disampaikan serta kaitannya dengan nilai Imtaq yang terdapat di Alquran.
Bersama guru, peserta didik membuat kesimpulan dari materi yang telah disajikan.
8 Guru memberikan test secara tertulis tentang
perusakan lingkungan dan cara
penanggulangannya.
Siswa mengerjakan test tertulis secara individu dan tanpa kerja kelompok.
Pertemuan keempat
kemampuan siswa yaitu soal berbentuk pilihan ganda sebanyak 30 soal.
2 Guru meminta siswa mengisi angket respon siswa terhadap pembelajaran STM dan nilai religius dalam materi ekosistem.
Mengisi lembar angket
Tabel 4.12 di atas menunjukkan bahwa peneliti memulai kegiatan pembelajaran dengan metode pengamatan dan percobaan. Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti dan observer melakukan pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa dengan menggunakan lembar observasi siswa. Sedangkan aktivitas mengajar guru diobservasi oleh observer dengan menggunakan lembar observasi guru. Dengan menggunakan lembar observasi, peneliti dan observer mengamati aktivitas siswa. Aktivitas guru dan peneliti berikutnya adalah melakukan perhitungan hasil belajar berupa pretes dan postes. Setelah itu, guru dan peneliti melakukan refleksi dan evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran pada siklus I.
c. Tahap Observasi I
1) Rata-rata skor pretes adalah 42,8 dan rerata skor postes adalah 70,08 dengan nilai N gain sebesar 0,6. Dilihat dari skor pretes dan postes yang diperoleh menunjukan bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa, dengan rata-rata postes 70,08. Menurut system penilaian yang ada di SMA Daya Utama rata-rata postes 70,08 berada dalam kategori sedang. Nilai N gain 0,6 berada dalam kategori sedang. 2) Pada pertemuan pertama, siswa melakukan kegiatan pengamatan dan
percobaan. Hampir semua siswa terlihat antusias dan bersemangat dan melakukan langkah kerja sesuai dengan LKS praktikum I yang diberikan guru. Namun terlihat beberapa siswa menganggap bahwa pengamatan yang dilakukan adalah sebuah permainan sehingga siswa tersebut terkesan kurang serius.
3) Siswa masih kesulitan menyesuaikan diri dengan metode yang diterapkan yakni memadukan antara metode melalui pengamatan dan diskusi. Mereka dapat menemukan suatu konsep dengan cepat melalui
metode pengamatan ataupun percobaan dengan sangat baik, namun sangat disayangkan mereka kurang dapat menemukan konsep tersebut dalam diskusi kelompok. Hal ini dapat terbukti saat pemberian tes yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar siswa memahami konsep, ternyata dari 6 kelompok hanya 4 kelompok yang berhasil menjawab dan menguraikan konsep dengan benar. Dalam hal ini, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa secara keseluruhan siswa sudah mampu membangun suatu konsep dalam pikiran siswa berdasarkan hasil temuan siswa baik melalui buku panduan, literatur lain maupun pengamatan yang dilakukan di lingkungan sekolah. 4) Kerjasama antar kelompok kurang terjalin karena siswa masih
mengandalkan teman sekelompoknya untuk melakukan pengamatan. 5) Kerjasama siswa dalam diskusi kurang terjalin karena hanya beberapa
siswa yang mendominasi saat diskusi.
6) Hasil postes siswa dari 30 soal pilihan ganda diperoleh siswa yang mencapai KKM sebesar 87,5%. Dari 24 siswa, 3 siswa belum mencapai ketuntasan dalam pembelajaran biologi.
d. Tahap Refleksi I
1) Dari 2 kali kegiatan pengamatan dan diskusi yang dilakukan, secara keseluruhan siswa sudah bisa menemukan konsep berdasarkan hasil temuan mereka, baik melalui buku panduan biologi, literatur lain maupun pengamatan di lingkungan sekolah.
2) Kegiatan pengamatan di lingkungan sekolah secara garis besar membuat siswa terlihat antusias dan termotivasi untuk belajar, siswa terlihat aktif dalam proses berpikir maupun dalam kegiatan belajar mengajar.
3) Beberapa siswa masih terlihat main-main dalam melakukan pengamatan dan diskusi.
4) Kekeliruan dan kesalahan beberapa siswa dalam menjawab dan menguraikan tes pemahaman konsep, disebabkan karena siswa
menyimpulkan hasil kegiatan pengamatan hanya berdasarkan hasil temuan siswa, tanpa menggunakan buku panduan, literatur lain dan diskusi kelompok. Sehingga masih banyak siswa yang belum memahami materi pada siklus I.
5) Kegiatan diskusi siswa masih belum maksimal, sehingga peneliti perlu menindaklanjuti kegiatan diskusi pada siklus II.
6) Persentase siswa yang belum mencapai kriteria KKM belum maksimal dan belum sesuai target (100%). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran perlu dilanjutkan dan hasil belajar siswa perlu ditingkatkan.
e. Keputusan
Berdasarkan hasil refleksi siklus I dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dalam materi ekosistem belum sesuai dengan kriteria yang peneliti harapkan. Perlu dilakukan tindak lanjut proses pembelajaran sebagai perbaikan hasil belajar siswa, oleh karena itu peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian tindakan kelas ini ke siklus II. Adapun perbaikan-perbaikan pada siklus II yang dianggap perlu oleh peneliti antara lain :
1) Kegiatan pembelajaran pada siklus I lebih difokuskan pada kegiatan praktikum berupa pengamatan di lingkungan sekolah dan diskusi. secara keseluruhan kegiatan praktikum sudah memenuhi kriteria yang diharapkan peneliti. Sedangkan pada kegiatan diskusi, peneliti merasa masih banyak yang perlu diperbaiki. Peneliti melihat tidak seluruhya siswa berperan aktif dalam diskusi, hanya beberapa siswa yang mendominasi kegiatan diskusi. oleh karena itu, pada siklus II peneliti memfokuskan pembelajaran pada kegiatan Tanya jawab dan diskusi. 2) Peneliti lebih memperbaharui kegiatan diskusi agar siswa dapat lebih
termotivasi dan berkonsentrasi dalam diskusi.
3) Peneliti memberikan instruksi terlebih dahulu kepada siswa untuk mencari tahu informasi yang akan dibahas dalam diskusi kelompok
baik melalui buku panduan maupun literatur lain yang lebih relevan agar dalam diskusi siswa lebih dapat memahami konsep yang dipelajari.
2. Siklus II
a. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan siklus II merupakan refleksi dan perbaikan pada siklus I, tahapan perencanaan pada siklus II yaitu :
1) Membuat soal pretes dan postes sebanyak 30 soal tes objektif
2) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pembelajaran dilakukan hanya di dalam kelas dengan metode diskusi, Tanya jawab, ceramah, dan penugasan. Berdasarkan perbaikan dari siklus I, peneliti ingin melakukan diskusi dengan cara yang berbeda dari diskusi pada siklus I.
3) Menyiapkan materi ajar, media pembelajaran, LKS diskusi, dan keperluan pembelajaran lainnya. Materi yang diberikan pada siklus II adalah jenis-jenis limbah, daur ulang limbah dan pengenalan produk daur ulang limbah. Pembelajaran pada siklus II dilakukan dalam 2 kali pertemuan, setiap kali pertemuan berlangsung selama 2 x 45 menit. Rencana pembelajaran siklus II dapat dilihat pada lampiran.
b. Tindakan II (Jenis-Jenis Limbah, Daur Ulang Limbah dan Pengenalan Produk Daur Ulang Limbah)
Tindakan yang dilakukan pada siklus II dimaksudkan sebagai tindakan untuk memperbaiki hasil belajar siswa serta memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus I. Pembelajaran pada siklus II dilakukan dalam 2 kali pertemuan, pembelajaran dilakukan di dalam kelas dengan metode diskusi, Tanya jawab, ceramah dan penugasan. Deskripsi aktivitas guru dan siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4.13. di bawah ini.
Tabel 4.13 Aktivitas Guru dan Siswa pada Siklus II
No. Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Pertemuan Pertama
1 Sebelum dimulai pembelajaran, guru memberikan pretes pilihan ganda sebayak 30 soal selama 20 menit. Tujuannya untuk mengetahui kemampuan awal siswa tentang
subkonsep jenis-jenis limbah, daur ulang limbah dan pengenalan produk daur ulang limbah).
Siswa mengerjakan pretes secara individu.
2 Memotivasi siswa dengan menunjukkan gambar jenis-jenis limbah baik limbah organik maupun anorganik serta memperlihatkan salah satu bentuk daur ulang limbah.
Siswa terlihat antusias dengan gambar-gambar yang diperlihatkan
3 Guru memotivasi siswa kembali dengan mengajukan pertanyaan dari gambar produk daur ulang limbah yang telah diperlihatkan. Pertanyaan ini bertujuan untuk mengarahkan pikiran siswa tentang bagaimana cara membuat produk daur ulang tersebut.“Baguskan produk daur limbah ini?”, “Bergunakah produk
daur ulang limbah ini dalam kehidupan sehari-hari?”, “Bagaimanakah cara
pembuatan produk daur ulang limbah
tersebut?”
Seluruh siswa terpaku terhadap gambar produk daur ulang limbah yang
diperlihatkan. Beberapa siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
4 Guru menganalisis jawaban siswa, lalu memberikan penjelasan atas jawaban-jawaban yang disampaikan siswa
Siswa mendengarkan informasi yang disampaikan guru
5 Memberikan informasi kepada siswa mengenai materi yang akan dipelajari dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Guru juga membagi siswa menjadi beberapa kelompok serta membagikan LKS diskusi I(mendata jenis-jenis limbah, mengklasifikasikan jenis limbah, memilih jenis limbah yang dapat didaur ulang, mencari informasi tentang cara mendaur ulang limbah).
Siswa mendengarkan informasi dan intruksi dari guru, kemudian duduk dalam kelompoknya masing-masing.
6 Guru meminta perwakilan masing-masing kelompok untuk
mempresentasikan hasil diskusi kelompok.
Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok
7 Guru memberikan pemantapan konsep dengan menjelaskan materi tentang jenis-jenis limbah, daur ulang limbah dan pengenalan produk daur ulang limbah.
Siswa menyimak informasi yang disampaikan guru
8 Guru menugaskan para siswa untuk mencari tahu informasi sebanyak-banyaknya tentang cara mendaur ulang limbah dari beberapa produk daur ulang.
Siswa menyimak intruksi yang diberikan guru
1 Guru meminta siswa bergabung dengan kelompoknya masing-masing karena akan dilakukan diskusi kelompok
Siswa bergabung dengan kelompoknya masing-masing
2 Guru meminta perwakilan dari setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil dari tugas yang diintruksikan kepada setiap kelompok satu minggu yang lalu.
Perwakilan siswa dari setiap kelompok mempresentasikan hasil tugas yang diintruksikan minggu lalu.
3 Guru menampilkan salah satu produk daur ulang limbah kemudian
menginformasikan kepada seluruh siswa tentang cara pembuatannya.
Para siswa menyimak penjelasan dari guru
4 Guru mempersilahkan para siswa untuk duduk dalam bangkunya masing-masing, karena akan dilakukan postes siklus II.
Siswa duduk dalam bangkunya masing-masing
5 Guru memberikan postes dengan soal yang sama dengan pretes untuk mengetahui pengetahuan siswa tentang subkonsep limbah.
Para siswa mengerjakan postes secara individu
6 Guru meminta siswa mengisi angket respon siswa terhadap pembelajaran STM dan nilai religius dalam subkonsep limbah.
Siswa mengisi angket respon terhadap pembelajaran STM dan nilai religius subkonsep limbah
Berdasarkan tabel 4.13 di atas dapat dilihat bahwa pembelajaran pada siklus II terdiri dari 2 kali pertemuan, setiap pertemuan selalu ada kegiatan diskusi yang merupakan refleksi dari siklus I. pada siklus II, peneliti menerapkan diskusi yang berbeda dari siklus I. peneliti mengharapkan agar semua siswa dapat termotivasi dan terlibat aktif dalam diskusi kelompok.
Pada siklus II, peneliti menerapkan sistem diskusi dengan sistem rolling tunjuk. Hal ini dimaksudkan agar setiap siswa dapat berpartisipasi aktif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan, bagi setiap siswa yang telah menjawab pertanyaan maka tidak berhak untuk menjawab lagi. Bagi kelompok yang perwakilannya banyak menjawab pertanyaan maka akan diberi poin ataupun reward yang telah disediakan. Dengan pembelajaran seperti ini diharapkan siswa menjadi termotivasi dan lebih berkonsentrasi terhadap materi yang sedang dipelajari. Selain itu tidak ada lagi siswa yang mendominasi dalam diskusi kelompok.
Satu minggu sebelum diskusi ini dimulai, peneliti memberikan intruksi kepada para siswa untuk mencari sumber informasi sebanyak-banyaknya baik melalui buku maupun internet tentang bahasan yang akan
dipelajari, sehingga para siswa telah mengetahui sedikit banyak tentang bahasan yang akan dipelajari saat diskusi. Oleh karena itu siswa lebih dapat berkonsentrasi dan lebih termotivasi dalam diskusi. setelah itu, kegiatan pembelajaran diakhiri dengan pembahasan materi yang telah didiskusikan dan pemantapan konsep oleh guru. Aktivitas guru dan peneliti selanjutnya adalah melakukan perhitungan skor hasil belajar siswa yaitu berupa postes.
c. Tahap Observasi
1) Rata-rata skor pretes adalah 44,17 dan rerata skor postes adalah 72,08 dengan nilai N gain sebesar 0,6. Dilihat dari skor pretes dan postes yang diperoleh menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa, dengan rata-rata postes 72,08 yang berada dalam kategori sedang (menurut kriteria penilaian di SMA Daya Utama) dan nilai N gain 0,6 berada dalam kategori sedang.
2) Secara keseluruhan siswa sudah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tercantum dalam LKS diskusi dengan tepat.
3) Diskusi dengan rolling tunjuk terbukti cukup efektif untuk membuat seluruh siswa lebih berkonsentrasi dan termotivasi dalam mengemukakan jawaban ataupun pendapat dalam diskusi, sehingga dominasi beberapa siswapun dapat dihilangkan saat diskusi.
4) Hasil postes pilihan ganda sebanyak 30 soal diperoleh persentase 100% siswa sudah memenuhi KKM yang ditentukan. Dapat disimpulkan semua siswa sudah mencapai ketuntasan dalam pembelajaran IPA.
d. Tahap Refleksi
1) Hasil belajar siswa pada konsep ekosistem pada siklus I dan siklus II terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Nilai N gain pada siklus I sebesar 0,5 sedangkan pada siklus II meningkat menajdi 0,6.
2) Pada siklus II terjadi peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM. Hal ini dapat dilihat dari rerata skor postes siswa yang sudah mencapai KKM dalam pembelajaran IPA. Pada siklus I sebanyak 87,5% siswa yang mencapai KKM sedangkan pada siklus II jumlahnya meningkat menjadi 100%.
3) Guru melakukan kegiatan diskusi yang lebih variatif agar siswa lebih termotivasi dan lebih aktif dalam berdiskusi.
e. Keputusan
1) Hasil belajar siswa pada konsep ekosistem pada siklus I dan II mengalami peningkatan dan memiliki perbedaan yang signifikan. 2) Kegiatan diskusi yang lebih variatif membuat siswa termotivasi dan
lebih aktif dalam berdiskusi.
3) Diskusi menggunakan rolling tunjuk cukup efektif untuk membuat siswa lebih aktif dalam mengemukakan pertanyaan dan menghilangkan dominasi dari beberapa siswa.